Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Januari 2017

Hantu Masa Lalu ~ (Part 1)

Begitu kelam, tak ada bintang yang tampak. Terlebih rembulan, seluruhnya tersaput oleh awan.  Malam itu sunyi, tak seorang manusia yang terlihat, tak ada obrolan atau gelak tawa yang terlacak. Hanya  sayup-sayup suara jangkrik yang terdengar jelas. Juga detak suara jam dinding yang tak mau kalah menghentak telinga. Hening dan sepi, tapi tidak untuk perasaan Selma. Hatinya bergemuruh kencang, banyak pertanyaan yang hadir, dia bingung juga sedih. Bukankah kabar siang tadi harusnya menjadi kabar gembira? Mengapa malam ini dia menangis?

Selma tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Disudut kamar 4x4 itu dia meringkuk. Lampu kamar tak menyala, gelap menyelimuti tubuhnya. Kepalanya tertunduk, tangannya memeluk kedua kakinya. Suaranya terisak-isak, tubuhnya gemetar.  Sesekali dia mendongak keatas, menyeka air mata. Lalu kembali menangis lagi. Dalam keheningan dia bertanya dalam hati. Mengapa kabar bahagia ini begitu menyakitkan?
***

“Harusnya elu seneng, Selma.” Diah mendengus kesal melihat temannya yang satu ini. Sejak kajian pagi dimulai hingga perjalanan pulang, Selma terus memasang wajah muram. Bagaimana bisa kabar sebahagia itu membuat dia murung berkepanjangan.

Selma menatap mata Diah, lalu kembali tertunduk. Dia menghembus nafas, langkahnya berat. Lalu ia memegang ujung jilbabnya yang terjulur panjan. Ibu jari dan telunjuknya memainkan kain berbahan wolpeach itu. Dia teringat perjuangannya untuk bisa berpenampilan seperti ini. Diah belum mengetahuinya, wajar dia tak mengerti. Ungkapnya dalam hati.

Tak ada suara lagi terdengar dari lisan kedua wanita berjilbab ini. Setapak jalan dari masjid menuju kos mereka hanya diiringi suara kendaraan lalu lalang. Selma diam, tak menjawab pertanyaan teman dekatnya. Sedangkan Diah masih terheran, bagaimana bisa dia semurung itu mendapat kabar sebaik kemarin? Dia saja lompat-lompat tak jelas di kamar kosnya ketika sore kemarin Selma menelpon bahwa lelaki itu datang ke rumahnya di Jakarta. Bicara dengan kedua orangtuanya, melamar Selma.

Wanita mana yang tak akan bahagia dilamar lelaki sesempurna Fatur? Lelaki teduh, berwajah ganteng, aktifis organisasi islam, dan lagi dia adalah hafizh Qur’an. Setidaknya 20-an juz al-Qur’an telah ia hafal. Walaupun jurusan kuliahnya adalah Matematika, namun ia sering mengisi ceramah-ceramah di berbagai tempat. Kurang komplit apa lagi? Ditambah lagi keluarganya adalah tokoh agama di provinsi ini. Pendidikan Fatur sebelum masuk kampus ini-pun juga ia habiskan di Islamic Boarding School. Lelaki baik, dari keluarga baik dan pergaulannya terjaga baik. Benar-benar lelaki sempurna.

Berita hebatnya kemarin siang dia sendiri datang bersama temannya untuk melamar Selma. Jauh-jauh pergi ke Jakarta untuk menemui orangtuanya. Dalam hati Diah, jika ia yang dilamar, mungkin ia sudah terbang kelangit tertinggi, saking senangnya. Dan jika kabar ini tersebar seantero kampus, entah berapa banyak wanita yang patah hati mendengarnya. Tapi ini sangat mengherankan, tak ada rona bahagia terpancar dari wajah Selma pagi ini. Dia seperti menyembunyikan sesuatu yang amat pelik dalam hatinya. Melihat wajah Selma yang tertekuk dari pagi, Diah memilih diam. Dia tak mau mengorek lebih dalam.  Cepat atau lambat Selma akan cerita kepadanya, begitu gumamnya.

Tiba-tiba hujan turun, tanpa waktu yang lama, hujan tersebut berangsur-angsur lebih deras. Tanpa pikir panjang, kedua gadis ini berlari menuju kedai bakso. Niat awal mereka berteduh, karena sungkan dan tergoda aroma yang sedap, mereka akhirnya memutuskan memesan dua mangkok bakso. Kedai itu cukup luas dan masih lengang. Diah mengajak Selma memilih meja paling ujung, lebih jauh dari pegawai kedai dan mungkin lebih nyaman jika seandainya Selma ingin bercerita, karena topik mereka tak akan terdengar.

Lima belas menit berlalu, dua mangkok yang telah terpesan itu sudah habis. Sedangkan hujan semakin deras diluar, mereka terjebak, harus bertahan lebih lama lagi di dalam kedai itu. Melihat keadaan, Diah ingin bertanya lebih dalam lagi. Namun sebelum terucap sebuah kata dari mulut Diah, Selma terlebih dulu bicara. Memulai obrolan.

“Aku bingung, Diah.” Diah tetap diam, menunggu kata berikutnya dari Selma. wajahnya memasang mimik seakan bertanya dalam diamnya. Bingung kenapa?

Aku takut dia menyesal, Diah. Aku takut Fatur menyesal.”

“Fatur lelaki Shalih kok, Selma. Kekhawatiranmu berlebihan saja. Memangnya kenapa, Sih?”

“Aku..... ” Setengah berbisik Selma menuntaskan ucapannya. Mata Diah terbelalak. Dalam hatinya dia tak menyangka mendengar itu. Bagaimana bisa?


*Bersambung*

Selasa, 02 Agustus 2016

Tuhan, Seperti Inikah Cinta? ~ (Part 1)

Siang ini hari begitu panas. Teriknya mentari seakan-akan mencubit-cubit kulitku. Perih, sangat menyengat. Sebagian diriku berusaha mencari kesejukkan dengan mengipas-ngipaskan diri dengan buku yang ku bawa. Dan sebagian lainnya menyesal, mengapa hari ini aku memilih polo berlengan pendek, bukan kemeja panjang.

Di tempat duduk di koridor gedung perkuliahan, aku terduduk sambil meminum teh kemasan botol dingin yang baru saja ku beli. Sejuk, lumayan untuk mengobati panas yang memeluk diri.

“Ketua.... Ketua...” Dari sebelah kiri terdengar suara seorang lelaki memanggilku. Dan dengan sekejap kepala ini juga menengok ke arahnya.

“Wah ketemu sama ketua disini, lapor ketua, anggota udah lengkap ketua. Yang daftar udah pas. Bagusnya dalam waktu dekat kita lakukan rapat.” Rupanya itu suara Bima, sekretaris  dalam project event sosial yang sedang aku jalani.

