Tampilkan postingan dengan label Untaian Syairku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Untaian Syairku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Mei 2023

Diriku Ini

Diriku ini

Allah yang Menguatkan,
dari setiap deraan cela, hantaman fitnah dan diremehkan sekitar.

Allah yang Meneguhkan,
dari setiap pilihan sulit, cobaan pelik dan ujian yang tak jarang begitu sakit.

Allah yang Mengasihi,
dari setiap keyakinan dalam hati, mimpi yang terpatri, usaha tiada henti dan takdir yang Dia beri.

Allah yang Menganugrahkan,
dari segala naik turunnya kehidupan, hebatnya suka duka perjalanan, hingga tak ada sikap yang diekspesikan, selain syukur setiap detik kesempatan.

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah.

#MelangkahMenginspirasi

Senin, 12 Juli 2021

Ingin Hati

Niat hati ingin memandang lembayung senja. Serta ditemani suara debur ombak. Namun apa daya. Hanya langit mendung yang didapat.

Ingin diri menikmati sore bersama keluarga. Duduk santai menatap lautan. Tapi tempat tujuan begitu ramai ternyata. Sehingga sulit menemukan tempat sesuai harapan.

Walau banyak realita yang tak sesuai angan. Tapi jangan sampai kita kehilangan keceriaan. Tetap menikmati setiap keadaan. Tentunya dengan hati penuh kebahagiaan.

Seperti kata anak hits zaman sekarang. Tak masalah tempat tak sesuai dambaan, asal tetap bersama yang tersayang.

😂
#MelangkahMenginspirasi

Jumat, 17 Agustus 2018

Keagungan Cinta

Bukankah keagungan cinta ada saat kita masih peduli walau hati terluka?
Tetap memperhatikan walau tersakiti?
Tetap mengutamakan senyumnya walau air mata menetes?

Kebahagiaan terindah hadir setelah kita melewati hal paling menyakitkan.

Karena kesalahan ada bukan untuk disesali, namun untuk di perbaiki.
Kegagalan ada bukan untuk membuat menyerah, namun untuk terus belajar.
Kekurangan ada bukan menjadi alasan untuk meninggalkan, namun untuk dimaafkan.
Perbedaan ada  bukan untuk dituntut, namun untuk dimengerti.

Ketika ketulusan cinta memenuhi relung jiwa, bukan alasan untuk pergi yang kita cari.
Namun alasan untuk tetap bertahan.

#MelangkahMenginspirasi
@azmulpawzi

Engkau Berkata Ingin Mencintai dengan Sederhana

Engkau berkata ingin mencintai dengan sederhana.
Tapi engkau masih mengharap kemewahan.

Engkau berkata ingin mencintai dengan sederhana.
Tapi engkau masih memohon  harta benda.

Engkau berkata ingin mencintai dengan sederhana.
Tapi engkau masih meminta wajah tampan rupawan cantik jelita.

Engkau berkata ingin mencintai dengan sederhana.
Tapi engkau masih menilai nama masyhur penuh tepuk tangan popularitas.

Engau berkata ingin mencintai dengan sederhana.
Tapi mencintai dengan sederhana tak sesederhana yang engkau ucap.

Mencintai dengan sederhana adalah hal yg tidak sederhana. Itu sangat rumit.
Karena tak mudah mencintai seseorang dengan sederhana.

Akan ada bias egoisme yg timbul. Akan ada rasa gengsi.

Apa engkau yakin ingin mencintai dengan sederhana?

#MelangkahMenginspirasi

Mengenalmu Sekali Lagi

Ada luka yang tak mampu terobati. Ada perih yang tak sanggup untuk pulih. Anehnya ku biarkan ia menjalar dalam hingga seluruh tubuh ini. Membuat nyeri dalam hati.

Sejenak kembali terputar kenangan pertama mengenalmu. Aku mengingat setiap detik itu. Caramu menyebut namamu, lalu tersenyum dengan teduh. Tiba-tiba kamu tertunduk saat itu, dan aku yang berdebar malu. Namun, itu bertahun-tahun lalu.

