Tampilkan postingan dengan label Pemuda & Pergerakkan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemuda & Pergerakkan. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Mei 2022

Menulis Buku & Penerbit Mayor

Sejak mulai belajar menulis secara otodidak saat masih siswa SMA kira-kira di tahun 2011 dengan cara menulis di blog pribadi. 

Saya sudah menargetkan bahwa diri ini tak ingin hanya pandai menulis. Tapi tulisan yang dihasilkan juga harus berkualitas secara kaidah maupun isi.

Maka pikiran sederhana saya ketika itu, tulisan itu harus diuji. Oleh siapa? Oleh editor profesional yang bernaung dalam penerbit mayor yang besar.

Layaknya skripsi yang harus diuji oleh dosen yang jelas lebih profesional dalam dunia akademik. Maka naskah buku juga seperti itu.

Pernyataan ini tidak ada hubungannya dengan kualitas penulis buku indie, karena saya juga menemukan banyak penulis indie yang keren. Tapi sebagai siswa yang sedang bermimpi, tentu saya butuh standar sederhana.

Itulah mengapa sejak belajar jadi penulis, saya menargetkan naskah yang ditulis dapat menembus penerbit mayor dan dipasarkan di toko2 buku besar se Indonesia.

Hari ini, saya memang baru merampungkan dua naskah. Dan Alhamdulillah keduanya sudah diterbitkan oleh dua penerbit mayor yang besar dan terkenal serta sudah tersebar di toko2 buku besar seperti Gramedia se Indonesia.

Para pecinta buku terutama fiksi dan religi rasanya tak mungkin tak mengenal dua penerbit mayor ini.

Buku pertama saya "Sewindu Menata Rindu" terbit tahun 2017 oleh Penerbit @Mediakita, penerbit buku dengan followers terbesar di Instagram.

Buku bercover putih hitam ini berisi prosa dan senandika yang membedah cinta juga rindu secara lebih manis dan penuh hikmah.

Buku kedua "Langkah Nyata Mahasiswa Menginspirasi", terbit akhir tahun 2020 oleh Penerbit @quantabooks

Buku dengan cover biru ini berisi tentang langkah konkrit agar para mahasiswa dapat meraih kemampuan dan pencapaian terbaiknya selama di kampus. Dan tentunya juga menebar manfaat di lingkungannya.

Tentunya tips dalam buku ini disampaikan dengan bahasa ringan dan aplikatif untuk dijalankan. Jadi sangat bagus dibaca mahasiswa baru maupun senior juga para calon mahasiswa.

Bagi teman2 yang ingin memiliki kedua buku karya saya ini, bisa cek Gramedia/toko buku terdekat atau toko online bisa juga.

Salam #Literasi

#MelangkahMenginspirasi
14 Juli 2021

Terlihat Tidak Mungkin

Bismillah.

Berapa kali kita merasa mimpi kita terlalu tinggi untuk dicapai? Berapa kali kita memandang harapan kita terlihat tidak mungkin untuk direngkuh?

Dan sudah berapa kali kita berhasil menggapai apa yang kita inginkan, padahal sebelumnya pikiran kita berkata takkan bisa?

Begitulah cita-cita di kehidupan, akan selalu terlihat tidak mungkin sampai kita berhasil meraihnya.

Maka tugas kita bukan hanya berangan-angan, lalu rendah diri karena yang diharapkan terlalu sulit dan terlampau banyak ujian yang dijalannya.

Namun berusaha sekuat tenaga, mengerahkan segala usaha serta iringan doa kepada-Nya, agar apa yang kita mimpikan menjadi kenyataan.

Tetap semangat, dan teruslah berjuang. Hingga nanti kita berdiri dan berkata, "Dulu gue merasa ini ngga mungkin, tapi sekarang gue berhasil menaklukkannya".

#MelangkahMenginspirasi
15 Agustus 2021

Hadapi itu Semua


Bismillah

Kita tak akan mampu bertumbuh menjadi insan yang matang bila terus melarikan diri dari masalah yang ada.

Kita tak mungkin bisa berkembang menjadi manusia hebat jika selalu kabur dari ujian kehidupan yang menerpa.

Hadapi itu semua, walau memang perih, pedih, menyakitkan dan menyesakkan dada.

Karena adanya kesulitan untuk menempa diri menjadi pribadi yang berdaya. Karena setiap problema yang hadir untuk mendewasakan kita.

Hatimu memang tersayat luka,

matamu mengeluarkan air mata duka,

acap kali berbuat leka,

sebab kepelikan yang datang tanpa bisa diterka.


Tapi tak mengapa, 

engkau masih boleh tersenyum ceria,

Berdiri tegak menatap ke muka,

Dan berteriak InsyaAllah aku bisa.