“Wah bagus, berapa jumlah panitianya?” Tanya ku singkat.

“Nambah lima belas orang. Jadi anggota kita sudah dua puluh tujuh orang ketua. Oh iya, kira-kira kapan kita bisa rapat? Besok? Lusa?”

“Lusa InsyaAllah, jam 16.30 ya di taman depan fakultas Ilmu Budaya. Bisa kamu kasih infonya ke anggota baru dan temen-temen lainnya?”

“Wah pas ketua, siap laksanakan”

Aku tersenyum dan mengangkat jempol tanda apresiasi dengan semangatnya. Bima sosok yang tak pernah hilang semangat dalam dirinya. Walau kadang suka panik dalam beberapa hal, ia adalah seorang yang cekatan dan rapi dalam administrasi, sangat cocok dengan jurusannya di Akuntansi. Berbeda dengan ku yang agak kurang rapi dalam arsip mengarsipkan.

“Oh iya ketua, ada anak MIPA yang badai.”

“Heh? Maksudnya Bim?”

“Namanya Bella, katanya dari Bandung. Wiiih putih, cantik, mulus, bohay, fashionable, rambutnya panjang. Pokoknya badai deh. Ketua pasti tertarik ngeliatnya”

“Hadeeh, udah jadi presenter infotainmet kamu sekarang Bim?”

“Ya kali ketua tertarik, kalo kagak aku yang samber nih.”

“Samber, samber, emang listrik apa. Yaudah sampai ketemu lusa ya, tolong juga kasih tau siapa yang konfirmasi izin. Oke?”

“Oke sip ketua, aku ke jurusan dulu ya.”

Aku mengangkat tangan kanan ku dan tersenyum. Kini Bima berjalan dengan langkahnya yang terlihat ceria. Cukup cepat hingga dirinya menghilang. Sedangkan aku tetap terduduk disini, dengan hikmat meminum teh dingin berkemasan botol  dengan sesekali mengusap muka yang sudah banyak mengelurakan keringat.

Aku mendongak ke atas, dan melihat sekeliling. Banyak mahasiswa – mahasiswi yang bercengkrama. Di ujung sana ada sekelompok mahasiswi, bersenda gurau. Sepertinya pembicaraannya menarik, hingga dari kejauhan saja, sangat terlihat bahwa mereka bahagia dengan pembicaraannya. Apakah dia membicarakan ketampanan lelaki seperti Bima yang membicarakan kecantikan wanita?

Huft, cantik? Ganteng? Entah dari mana standarisasi tentang kedua hal ini ada. Apakah putih dan mulus seperti yang diucapkan Bima dan berbagai iklan kosmetik di televisi? Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak putih dan mulus. Padahal putih dan mulus itu adalah stereotip yang dipaksakan penjaja kosmetik kepada manusia Indonesia agar terpengaruh dan membeli jualannya.

Karena kebanyakan wanita Indonesia berkulit kuning langsat, sawo matang, coklat dan lain-lain. Makanya penjual kosmetik Indonesia membuat definisi cantik itu ya putih. Karena jika cantik itu kuning langsat udah banyak di Indonesia dan dagangannya gak akan laku. Itulah mengapa, artis-artis dan bintang iklan kosmetik banyak yang putih. Agar para lelaki tersihir agar mengatakan yang putih seperti itu yang cantik. Dan para wanita juga terpengaruh agar menjadi putih mulus seperti bintang iklan tersebut agar terlihat cantik dimata lelaki.

Dan seketika aku teringat Agnes Monika. Dia cantik dalam definisi orang Indonesia (lebih tepatnya penjual kosmetik Indonesia). Agnes adalah wanita yang berkulit putih, mulus dan cantik. Namun lihat ketika dia memutuskan go internasional. Kulitnya yang putih ia ubah menjadi coklat. Mengapa? Ya karena wanita berkulit putih di Amerika adalah hal yang lumrah. Dan jika mereka (penjual kosmetik) mengkampanyekan cantik itu putih, ya tidak laku barang dagangan mereka. Oleh karena itu penjual kosmetik mempropaganda warga Amerika, cantik itu coklat seperti halnya Beyonce, Rihana dan lainya. Itulah salah satu alasan mengapa kulit Agnes Monika coklat di penampilan internasionalnya.

Menarik bukan? Cantik definisi ini untuk keuntungan ekonomi beberapa pihak dan tentunya sangat tak adil. Semoga aku berusaha agar tak termakan propaganda ini.
Dalam lamunan panjangku, aku tersentak mengingat bahwa ada jadwal kuliah dalam waktu dekat. Ku lihat jam tanganku, waktu sudah menunjukkan 13.36. Terlambat enam menit,  saatnya masuk kelas kembali.
                                                                        ***

Rapat sudah di mulai 15 menit yang lalu. Kini Kirana, koordinator bidang acara sedang menjelaskan gambaran projek sosial yang akan kita laksanakan ke teman-teman yang sedang bergabung. Aku yang juga pemimpin rapat saat ini dalam posisi memperhatikan.

“Ya sampai disini ada tanggapan dan pertanyaan?” Tanya kirana

“Aku kak?” seorang mahasiswa mengangkat tangan.

“Ya silahkan” Aku mengizinkan.

“Wah bagus kak, kalo gitu acara yang kita buat seharusnya pasca event ada lagi follow up-nya. Biar impact nya lebih besar dan suistainable.” Mahasiswa itu memberikan tanggapannya.

“Ketua aja yang jawab” Minta kirana kepada aku.

“Nah bener teman-teman, event ini hanya sebagai langkah awal. Abis ini kita akan buat sebuah gerakan yang terprogram dengan baik. Agar potensi-potensi yang telah dijelaskan kirana tadi bisa kita kembangkan secara maksimal. Oleh karena itu tingkat kesuksesan event ini, mempengaruhi langkah kita kedepannya.” Jelas ku.

Rapat berjalan sangat baik, beberapa anggota baru itu cukup kritis dan memberikan masukkan yang baik. Hingga sepuluh menit kemudian Bima yang berada di sampingku berbisik kepadaku.

“Ketua, itu yang namanya Bella baru dateng.”

Mata ku tertuju kepada tiga mahasiswa yang sedang berjalan menuju forum rapat. Aku melihat sekilas, tak begitu memperhatikan. Lalu kembali fokus kepada penjelasan ide seorang mahasiswi yang juga anggota baru.

“Assalamu’alaikum” Ucap salah seorang mahasiswa yang tadi berbarengan langkah dengan Bella.

“Wa’alaikumsalam” beberapa peserta rapat menjawab.

“Gimana ketua? Badai kan?” Bima berbisik, pelan.