Hingga saat ini, ada sehimpun rasa tak terkira. Hal yang tak mampu aku bendung semua. Anehnya aku hanya diam, lalu tenggelam. Hingga tak banyak kenangan kita buat. Hanya sapaan ringan tanpa obrolan.

Bertahun lamanya ku kunci ia dalam jiwa. Ku biarkan ia mengiris-ngiris rasa. Perih memang. Tapi, bukankah rindu adalah jelmaan dari cinta yang belum bersama?

Dan kini rindu masih menyiksa ku. Bahkan lebih ngilu. Karena tak hanya waktu yang membuat ku pilu. Ada jarak yang tak mampu ku tempuh. Walaupun itu hanya sekedar melihatmu dari jauh.

Ingin ku tuntaskan rinduku semua. Mencurahkannya dalam kasih sayang. Mengejewantahkannya dalam kerja-kerja cinta.

Aku ingin mengenalmu sekali lagi. Lebih dalam lagi.

Pura-Pura

Ketika pura-pura berujung luka. Ketika menipu diri berakhir perih. Tak ku duga menahan rasa begitu rumit seperti ini.

Bertahun-tahun lalu,
aku berpura-pura.
Mendustakan senyummu dengan membuang muka. Membohongi teduh wajahmu dengan enggan memandang.

Aku berpura-pura.
Berlagak sibuk didepanmu agar tak ada waktuku berbincang denganmu. Bersandiwara bahwa tak terjadi apa-apa dalam diri saat ku lihat sosokmu.

Aku berpura-pura.
Dan aku tak menyangka, ternyata menipu diri terdapat karma tak terkira.

Ada rindu yang kian menebal ketika jarak semakin lebar. Ada renjana yang mekar ketika jauh semakin besar.

Dan kini ku tak mampu berpura-pura.
Bahwa itu amat menyakitkan.

@azmulpawzi
#GaBisaTidur
#MelangkahMenginpirasi
#SewinduMenataRindu

Kukira Temu Mengobati Rindu

Ku kira temu mengobati rindu, ternyata tidak. Ia tak mengikisnya walau hanya sedikit. Ia tak melenyapkannya walau secuil. Malah lebih parah, ia membuatnya berkembang berlipat-lipat, membesar tak terkira. Bahkan engkau sendiri tak mampu menahannya. Engkau hanya bisa duduk diam dan melihat bagaimana rindu itu menjadi raksasa yang meluap pengap menyesakkan dada.

Terlebih kamu, yang belum 'sah' memilikinya. Engkau hanya mampu memandangnya dari jauh. Membeku melihat mata sendunya tertunduk, juga tergagu saat hendak menyapa.

Engkau hanya patung bernyawa saat berhadapan dengannya, dirimu hanya mampu berteman dengan suara detak jantung yang menghentak cepat, juga hanya bisa mengadu kepada keringat dingin di pelipis yang mengalir deras.

Ternyata memang temu tak mengobati rindu, dan kamu hanya mampu pura-pura kuat juga teguh. Senyummu memang merekah, tapi hatimu remuk. Terhimpit oleh pelukan sayap cinta yang merengkuh kuat. Terlebih tusukan pedang-pedang rindu diantara sela-sela bulu sayapnya.

Tapi kau hanya mempu mengikuti rasamu walau ia memangkas setiap bahagiamu. Menahan mekar senyum bibirmu. Meredupkan wajah cerahmu. Merampas gelak tawamu.

Ya, ku kira temu mengobati rindu. Ternyata...

#DalamSunyiKuMenulis
#MelangkahMenginspirasi 

Dunia ini Fana

Dunia ini fana, maka tak perlu engkau bermuram durja karnanya.

Dunia ini canda tawa, maka tak perlu engkau gundah gulana sebabnya.

Dunia ini permainan belaka, maka tak perlu engkau habiskan seluruh usia menggapainya.

Dunia ini hanya sementara, maka tak perlu engkau mati mengejarnya.

Dunia ini tak berharga, maka tak perlu engkau bersusah payah memilikinya.

Dunia ini hina, maka takkan engkau temukan bahagia didalamnya.

"Kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya ?"
(al-An’âm/6: 32)

Tersenyum Bersamamu, Selamanya

Berulang kali aku tulis bait-bait puisi. Namun berulang kali juga aku menghapusnya. Entah sudah seberapa banyak kalimat yang telah dihilangkan, entah sudah sekian sajak yang urung diungkapkan.

Ingin rasanya aku ucapkan semuanya. Mengutarakan segala sesak di dada, menyampaikan setiap jengkal rasa di jiwa. Namun tanpa kukira ternyata lidah ini kelu. Ia membeku, tak menentu.

Padahal sudah kubayangkan metafora yang menggugah mata. Telah aku pikirkan prosa menyentuh rasa.  Akan tetapi ia tak sampai aku tuangkan menjadi aksara, apalagi kata hingga bicara. Hanya tertahan oleh diri yang tak berdaya.

Menyedihkan bukan? Karna memang hal yang paling memilukan di dunia ini adalah menjadi bagian yang tak berdaya.

Ketika ingin memberi segala keindahan, rupanya tak sanggup. Saat ingin mempersembahkan kemewahan, ternyata tak mampu. Ingin suguhkan kesempurnaan, namun tak bisa berbuat apa-apa.

Maka izinkan aku urungkan segala mimpi hiperbola masa depan yang ingin ku jalani denganmu. Aku ingin menyederhanakannya. Agar ini tak rumit, dan engkau dapat mengerti. Supaya cepat dipahami. Dan kita dapat saling berbagi juga memiliki.

Aku hanya ingin...
Tersenyum bersamamu, selamanya.

Maukah engkau? 

Tidak Masalah, Tersenyumlah

Tidak masalah, tersenyumlah, walau kadang berat, walau pelik dan menyesak dada.

Tidak apa-apa, tersenyumlah, walau sempit hati terasa, walau penat dan sakit di raga.

Tidak mengapa, tersenyumlah, walau perjuangan terasa sepi, memanggul segala beban sendiri dan tidak ada yang peduli.

Tersenyumlah.

Karena masalah dan beban pasti akan tiba. Namun kebahagiaan tak boleh sirna.

Tersenyumlah.

#MelangkahMenginspirasi

Aku Berharap Engkaulah Rumah

Jiwaku petualang,
dengan kumpulan langkah jauh membentang.
Berkeringat mencari pangan dan sandang.
Tetap maju walau kadang luka menghadang.

Jiwaku petualang,
Bukan berarti aku tak ingin pulang.
Karena setiap perjalanan tak selamanya berujung panjang.
Pasti selalu ada rasa ingin kembali yang tak mampu terhalang.

Sekuat apapun jiwa seorang petualang,
Setangguh apapun raga sosok pejuang.
Mereka selalu membutuhkan tempat untuk pulang.

Begitu juga aku,
Aku ingin pulang,
Melihat senyum hangat ditemani kopi nikmat.
Membangkitkan semangat hingga meraih rahmat.

Aku tak ingin memilih, karena ku tak ingin menjadikanmu pilihan.
Aku ingin mengukuhkanmu sebagai tujuan.
Tempatku kembali setelah letih membanting tulang.
Tempatku berteduh saatku rapuh menatap masa depan.

Dan aku berharap engkaulah rumah.
Yang ku jadikan tujuan setelah di luar memenuhi amanah.
Tempat ku kembali dan menyapamu ramah.

Aku berharap engkaulah rumah,
Karna ku tak ingin hanya sekedar berkemah,
Yang hanya bersemayam sejenak hanya untuk singgah.

Aku berharap engkau rumah, menikmati hidup ini walau kadang payah.
Mengobati hati kita walau kadang gundah.

Aku berharap engkaulah rumah.
Seatap bersamamu dalam sakinah.
(2017)

#MelangkahMenginspirasi
#SewinduMenataRindu 

Mencintai dengan Sesungguhnya

Mencintai adalah gabungan antara gagasan, emosi dan tindakan. Karna emosi atau perasaan cinta yg besar saja tidak cukup untuk mencintai. Rasa sayang yang meluap pun belum memadai dalam proses mencintai.

Harus ada gagasan di dalamnya. Gagasan untuk saling tumbuh berkembang. Mencapai tujuan yg digariskan bagi setiap manusia sebagai hamba Sang Pencipta. Agar cinta tidak hanya tentang dunia. Namun juga sebuah visi untuk bersama menggapai surga.