#MelangkahMenginspirasi

8 November 2022

📷 Senyum ceria Abang Ibad

Sabtu, 18 April 2020

Menjaga Ketenangan Batin

Pada satuan waktu tertentu,  diantara banyaknya orang dalam kehidupan, kita akan menemukan siapa yang tulus berada di sekitar kita, dan siapa yang 'meracuni' diri kita.

Kita akan sadar bahwa diantara mereka yang ramah dan peduli, ada beberapa insan yang benar-benar menumbuhkan kapasitas kita. Namun ada pula mereka yang malah ingin menjatuhkan kita dan memburuk-burukkan kita di belakang.

Kita juga akan tahu kalau ada manusia yang bangga dan terus mendukung setiap langkah positif kita. Tapi ada pula yang sibuk 'nyinyir' setiap tindakan kita serta mematahkan semangat kita, lalu tertawa senang melihat kegagalan kita.

Maka tugas kita tak perlu ambil pusing, tetap tersenyum dan terus berkarya dalam sunyi.

Kepada mereka yang terus memberikan segala hal negatif kepada kita, cukupkan saja hanya sebagai kenalan, tak perlu banyak interaksi.

Untuk mereka yang selalu mendorong setiap kerja keras dan kesuksesan kita. Teruslah bersama mereka dan saling mendukung untuk sama-sama mencapai cita.

Kita berhak menjaga ketenangan batin kita. Habiskan saja banyak waktu, tenaga dan emosi kita untuk mereka yang benar-benar peduli kepada kita, bukan untuk mereka yang terus membenci kita.

#MelangkahMenginspirasi
#Menyambut2020

Kamis, 16 April 2020

Bangga & Sukses

Bangga dan sukses dua hal yg berbeda. Belum sukses bukan berarti ga boleh bangga.

Jangan pernah kerdilkan pencapaianmu hanya karna orang bilang kamu belum sukses. Hingga rasa bangga dengan apa yg diraih, terkikis begitu saja.

Kadang kita mudah sekali 'ciut' ketika orang bilang, "alah gitu aja bangga", "baru aja juara itu, jangan bangga dulu", "nilai bagus belum tentu lu sukses, jangan bangga.", dan sebagainya. Inget, jangan pusing dgn kata-kata ini.

Kamu berhak bangga dengan apapun pencapaianmu, baik besar atau sederhana di mata orang.

Bangga atas kinerja bisa menjadi self reward untuk kita. Dan menjadi pemicu untuk pencapaian selanjutnya.

So, apresiasilah setiap kerja kerasmu. Dan jangan mudah puas dengan apa yg udah ada. Masih banyak hal-hal keren yg harus kita raih.

#MelangkahMenginspirasi

Terlatih Berpikir Lebih Besar


Waktu saya masih remaja unyu berseragam. Pernah mendapatkan pertanyaan dalam sebuah sesi diskusi latihan kepemimpinan utk siswa yang isinya kurang lebih seperti ini :

Jika Anda mendapat kabar bahwa Ibu dan Ayah anda dalam bahaya, sedangkan anda hanya bisa menolong satu orang, siapa yg Anda pilih?

Setelah dilontarkan oleh instruktur, setiap peserta menyampaikan opininya. Dan semua harus bicara. Ada yg memilih ibu, ada yg memilih ayah dgn pendapat masing2. Hingga satu jam lebih berlangsung perdebatan itu.

Diakhir diskusi, instruktur tak punya kesimpulan atas pertanyaannya. Mereka hanya berkata sesi ini, untuk melatih retorika peserta saja, dan semua menerima.

Tapi beberapa bulan kemudian. Saya mulai terpikir, jika instruktur itu sejak awal hanya melatih retorika dan penyampaian opini (yg hampir semua berdasar perasaan), dan tak ada kesimpulan dalam diskusinya.

Kenapa tak sekalian saja dibuat pertanyaan 'sedikit' rumit? Sehingga para peserta terlatih berpikir lebih besar serta mendapat masalah umat yang realistis. Tentunya dgn pengantar yg adil dr instruktur tanpa menggiring opini.

Misalnya sesuai konteks saat saya siswa dulu seperti 'Bantuan Lansung Tunai efektif mengentaskan kemiskinan atau membuat rakyat manja?' kalo pertanyaan zaman kini, 'Omnibus Law solusi atau petaka bagi rakyat?'

Mungkin beberapa peserta (yang masih remaja unyu itu) akan bingung diawal. Dan ketika mereka dipaksa bicara utk mencapai target latihan retorika. Hanya akan menyampaikan sesuai opini pribadi yg sangat subjektif. Dan diskusi akan berakhir seperti pertanyaan awal tadi, tak ada kesimpulan dan mengambang.

Tapi setidaknya para peserta pelatihan kepemimpinan itu menjadi lebih 'sadar' atas permasalahan sekitar yang terjadi. Dan bisa jadi mereka mencari informasi tentang problem bangsa tersebut pasca pelatihan. Bukan malah menjawab pertanyaan imajinatif yg kondisinya hampir mustahil terjadi di dunia nyata.

