Sabtu, 11 April 2015

Mewakili Sumbar dalam Rapat Pimpinan Nasional FSLDK III di UNS Solo




Tepat pada bulan September, FKI Rabbani Unand di amanahkan menjadi Pusat komunikasi daerah Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Sumatera Barat atau di singkat Puskomda FSLDK Sumbar. Dengan di amanahkannya Unand, maka kepengurusan puskomda di ambil alih oleh aktivis dakwah unand.
Pada bulan Oktober Kepengurusan FSLDK Sumbar telah rampung, dimana puskomda sumbar di ketuai oleh bang Idham Affandi. Dan pada saat itu komisi hanya ada tiga, yaitu komisi A yang di koordinatori oleh saya, Azmul Pawzi. Lalu Komisi B yang di Koordinatori oleh bang Muhammad Shadri, serta Komisi C yang di koordinatori oleh Kak Sisri Wahyu yang biasa di panggil Kak Icis. Awal kepengurusan ini FSLDK Sumbar hanya 3 Komisi, namun saat ini FSLDK Sumbar menambah satu komisi, yaitu komisi D yang di koordinatori oleh bang Ardi Saputra.
Baru saja di amanahi, kami langsung mendapat surat undangan dari Puskomnas untuk menghadiri Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) III di UNS Solo pada 24 hingga 26 Oketober 2014. Maka dengan berbagai persiapan baik konsepan maupun dana, kami berangkat. Maka yang di amanahkan pergi sebanyak 5 orang. Yaitu Saya, Bang Idham, Bang Shadri, Ka Icis dan Ka Zia (Saat itu kakak ini sekretaris Komisi A, Sekarang jadi Sekretaris Komisi D).
Tanggal 22 Oktober 2014 kami berangkat menggunakan pesawat dari BIM hingga Bandara Soetta. Singkat cerita kami naik kereta dan sampai di solo pagi hari tanggal 23 Oktober 2014. Ada cerita menarik diperjalanan, saat dikereta kami bertemu dengan seorang ibu-ibu yang rutin ke Jakarta untuk belanja barang usahanya. Dan saat datang di stasiun di solo. Ibu itu dengan mobilnya mengenalkan kami dengan kota solo hingga kuliner yang enak. Waktu itu kami dikenalkan dengan sate bundel. Dan ternyata emang enak tenan. Walau biayanya lumayan ngerogoh uang cukup dalam. Haha
Kami menjadi peserta rapimnas yang datang diawal, lalu kami diajak ke masjid Nurul Huda UNS. Hal pertama yang membuat saya terkesima di masjid ini. Adalah kelengkapan masjid UNS ini. Apalagi pas masuk perpustakaannya, Wiiiihhh.... Kece Badai... Buku-buku didalamnya bikin ngiler. Selanjutnya didalam masjidnya ada Islamic center dan ruang seminar serta penginapan untuk tamu lengkap dengan kasurnya. Pokoknya masjid NH ini kerenlah.
Esok harinya, yaitu tanggal 24 Oktober 2014, pembukaan Rapimnas III FSLDK Indonesia dimulai yang dihadiri oleh 31 Puskomda dari Aceh hingga Papua. Rapimnas ini pun dibuka oleh Wakil Rektor I UNS Prof. Sutarno. Ada hal yang menarik dari sambutan beliau. Beliau sangat interest dengan para Hafizh Al-Qur’an. Dan bahkan UNS memberikan jalur khusus untuk Hafizh Qur’an untuk masuk UNS. Luar biasa pimpinan UNS ini, ia sangat semangat membumikan Qur’an di kampus ia menjabat. Saya jadi senyum sumringah dengernya. Hehe
Pasca Dibuka, Rapimnas ini diawali dengan arahan Puskomnas dilanjutkan Tabligh Akbar bersama ketua MIUMI Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi M. A. Ed., M. Phil., Ph. D., yang mengangkat tema “Islam dan Tantangan Modernisasi” dan setelah itu rapat per komisi pun dimulai. Di rapat per komisi, saya masuk dalam rapat komisi A yaitu tentang Isu dan Keumatan. Komisi yang amanah puskomda sumbar saya pegang. Karena ini adalah rapimnas terakhir FSLDK Indonesia masa ke puskomnas sekarang (IPB). Maka kebanyakan yang dibahas adalah evaluasi pergerakkan Komisi A FSLDK selama ini. Sudah berapa isu kita kaji dan tindaki. Seberapa banyak bencana yang kita bantu, baik dalam negeri hingga luar negeri (salah satu utusan FSLDK sampai di Palestine waktu itu) dan bagaimana dengan program-program komisi A ini di jalankan, serta rekomendasi apa bagusnya komisi A FSLDK kedepannya, khususnya setelah bergantinya puskomnas saat di FSLDKN XVII di Pontianak.
Ketua Puskomnas Pimpin Rapimas
Karena saya adalah koordinator daerah baru dikomisi A tentu saya berusaha menyamakan suhu dalam rapat tersebut. Walau tidak saya sendiri orang baru didalamnya. Haha. Tapi pada akhirnya saya dapat menyamakan suhu dan ikut bicara dalam rapat yang mempertemukan ikhwah antar pulau di nusantara ini. Setelah rapat komisi selama 2 hari, lalu di satukan kembali dirapat pleno mendengar arahan puskomnas. Dan kembali rapat komisi di malam harinya. Pertama kali saya rapat dalam 3 hari berturut-turut, sebuah pengalaman yang lumayanlah.
Sepanjang rapat ini, hal yang menarik menurut saya adalah ketika disela-sela rapat, kita diskusi antar LDK di daerah-daerah lain. Contohnya cerita ketua puskomda Papua. Ia kampus Universitas Negeri Musamus di Marauke, ujung Indonesia. Baru mendengar jauhnya kampus beliau saja. Itu sudah perjuangan yang sangat luar biasa. Dan saat mendengar perjuangan dakwah di Papua, hem... bukan main. Jadi muhasabah diri, seberapa besar perjuangan saya di dakwah ini. Abang itu menceritakan, di pulau sebesar papua, hanya ada 4 LDK, dan LDK-LDK disana sedang terkena berbagai masalah, termasuk LDK yang cukup lama di Universitas Cendrawasih dan Universitas Negeri Sorong. Maka dari itu, LDK dari kampus abang itu, yaitu LDK di Universitas Musamus di Marauke, yang baru berumur 3 tahun, sudah menjadi Puskomda Papua karena dinilai lagi sehat. Itu baru internal LDK, belum tantangan di daerah yang islam menjadi minoritas. Kalo disini masjid dimana-mana, kalo disana rumah ibadah agama lain yang dimana-mana.
Itu baru di Papua, blum di Sulawesi, Kalimantan, Jawa dan tentunya Sumatera. Saya mendapat banyak pelajaran dari diskusi tentang perjuangan dakwah di daerah masing-masing dari punggawa nya langsung, yaitu para puskomda - puskomda FSLDK. Jadi 3 hari acara Rapimnas ini sangat member banyak hikmah didalamnya.
Lalu, pasca Rapimnas, kami bersiap-siap menuju Padang kota tercinta (ku jaga dan ku bela) #Eaaa. Namun, sebelum kesana, kami mampir ke Yogyakarta menemui senior Unand yang juga tim FSLDK Unand. Serta saat di Jakarta mampir ke rumah ka Vivi Rahmawati yang baru sehari nikah sama bang Bela Putra. Dua punggawa dakwah unand yang inspiratif bersatu. Dan dapat banyak wajangan dari dua senior tersebut. Hehe
Okelah ini ceritan Rapimnas III FSLDK waktu di Solo. Di singkat – singkat aja ceritanya. 