Mencintai juga harus ada tindakan disana. Tindakan untuk menjalankan gagasan, dan menuangkan perasaan. Perbuatan untuk senantiasa memberi. Usaha yang menunjukkan bahwa benarlah kita mencintai dengan sesungguhnya. Sebuah panggung pertunjukan cinta untuk objek yg dicintai.

Tanpa ketiga hal ini. Kita tidak akan mampu mencintai dengan sesungguhnya.

Apabila mencintai hanya sekedar emosi, maka hanya akan menjadi insan penebar janji romantisme. Seorang penggombal ulung.

Apabila mencintai tanpa gagasan, maka hanya akan membuat sebuah hubungan tali kasih sayang berujung kebosanan. Karena tak tumbuh, tak berkembang. Juga tak tentu arahnya. Stagnan dan tidak dinamis. Karena tak ada tujuan bersama. Tak ada mimpi yang ingin diwujudkan.

Apabila tanpa tindakan, mencintai hanya omong kosong belaka. Hanya pengkhayal yg ingin kesenangan. Namun tak ingin berbuat. Dan apabila tanpa emosi, itu bukanlah cinta.

Jadi, mari kita mencintai dengan sesungguhnya. Dengan memastikan bahwa cinta kita terdapat gagasan, emosi dan tindakan didalamnya.
(2017)

#MelangkahMenginspirasi
#SewinduMenataRindu

Tetap Berujung Surga

Bentuk awal cinta boleh berbeda, namun akhirnya harus tetap mulia. Para Nabi adalah contoh kehidupan yg menawan. Patut di ikuti. Begitu dalam kehidupan cinta.

Contoh pertama, layaknya Sang Rasul Muhammad  SAW dan ummul mukmini Khadijah. Sejak awal cinta mereka bermuara ketaatan. Dari hulu hingga hilir perasaan mereka suci. Perbuatan mereka lurus dan bersih. Hingga meninggal salah satu di antara dua sosok manusia mulia ini, cinta mereka tetap utuh dalam ketaatan kepada-Nya.

Contoh kedua, layaknya dua pasangan pertama di muka bumi. Selayaknya manusia apa adanya. Kedua insan mulia ini khilaf dalam perjalanan awal cinta mereka, Adam AS dan Hawa berbuat sebuah dosa. Godaan memakan buah khuldi tak mampu mereka tepis.

Namun kesalahan itu tak berlanjut. Mereka menyesal, lalu bertaubat. Meluruskan arah cinta mereka. Memantapkan tujuan hubungan mereka. Hingga ketaatan demi ketaatan kepada-Nya mewarnai kehidupan dua manusia pertama.

Kedua kisah cinta ini, sama-sama mulia. Sama-sama berujung surga.

Jika kisah cinta kita seindah Nabi Muhammad SAW dan Khadijah, maka bersyukurlah. Tetap istiqamahkan kisah itu hingga surga.

Jika awal cinta kita khilaf layaknya Nabi Adam As dan Hawa. Ada maksiat dalam langkah awalnya. Maka cepatlah perbaiki arah cinta kita, bertaubat dan kembali taat kepada-Nya. Agar cinta ini tetap berjalan menuju surga-Nya.
(2017)

#MelangkahMenginpirasi

Mengabaikan Waktu Sejenak

Engkau pernah berkata, “hanya waktu yang dapat menjawab.” Dan seketika aku tak mengerti, sungguh. Begitu banyak manusia yang menjadikan waktu sebagai subjek penyelesai masalah.

Padahal waktu hanyalah rangkaian alam yang berputar terus menerus. Ia tuli, tak dapat mendengar permintaan. Hingga parau suara kita berteriak, ia takkan berhenti walau hanya sejenak.

Waktu juga bisu, ia tak dapat memberi jawaban. Sebanyak apa pun pertanyaan yang kita tulis, hingga habis seluruh lautan jika dijadikan tintanya. Tetap saja, waktu tak dapat memberi tanggapan.