Kali ini aku tak begitu mendengar suara Bima. Tanpa aba-aba yang ia ucapkan perhatianku sudah sepenuhnya teralihkan. Tertuju kepada salah seorang dari tiga orang yang baru saja datang. Bukan, bukan kepada Bella yang dengan rambut panjang tergerai, kemeja dan jeans yang cukup ketat. Dan tentunya dempul muka yang terlihat ia sangat lihai dalam berdandan. Sungguh bukan kepada dia yang mungkin bisa menarik perhatian yang lain.

Mata ini sungguh telah terfokuskan kepada seseorang yang membersamainya, gadis berkaca mata yang menggunakan jilbab hijau terulur panjangg hingga menyentuh bagian pinggangnya. Cardigan hijau lumut yang ia padukan dengan gamis hijau entah bagaimana serasi dimataku. Teduh, bagai melihat pepohonan rimbun dalam savana yang luas di tengah hari yang terik.

Nafas ku tertahan, jantungku berdegub kencang. Dia dengan sempurna  membuat aku merasakan ke anehan yang ku rasa belum pernah terjadi sepanjang hidupku dalam 15 detik terakhir.

“yee.. Jangan di liat mulu Bella-nya. Fokus ketua.” Bima menyadarkanku dengan sikutnya yang mengenai perut ku bagian samping.

“Siapa si yang ngeliatin Bella. Udah-udah ah bahas ceweknya. Orang lagi rapat tu fokus Bim.”

Aku coba kembali memfokuskan diri dalam suasana rapat. Kirana masih menjelaskan beberapa hal. Sebagian peserta rapat sesekali mengangguk-angguk, termasuk dia. Ya dia, entah bagaimana dia terasa berbeda. Aura macam apa yang terpancar darinya. Dan mata itu, mata sendu itu bagaimana bisa mengambil alih perhatianku? Dan bagaimana bisa juga ketukan jantung ini menjadi tak beraturan dan begitu cepat.

Oh Tuhan, mengapa juga terlalu banyak pertanyaan? Seperti inikah cinta?

(Bersambung) 


gambar

Selasa, 10 Mei 2016

Sewindu Menata Rindu ~ (Part 3 - Tamat)

Waktu terus berlalu. Kumpulan detik-detik itu kini mulai menjadi menit. Dan jumlah menit itu-pun semakin lama semakin bertambah. Sedangkan aku masih duduk termangu dimeja ini. Bibirku kelu, kaki ku membeku. Entah hawa gadis itu mulai menusuk-nusuk diri ini. Rindu yang selama ini memelukku dengan sayapnya, kini mulai terbuka. Belati diantara sayap yang senantiasa menikamku juga mulai menjauh.

Kini, rindu yang menyembilu itu berganti dengan rasa gugup dan takut.  Najma, kini sudah dihadapan. Dan aku masih menjadi lelaki pengecut yang tak bisa berbuat apa-apa.  Keberanianku luruh, aku (sampai sekarang) hanya dapat melihatnya dari jauh. Memperhatikan senyumannya dalam keterdiaman yang tak tahu kapan ujungnya.

Cinta memang membawa kesenangan dan kesedihan dalam setiap episodenya. Ketika tubuh ini luluh lantah karena rindu yang tak kenal ampun merundung pilu. Kini ketakutan yang menyiksa ku. Gigi ku gemetar, dahiku berpeluh. Tubuhku mulai memahami kondisi diri, tanganku yang mulai becek dialiri keringat. Segumpal harapan yang sempat hadir ketika sosoknya datang, kini berubah menjadi resah tiada tara.

Pengecut. Aku mulai berteriak tanpa suara. Apa yang dapat dibanggakan dari cinta yang berucap saja tak berdaya. Dalam kekalutan, aku mulai memaki diri. Sumpah serapah ku tak berujung, penyesalanku tak terelakkkan. Sedangkan ia? Tetap tersenyum indah diselingi gelak tawa ditengah teman-teman wanitanya.
Apakah ia merasakan yang aku rasa? Apakah ia memikirkan apa yang kupikirkan?

“Assalamu’alaikum teman-teman semua. Selamat malam...” Dalam renunganku, pembawa acara mulai membuka acara formal reuni SMP ini. Aku tak peduli, sungguh. Bahkan hingga ratusan kata terucap sang pembawa acara hingga penampilan salah seorang alumni menyanyikan lagu dengan gitar akustiknya, aku tetap tak peduli. Aku disini bukan untuk itu, aku disini untuk Najma.

Sepuluh menit, dua puluh menit, hingga lima puluh menit sudah berlalu. Berbagai rangkaian acara sudah terlaksana. Setiap penampilan dan hiburan sudah tersuguhkan. Dan aku masih tetap disini, menatapnya (masih) dalam kejauhan.

“Teman-teman, nah kayaknya kita butuh empat orang nih untuk nemenin eike ambil kertas serta bacain door prize reunian.” Pembawa acara memasuki acara selanjutnya.

“Nah, Rudi yang dari SMP sampe sekarang masih ganteng aja. Terus Nia miss hebring, sama ustadzah kita Najma. Juga Cakra yang bengong aja di ujung sana. Yuk mari kedepan. Yeay tepuk tangan.”

Aku tersentak, bagai petir yang menyambar. Mata ku langsung menyala, energi mengalir begitu saja disekujur tubuhku. Namaku disebut bersamaan Najma untuk naik ke panggung. Ah, Mike si cowok feminim yang jadi pembawa acara mengerti aku. atau setidaknya dia mendengar jeritan hati ku.

Kini, Rudi sudah berada di panggung, begitu juga Nia. Aku dengan segera menuju panggung. Dan Najma baru saja berdiri dari bangkunya dan mulai melangkahkan kakinya. Tanpa waktu lama, sejurus kemudian Najma sudah berada dihadapanku lebih dekat, lebih dekat lagi. Ia semakin dekat panggung ini. Dan tantangan selanjutnya adalah, menyapa. Ah, ternyata tak mudah menyapanya. Apa yang harus ku katakan? Apakah “hai Najma”, atau “apa kabar Najma?”, atau “wah sudah lama tak jumpa Najma”. Arrrggghh, ternyata tak mudah menyapanya.

“Ini Cakra? Wah apa kabar Cak?” Dalam kebingungan ku Najma menyapaku begitu saja ketika ia sudah berada di panggung.

“Eh emm eh. Hai” Astaga, aku gugup. Bibirku kelu, fikiranku tiba-tiba terfokuskan untuk menenangkan gemuruh dalam dada. Bodoh, aku mulai salah tingkah.

“Baik cakra?” Dia kembali menanyakannya kembali. Memastikan aku menjawab pertanyaannya yang sebelumnya.