Wahai Masa Depan, Aku Bahagia

Usaplah air mata itu di wajahmu, karena mata ini masih enggan untuk menangis karena melihatmu seperti itu.
Ingatkah kau, kala kita sering pergi menyapa masa depan dari kejauhan?
Aku percaya masa depanmu akan lebih baik jika seperti ini.
Hingga aku mengharapkanmu sebagai salah satu langkah yang ku tempuh didepan sana.

Jangan pernah lupakan saat-saat kau berada disini, disampingku
Tetaplah tersenyum saat itu tiba, saat kita bertemu setelah perpisahan ini. Maka tersenyumlah.
Walau saat kau berbalik untuk pergi, senyumku lah yang tertahan.
Aku terkesiap sebab sebuah pertanyaan menghampiri ku.
Apakah aku masih memiliki kesempatan ini?

Karena kala kau dan aku selalu tertawa, itulah yang selalu ingin kulihat
Melihat mu dan tertawa bersamamu,
Hingga kala diri ini mengingatnya, ingin ku beritahu masa depan.Bahwa aku sudah menemukan arti kebahagiaan yang sesungguhnya

- Fiksi Prosa - 
AP
#MelangkahMenginspirasi

Kamis, 02 April 2015

Selasa, 10 Maret 2015

Di Kandang Para Penggerak

Dipojok kampus tua.
Termenung sebuah gejolak mahasiswa yg tertinggal bernama pergerakkan.
Ia kosong, tak seperti dulu.
Kala ia gagah berani tegak berhadapan laras panjang pemerintah.

Di pojok kampus tua.
Aksi dan advokasi tak lagi sebuah penyampai suara.
Hanya pelepas tanya bahwa pergerakan masih ada.
Mereka sibuk sambutan dalam mimbar-mimbar beriuh tepuk tangan.
Meninggalkan jiwa pergerakkan yg tersungkur lesu di pojok kampus tua.

Di kandang para penggerak.
Mereka para penguasa pergerakkan mulai terlupa.
Terbuai dengan gemerlapnya event-event meriah.
Terpana dengan acara akbar skala meluas berdecak kagum terpesona.

Di kandang para penggerak. Para prajurit-prajurit pergerakkan bungkam tanpa kata.
Resahnya terkungkung lembaran kertas bernama sertifikat.
Prinsipnya tenggelam dalam tumpukkan kertas terbubuhi tanda tangan.
Mereka bungkam, mereka diam, hilang timbul, lalu mengaku berkerja sbg aktivis penggerak.

Di kandang pergerakkan.
Tergeruslah budaya diskusi tentang rakyat.
Pernyataan sikap hanya pandai-pandai pimpinan pergerakkan.
Tak ada lagi pencerdasan prajurit.
Mereka hanya dituntut datang, meramaikan teriakan-teriakan kepedulian tanpa tau apa yg di teriakan dengan toa.

Di kandang para penggerak.
Aspirasi prajurit bukanlah hal patut dihiraukan.
Mereka yg bicara atas nama ketidak idealan adalah makhluk haram pergerakkan.
Ia adalah hama yg harus disingkirkan.
Karena lebih baik bertahan dikekalutan organisasi dari pada terusik citra.