Ia buta, tak dapat melihat sekitar. Ia juga mati rasa, karena tak peka mengartikan kepedihan dalam jiwa. Ia adalah ciptaan Tuhan yang tak berdaya, yang ia ketahui hanyalah berjalan dan bergerak tiada jeda. Ia adalah lambang keegoisan sejati, ia merupakan simbol nyata sifat apatis di dunia.

Manusia macam apa yang masih meminta jawaban dari waktu? Bukankah ia tak dapat berbuat apa-apa. Seharusnya manusia itu sendiri yang menjawab setiap pertanyaan, menanggapi rentetan keresahan. Bukan malah menggantungkannya kepada waktu, karena jika kita masih berharap waktu menyelesaikan masalah kita. Maka jadilah kita makhluk tak berdaya lainnya.

Mari abaikan waktu sejenak, bukan untuk membuang waktu. Tetapi memfokuskan pencarian jawaban kepada dirimu. Tenangkan saja setiap resah dalam hatimu.

Merenunglah juga berdo’a, cari setiap jawaban, dan tentukan pilihan terbaik. Bisa saja Allah langsung memberikan jawaban pasti akan berbagai pertanyaan besar dalam hidupmu.

Seperti pertanyaan yang sering engkau sebutkan kepadaku. Apakah masih ingin menunggu atau berujar jujur kepadanya?

#MelangkahMenginpirasi
#SewinduMenataRindu 

Menikam Jarak Cinta

Aku hanya lelaki sepi, yang cuek dan keras kepala. Dan diujung sana engkau gadis ceria dan perasa. Lalu Tuhan mempertemukan kita dalam ruang waktu dan tempat, namun berjarak.

Bertahun lamanya aku hanya memandangmu dari jauh. Memasang sikap tak acuh, dan membuat senggang.

Bertahun lamanya, aku hanya mampu melihat senyummu dari kejauhan. Yang sesungguhnya itu bukan untukku, tapi untuk teman-teman sepermainanmu yang para wanita itu.

Bertahun lamanya aku hanya berpura tak merasa, berpura tak terjadi apa-apa. Padahal setiap engkau ada, bibirku gagu tanpa kata. Keringatku mengalir ditemani detakan kencang di dada.

Bertahun lamanya, kita bertemu tanpa bicara. Hanya sekedar sapa tanpa bincang. Hanya menatap sejenak lalu menunduk lalu angkat kaki.

Bertahun lamanya aku biarkan cinta ini bersembunyi dalam ketakberdayaan. Membiarkan ia menumbuhkan rindu yang menyembilu. Pasrah dari jerat-jerat renjana yang menyiksa.

Bertahun lamanya, dan aku rasa cukup. Akanku tikam jarak yang memisahkan cinta. Akanku singkirkan jeda yang membuatmu jauh.

Menjadikan kita bicara dan mengungkapkan rasa. Tanpa sekat dan hijab. Lalu bersama hingga surga.

Maka biarkan aku menikam jarak antara kita. Agar kita bertemu dalam singgasana cinta yang abadi juga menyejarah.

#MelangkahMenginpirasi
#SewinduMenataRindu
5 Desember 2017

Tak Terduga

Maka izinkan aku mengatakan, bahwa sebagian isi buku ini adalah tentang kamu. Yang ku tulis kala jauh dengan malu-malu. Yang juga ku yakin setiap kali aku merangkai  kata-kata, engkau tak pernah tahu bahwa itu semua terkaitmu.

Wajar bukan? karna memang kita telah hitungan tahun tanpa temu. Dan rasa ini telah ku pendam hingga tak seorang-pun tahu.

Kita memang pernah berada dalam satu wadah yang sama. Memiliki tempat berjuang yang juga serupa. Namun sepanjang kisah itu tak ada bincang antar kita, hanya ada sapa, yang itu-pun tak seberapa adanya.

Aku tetap menjadi lelaki cuek dengan segala kegiatanku yang ada. Dan engkau dengan duniamu bersama teman-temanmu seperti biasa. Aku dengan hidupku, engkau juga dengan hidupmu pula. Tapi ternyata ada rasa yang menyelinap disana. Yang rupanya telah tumbuh berkembang tanpa terkira.