“iya Najma, baik. Kamu?” Aku mulai berusaha menguasai diriku. Berusaha menjadi lelaki dewasa dihadapannya. Bukan lagi lelaki ingusan berseragam putih biru.

“Nah teman-teman kita udah di depan. Jadi yuk mari kita minta teman-teman ini ambil kertas di wadah ini. Di mulai dari si cucok Rudi. Yuk mari Rud.” Mike beraksi lagi.
Rudi mulai memasukkan tangannya kedalam wadah berisi nama-nama teman-teman yang sudah tertulis dalam kertas. Sedangkan aku menatap Rudi, sekedar mengalihkan pandangan sejenak menatap Najma.

“Alhamdulillah, Aku baik kok” Ia menjawab pelan, sedikit berbisik. Lalu menyimpulkan senyum setelahnya.

Rudi telah menyelesaikan tugasnya. Nama dikertas itu juga sudah disebutkan. Aku tak mendengarnya, juga sorak sorai tepuk tangan hadiah yang akan diterima. Aku hanya terbuai keindahan yang ku rasakan kini. Berada didekatnya, melihatnya menujukan senyumannya kepadaku, mendengar suaranya dan mata sendunya. Aiiihh, bagai pohon rimbun di padang rerumputan kala mentari begitu terik menyinari dunia. Teduh.

Berapa menit kemudian berlalu. Kami berempat sudah menyelesaikan tugas yang diminta Mike. Penerima Door Prize-pun juga sudah memegang hadiahnya. Kini kami berempat mulai beringsut turun dari panggung.

“Najma, bentar dong. Bisa duduk di situ sebentar?” Aku menunjuk dua bangku kosong di antara empat orang lain yang sudah duduk disekitarnya.

Dia melihat sebentar, mungkin karena tempat duduk disana juga cukup ramai dan terdapat wanita dan pria disana, ia menyetujuinya. Kami menuju bangku itu dan terduduk rapi.

“Kamu sekarang tinggal dimana?” Aku memulai pembicaraan. Selama dipanggung tadi aku sudah mengumpulkan keberanianku, serta aku juga sudah bersumpah. Tidak adalagi mulut yang tak berbicara. Tidak ada lagi kata yang tak terucap.

Diawali dengan senyum, ia menjawab “Aku sekarang tinggal gak jauh kok dari sini. Udah setahun setengah bahkan aku udah tinggal sekitaran sini. Sambil-sambil ngajar di TK Sinar Bintang dua lampu merah dari sini.”

“Wah keren, jadi guru TK.” Aku terpesona, sudah pasti jiwa keibuannya telah terpancar kuat dari dirinya. Ditambah lagi sosok guru TK yang pandai mengelola anak-anak. Calon ibu yang baik. Gumamku dalam hati.

“Kamu kerja apa sekarang cak?”

“Aku kerja di kantor Asuransi nih. Lumayan agak jauh sih dari sini.”

Tiba-tiba seorang wanita yang ku kenal bernama Ria duduk disebelah kami lalu menyapa aku dan Najma. Tanpa waktu lama ia sudah larut beberapa perbincangan dengan Najma. Aku hanya memperhatikan mereka. Melihat cara bicara gadis bermata sendu ini yang entah bagaimana begitu manis.

Tak lama kemudian handphone Najma berbunyi. Ia mengangkatnya. Dan beberapa saat kemudian ia terlihat panik, dan mulai gusar.

“Susu udah dikasih? Masih nangis juga? Yaudah deh aku kesana sebentar lagi.” Aku mendengar sedikit perbincangannya. Ada apa dengan susu? Menangis?

“Aduh Ria, Cakra. Aku kayaknya ga bisa sampe abis ikut acara reuni ini. Anak ku nangis, suami aku bingung. Jadi aku harus pulang.” Ucap Najma seketika itu.

“heh Anak? Suami? Kamu udah nikah?” seketika keluar begitu saja pertanyaan itu. Kata-kata yang yang ku dengar barusan hampir saja mencopot jantungku.

“Iya cak. Udah satu setengah tahun juga. Aku pindah kesini lagi karena suami ngajak tinggal disini. Udah ya aku pergi dulu. Assalamu’alaikum.”

Gadis berjilbab itu mulai melangkah menjauh. Punggungnya mulai semakin berjarak lalu lenyap dibalik pintu kafe. Meninggalkan aku yang mematung. Tanpa bicara dan menatap kosong. Ria yang sedari tadi duduk dihadapanku juga sudah pergi. Tak berselera melihat sesosok manusia yang tak menggubris panggilannya.

Aku terhenyuk, sewindu aku menata rindu. Ternyata sudah terlambat. Delapan tahun aku memendam cinta. Ternyata terlewatkan begitu saja. Menyisakan aku dan sayap-sayap yang patah bagai mawar yang terinjak tak berdaya.

Ah, beginilah cinta. Ia memiliki ribuan kemungkinan saat pertama kali jumpa. Kitalah yang terlalu bodoh untuk hanya menginginkan akhir yang indah.

-Tamat-




Kamis, 14 April 2016

Sewindu Menata Rindu ~ (Part 2)

                
Matanya Sembab, wajahnya memerah. Air mata mulai mengalir membasahi pipinya. Dia menangis. Ya, dia menangis, dan seluruh orang terkejut, termasuk aku. Kakak kelas itu mulai memasang wajah bingung. Terharu kah dia? Tidak, wajahnya tak menggambarkan itu. Dan semua orang-pun mulai bingung akan respon Najma atas pernyataan cinta ini.

“Lu kenapa ma?” seorang siswi bertanya.

Najma bergeming, ia masih berusaha menata tangisnya. Dengan sesenggukan Najma berulang kali mengusap air mata dari wajahnya. Lelaki itu maju, mengangkat tangannya. Ingin ikut mengusap air mata di pipi si gadis bermata sendu itu. Najma beringsut mundur. Gesturnya menunjukkan ia tak mau disentuh.

“Kamu kenapa Najma?” Kini kakak kelas itu bertanya pelan, menatapnya lamat-lamat.

“Lu kenapa si? Jawab ngapa, jangan diem-diem mulu.” Gadis yang sedari tadi senyum dengan genit sekarang mulai memasang wajah jutek.

Kini seisi kelas menanti pernyataan sikap Najma. Ungkapan cinta dan respon Najma semakin membuat hati setiap insan di kelas bertanya-tanya. Apa yang akan di ucapkan Najma?

“Aku.....” Najma mulai membuka mulutnya. “Aku nggak mau pacaran dan nggak akan pacaran.”