Di kandang para penggerak.
Tempat itu rindu dialektika para prajurit ttg bangsa.
Tempat itu rindu ttg sebuah keterbukaan penyampaian aspirasi.
Tempat itu rindu ttg kebersamaan gerak tanpa ada lagi otoriteran memimpin.
Kerinduan sang saksi bisu pergerakkan mahasiswa.

-Azmul Pawzi-
Ditulis atas dasar keresahan untuk keberlangsungan pergerakan mahasiswa kedepan.
Untuk mu, aktivis se-bangsa se-tanah air.

Kala Kau Kehilangan Cinta


ialah kala engkau tergores perih karenanya dan engkau tetap menghiburnya kala ia tersedu

ialah kala hatimu kuyup terbasahi air mata dengan ulahnya dan kamu masih memedulikannya

ialah kala ia menceritakan indah cerita cintanya, dan engkau tersenyum tenang mendoakan kebahagiaannya

ialah kala ia melupakan kamu dalam senangnya, dan kau tetap berdiri setia menunggu kala ia membutuhkan pundak saat sedihnya

Ialah kala lidahnya bak sembilu yg mengiris rasa dan kamu masih berkata lembut menenangkannya

Ketahuilah, mungkin saja cinta datang pada saat yg tak semestinya.
Maka kala kau kehilangan cinta, kau tak perlu hilang dalam kelamnya dunia.

Kepakkan sayapmu, dan tembuslah cakrawala. Karena memang cinta tak harus memiliki, dan pada hakikatnya memang kita tak memiliki apapun di bumi ini.

-Azmul Pawzi-




*terinspirasi dari sang maestro cinta, kahlil gibran.

Beda Beringinan


Aku adalah kiri dan kamu adalah kanan
Kita, layaknya kaki yang melangkah beriringan
Tidak dapat berjalan bila tak bersama
Hanya tertatih dan terjatuh menjadi sisa bila ketiadaaan diantara kita

Aku adalah kiri dan kamu adalah kanan
Kita, bagai kedua tangan yang saling membantu
apabila sang kanan terluka, kiri yang mengusapnya
kala sang kiri tak kuasa, kanan menyokongnya

Akulah kiri, Kamulah kanan
Kita berbeda, Kita tak sama
Namun, Bila kau tanpa aku.
Hanya kepayahan yang tersisa.

Aku kiri, dan kamu kanan.
Kita dua hal yang berbeda.
Tak sama, namun sehati.

- Azmul Pawzi-

Dan Bidadari-Nya yang Menemanimu


Tenda besar terpasang. Hiasan lampu menggantung indah di tiang-tiangnya. Meriah, megah, namun sederhana. Deretan kursi memenuhi ruangan. Tamu undangan berlalu lalang. Ada yang sibuk menikmati sajian, ada yang bersalaman dan berfoto dengan mempelai. Kesibukan itu ditemani alunan nasyid-nasyid pernikahan islami. Bersenandung dengan kata-kata nasihat nan syahdu dan menyejukkan.
            Itulah suasananya, pernikahan kami. Saat itu dia begitu tampan dibaluti jas hitam yang elegan. Sedangkan aku menggunakan gaun putih. Anggrek putih menghiasi jilbab dikepalaku. “Mempesona” begitu ucap sang mempelai lelaki. “Bahkan langit tersenyum cerah melihat seorang bidadari bersanding dengan ku” bisiknya saat kami sedang berjalan beriringan menuju pelaminan. Sebuah kata-kata yang menyentuh hati.
Kala itu, aku bagai seorang ratu yang ditemani raja nan tampan dan gagah. Ya, aku mengenalnya sebagai laki-laki yang shalih dan bijaksana. Tinggi semampai, berwajah teduh dan berkelakuan baik. Furqon, ya itulah namanya.Dan teman-temanku yang membincangkan dia sebagai suami idaman terkejut ketika mendengar bahwa aku dilamar olehnya. Padahal aku baru semester 6. Ya, hal itu terjadi sebulan lalu. Kini ia sudah berada disini. Disamping ku, dalam pesta pernikahan kami.
                                                             