Namun inilah aku, lelaki lemah juga tak berdaya. Yang hanya mampu menyimpan rasa dalam dada. Membiarkannya hanya bersemanyam tanpa kata. Menahan rindu karna belum siap menjadikannya nyata.

Tapi kucoba menata daya dengan seksama. Menyiapkan diri dengan segala yang ku bisa. Memantaskan kondisi walau menghabiskan bertahun waktu yang kupunya. Hingga seiring berjalannya masa, akhirnya hari itu tiba. Ku bertamu kerumahmu dengan aku apa adanya. Bertemu dirimu juga orangtua. Yang juga dibantu guru mengaji kita yang ternyata dua sejoli juga.

Dan proses berjalan begitu saja. Memang ada hambatan juga tantangan diawal proses kita. Namun atas kuasa-Nya kita bersatu dalam mahligai cinta. Yang akan kita bangun untuk berjuang di jalan-Nya.

Kita-pun bersama, dan ternyata ada yang tak terduga. Ternyata engkau memendam rasa yang sama. Dan dalam waktu yang juga lama. Aku terkejut juga bahagia. Ternyata cinta yang kupaksa diam, tak bertepuk sebelah tangan semata.

Ah, Allah memang selalu punya cara romantis menyatukan  hamba-Nya. Dan itu terjadi dalam cerita kita yang saling menjaga rasa. Yang kedepanya akan berkembang menjadi kisah membina rumah tangga berorientasi surga.

Terima kasih telah mencintai dan siap berjuang bersamaku. Aku bersyukur pilihan Allah itu adalah kamu.

Azmul-Rimbun
22 Desember 2017
#RumahTanggaSurga
#SewinduMenataRindu

Kini Hingga Senja

Sampai senja tiba, ku ingin engkau tersenyum dihadapanku. Membalas senyumku. Juga kadang tertawa bersama. Sampai nanti tawaku menunjukkan gigi yang tiada, karna tak lagi muda.

Hingga senja datang, ku harap kakimu menemani langkah kakiku sepanjang hari. Mulai dari pagi untuk menikmati pepohonan dan sejuknya aroma embun. Dan juga kita akan berlarian bersama. Riang dan saling kejar. Hingga tubuhku bungkuk, jalanku payah, karena termakan usia.

Dan bila nanti senja tiba, dan rambutku mulai memutih. Keriput hadir diwajahku. Kulitku mulai melonggar. Tetaplah memandang wajahku dengan segala keteduhan itu.

Maka, mulai dari hari-hari yang kita lewati kini. Tetaplah bersama hingga senja. Hingga hari tiada. Sampai kita di surga.

#InsyaAllah
#RumahTanggaSurga
#AbadiBersamamu
#MelangkahMenginpirasi

Rabu, 01 Agustus 2018

Ibu Indonesia yang Aku Tahu

Yang aku tahu, Ibu Indonesia layaknya Rahmah El Yunusiyah,
Perempuan Minang yang menjadi teladan para wanita.
Jilbabnya jatuh melebar menutup tubuhnya.
Otaknya cerdas, tekadnya kuat membara.

Dia dirikan pusat pendidikan khusus wanita,
Ia inspirasi para gadis menguasai ilmu agama,
Ia motivasi perempuan-perempuan menuntut ilmu setinggi-tingginya.

Maka lahirlah diniyah putri yang kita kenal,
Hingga namanya menggelegar sampai negeri timur tengah,
Pahlawan wanita dan menjadi panutan.

Yang aku tahu, Ibu Indonesia seperti Laksamana Malahayati,
Wanita aceh yang tangguh lagi perkasa.
Dengan selendang panjang menutupi kepala.
Dia lawan penindasan di tanah airnya.

Dialah laksamana wanita pertama di dunia,
Dia nahkodai armada dengan ratusan kapal.
Dia pimpin ribuan manusia dengan keberanian.
Dia lawan penjajah bangsa yang durjana.

Yang kutahu, Ibu Indonesia layaknya Rasuna Said.
Dibalik balutan hijab menutup aurat,
Dia lawan penjajah penuh semangat.
Suaranya lantang melawan kezhaliman.
Tulisannya tajam menusuk kekejaman.