Gadis berjilbab itu berlari menerobos lingkaran manusia yang mengerumuninya menuju bangku tempat ia duduk sebelumnya. Ia terduduk dan menutup wajahnya. Sikapnya itu diikuti dengan teriakan kecewa “para penonton” prosesi penembakan. Beberapa suara sumbang dari kerumunan orang terdengar, seperti “sok jual mahal banget sih lo” atau “ih kampung banget” dan berbagai perkataan lainnya. Sedangkan kakak kelas itu tersenyum, lalu meninggalkan kelas dengan santai. Entah apa yang ia rasa, rekor tak pernah ditolaknya runtuh. Kini gadis bermata sendu itu telah menolaknya.

Ditengah pandangan sinis beberapa orang dikelas. Aku terpaku dengan kejadian yang baru saja ku lihat. Kini mataku mulai menatap gadis itu. Melihat dirinya yang telah menangkup  kepalanya di meja yang berada dihadapannya. Dan tanpa ku sadar dalam tatapan itu ada simpati yang hadir,  ada rasa kagum yang menyelinap, dan ada benih-benih rasa yang hadir tak ku pahami.

Maka kejadian itu menjadi awal ini semua. Awal dari cinta yang menggelora, dan rindu yang menyembilu. Dan perasaan itu semakin meningkat saat beberapa minggu kemudian, seorang guru merombak tempat duduk kelas kami khusus satu hari. Entah takdir seperti apa hingga kita bertemu menjadi teman sebangku.

Aku canggung, begitu juga dia. Maka jadilah kami sepasang manusia pemalu yang menjadikan diam sebagai bahasa pertemuan pertama. Sampai akhirnya aku mencoba memecah sunyi. Dengan bertanya beberapa hal.

“Najma?”

“Ya?”

“Ada satu hal yang aku penasaran sama kamu. boleh nanya ngga?”

“Boleh-boleh aja kok.”

“Kamu kenapa nangis waktu itu? Waktu kamu di tembak kakak keren itu?”

Najma terdiam. Dan aku menjadi salah tingkah menghadapi kesunyian ini.

“Eh, kalo kamu nggak nyaman, nggak usah dijawab juga gapapa” ucapku.

Najma kini tersenyum. Lalu beberapa saat kemudian dia mulai menjawab lagi.

“Aku nggak mau pacaran dulu cakra.”

“Kenapa?”

“Aku udah berprinsip akan hal itu. Tuhan nggak suka perbuatan itu. Dan aku juga nggak mau kayak cewek-cewek biasa cak. Dan aku akan mencoba mempertahankan itu.”

Najma mengakhiri kata-katanya dengan simpul senyum di bibirnya. Kali ini senyumnya lebih menawan dari sebelumnya. Aku bahkan sampai lupa bernafas sesaat memandang wajah serta mendengar jawabannya. Wanita berprinsip memang selalu mempesona.

Kami-pun melanjutkan hari itu dengan berbagai perbincangan. Hingga aku mengetahui banyak hal tentangnya. Bahwa ia adalah anak sulung dari 5 bersaudara, juga kehidupan ekonomi yang sulit ia alami. Aku menikmati kebersamaan hari itu. Karena itu adalah pembicaraan terakhir aku dan dia yang cukup lama.

Sejak saat itu, kami tak pernah berbincang lama akan suatu hal. Karena memang dia yang selalu bersama teman wanitanya dan aku lelaki pemalu yang tak pandai memulai perbincangan. Terlebih ketika kenaikan kelas memisahkan kita di kelas yang berbeda. Berbincang dengannya adalah hal yang sangat sulit. Bahkan lebih sulit dari menuliskan sebuah puisi atau menghafal bahasa latin pelajaran biologi, kedua hal yang juga dia sukai—itu juga aku ketahui dari orang lain.

Semuanya berlanjut hingga kelulusan tiba, dan aku mendengar kabar bahwa dia memilih untuk meninggalkan kota. “Keluarga kami harus meninggalkan kota, di desa lebih tenang.” Begitu ucapnya, walau aku tahu, bahwa ayahnya bangkrut dalam dagang hingga membuat mereka harus kembali kedesa.

Kami berpisah, tanpa salam apalagi pertemuan terakhir. Ia pergi begitu saja, tanpa alamat atau nomor yang dapat aku hubungi. Dia hilang, dan membawa seluruh rasa ini bersamanya. Beberapa cara aku coba untuk sekedar mencari informasi tentangnya. Tempatnya tinggal, sosial media, bahkan nomor telepon genggam-pun tak ada. Semua nihil. Hingga akhirnya aku terhenyak, cinta macam apa yang tak berdaya dengan sebuah kata perpisahan.

Delapan tahun lamanya aku mencari, sewindu lamanya aku menata rindu. Dan kini Tuhan menjawab do’a-do’a ku. Dia hadir dalam bentuk daftar kehadiran alumni angkatan sekolah menengah pertama. Disebuah acara yang aku pilih untuk tidak hadir sebelumnya. Akan tetapi ia hadir. Dan aku akan menemuinya. Disini, di acara ini.

“Eh elu ngapain si bengong aja.” Suara dari disamping ku memecahkan lamunanku. Seorang teman memukul pundak yang sebelum-sebelumnya hanya menebar lelucon ke teman-teman yang lain.

“Haha, apaan dah lu. Lanjut-lanjutlah ngelawaknya.” Aku mencairkan suasana. Dan selanjutnya aku memilih untuk lebur dalam suasana hangat teman-teman lama ini. Mulutku mulai berbicara banyak, bercerita tentang kuliah dan pekerjaanku di sebuah perusahaan asuransi.

Lima menit berlalu, pintu cafe terbuka untuk kesekian kalinya. Namun kali ini berbeda, ada sesuatu yang istimewa. Sesosok gadis berjilbab biru dengan campuran warna gamis berwarna putih kebiruan hadir di balik pintu cafe yang terbuka perlahan. Wanita itu datang, gurat wajahnya berubah, terlebih postur tubuhnya. Ia menjadi sesosok gadis yang berbeda,  akan tetapi auranya sama.

Air mukanya menggambarkan kedewasaan, langkahnya melukiskan kematangan. Ia menjadi sosok wanita yang mempesona. Ah ya matanya, masih mata sendu seperti dulu. Teduh, seperti cahaya rembulan. Ia kini berjalan menuju meja yang cukup jauh dari ku. Dan aku tetap terpaku di sini, di bangku dan meja ini tanpa bersuara dan berkedip. Pernahkah kau merasakan mulutmu kelu, nafasmu terhenti sejenak dan jantungmu berdegup kencang? Maka itu yang ku rasakan kini.