Dan lucunya, saat saya mahasiswa bahkan sudah wisuda, masih saya temukan instruktur pelatihan yang memakai pertanyaan pertama tadi utk memantik diskusi.

#MelangkahMenginspirasi

Selasa, 24 Maret 2020

Mempersiapkan Diri

Mempersiapkan diri menjadi pemimpin itu wajib, masalah dipilih atau tidak itu urusan lain. Mengapa bisa seperti itu?

Selain beribadah kepada Allah, menjadi khalifah di muka bumi masuk dalam tugas suci yg Allah berikan kepada kita sebagai manusia. Tugas ini tercantum jelas dalam Surat Al-Baqarah ayat 30.

Itulah mengapa kita wajib memenuhi tugas pengelolaan bumi ini dengan segala perintah dan larangan Allah. Tentunya mempersiapkan diri menjadi jawaban agar kita memiliki kapasitas mumpuni mengemban amanah ini.

Perencanaan kapasitas, keilmuan, mentorship, buku bacaan, pelatihan skill hingga pengalaman lapangan harus berbanding lurus dengan ladang bumi mana yg ingin kita kelola. Tentunya harus dibarengi dengan semangat, usaha keras, modal, kesabaran, dan kecerdasan. Dan itu semua pasti memakan waktu yg panjang.

Jika kita berkaca kepada sejarah. Nabi Muhammad membentuk para sahabat menjadi 'khalifah' di setiap bidangnya. Ada yg memimpin di politik, ada yg leading di bisnis, adapula dalam bidang sastra dan bahasa, militer dan pastinya dalam keilmuan islam seperti tafsir Qur'an, Hadist, dan bidang lainnya.

Dan para sahabat tak ada yg pasif dalam proses pembentukan itu. Mereka semua mencurahkan segala sumberdaya yg ada untuk mencapainya. 
Tak hanya para sahabat Nabi, para tokoh besar islam di periode berikutnya seperti Imam Syafi'i, Imam Bukhari, Muhammad Al-Fatih, Shalahudin Al-Ayyubi, Ibnu Khaldun, Hasyim Asy'ari, Ahmad Dahlan, M. Natsir, dll.

Mereka juga berjuang mempersiapkan diri hingga akhirnya mereka berhasil memimpin dengan kapasitas unggulan sesuai bidangnya serta menjadikannya jalan dakwah islam untuk semesta.

Tapi adakah mereka yg memiliki kapasitas unggulan dan kontribusi luar biasa, namun tak harum namanya dalam sejarah dunia sbg pemimpin dibidangnya?

Pasti ada. Namun masalah dunia memilih atau tidak itu bukanlah masalah. Setidaknya kita telah berjuang memenuhi tugas suci dari Allah Azza wa Jalla dengan karya yg kita abdikan sekuat upaya.

Lalu, sudahkah kita mempersiapkan diri?

#MelangkahMenginspirasi

Kamis, 20 Februari 2020

Poros Peradaban di Sekitar Kita

Mungkin kita termenung kala menatap diri. Terlahir biasa saja. Hadir di negeri yang baru saja berkembang. Di kota yang tertinggal. Menjalani sekolah yang tak istimewa. Dan berbagai kesialan yang sering di dengung-dengungkan banyak orang.

Mungkin dalam decak kagum kita memandang luar biasanya karya para aktor peradaban, kita hanya merasa kerdil dan kecil.

Hanya merasa, bahwa mereka adalah 'titisan' Tuhan yang memang namanya sudah di takdirkan tertulis di tinta emas sejarah, sedangkan kita hanya makhluk Tuhan yang ditakdirkan tak dapat berbuat apa-apa.

Setiap manusia memang sudah digariskan dalam skenario-Nya. Akan tetapi tahukah engkau, Allah tak menakdirkan seseorang tanpa perjuangan sang hamba. Maka dari itu, izinkan saya mengatakan:

"Mereka yang tak merasakan jerih payah dan kepedihan dalam langkah awalnya. Tak pantas mencapai puncak kegemilangan dalam ujung jalannya."

Karena pada hakikatnya, hidup ini adalah labirin yang menghubungkan berbagai kisah yang akan dihadapi umat manusia. Dan dalam tikungan tertentu di labirin tersebut, terdapat 'pintu rahasia' untuk mengkoneksikan orang yang selama ini ‘biasa saja’ untuk memasuki kerja-kerja peradaban.

Maka boleh saja kalian terlahir biasa, tak lahir dalam lingkaran para aktor sejarah. Namun, engkau harus berjuang untuk menemukan 'pintu rahasia' itu. Karena bisa saja poros peradaban yang dirasakan para pahlawan sudah ada di sekitar kita.

Sudahkah kita berjuang untuknya? 

 #MelangkahMenginspirasi

Senin, 28 Oktober 2019

Abadilah Perjuangan

Tentang sepotong kisah pengabdian.
Menikmati takut dan ketegangan.
Bersimbah keringat membela kebenaran.
Untuk mencapai sebuah impian.