Google Pict
***
Hari-hari kami lalui, kami yang berusia muda bersiap membuka lembaran baru dalam hidup. Berkeluarga. Dan kami memiliki syarat menjadi keluarga bahagia.Furqan mencintaiku dan akupun demikian. Lembaran awal pernikahan kami dipenuhi dengan keberkahan. Suami ku yang paham agama mewarnai hidup kami dengan warna-warna islam. Kecupan hangat pada sepertiga malam untuk shalat malam berjama’ah, melantunkan ayat-ayat Sang Maha Cinta setelah shalat subuh tertunaikan, dan berbagai kegiatan indah lainnya.
Suamiku yang telah wisuda beberapa bulan sebelum pernikahan kami, sudah bekerja di sebuah perusahaan sosial di sekitaran kampus, sedangkan aku masih berkutat dengan skripsi yang belum menemui ujungnya.  Kami menjalani dengan berbagai kejutan dalam kehidupan kami. Termasuk pada saat itu. Saat matahari senja menyinari bumi. Suamiku pulang kerumah dengan wajah berseri, senyumnya melambangkan kesenangan tak terhingga. Setelah mengucapkan salam, kalimat syukur terucap olehnya. “Alhamdulillah” ucapnya “aku lulus S2 ke jepang ,yang”. Dengan sekejap kami telah berpelukan, melantunkan ucapan syukur.
            Ketika mendengar itu aku senang karena impian suami ku tercapai impiannya. Melanjutkan studi keluar negeri. Namun kesenangan ini sedikit tertahan karena kenyataan ini. Kenyataan kami harus berpisah. “Makanya cepat selesaikan kuliah mu ya cantik, biar kita bisa bersama di jepang nantinya” ungkapnya kepada aku di teras rumah kami. “Besok kita akan berpisah, aku sudah harus terbang ke tokyo.” Akupun tertegun, hanya dapat diam. Lalu kami saling bertatap. Cukup lama. Hening. Hingga sebuah kata memecah kesunyian “Aku tunggu kamu di jepang ya” ucapnya sambil mengecup keningku.
Esok, bandara menjadi saksi bisu kami. Enam bulan baru pernikahan kami, namun hubungan jarak jauh harus kami alami. Dua bulan, ya dua bulan lagi janjiku untuk menyelesaikan skripsi ku dan kami bersama lagi setiap hari. Melakukan berbagai hal bersama.Dan itu menjadi motivasiku.
Pesawatnya telah terbang tinggi menyibak awan putih dilangit yang biru. Ia terbang membawa mimpi, mimpi yang ia idamkan sejak dulu. Dan kini, aku sendiri. Tak ada lagi kecupnya disepertiga malam, tidak ada lagi salamnya ketika pulang di senja hari. Lantunan kata nasihatnya, senyumnya yang menyejukkan, ungkapan cinta mesranya hanya dapat kulihat dan dengar melewati video call.
Dan kehidupan itu mulai ku jalani, hubungan yang hanya kami lewati dengan perantara teknologi. Dan waktu meluncur begitu cepat. Bagai desing peluru. Sebulan setengah telah kami lewati. Malam itu, dibawah langit yang bersih tak tersaput awan. Ditemani bulan dan bintang gemintang yang membentuk ribuan formasi. Aku duduk, berbincang dengan suamiku melalui telepon. “Skripsi ku sudah rampung, dan insya Allah 6 hari lagi aku sidang” ucapkan ku. Selanjutnya kata-kata rindu yang membucah tak sabar menunggu terucap mesra dalam telepon tersebut.
Kebahagiaan terukir pada malam itu. Ya, malam itu. Namun tidak untuk besok. Karena esok aku terguncang. Gempa besar menimpa negeri sakura. Delapan skala richter besarnya guncangan gempa. Tapi guncangan dihatiku lebih besar dari gempa tersebut. Panik. Khawatir. Entah apa yang kurasa. Satu hari, dua hari, bahkan hingga lima hari. Ku menunggu, hanya menunggu kabar. Hingga kabar itu menyapa. Jepang yang terbiasa menghadapi bencana mengumumkan korban yang hanya lima orang. Dua diantaranya adalah warga asing dan akan dikirim kenegeri asal. “Muhammad Furqan” nama itu tersebut.
Aaaaarrrrghhhh........
Hancur. Perih. Teriakan tak bersuara memenuhi jiwaku. Kehilangan ini menusuk-nusuk hati. Ketika kabar itu tiba hanya deraian air mata yang menemaniku, bahkan hingga jasadnya yang dari jepang kami makamkan. Aku hanya menatap kosong dipusaranya. Tubuh ku bergetar. Bagai burung yang menggigil kedinginan.  Berbagai kenangan terlintas. Senyum itu. Kecupan itu. Gurauan itu. Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang syahdu itu tak dapat ku dengar kembali.
Kini tidak hanya jarak yang menjadi penghalang kami. Bahkan dunia telah terpisah. Ia, telah tersenyum indah menatap Rabb-nya. Bermain di taman sugawi. Bermanjakan kenikmatan. Ditemani bidadari-bidadari surga. Dan aku? Berdiri disini sendiri, hanya ditemani ribuan perih yang menguras setiap derai air mata yang ku punya. Namu, di dunia kesedihan ku, kusadari bahwa lelaki shalih seperti mu pantas menerimanya. Menerima setiap hadiah luar biasa dari Allah. Dan akhirnya guratan senyum terukir diwajahku. “semoga kamu tenang disana cintaku” lirih ku berucap.

Kamis, 19 Februari 2015

Cerita Memimpin Kepanitiaan LKMM TM Se-Indonesia 2015

Latihan Kepemimpinan & Manajemen Mahasiswa atau yang di singkat LKMM merupakan jenjang pelatihan kepemimpinan yang ada tahapannya. Pelatihan ini di mulai dari LKKM TD (Tingkat Dasar) dan TM (Tingkat Menengah) dan TN (Tingkat Nasional).


Tim Inti Panitia
          Dalam Melaksanakan pelatihan ini, penyelenggara dapat memilih lingkupnya. Mereka bisa membuat LKMM TD Se-Fakultas contohnya atau Se-Provinsi.Pada tahun 2015 ini, BEM KM Unand menyelenggarakan LKMM TM Se-Indonesia. Hal ini bertahap karena tahun sebelumnya BEM KM Unand telah menyelenggarakan LKMM TM Se-Regional 1 Indonesia yang beruang lingkup Jawa, Sumatera dan Bali.

Pada event besar ini, saya dan Sonya Andomo yang berasal dari kementrian PSDM BEM KM Unand di minta sebagai penanggung jawabnya. Dan akhirnya saya di tunjuk sebagai ketua pelaksana dan sonya menjadi sekretaris pelaksana.

Alhamdulillah banyak pengalaman yang menjadi pembelajaran, berawal dari recruitmen panitia, memilah-milih panitia, pembentukan panitia dan panitia bergerak. Kepanitiaan inti, selain saya dan sonya sebagai ketua dan sekretaris. Ada nindi sebagai bendahara, harry koordinator acara, rasyid koordinator perlengkapan, taufik koordinator konsumsi, dandy koordinator humas & LO, hanum koordinator pubdok dan ahmad sebagai koordinator danus.