Itulah Ibu Indonesia yang aku tahu,
Bukan seorang pencerca agama,
Bukan juga pemecah belah bangsa.

Ibu Indonesia yang aku tahu adalah wanita yang peduli negara,
Tahu ajaran agama juga taat kepada Tuhannya.
Dan dengan kelembutan hatinya, Ia hancurkan kezhaliman yang ada.

Itulah Ibu Indonesia yang ku tahu.

#IbuIndonesia
#MelangkahMenginspirasi
#LokomotifPeradaban
#StayPositive
#KolaboratorKebaikan

Setengah Warsa Bersama


Bagiku setiap detik kebersamaan kita adalah berharga.

Dari setiap senyum yang merekah, tawa yang membahana, tangis yang menerpa, hingga amarah yang kadang timbul begitu saja.

Dari setiap hal yang aku sukai dan kamu usahakan menyukainya, juga sesuatu yang kamu senangi, dan aku coba merasakan kesenangannya. Walau memang sebelumnya aku juga kamu tak menyukainya. Tapi kita berkomitmen untuk belajar menyesuaikan.

Dari setiap candaan remeh temeh yang kita lontarkan, lelucon yang kita tertawakan bersama, hingga hal serius layaknya mimpi-mimpi yang kita rencanakan, walau kadang juga terdengar absurd dan begitu besar.

Hingga setengah warsa kita bersama. Tentu tak setiap perjalanan baik-baik saja. Kadang ada situasi yang harus kita tangisi dengan pelukan saling memotivasi. Kadang ada keadaan yang membuat kita berselisih.

Tapi begitulah kebersamaan ini, ada masa lalu yang senantiasa kita perbaiki, ada kesalahan untuk saling menasehati, ada kondisi yang tak perlu kita tanggapi, cukup tertawa dan saling menyemangati.

Walau ada ujian berat yang sempat Allah takdirkan. Juga banyak nikmat yang Dia anugrahkan. Semoga kebersamaan ini adalah rumah yang menjadi tangga menuju surga-Nya.

#RumahTanggaSurga
#AzmulRimbun
#MelangkahMenginspirasi

Harusnya di posting tgl 22 juni 2018, tapi kelewatan. Gapapa lah, lebih baik terlambat dari pada ga sama sekali. 😅
22 Des 2017 -- 22 Juni 2018

Sungguh Tak Singgah, Singgah Tak Sungguh

Dalam hidup setiap perjalanan itu menarik kawan, terlebih jalan percintaan. Coba engkau perhatikan.

Kadang engkau menemui mereka yang sungguh mencintai, kuat tertanam dalam hati, pertemuan senantiasa dinanti, dan bagian perpisahan begitu nyeri, hingga akhirnya rindu enggan untuk pergi.

Tapi hati yang sungguh tak kunjung singgah. Jiwa meminta raga mengelak. Karna memang ingin menjaga, walau juga ada karna diri tidak siap, atau memang pernah menyiapkan.

Kadang ada yang berjuang untuk singgah, bercucur keringat untuk tiba, namun kalah cepat. Padahal jiwa tak kenal menyerah. Namun itulah takdir, sungguh tapi takk singgah. Menyakitkan memang, apadaya ini suratan.

Lebih pilu mereka yang singgah tak sungguh. Raga berdua tapi hanya senda gurau melulu. Jalan bersama namun enggan ke penghulu.

Bertahun-tahun memadu kasih berdua. Tapi tak kunjung melamar ke orang tua. Kata-kata manis hidup bersama bahagia, namun hanya tipu-tipu belaka.

Pedih memang menghadapi dia yang singgah tapi tak kunjung sungguh. Lebih baik pergi dan perbaiki diri dulu. Meladeninya cuma numpuk maksiat dan pasti keliru.

Maka sungguh untuk singgah itu perlu, agar kesungguhan menjadikan pelaminan menjadi titik temu. Atau mungkin mengikhlaskan menjadi solusi terlebih dahulu.

Singgah dengan sungguh juga utama. Agar persinggahan tak ajang penuh salah dan dosa. Tapi berisi kesungguhan membangun surga dalam rumah tangga.

#RumahTanggaSurga
#MelangkahMenginspirasi