Agar tak ada lagi penderitaan.
Supaya kemakmuran tak hanya sekedar bualan.
Biar semua insan merasa keadilan.
Sampai terbentuk generasi dengan akhlak dan iman.
Hingga Rakyat melangkah dengan senyuman.

Maka bangkitlah wahai pemuda harapan.
Kuatkan tekadmu dan majulah ke hadapan.
Banyak masalah yang harus diselesaikan.
Saatnya kita buktikan Indonesia Sejahtera di masa depan.

@azmulpawzi
28 Oktober 2019

#SumpahPemuda
#MelangkahMenginspirasi

Jumat, 06 September 2019

Tentang Buku Langkah Nyata Mahasiswa Menginspirasi



Adakah figur yang pernah menginspirasi diri kita? Kita bersemangat ketika melihat sosok mahasiswa yang memiliki pencapaian di atas rata-rata. Tercerahkan dengan role model yang tidak hanya memiliki nilai akademik bagus namun juga berprestasi dalam beberapa bidang, memiliki pengalaman organisasi yang hebat, jaringan yang luas, skill serta kompetensi yang mumpuni, jiwa sosial yang baik, kesalehan disertai kepahaman ilmu agama, dan yang pasti bermanfaat bagi sekitar. Pernahkah terbesit dalam diri kita untuk menjadi tokoh inspiratif tersebut? 
Langkah terbaik setelah terinspirasi adalah menginspirasi. Bila kita pernah terinspirasi oleh orang lain, maka sudah tugas kita selanjutnya untuk menginspirasi insan lain dengan karya kita. Buku ini berisi langkah-langkah nyata yang perlu untuk menjadi mahasiswa menginspirasi. Berawal dari persiapan yang harus kita pastikan sebelum melangkah, langkah-langkah nyata yang harus dijalani dan kegiatan produktif yang harus dibiasakan. Disebut langkah karena buku ini sangat praktis untuk dijalankan, sehingga tak dipenuhi dengan teori yang mengawang. Sederhananya dengan membaca buku ini kita siap lepas landas untuk melangkah, lalu menginspirasi.

 Jangan tunggu lama lagi, pesan saat ini juga buku Langkah Nyata Mahasiswa Menginspirasi karya Azmul Pawzi sekarang juga.

Order Ready Stock Buku Langkah Nyata Mahasiswa Menginspirasi

Untukmu para mahasiswa yang ingin menjadi pemuda di atas rata-rata. Tak hanya memiliki IPK yang baik, namun meraih segudang pencapaian luar biasa selama masa kuliah.

Telah hadir buku terbaru  karya Azmul Pawzi berjudul "Langkah Nyata Mahasiswa Menginspirasi", yang ditulis khusus untukmu para _Agent of Change_.

Disebut langkah karena tips dalam buku ini sangat mudah dijalani. Apa saja yg didapatkan dari buku ini?

✔ Menata Tujuan Hidup Agar Tak Bingung Pasca Wisuda
✔ Menyukseskan Nilai Akademik Hingga Skripsi Selesai Cepat
✔ Berprestasi, Berorganisasi, dan Berjejaring
✔ Meningkatkan Spiritualitas Diri
✔ Menghindari Ranjau-Ranjau Mahasiswa
✔ Membiasakan kegiatan Produktif untuk Mahasiswa
✔ Dan Masih Banyak Lagi.

Tunggu apalagi? Ayo pesan buku LNMM.


Cara pemesanan :
Ketik : Nama-Alamat-Jumlah
Kirim WA/SMS ke Admin Buku LNMM :

Harga :
Rp. 55.000

Sinopsis : bit.ly/TentangBukuLNMM

Teruntuk para mahasiswa dan calon mahasiswa, para orangtua yang anaknya sedang berkuliah, kakak dan abang yang adiknya masih mahasiswa, pemuda yang ingin kamu dan temanmu sukses dan menginpirasi selama di kampus.

Ayo pesan buku ini. Jangan sampai ketinggalan.

#MelangkahMenginspirasi #AzmulPawzi #BukuBagus #LNMM

Rabu, 10 Juli 2019

Seperempat Abad

Bismillah

Siapa yang mengira waktu berlari bergitu lekas. Bukankah dulu kita hanya seorang bayi yang senang tertidur pulas. Lalu menjadi anak kecil riang dengan tawa begitu ikhlas. Hingga menjadi remaja yang mencari jati diri di dunia yang semakin tak waras.

Berlanjut dengan diri yang menjadi seorang pemuda dengan segudang mimpi. Menatap masa depan dengan senyum berseri. Mengejar cita dengan penuh ambisi.

Terjatuh, tersingkir, tercampak, terhempas, terlupakan, dan segudang sakit yang memaksa kita untuk berhenti. Tapi asa menyadarkan bahwa menyerah bukan solusi. Kita tetap bertahan dalam segala upaya. Memanggul segala amanah yang senantiasa bertambah.