Berawal dari mengkonsep acara, menentukan pemateri dan membuat proposal. Segalanya memiliki kendala masing-masing. Ruang lingkup se-nasional membuat kami memastikan bahwa acara ini harus standard nasional baik pemateri, tempat, dan berbagai lainnya.
Sambutan Saya sbg Ketua Pelaksana

LKMM TM Se-Indonesia pada tahun ini bertema “Muda Berkarya, Indonesia Berdaya” . Hal ini di dasari karena tanpa karya-karya keren anak muda, maka bangsa ini sulit untuk maju dan mampu berdaya kuat. Maka tema ini menjadi landasan dasar acara kami agar peserta LKMM TM Se-Indonesia akan berkarya untuk Indonesia berdaya.

Hingga pada akhirnya, setalah berbagai proses. Tibalah waktu penyelenggaraan acara pada 1-7 Februari 2015. Acara ini di ikuti oleh berbagai mahasiswa yang tersebar di Indonesia. Dan acara pun berlangsung. Dimulai dari welcoming party yang “beda” dari sebelum-sebelumnya. Kami rombak ruang lantai satu PKM sehingga mahasiswa unand pun kaget dengan konsep kami. Kami sambut dengan acara pembukaan dan hiburan dengan tarian khas minang serta konsumsi maknyus tentunya.



Lalu paginya geopoint unand yang di pimpin langsung oleh rektor kami, Prof. Werry Darta Taifur. Geopoint ini, para peserta berkeliling mengelilingi unand yang luas, hijau dan memiliki pemandangan yang keren. Karena di Unand ini berada di perbukitan karamuntiang, tentu juga memiliki udara yang segar di pagi hari.

Setalah pembukaan formal, acara langsung dilanjutkan dengan diskusi pergerakkan mahasiswa dengan ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia yang juga mantan presiden mahasiswa Unpad, Pak Yuliandre Darwis. Peserta sangat interaktif dalam acara ini.

Besoknya materi judul peran pemuda dalam korupsi, yang di moderator dosen hukum, pak Feri Amsari dan pemateri mantan anggota DPR RI Pak Nudirman Munir dan Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia Bang Alfon Kurnia Palma. Kata-kata dari bang Alfon yang saya ingat “Mahasiswa telah terfragmentasi oleh warna politik dan ekonomi. Urusan bersama kalah dengan urusan perut.”

Sesi selanjutnya, bertema politik. Yang diisi oleh pemateri pengamat politik pak Asrinaldi, Dosen Tata Negara FH Unand pak Khairul Fahmi dan Pak Aristo Munandar. Setelah itu dilanjutkan dengan FGD. Esok harinya, temen-temen delegasi di suguhkan dengan cara pembuatan tebu tradisional. Delegasi menikmati tebu hasil olahan mereka.  
Delegasi, Pak Elmir dan Ketua Pelaksana

Setelah itu pemateri selanjutnya adalah tokoh inspiratif juga. Seminar nasional “membangun peradaban bersama keluarga” bersama Pak Elmir Amien, sang pendiri Forum Indonesia Muda. Sebuah Forum yang menghimpun pemuda-pemuda keren se-Indonesia. Paradelegasi begitu bersemangat, apalagi ngebahas “keluarga”. :D

Dan hari-hari selanjutnya juga di isi berbagai materi luar biasa dan acara yang kece. Pemateri seperti Mak Katiek (pemain Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, dari Semen Padang bu R.R Endang. Dll). Diskusi terbuka bersama tokoh-tokoh Sumbar. Pak Kapolda, dalam Indonesian Leader Club. Acara pelepasan Penyu juga ada. Dan pada akhirnya acara di tutup dengan jalan-jalan menikmati ranah minang. Baik ke Istana Pagaruyung dan Ke Bukittinggi.

Alhamdulillah acara berjalan Ada kesan tersendiri ketika perpisahan delegasi kembali ke daerah asalnya. Ketika para delegasi menyampaikan luar biasanya acara ini, senangnya mereka. Senyum yang tergores di wajah mereka. Hingga ada yang menangis mengucapkan senangnya mengikuti agenda ini. Saya saya tersentuh. Semoga para delegasi

Dan juga kepada panitia yang luar biasa, perjuangan yang tak sia-sia. Selama acara, panitia tidur kurang tiga jam sehari. Setelah acara malam, panitia briefing hingga jam 1 bahkan sampai jam 2 lalu bergerak lagi jam 5 pagi. Alhamdulillah tim panitia LKMM TM Se-Indonesia adalah orang-orang luar biasa.

Tim inti yang kece abis lalu seluruh panitia, baik anak acara Zulfitri, Wilda, Fajar , Elvi, Anisa, Deges, Alfino, Dodi, Hendra. Perlengkapan Arpin, Azizan, Raygan, Fitri, Konsumsi, Menye, Fitriani T, Fadilla, Isand, Ikhsan, Sherly. Pubdok Leyla, Aisyah, Andru, Erick. Humas & LO Dhiane, Husni, Syahreza, Puja, Fristania, Putri, Pertiwi. Danus Widya, Vella Indah dan Kestari Ayoe, Zara, Aurora Kalian semua LUAR BIASA!

Tetap bergerak, tetap berkarya. Buatlah Indonesia berdaya dengan tangan-tangan kita semua. “Muda Berkarya, Indonesia Berdaya”.