Dari kejauhan ia tersenyum. Bukan. Senyum itu bukan untuk ku, tapi untuk teman-teman wanita lain. Lalu dia melambai, juga bukan untukku, Namun untuk teman lain di ujung sana. Ah aku lupa, bukankah dari dulu seperti itu, aku adalah manusia tak tampak dihadapannya. Lelaki penyendiri yang hawanya tak terasa. Bahkan sampai saat ini-pun aku tetap menjadi sosok pemalu yang bingung mencari cara untuk berbincang dengannya. (Bersambung)





Senin, 11 April 2016

Sewindu Menata Rindu ~ (Part 1)


    Aku coba menghela nafas perlahan sambil senantiasa memandang pintu masuk cafe. Memperhatikan setiap  orang yang lalu lalang. Melihat setiap wajah pengunjung dan menyaksikan setiap inci pergerakan pintu baik itu terbuka maupun tertutup.

Mulut ini diam, tak bersuara. Hanya jemari yang senantiasa memainkan sedotan jus yang sedari tadi tak terminum.  Sudah dua puluh menit berlalu, dan mata ku berulang kali hanya tertuju jam tangan dan pintu cafe. Walau sekali-kali menyimpulkan senyum ke teman-teman sekitar yang sibuk berbincang ria.
          
          Sekelilingku dipenuhi akan nostalgia mereka. Ada yang bersemangat bercerita kehidupan pasca masa putih biru, ada yang menyampaikan kesibukan mereka baik pekerjaan atau skripsi yang tak kunjung kelar. Ada juga yang tak henti berkelakar ditemani  meraka yang menjadi pendengar setia dengan sekali-kali menyumbangkan tawa. Walau dibeberapa titik ada pula mereka yang canggung-canggung, mencari celah untuk sekedar berkata “hai” kepada sang mantan. Mereka bersuka ria, larut dengan cerita-cerita menarik dalam reuni angkatan sekolah menengah pertama kami hari ini.
                
        Sedangkan aku? Ah, aku hanya lelaki penyendiri yang lebih memilih untuk diam. Hanya sibuk akan memori masa lalu. Menggali berbagai cerita yang pernah singgah. Memutar ulang kisah kami berdua. Maksudku cerita dua manusia—karena memang kita tak memiliki cerita berdua secara spesial. Merenung dan menunggu seseorang yang sekian lama ingin ku tatap.
         
        Seseorang yang namanya terpampang dalam list kehadiran yang di umumkan oleh panitia beberapa hari lalu, dan menjadi alasan mengapa aku ada ditempat ini sekarang. Sosok yang mengenalkan ku akan sesuatu yang selama ini sulit kurasakan. Karena ia telah merenggutnya secara penuh, habis tak tersisa. Hingga tak bisa ku curahkan rasa yang serupa ke lain wanita.

         Ya, jika di dunia ini ada yang namanya cinta pertama, maka aku merasakannya, bahkan hingga sekarang. Bukankah kata banyak orang cinta pertama tak pernah hilang? Ah, itu tak penting. Sekarang penantianku akan terbayar.
                
         Aku tak sabar menunggu, karena manusia mana yang senang dalam menunggu? Cinta memang seperti itu, dengan segala keindahannya Tuhan juga menanamkan perihnya rindu didalamnya. Maka setelah pengumuman kelulusan SMP terpampang, jadilah itu menjadi lembaran awal ceritaku menjadi pemuda yang tersiksa dalam pengelolaan rindu selama 8 tahun. Benar kata orang, love is sweet torment. Namun kini, rindu itu akan terbayar. Dan aku tak akan menghilangkan kesempatan ini.
                
       Adalah Najma, gadis lembut yang telah mengambil seluruh perhatianku kepadanya. Sesuai namanya, ia menjadi bintang yang menghiasi kelam malamku. Menjadi cahaya yang menyinari kesendirian diriku. Dan yang terindah. Mata sendunya, membuat indra ku tak pernah alfa dari semua tentangnya.

Dan itu semua berawal sejak saat itu. Sejak gadis berjilbab yang terbiasa duduk di sudut kelas dengan bukunya, dengan tiba-tiba ditarik beberapa siswi menuju depan kelas. Kala itu ia terkejut, wajahnya bingung mengapa teman-temannya membawanya ke depan kelas.
                
         Dan tiba-tiba kelas itu hening, tak bersuara. Kala seorang kakak kelas muncul dibalik pintu yang baru saja terbuka. Lelaki itu hadir dengan senyum di wajahnya. Langkahnya mantap ditemani sekuntum bunga di tangan kanannya. Kelas-pun menjadi semakin hening, hanya langkah kaki lelaki itu saja yang terdengar. Aku pun ikut terdiam, memandang tak acuh dari bangku paling belakang.
         
        “Najma, sebenernya, aku udah lama memperhatikan kamu.” Lelaki itu memulai kata-katanya. “Sifat mu yang lembut, wajahmu yang cantik dan kebaikan dirimu, telah membuatku jatuh cinta kepadamu.”
                
     Najma terdiam, kelas terdiam. Semua siswa dan siswi mendengar setiap kata-kata yang disampaikan lelaki itu. Hanya beberapa siswi yang tersenyum genit merasa tersentuh. Mungkin dalam hatinya berkata “kenapa bukan aku aja sih kak?”.
                
         “Aku gak mau panjang-panjang bicara.” Kakak itu melanjutkan. “Jadi aku langsung saja. Kamu mau ngga jadi pacar aku?”
                
        Sepersekian detik dari kata-kata lelaki itu, semua orang dikelas mulai berteriak. “Terima, terima, terima.” Beberapa siswa sambil menepuk tangannya agar suasana kelas makin meriah. Beberapa siswi berinisiatif membisikkan najma untuk menerimanya.
                
       Najma masih terdiam, lelaki itu masih tersenyum dengan bunga mawar yang ia pegang. Dan aku, masih merasa cuek atas pertunjukan “penembakan” di depan kelas. Bagaimana tidak, Lelaki yang menembak Najma adalah lelaki yang terkenal ganteng seantero sekolah, motornya juga bagus. Ia juga atlit basket yang mumpuni. Makanya ia menjadi idaman banyak siswi karena pesonanya.
                
        Maka aku hampir tak ambil pikir apa jawaban Najma. Karena track record kakak kelas itu tak pernah ditolak oleh siswi-siswi.  Dan dari gestur sang kakak kelas, ia merasa akan diterima dengan gadis yang baru saja ia tembak ini.
      
       Suasana makin ramai, sedangkan Najma masih terdiam. Kali ini iya menunduk. Mendengar teriakan teman-teman sekelas untuk menerima tawaran kakak kelas ganteng tersebut tak membuatnya bicara.
                
          “Gimana Najma?” Lelaki itu kembali bertanya, memastikan jawaban.
                