Tapi memang begitu hakikat manusia. Setiap umur yang menua, akan memperbanyak tanggungjawab yang harus dijaga.

Dan kini seperempat abad sudah usia diri. Menjadi momentum tepat untuk mengevaluasi. Apakah usaha dan karya sudah bermanfaat dan menginspirasi. Sudahkah berniat lurus hanya untuk ilahi.

Mohon maaf jika dalam 25 tahun usia ini saya memiliki salah. Dan terima kasih bagi semua yang hadir dalam perjalanan hidup saya selama ini.

Arigatou Gozaimasu.

#MelangkahMenginspirasi
#SeperempatAbad

Sabtu, 16 Februari 2019

Jangan Jadi Manusia Inferior


Lihat yg rumit dikit, mundur. Hadapin yg agak susah, gak sanggup. Dilingkungan dengan ritme cepat dan menuntut kualitas, merasa ga mampu. Dikelilingi orang yg punya gagasan, ribet katanya.

Pengennya mengerjakan yg mudah-mudah. Jalani yg murah-murah. Agak mewah dikit perjuangannya, eh malah nyerah.

Kalo mandek, terus cari-cari alasan. "Ah gue ga ada waktu, sibuk bgt", "gue kan dari keluarga miskin, ga kaya dia yg tajir", "Dia mah enak banyak bakat, ya gue?", dan seabrek alasan-alasan pembenaran lainnya.

Jangan gitulah sob. Biasakan diri melewati segala hal yg diatas kualitas kita. Tantang diri ngelakuin hal yg kita ga bisa.

Kalo kita cuma ngelakuin hal-hal yg kita bisa. Kapan kita berkembangnya? Kapan kita majunya? Ayo pacu diri dengan ngelakuin hal yg kita anggap sulit. Kita anggap ga mungkin.

Jangan mau jadi manusia inferior. Setiap kita memiliki kemewahan yang tak ternilai. Potensi kita bisa ditempa hingga cemerlang dan mempesona.

Kuncinya adalah kembangkan diri terus dan jangan gampang puas dengan pencapaian sekarang.

#MelangkahMenginspirasi

Dewasa dalam Perbedaan


Tua pasti, dewasa itu pilihan. Memang begitu adanya. Ada mereka yg sudah beruban, namun masih mindset bocah. Idenya ga mau dikritik, ga mau diluruskan, dan pengen menang sendiri. Tidak ingin ada perubahan, bertahan dalam sistem kolot, padahal dunia ini dinamis.

Bahayanya jika penyakit ini diidap oleh pemuda-pemuda. Jadilah setiap perbedaan persepsi gerakan menjadi peruncing permusuhan. Padahal perbedaan itu sunnatullah, ga bisa dipaksa semua orang punya pemikiran sama.

KH. Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan sama-sama berguru dengan  Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi di tanah arab, namun arah kontribusi awal mereka berbeda. Satu ke ranah pemikiran, satu ke amal khidamy. Mereka rukun.

Imam Syafi'i itu salah satu murid terbaik Imam Maliki, tapi beliau membuat banyak fatwa yg berbeda dengan sang guru. Bahkan membuat mazhab baru yg berbeda dengan gurunya. Imam Malik santai aja. Ga ada makian atau dibilang Imam Syafi'i salah arah.

Abul A'la Al Maududi, M Abduh, Jamaludin Al Afghami, M Iqbal, Hasan Al Banna, dan sederet ideolog islamisme lainnya punya tafsir masing-masing dalam gerakan islam, padahal sumber mereka sama-sama Al Qur'an dan Sunnah. Walau berbeda namun mereka punya kesamaan untuk kejayaan islam menjadi Rahmat semesta. Tak ada yg merasa lebih baik.

Jadi mulailah berhenti memburukkan arah gerakan setiap orang. Mereka punya tafsir gerakan masing-masing. Apalagi menyebutnya dengan kata sampah dan makian lainnya.

Satu guru bisa menghasilkan murid-murid cemerlang yg berbeda arah. Jika sang murid bikin wadah, gerakan atau bahkan madzhab berbeda dengan sang guru, selagi masih dalam koridor 'jama'ah minal muslimin' untuk kejayaan umat. Apa salahnya?

Dewasalah dalam menanggapi perbedaan. Pesan ini sangat kuat saya tujukan ke pemuda. Sudah sepantasnya gagasan dibalas dengan gagasan, ujaran buruk dibalas dengan akhlak mulia. Bukankah akhlak mulia itu kelebihan ideologi islamisme?

Muda berdaya, Indonesia Berjaya.