Dan ini mungkin sepotong episode tentang pengalaman saya memimpin kepanitian LKMM TM Se-Indonesia 2015. Alhamdulillah banyak pembelajaran yang di dapat. Baik pengelolaan uang penyelenggaraan, manajemen psikologis, pengolahan acara, dll.
Ini jejak langkahku #MelangkahMenginspirasi.

Welcoming Party
Penampilan Puisi Saat Welcoming Party

Penampilan saat closing statement
Sesi Pelepasan Penyu


Sesi Materi





Jumat, 28 November 2014

Untukmu Para Penabur Cahaya


Kala cahaya sendu disudut matamu itu meredup
Terlihat jelas awan penat dan kabut duka memayungi air mukamu.
Kau tertatih memanggul amanah langit ini
Menghelanya dalam lika-liku jalan dakwah, yang kadang menyisakan luka dalam leka.

Lalu kau terhenyuk, termenung dalam dimensi rasa yang tak terkira
Genangan air hati itu beriak, menampakkan keresahan.
Namun, kala kolam jenuh itu memenuhi jiwa
Tetap cinta-lah yg tumpah ruah di permukaan.

Kau pancarkan kasih sayang pada sesama
Kau warnai hati durjana dengan pelangi keramahan.
Lalu membumilah cahaya yang kau bawa itu
Walau kadang peluh tiada henti menetes dalam kerja
Dan pergolakkan rasa tiada ampun menguras air mata.

Maka sebuah keistiqomahan menjadi jawaban
Kata yang tak mudah, namun itu menjadi tanda syukur bahwa cinta-Nya yang memilih
Memilih kau dalam jalan indah penabur cahaya.
Hingga kau bersinar layaknya mentari pagi yang menyemai asa dalam tekad umat manusia
Membakar semangat, mengokohkan azzam.

Lalu terhimpunlah kita dalam jamaah penabur cahaya
Yang tiada henti melangkah.
Bergerak sekuat tenaga mengumpulkan dan menyemai hikmah.
Tetap berjalan walau dalam kepenatan.

Karena memang jalan ini amatlah panjang..
Ia akan tetap berjalan. Menyinari alam naungan rahmat.
Takkan berhenti, hingga surga menyapa kita.

Maka berjuanglah, wahai engkau para penabur cahaya.

-Azmul-

Layaknya Sang Pujangga

Layaknya sang pujangga
Kau tinggalkan bait kata dalam desau udara
Melanglang buana menuju relung jiwa
Terbang tinggi jauh meretas batas cakrawala
Lalu berhembus ke darat mendekap tubuh dalam makna

Layaknya sang pujangga
Kau aliri pesan dalam rintik hujan
Turun ke bumi menumpahkan ribuan cerita dalam kedipan
Membasahi rasa dalam buaian hikmah mendalam
Menghapus segala jejak debu keraguan dalam tapak jalan.

Layaknya sang pujangga
Kau kobarkan sajak dalam api menyegat
Bergejolak menjilat-jilat membakar penat 
Bernyala-nyala membara menggelorakan semangat
Melahap bangunan angkuh dalam jiwa yang pekat.

Layaknya sang pujangga
Kau nyanyikan syair dalam paras rembulan
Meneduhkan hati dalam kesantunan
Mempesona indah walau dalam malam tanpa tabur bintang
Merengkuh tubuh dikala diri tersesak senyap
Menggoreskan senyum ketika gulita ingin merusak perasaan.

Layaknya sang pujangga
Kau biarkan diri ini terbawa arus dalam syahdu nikmatnya rasa
Kau bawa hati menari lepas diiringi dawai merdu malaikat
Kau jewantahkan segala resah dalam muara karya.

Begitulah cinta...
Ia layaknya sang pujangga yang tak berbicara
Hanya menitipkan arti dalam alam raya cipta Sang Maha Cinta.
Ia bersenandung tanpa suara, ia berkerja tanpa terlihat. Tak terdengar, hanya terasa.

Layaknya Sang Pujangga


-Azmul-
Google pict


Rabu, 06 Agustus 2014

Pilpres Usai, Ayo Bersatu dalam Karya


Presiden Indonesia telah terpilih. KPU telah menetapkan siapa pemimpin negeri ini. Mari sama-sama kita samakan visi agar visi yang dibawa presiden terpilih akan terrealisasi setelah ia dilantik namanya. Karena mayoritas rakyat negeri ini telah memilih seseorang. Maka dari itu yang minoritas harus membantu mereka mayoritas untuk membangun negeri. Karena esensi politik dari demokrasi itu. Dan kita jangan menghambat, akan tetapi bila benar didukung, bila salah kita luruskan. Indah bukan?
Akan tetapi, walau pilpres belum rampung, karena kita masih menunggu hasil sidang Mahkamah Konstitusi. Namun saya masih mengerutkan dahi karena masih banyak hal-hal negatif masih tersebar di dunia maya. Saya memang mendukung capres yang kalah saat masa kampanye,tapi masa kampanye sudah lewat. Tapi masih banyak saja yang nyebar hal-hal yang udah enggak relevan di masa sekarang.
Come on guys, Udah bukan masa kampanye lagi kali. Negeri ini punya banyak sekali masalah. Dan udah bukan saatnya nambah masalah Indonesia. Masalah sebesar Indonesia ga bakal selesai dengan seorang presiden. Saatnya kita bergerak. Indonesia tidak akan maju dengan kekuatan seorang superhero, negeri ini akan maju dengan dorongan kita semua.
Tidak ada lagi kita menuntut tanpa karya, tidak ada lagi kita mencaci tanpa dedikasi. Seperti kata bapak Anies Baswedan  “Mari turun tangan sama-sama menyelesaikan masalah Indonesia”. Maka mari kita turun tangan, mari kita bergerak, mari kita berkarya untuk negeri tercinta. Karena berjuta rakyat menunggu karya-karya kita. Saya siap, Anda pasti juga kan? 