         Setelah sekian detik, Najma mengangkat kepala. Seantero kelas terkejut. Aku-pun juga terkejut menatap matanya. (Bersambung)


Sabtu, 12 September 2015

Rembulan yang Dirindui (1)

Siapa yang tak mengenalnya? Pemuda cerdas yag berdiri tegap itu, Ya, aku mengenalnya. Bahkan melebihi mereka-mereka yang setiap hari membicarakannya. Juga melebihi mahasiswi-mahasiswi yang berulang kali ku dengar berbincang tentangnya. Aku mengenalnya, karena memang tidak mungkin ku tak mengenalnya. Namanya terdengar syahdu. Ia menjadi kebanggaan kawan-kawannya, terutama teman-teman se-fakultasnya. Dan tentu saja, teman sefakulyasnya adalah teman sefakultasku.

 
Ia, seorang lelaki yang wajahnya bagai mentari yang menyinari semesta. Senyumnya membakar semangat. Tutur katanya halus dan penuh hikmah. Teman, senior dan junior telah banyak meneguk inspirasi darinya. Matanya tajam namun teduh. Menyorotkan sebuah kepedulian. Hingga gerak-geriknya ia lakukan untuk sesama.

Maka tak mengherankan, ia di tunjuk sebagai ketua himpunan dan melanjutkan menjadi ketua organisasi kepemudaan tingkat provinsi yang senantiasa bergerilya berjuang untuk masyarakat. Ya, aku menyaksikannya. Aku menyaksikannya sejak ia berproses di himpunan dan organisasi kepemudaan itu. Aku menyaksikannya sebagai anggota. Ia memiliki kepemimpinan mempesona, pengelolaannya rapi, orasinya menggelora. Tak mudah menemukan seseorang sepertinya.

Dan kini, di bandara ini, pemuda itu berada di hadapanku. Tidak, tidak, tidak hanya di depan ku. Lebih tepatnya di hadapan teman-temannya yang lain. Bahkan ia tak tepat di depanku. Karena aku lebih memilih untuk tak mendekatinya. Dan berdiri di kerumunan belakang. Tak kuasa rasanya tubuh ini berhadapan dengannya. Bahkan sampai detik perpisahan ini, aku tak pandai berbasa-basi dengannya walau hanya sekedar kalimat indah perpisahan. “Selamat tinggal dan hati-hati”, hanya itu yang ku ucapkan, tiada yang istimewa. Namun kau menyambutnya dengan senyum, senyum bagai sinaran mentari yang membuatku tak sanggup menatapnya dan memilih menunduk.

Beberapa saat berlalu, kau akhirnya berbalik, menuju ruangan untuk mempersiapkan mu terbang tinggi. Jauh, hingga mungkin ku takkan bertemu denganmu. Engkau pergi, dengan membawa tas penuh dengan mimpi untuk di realisasikan.

Langkahmu pasti, derap langkahmu mantap. Aku mengingatnya, dengan mata penuh harapan. Kau berulang kali kau mengulang ini, mimpi-mimpi mu yang akan kau torehkan pasca wisuda. Kau sampaikan dengan menggelora di berbagai pelatihan, kau ungkapkan dengan semangat pada motivation training. Hingga kini kau mendapatkannya, mimpi untuk ke negara kincir angin untuk melanjutkan studimu akhirnya kau raih. Hingga satuan gerak kakimu membuat kau jauh, jauh, dan mengecil hingga kau hilang dari pandanganku. Dan benar, sosok mu sudah tak terlihat, lenyap tak berbekas.

Aku tak menangis, sungguh. Bahkan berkaca-kaca saja tidak. Aku masih dapat tersenyum. Walau ku akui, ada suatu hal yang berguncang dibenak ini. Cukup keras, hingga sakit dada ini. Guncangan yang tak ku sangka bisa sebesar ini.

“fira.... fira...” Rahel memanggilku, memecahkan segalanya.

“yeee.... dia ngelamun, dah ikhlasin aja Ka Rizki itu pergi.” Lanjutnya

“Apaan sih lu, siapa juga yang ngelamunin dia.” Jawab ku cuek

“Yaudah, kita balik yuk. Anak-anak ngajak makan tuh” Ajak rahel kepada ku.

Aku pun mengangguk dan mengikuti langkahnya.
***
         
       “Kadang kita harus membuat jarak dengan seorang yang kita cintai untuk saling menjaga”. Pernah ku mendengar ungkapan itu, sebuah ungkapan yang mengitari isi kepalaku. Sebuah ungkapan yang menegaskan bahwa kita harus menjarak untuk saling menjaga. Agar tiada yang tersakiti, dan agar tiada yang di murkai oleh-Nya.
        
        Karena mungkin rasa yang bergejolak dalam jiwa ini membuat kita ingin mendekatinya, berbicara dengannya, bersenda-gurau dan berjalan bersamanya. Namun kita harus mengetahui, saat kita mendekatinya, itu akan menjadi jalan awal kenestapaan kita. Itu bisa menjadi nelangsa dalam hidup kita. Kita rapuh, serapuh iman kita karena berdekatan dengannya. Kita ringkih, seringkih ketaatan kita kepada Sang Maha Kuat karena gurauan bersamanya.
          
Maka, kita harus mencontoh sang bumi. Karena cintanya kepada matahari, ia jauhkan dirinya. Agar tiada yang tersakiti, agar tiada yang tercerai-berai. Ia menjarakkan tubuhnya agar dirinya tak hancur, rusak berkeping-keping. Ia rela. Rela untuk menjaga dirinya dan matahari dari kehancuran.

Lalu sambil membuat jarak kita tersebut, kita berdo’a kepada-Nya. Agar cinta yang mengakar dalam itu, dapat terrealisasikan. Agar mentari yang panas itu, diubah-Nya menjadi rembulan. Agar ia dapat berlari riang menemani bumi menjalani orbit hidupnya. Agar ia dapat menerangi bumi dalam kegelapan. Selama-lamanya, hingga Allah menentukan waktu keberpisahan.
  
        Menjarak untuk sebuah keterjagaan. Itu yang ku lakukan sejak ku melihatnya. Walau perih, walau sulit. Semua rasa itu, ku simpan rapat dalam hati dan ku jaga dalam-dalam. Karena Allah punya jawaban. Karena Sang Maha Indah memiliki skenario yang tentu indah nanti. Entah matahari itu tetap menjadi matahari. Atau ia berubah menjadi rembulan nan cantik parasnya.
          
      Biar ku disini, berjalan seorang diri, melihat mentari ku dari kejauhan, diam dan berulang kali menggamitkan untaian do’a. Agar rembulan yang dirindui itu hadir untuk menjawab segala jawaban. Agar rembulan itu datang untuk menghapuskan kesendirian.  (to be continue...)