#MelangkahMenginspirasi
#SumpahPemuda
#MasihTetapTegakLurus

Jumat, 17 Agustus 2018

Dibalik Seorang Pahlawan



Siapa yang mengenal istri seorang Abu Bakar Ash Shiddiq? Siapa pula yang mengenal istri Umar bin Khattab? Siapa yang mengetahui istri Imam Syafi’i atau Imam Hasan Al Banna? Atau siapa pula yang mengenal sang ibu dari kedua tokoh tersebut? Hanya segelintir orang yang mengetahuinya. Nama istri dan ibu mereka tak seharum nama mereka. Seantero jagad raya sudah terlalu terpesona dengan kiprah Abu Bakar, Umar, Hasan Al Banna serta Imam Syafi’i. Mereka terlupa orang-orang di balik mereka.

Juga kenalkah kita dengan istri Muhammad Natsir? Atau istri Buya Hamka? Atau bahkan suami seorang Cut Nyak Dien? Tak semua orang mengenalnya, bukan? Hanya mereka yang mendalami sejarahnya sajalah yang mengetahui nama mereka. Mereka tak dikenal, insan nusantara sudah begitu kagum hanya akan jasa para pahlawan nasional.

Tahukah kalian bagaimana kiprah orang-orang di belakang para pahlawan? Bagaimana pengorbanannya? Mungkin kita mengenal para pahlawan dan mengelu-elukannya. Memujinya serta mengutip setiap kata mutiaranya. Tapi pernahkah kita berpikir apa yang dirasakan orang terdekat para pahlawan?

Mereka merasakan pahit getirnya perjuangan para pahlawan. Mereka menjadi aktor sulitnya menyelesaikan kerja-kerja besar. Bahkan Al Mutanabbi, seorang penyair masyur dari Arab berkata “Orang luar mengagumi kedermawanan seorang pahlawan, tapi tidak merasakan kemiskinan yang mungkin diciptakan kedermawanan. Orang luar mengagumi keberanian sang pahlawan, tetapi mereka tidak merasakan luka pahlawan menghantarkannya menuju kematian.”

Pernahkah kalian merasa apa yang dipikirkan keluarga Abu Bakar ketika manusia agung itu menginfakkan seluruh hartanya dan mengatakan, “Saya menyisakan Allah dan Rasul-Nya buat mereka (keluarga Abu-Bakar).” Atau ketika Hasan Al Banna meninggalkan istri dan anaknya yang sedang sakit parah untuk sebuah agenda dakwah.

Bukan hal mudah bertahan dalam hal genting, bukan hal ringan membersamai para pahlawan. Jalan mereka mendaki, penuh onak duri, dan kesulitan akan selalu membersamai mereka. Terlebih lagi kematian yang selalu mengintai para pahlawan. Karena mungkin saja mereka, para pahlawan dengan keberanian yang tinggi tak takut akan sebuah kematian.

Bagaimana dengan keluarga para pahlawan? Mereka mungkin juga tak takut mati, karena memang dalam kehidupan bukan kematian diri sendirilah yang begitu menakutkan, namun perginya sang orang tercinta.
Maka benarlah kata banyak orang, jika Anda terkagum dengan seorang bujang yang hebat, maka lihatlah ibunya. Jika Anda terperangah dengan lelaki luar biasa, maka lihatlah istrinya. Karena jika seorang suami bersinar terang karyanya, biasanya sang istri meredup, tak dilihat orang banyak. Karena segala potensi dirinya telah dia baktikan untuk sang suami. Begitupun sebaliknya.

Karena menjadi pendorong dari belakang bukanlah hal mudah. Mungkin para pahlawan terjatuh, mentalnya mengatakan ingin menyerah. Namun orang sekitar para pahlawanlah yang menguatkan. Mungkin para pahlawan timbul ketakutan, keberaniannya menyusut. Namun keluarga merekalah yang mengembalikan keberanian itu.

Hal ini tak mudah, butuh orang berjiwa besar untuk berada di balik orang besar. Dan kita harus menyiapkan potensi kita untuk kerja-kerja besar agar tercapai kejayaan peradaban islam. Sudahkah kita menyiapkannya?

Cita-Cita Seorang Muslim

Seorang muslim sudah sepantasnya memiliki satu diantara dua cita-cita ini.

1. Ulama yg Cendekiawan
2. Cendikiawan yg Ulama

Seperti yg kita ketahui, ulama ada mereka yg memiliki kepahaman ilmu mendalam dalam agama dan menjadi pembimbing umat. Sedangkan cendekiawan adalah mereka yang memiliki kedalaman dalam sebuah ilmu dan mempergunakan ilmu yang dia miliki dan ketajaman pikiran untuk menganalisis dan merumuskan solusi dalam masalah manusia.

Maka, Ulama yg cendekiawan adalah mereka yg memiliki keilmuan agama yg dalam. Mampu menguasai Tafsir Al-Qur'an dan Hadits. Memiliki ilmu nahwu yg mumpuni, serta keilmuan lainnya yg membuat ia menjadi rujukan dalam masalah beragama. Lalu ia adalah ulama yg mampu membawa idealisme Islam sesuai dengan realitas kehidupan. Membumikan ajaran Allah sehingga umat terbimbing dengan baik dan benar. Menyelesaikan permasalah hidup dan sosial dalam perspektif agama. Dan tak merasa berat menjalankan islam dalam berbagai aspek kehidupannnya.