Rabu, 23 Juli 2014

Karena Cinta itu Membangun Peradaban


Temen-temen disini pasti nonton hafidz Indonesia yang di televisi kan ya? Ga perlu rasanya saya bertanya bagaimana perasaan teman-teman. Soalnya di twitter sama facebook hampir sama semua testimoni setiap penonton. Baik itu kagum, malu, kalau nanti punya anak  dan terinspirasi. Saya-pun juga merasakan itu, teman-teman pasti juga merasakannya. Nah yang kita bahas pada kesempatan ini bukan masalah program hafidz itu. Tapi saya ingin membahas latar cinta dari keluarga mereka, sehingga menghasilkan generasi-generasi qur’ani seperti mereka.
Seperti yang kita ketahui orang tua mereka-lah yang mendidik sehingga anak-anak dapat menjadi sehebat itu. Maka dari itu peran serta orang tua dalam perkembangan anak sangatlah penting. Dan hal ini tidak-lah data dicapai dalam keluarga yang tidak memiliki visi yang jelas dan tertata rapi. Karena bila saja salah satu diantara kedua orang tua tersebut tidak bekerja sama dalam tujuan jelas. Akan sangat sulit anak dapat menghafal al-qur’an seperti itu.
Maka dari itu, sebuah hubungan membutuhkan visi, sebuah cinta membutuhkan perencanaan. Cinta bukanlah sebuah rasa yang hati tidak dapat memilih. Cinta dapat di bangun dalam bangunan cinta-Nya. Seperti layak Umar bin Khatab yang dapat menata ulang cintanya saat Rasulullah meminta beliau merubah cinta umar kepada Rasulullah melebihi ia mencintai dirinya.
 Shalihin shalihat, ketika cinta kita lantunkan antara dua insan yang kasmaran. Maka pastikanlah cinta yang syahdu itu terbungkus iman. Ketika cinta bersenandung, maka pastikanlah cinta nan merdu itu bermuara ke halalan. Karena dengan cinta itulah, generasi seperti apa yang akan kita hasilkan untuk masa depan. Karena dengan cinta itulah, seberapa bermanfaat cinta kita untuk umat masa depannya. Oleh sebab itu, jangan labuhkan cintamu kepada sembarangan manusia. Selektif dalam melabuhkan cinta itu wajar.  Karena bagi wanita ia akan memilih siapa imam yang menuntun kesurga. Serta bagi lelaki, ia akan memilih ibu dari anak-anaknya, yang menjadi madrasah pertama dari buah hatinya.
             Merugilah mereka yang menderajati cinta hanya permainan. Sebagai sebuah rasa yang hanya numpang mampir, lalu pergi. Meninggalkan nafsu membuncah di benak jiwa. Maka merugilah mereka yang menyamakan cinta dengan senda gurau, yang hanya menikmati romansa sesaat. Tanpa ada mimpi masa depan, tanpa ada visi. Mereka permainkan cinta dalam hubungan yang tak halal. Mereka guraukan cinta dengan melanggar pagar syariah-Nya.
                Oleh sebab itu, wahai shalihin shalihat, ketika kita berbincang cinta, maka kita berbincang masa depan. Ketika kita berbicara cinta, maka kita bicara peradaban. Jangan  engkau kotori cintamu dengan membangkang pada-Nya. Jangan engkau keruhkan cintamu dengan ingkar kepada-Nya. 
Semoga kita dapat membangun cinta, hingga cinta sampai surga.