Selasa, 10 Maret 2015

Dan Bidadari-Nya yang Menemanimu


Tenda besar terpasang. Hiasan lampu menggantung indah di tiang-tiangnya. Meriah, megah, namun sederhana. Deretan kursi memenuhi ruangan. Tamu undangan berlalu lalang. Ada yang sibuk menikmati sajian, ada yang bersalaman dan berfoto dengan mempelai. Kesibukan itu ditemani alunan nasyid-nasyid pernikahan islami. Bersenandung dengan kata-kata nasihat nan syahdu dan menyejukkan.
            Itulah suasananya, pernikahan kami. Saat itu dia begitu tampan dibaluti jas hitam yang elegan. Sedangkan aku menggunakan gaun putih. Anggrek putih menghiasi jilbab dikepalaku. “Mempesona” begitu ucap sang mempelai lelaki. “Bahkan langit tersenyum cerah melihat seorang bidadari bersanding dengan ku” bisiknya saat kami sedang berjalan beriringan menuju pelaminan. Sebuah kata-kata yang menyentuh hati.
Kala itu, aku bagai seorang ratu yang ditemani raja nan tampan dan gagah. Ya, aku mengenalnya sebagai laki-laki yang shalih dan bijaksana. Tinggi semampai, berwajah teduh dan berkelakuan baik. Furqon, ya itulah namanya.Dan teman-temanku yang membincangkan dia sebagai suami idaman terkejut ketika mendengar bahwa aku dilamar olehnya. Padahal aku baru semester 6. Ya, hal itu terjadi sebulan lalu. Kini ia sudah berada disini. Disamping ku, dalam pesta pernikahan kami.
                                                             
Google Pict
***
Hari-hari kami lalui, kami yang berusia muda bersiap membuka lembaran baru dalam hidup. Berkeluarga. Dan kami memiliki syarat menjadi keluarga bahagia.Furqan mencintaiku dan akupun demikian. Lembaran awal pernikahan kami dipenuhi dengan keberkahan. Suami ku yang paham agama mewarnai hidup kami dengan warna-warna islam. Kecupan hangat pada sepertiga malam untuk shalat malam berjama’ah, melantunkan ayat-ayat Sang Maha Cinta setelah shalat subuh tertunaikan, dan berbagai kegiatan indah lainnya.
Suamiku yang telah wisuda beberapa bulan sebelum pernikahan kami, sudah bekerja di sebuah perusahaan sosial di sekitaran kampus, sedangkan aku masih berkutat dengan skripsi yang belum menemui ujungnya.  Kami menjalani dengan berbagai kejutan dalam kehidupan kami. Termasuk pada saat itu. Saat matahari senja menyinari bumi. Suamiku pulang kerumah dengan wajah berseri, senyumnya melambangkan kesenangan tak terhingga. Setelah mengucapkan salam, kalimat syukur terucap olehnya. “Alhamdulillah” ucapnya “aku lulus S2 ke jepang ,yang”. Dengan sekejap kami telah berpelukan, melantunkan ucapan syukur.
            Ketika mendengar itu aku senang karena impian suami ku tercapai impiannya. Melanjutkan studi keluar negeri. Namun kesenangan ini sedikit tertahan karena kenyataan ini. Kenyataan kami harus berpisah. “Makanya cepat selesaikan kuliah mu ya cantik, biar kita bisa bersama di jepang nantinya” ungkapnya kepada aku di teras rumah kami. “Besok kita akan berpisah, aku sudah harus terbang ke tokyo.” Akupun tertegun, hanya dapat diam. Lalu kami saling bertatap. Cukup lama. Hening. Hingga sebuah kata memecah kesunyian “Aku tunggu kamu di jepang ya” ucapnya sambil mengecup keningku.
Esok, bandara menjadi saksi bisu kami. Enam bulan baru pernikahan kami, namun hubungan jarak jauh harus kami alami. Dua bulan, ya dua bulan lagi janjiku untuk menyelesaikan skripsi ku dan kami bersama lagi setiap hari. Melakukan berbagai hal bersama.Dan itu menjadi motivasiku.
Pesawatnya telah terbang tinggi menyibak awan putih dilangit yang biru. Ia terbang membawa mimpi, mimpi yang ia idamkan sejak dulu. Dan kini, aku sendiri. Tak ada lagi kecupnya disepertiga malam, tidak ada lagi salamnya ketika pulang di senja hari. Lantunan kata nasihatnya, senyumnya yang menyejukkan, ungkapan cinta mesranya hanya dapat kulihat dan dengar melewati video call.
Dan kehidupan itu mulai ku jalani, hubungan yang hanya kami lewati dengan perantara teknologi. Dan waktu meluncur begitu cepat. Bagai desing peluru. Sebulan setengah telah kami lewati. Malam itu, dibawah langit yang bersih tak tersaput awan. Ditemani bulan dan bintang gemintang yang membentuk ribuan formasi. Aku duduk, berbincang dengan suamiku melalui telepon. “Skripsi ku sudah rampung, dan insya Allah 6 hari lagi aku sidang” ucapkan ku. Selanjutnya kata-kata rindu yang membucah tak sabar menunggu terucap mesra dalam telepon tersebut.
Kebahagiaan terukir pada malam itu. Ya, malam itu. Namun tidak untuk besok. Karena esok aku terguncang. Gempa besar menimpa negeri sakura. Delapan skala richter besarnya guncangan gempa. Tapi guncangan dihatiku lebih besar dari gempa tersebut. Panik. Khawatir. Entah apa yang kurasa. Satu hari, dua hari, bahkan hingga lima hari. Ku menunggu, hanya menunggu kabar. Hingga kabar itu menyapa. Jepang yang terbiasa menghadapi bencana mengumumkan korban yang hanya lima orang. Dua diantaranya adalah warga asing dan akan dikirim kenegeri asal. “Muhammad Furqan” nama itu tersebut.
Aaaaarrrrghhhh........
Hancur. Perih. Teriakan tak bersuara memenuhi jiwaku. Kehilangan ini menusuk-nusuk hati. Ketika kabar itu tiba hanya deraian air mata yang menemaniku, bahkan hingga jasadnya yang dari jepang kami makamkan. Aku hanya menatap kosong dipusaranya. Tubuh ku bergetar. Bagai burung yang menggigil kedinginan.  Berbagai kenangan terlintas. Senyum itu. Kecupan itu. Gurauan itu. Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang syahdu itu tak dapat ku dengar kembali.
Kini tidak hanya jarak yang menjadi penghalang kami. Bahkan dunia telah terpisah. Ia, telah tersenyum indah menatap Rabb-nya. Bermain di taman sugawi. Bermanjakan kenikmatan. Ditemani bidadari-bidadari surga. Dan aku? Berdiri disini sendiri, hanya ditemani ribuan perih yang menguras setiap derai air mata yang ku punya. Namu, di dunia kesedihan ku, kusadari bahwa lelaki shalih seperti mu pantas menerimanya. Menerima setiap hadiah luar biasa dari Allah. Dan akhirnya guratan senyum terukir diwajahku. “semoga kamu tenang disana cintaku” lirih ku berucap.