Selasa, 10 Maret 2015

Dan Bidadari-Nya yang Menemanimu


Tenda besar terpasang. Hiasan lampu menggantung indah di tiang-tiangnya. Meriah, megah, namun sederhana. Deretan kursi memenuhi ruangan. Tamu undangan berlalu lalang. Ada yang sibuk menikmati sajian, ada yang bersalaman dan berfoto dengan mempelai. Kesibukan itu ditemani alunan nasyid-nasyid pernikahan islami. Bersenandung dengan kata-kata nasihat nan syahdu dan menyejukkan.
            Itulah suasananya, pernikahan kami. Saat itu dia begitu tampan dibaluti jas hitam yang elegan. Sedangkan aku menggunakan gaun putih. Anggrek putih menghiasi jilbab dikepalaku. “Mempesona” begitu ucap sang mempelai lelaki. “Bahkan langit tersenyum cerah melihat seorang bidadari bersanding dengan ku” bisiknya saat kami sedang berjalan beriringan menuju pelaminan. Sebuah kata-kata yang menyentuh hati.
Kala itu, aku bagai seorang ratu yang ditemani raja nan tampan dan gagah. Ya, aku mengenalnya sebagai laki-laki yang shalih dan bijaksana. Tinggi semampai, berwajah teduh dan berkelakuan baik. Furqon, ya itulah namanya.Dan teman-temanku yang membincangkan dia sebagai suami idaman terkejut ketika mendengar bahwa aku dilamar olehnya. Padahal aku baru semester 6. Ya, hal itu terjadi sebulan lalu. Kini ia sudah berada disini. Disamping ku, dalam pesta pernikahan kami.
                                                             
Google Pict
***
Hari-hari kami lalui, kami yang berusia muda bersiap membuka lembaran baru dalam hidup. Berkeluarga. Dan kami memiliki syarat menjadi keluarga bahagia.Furqan mencintaiku dan akupun demikian. Lembaran awal pernikahan kami dipenuhi dengan keberkahan. Suami ku yang paham agama mewarnai hidup kami dengan warna-warna islam. Kecupan hangat pada sepertiga malam untuk shalat malam berjama’ah, melantunkan ayat-ayat Sang Maha Cinta setelah shalat subuh tertunaikan, dan berbagai kegiatan indah lainnya.
Suamiku yang telah wisuda beberapa bulan sebelum pernikahan kami, sudah bekerja di sebuah perusahaan sosial di sekitaran kampus, sedangkan aku masih berkutat dengan skripsi yang belum menemui ujungnya.  Kami menjalani dengan berbagai kejutan dalam kehidupan kami. Termasuk pada saat itu. Saat matahari senja menyinari bumi. Suamiku pulang kerumah dengan wajah berseri, senyumnya melambangkan kesenangan tak terhingga. Setelah mengucapkan salam, kalimat syukur terucap olehnya. “Alhamdulillah” ucapnya “aku lulus S2 ke jepang ,yang”. Dengan sekejap kami telah berpelukan, melantunkan ucapan syukur.
            Ketika mendengar itu aku senang karena impian suami ku tercapai impiannya. Melanjutkan studi keluar negeri. Namun kesenangan ini sedikit tertahan karena kenyataan ini. Kenyataan kami harus berpisah. “Makanya cepat selesaikan kuliah mu ya cantik, biar kita bisa bersama di jepang nantinya” ungkapnya kepada aku di teras rumah kami. “Besok kita akan berpisah, aku sudah harus terbang ke tokyo.” Akupun tertegun, hanya dapat diam. Lalu kami saling bertatap. Cukup lama. Hening. Hingga sebuah kata memecah kesunyian “Aku tunggu kamu di jepang ya” ucapnya sambil mengecup keningku.
Esok, bandara menjadi saksi bisu kami. Enam bulan baru pernikahan kami, namun hubungan jarak jauh harus kami alami. Dua bulan, ya dua bulan lagi janjiku untuk menyelesaikan skripsi ku dan kami bersama lagi setiap hari. Melakukan berbagai hal bersama.Dan itu menjadi motivasiku.
Pesawatnya telah terbang tinggi menyibak awan putih dilangit yang biru. Ia terbang membawa mimpi, mimpi yang ia idamkan sejak dulu. Dan kini, aku sendiri. Tak ada lagi kecupnya disepertiga malam, tidak ada lagi salamnya ketika pulang di senja hari. Lantunan kata nasihatnya, senyumnya yang menyejukkan, ungkapan cinta mesranya hanya dapat kulihat dan dengar melewati video call.
Dan kehidupan itu mulai ku jalani, hubungan yang hanya kami lewati dengan perantara teknologi. Dan waktu meluncur begitu cepat. Bagai desing peluru. Sebulan setengah telah kami lewati. Malam itu, dibawah langit yang bersih tak tersaput awan. Ditemani bulan dan bintang gemintang yang membentuk ribuan formasi. Aku duduk, berbincang dengan suamiku melalui telepon. “Skripsi ku sudah rampung, dan insya Allah 6 hari lagi aku sidang” ucapkan ku. Selanjutnya kata-kata rindu yang membucah tak sabar menunggu terucap mesra dalam telepon tersebut.
Kebahagiaan terukir pada malam itu. Ya, malam itu. Namun tidak untuk besok. Karena esok aku terguncang. Gempa besar menimpa negeri sakura. Delapan skala richter besarnya guncangan gempa. Tapi guncangan dihatiku lebih besar dari gempa tersebut. Panik. Khawatir. Entah apa yang kurasa. Satu hari, dua hari, bahkan hingga lima hari. Ku menunggu, hanya menunggu kabar. Hingga kabar itu menyapa. Jepang yang terbiasa menghadapi bencana mengumumkan korban yang hanya lima orang. Dua diantaranya adalah warga asing dan akan dikirim kenegeri asal. “Muhammad Furqan” nama itu tersebut.
Aaaaarrrrghhhh........
Hancur. Perih. Teriakan tak bersuara memenuhi jiwaku. Kehilangan ini menusuk-nusuk hati. Ketika kabar itu tiba hanya deraian air mata yang menemaniku, bahkan hingga jasadnya yang dari jepang kami makamkan. Aku hanya menatap kosong dipusaranya. Tubuh ku bergetar. Bagai burung yang menggigil kedinginan.  Berbagai kenangan terlintas. Senyum itu. Kecupan itu. Gurauan itu. Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang syahdu itu tak dapat ku dengar kembali.
Kini tidak hanya jarak yang menjadi penghalang kami. Bahkan dunia telah terpisah. Ia, telah tersenyum indah menatap Rabb-nya. Bermain di taman sugawi. Bermanjakan kenikmatan. Ditemani bidadari-bidadari surga. Dan aku? Berdiri disini sendiri, hanya ditemani ribuan perih yang menguras setiap derai air mata yang ku punya. Namu, di dunia kesedihan ku, kusadari bahwa lelaki shalih seperti mu pantas menerimanya. Menerima setiap hadiah luar biasa dari Allah. Dan akhirnya guratan senyum terukir diwajahku. “semoga kamu tenang disana cintaku” lirih ku berucap.

0 komentar:

Posting Komentar