Dan Cendekiawan yg Ulama adalah mereka yg mumpuni dan bergerak dalam bidang ilmu masing-masing. Baik itu ekonomi, kesehatan, sosial politik, sains teknologi, sastra dan berbagai lainnya. Ia bisa membawa ketinggian bidang ilmu itu dengan paduan pemahaman islam yg baik. Sehingga memberi solusi untuk umat dalam berbagai perkaranya dan berkembang dalam pagar syariat.

Seperti yang kita ketahui kecenderungan pakar sains pengikut peradaban barat yang memiliki landasan sekuleristik dan ateisitik membuat para cendekiawan mulai sekuler dan anti Tuhan. Usaha pemisahan dunia sains dan teologi sudah amat jelas kita lihat. Dan hal ini membuat slogan-slogan pemisahan antara agama dan sisi kehidupan semakin gencar digemakan kaum sekuler. Pisahkan ekonomi,politik, budaya, dan sebagainya dengan agama hal yg sering kita dengar bahkan oleh rezim saat ini.

Maka dari itu alangkah patutnya pemuda-pemuda muslim memiliki cita-cita satu antara dua hal ini. Ulama yg cendekiawan atau Cendekiawan yg ulama. Agar menjadi solusi umat manusia yg beragama, bermoral dan holistik juga integratif.

Nah kamu, apa cita-citamu?
#MelangkahMenginspirasi

Masa Muda Kita Untuk Apa?

Pernah ga sih mencoba sekedar menjawab pertanyaan "masa muda kita digunakan untuk apa?", sebelum pertanyaan ini benar-benar ditanya ketika di akhirat sana?

Pernah ga sih mencoba-coba merekam ulang kehidupan kita. Selama masih diberi kenikmatan usia muda, kita habiskan buat apa?

Sibuk hanya mengejar harta? Hingga setiap detik hanya memikirkan uang dan uang. Setiap kegiatan dihitung-hitung keuntungan finansialnya. Mati-matian untuk kehidupan mewah lagi melimpah.

Atau mengejar pangkat? Hingga setiap saat hanya berjuang mengejar ambisi dunia. Sikut kanan, sikut kiri, injak bawahan dan jilat atasan. Segala cara dicari agar dapat kehormatan, segala daya digunakan agar dapat jabatan.

Atau mungkin, hanya mengejar nafsu belaka? Hanya hura-hura dan senang-senang, menghabiskan waktu dengan ngehedon ria. Menikmati kebebasan hasrat juga syahwat. Melupakan batas adat apalagi syariat.

Sudahkah kita bertanya, apakah ada kebermanfaatan di usia muda kita? Manfaat bagi dunia dan akhirat kita. Manfaat untuk memperbaiki lingkungan sekitar kita dan manfaat untuk mengurangi kemaksiatan yang ada di hadapan kita.
Sudahkah kita bertanya, buat apa masa muda kita habiskan?
Sudahkah bermanfaat?

#MelangkahMenginspirasi

Pemuda, Ilmu dan Takwa

Imam Syafi'i pernah berkata, "Demi Allah, Hakikat kehidupan pemuda adalah dengan mencari ilmu dan bertaqwa, bila keduanya tak mewujud, maka tak ada jatidiri padanya."
.
Jadi jika seorang pemuda tak memiliki satu diantara dua hal ini. Maka hilanglah jatidirinya sebagai pemuda. Lenyap tak berbekas. Ditelan arus hedonisme. Terbawa nafsu syahwat juga syubhat. Melupakan tugas dirinya sebagai seorang hamba dan manusia.

Padahal jika kita menilik apa yang disampaikan imam syahid Hasan Al Banna bahwa "Dalam membangun peradaban, tekad pemuda adalah pilarnya, idealisme pemuda dalah pondasinya, dan aksi pemuda adalah panji-panjinya."

Maka seharusnya pemudalah tonggak kebangkitan, pemudalah aktor-aktor kejayaan. Tapi jelaslah jika tanpa ilmu dan ketakwaan. Pemuda hanyalah zombie hidup. Bergerak, namun tanpa ruh.
Selayaknya ungkapan imam Syafi'i "Barangsiapa yang tidak belajar di waktu mudanya. Bertakbirlah 4x atas kematiannya."

Tanpa semangat menuntut ilmu, seorang pemuda itu sesunggunya telah mati sebelum kematian sesungguhnya tiba.
Maka bersemangatlah kita dalam mengejar ilmu. Bertekadlah kita dalam memperkuat ketakwaan.

Karna dengan dua hal inilah kita akan menjadi pemuda terbaik di dunia dan dipuji di akhirat.

#MelangkahMenginspirasi

Mempersiapkan Pemimpin

Likulli marhalatin rijaluha wa likulli marhalatin masyakiluha-Setiap masa itu ada pemimpinnya  dan setiap masa itu ada masalahnya tersendiri.

Masa yang kita lewati, tentu berbeda dengan generasi sebelum kita. Begitu pula masa kita juga berbeda dengan masa generasi setelah kita.

Setiap masa ada tantangan tersendiri, ada permasalahannya masing-masing. Maka tak pantas rasanya jika perjuangan kita disamakan dengan perjuangan zaman penjajah atau zaman orde baru.

Jadi tak perlu ada yang merasa zaman saya lebih keren, zaman dia lebih dahsyat. Karna setiap zaman ada bentuk kontribusinya masing-masing.

Namun satu hal yang pasti adalah setiap generasi wajib mempersiapkan generasi selanjutnya. Agar estafet perjuangan cita tak mundur bahkan berhenti. Agar spirit kejayaan tak sirna.

Karna dalam islam-pun tak boleh kita meninggalkan generasi yang lemah. Terlebih lemah iman dan ketakwaan. Jadi kewajiban kita bersama mempersiapkan pemimpin untuk masa depan.

Dari dulu, saya selalu berpegang teguh pada sebuah pernyataan "Menjadi pemimpin memang hebat, namun membentuk pemimpin hebat jauh lebih dahsyat."
.
Sudahkah kita bersiap dan mempersiapkan generasi kuat untuk cita-cita jangka panjang kita bersama?

#MelangkahMenginspirasi
#kkp2017
.
📷dalam agenda Kawah Kepemimpinan Pelajar 2017

Kita Adalah Palestina

Permasalahan palestina, bukan hanya permasalahan warga palestina. Bukan hanya permasalahan bangsa arab. Bahkan bukan hanya masalah kita para muslim.

Tapi permasalahan palestina adalah permasalahan kita sebagai manusia.

Jika ada hati nurani dalam diri kita.
Jika ada rasa kemanusiaan dalam hati kita. Maka sudah sepantasnya kita peduli kepada palestina.

Hati manusia mana yg rela melihat tanah kelahirannya di rampas, warga-warga ditahan, disiksa. Bahkan diperlakukan layaknya binatang di penjara israel.

Maka inti masalah kali ini, bukan hanya menanggapi pernyataan trump masalah ibukota israel.

Permasalahan inti adalah, MENDESAK ISRAEL PERGI DARI BUMI PALESTINA.

Karna mereka bukan negara, hanya sekelompok penjajah teroris yg dilindungi dunia.

Maka mari kita sebagai manusia, terlebih lagi kita muslim. Berikan bantuan materil, tenaga dan doa untuk saudara-saudara kita.

15.12.17, dalam aksi bela al quds bersama aliansi masyarakat sumbar peduli palestina.

Alhamdulillah puluhan ormas dan ribuan warga sumbar tumpah ruah di jalan. Menyuarakan solidaritas kepada saudara palestina.

#FreedomForAlAqsha
#JerusalemTheCapitalOfPalestine
#SavePalestine
#FSLDKSUMBAR
#FSLDKINDONESIA
#DariSumbarUntukIndonesia
#RumahUkhuwah
#KolaboratorKebaikan
#LokomotifPeradaban

Break The Limits, Beyond The Horizon

Setiap kita pasti ada hal-hal yang membatasi langkah kita. Menghalangi karya-karya kita. Mempersulit dalam mengejar cita kita.

Tak ada manusia yang tak di uji. Tak ada manusia yang tak bermasalah. Semua ada rintangan yang harus dilewati.

Namun kadang kita menyerah dengan batasan-batasan yang ada. Dan membuat-buat alasan pembenaran atas diri kita. Baik itu segi ekonomi lah, segi usia lah, segi bakat lah. Kita amat suka membuat alasan pembenaran kalau kita tak bisa, kita tak sanggup.

Maka jadilah kita sosok yang seperti itu-itu saja. Hari hingga bulan bahkan tahun berjalan. Tak ada yang berkembang.

Tak ada pola pikir dari bacaan-bacaan yang bertambah. Tak ada keterampilan yang meningkat. Tak ada pengalaman padat ilmu yang didapat. Hanya menjadi manusia yang begitu saja dan nyaman menjalankannya.

Maka mari kita merobos batas, menghancurkan segala penghalang. Keluar dari zona memabukkan yang membuat kita tak berkembang. Bergerak dan berkaryalah untuk sekitar. Tembuslah cakrawala.

Jangan jadikan kita manusia yang terjebak dalam tempurung. Namun kembangkan sayap cita kita. Terbanglah, gapai cita dan impian yang ingin kita raih.

Tetaplah melangkah dalam karya, hingga kita mampu menginspirasi sekitar.

#MelangkahMenginspirasi
.
📷 Waktu Saya kelas 2 SMA