Azmul Pawzi

Labuhkanlah Akal di Dermaga Taat

Salah satu kelebihan manusia dari pada makhluk lainnya adalah akal. Seperti itulah cara Allah memuliakan kita. Sang Maha Mengetahui mengaruniai  kita akal agar amanah yang diberikan kita sebagai khalifah dibumi dapat kita laksanakan. Maka begitu dahsyatnya kinerja akal ini.Dengan akal kita dapat berfikir, memahami, serta merajut hikmah-hikmah yang tersirat dalam setiap langkah kehidupan kita.
google 
Dalam kitab Al-Qur’an, banyak terdapat ayat-ayat tentang akal serta mereka yang menggunakan akalnya. Diantaranya seperti yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 44. Allah berfirman “Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan? Sedangkan kamu melupakan (kewajiban) dirimu sendiri, padahal kamu membaca al-kitab (Taurat). Maka tidakkah kamu berfikir?”
Tidak hanya itu, dalam surat yunus ayat 24 juga ditertera firman Allah yang berbunyi “….Demikian Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir.” Maka dari itu, akal sangatlah penting dalam menjalani ibadah-ibadah kepada Allah. Ya, akal itu hanya di gunakan untuk beribadah kepada Allah. Menjalani apa yang diperintahkan-Nya serta menjauhi apa yang di larang.
Oleh karena itu, saya terkadang geleng-geleng kepala saat mendengar mereka yang menentang firman Allah atas nama akal. Mereka berpendapat bahwa akal adalah hal yang super power yang diberikan tuhan kepada mereka, sehingga ketika tidak menggunakan akal sebebasnya. Maka sama saja kita tidak mengakui eksistensi tuhan. Lalu mereka juga berkata, “wahyu hanya sarana menaikkan martabat manusia. Jika akal sudah dapat mencapainya maka wahyu tidak perlu diterapkan”.
Sesungguhnya banyak lagi pernyataan-pernyataan mereka yang mengelu-elukan bahkan bisa dikatakan menyembah akal. Kenapa bisa saya katakan menyembah akal? Karena mereka lebih mempercayai akal mereka dari pada wahyu Allah. Sehingga mereka dalam menghadapi wahyu Allah, mereka akan berpikir dulu melalui cara berpikir akal mereka. Bila tidak sesuai akal mereka maka mereka tidak akan mentaati firman Allah tersebut. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita terhindar dari pemikiran seperti itu.
Shalihin shalihat yang di ridhoi Allah. Akal bukanlah digunakan untuk menentang Allah. Akal bukanlah digunakan untuk membangkang di hadapan Sang Maha Kuasa. Akal digunakan untuk melaksanakan tujuan manusia di ciptakan. Yaitu untuk beribadah hanya kepada Sang Maha Sempurna serta menjadi khalifah di bumi.
Maka bila firman telah terlafadzkan, maka sami’na wa atho’na. Maka ketika rasul telah bersabda, maka kami dengar dan kami taat. Bukan malah kita gunakan akal kita untuk membangkang. Ketahuilah sahabat ku, hidup terarah itu ketika keinginan kita memiliki satu arah dengan keinginan Allah. Maka rancanglah pemikiran kita sesuai dengan apa yang Sang Maha Mengetahui inginkan. Oleh sebab itu, mari kita labuhkan akal kita dalam dermaga ketaatan, karena dengan ketaatanlah kita dapat menikmati indahnya iman serta lezatnya ibadah dalam naungan ridho-Nya.

Azmul Pawzi



Selasa, 22 Juli 2014

Gelora Pemuda Menginspirasi Indonesia


 google pic
Indonesia, Sang Maha Pencipta menganugrahi negeri ini dengan keindahan. Beribu-ribu pulau benghiasi lautan. Melukiskan maha karya indah yang tergores dalam kanvas dibumi ini. Indah bukan? Namun kulihat negeri ini, begitu pelik terasa. Air mata ibu pertiwi berceceran melihat begitu banyaknya masalah dalam negeri ini. Mulai dari korupsi, kemiskinan, pengangguran dan banyak hal lagi.  Mungkin saja ibu pertiwi kini sedang termenung bagai mana masa depan negeri ini.
            Lalu terlintas sebuah kalimat yang tersebut oleh seorang bijak nan gagah. Pemimpin teladan serta dapat menjadi conth pemimpin saat ini. ia berkata “Setiap kali saya menemukan masalah-masalah besar, yang ku panggil adalah anak muda” ya benar, pemuda. Kata-kata ini bukanlah sebuah omong kosong belaka. Karena pemimpin yang berucap ini adalah pemimpin tangguh dan tegas. Ia adalah Umar bin Khatab. Maka pemuda adalah kunci penyelesaian masalah-masalah besar bangsa ini.
            Karya-karya besar negeri ini, tak luputlah dari jerih payah dan kucuran keringat bahkan darah para pemuda. Mulai dari peristiwa yang kini menjadi gerakan kebangkitan nasional yaitu berdirinya Boedie Oetomo. Dilanjutkan semangat pemuda dari berbagai penjuru yang berkumpul menggemakan Sumpah Pemuda pada 28 oktober 1928. Hingga penculikkan Soekarno dan Hatta ke Rengasdenklok untuk terwujudnya kemerdekaan Republik Indonesia. Karya-karya besar lainnya berbuah juga dari tangan-tangan gesit para pemuda. Mencari strategi dan cara-cara baru untuk perubahan Indonesia menjadi lebih baik.
            Inilah buah karya para pemuda yang luar biasa. Entah apa yang terjadi, bila para pemuda tidak melakukan itu semua. Mungkin penjajahan Indonesia akan terjadi lebih lama dan perubahan itu tak akan terjadi seperti saat ini.
            Ibu pertiwi tersenyum, tersenyum melihat pemuda-pemuda dapat berkarya pada saat itu. Namun, hanya saat itu sajalah ibu pertiwi tersenyum. Kini air wajah ibu pertiwi menunjukkan kesedihan. Anak-anak bangsa hanya membicarakan masalah, masalah dan masalah. Begitu banyak masalah yang mewarnai bangsa ini.
            Ketika secercah harapan timbul terhadap para pemuda. Namun pemuda kini mulai terkena berbagai penyakit. Mulai dari apatis, sibuk dengan kesibukan sendiri yang tak berpengaruh untuk sekitar, pergaulan bebas, narkotika serta berbagai virus yang menggerogoti kepedulian pemuda. Kita dapat memulai dari permasalaha narkoba yang dihadapi para penerus bangsa ini. Bila kita melihat data yang disampaikan Badan Narkotika Nasional pada tahun 2009, tindak pidana narkoba sejak 2001 hingga 2008 di Indonesia mencapai 166 ribu dan ternyata 2.134 kasus menimpa remaja dibawah umur. Tidak hanya itu, data BNN tahun 2012 mengungkapkan bahwa setiap hari 50 orang dan setiap tahun 15 ribu orang yang meninggal karena narkoba.
            Begitu mengenaskan fakta-fakta pemuda dan bangsa Indonesia. Itu untuk narkoba, jika kita melihat masalah tentang pergaulan bebas tak kalah menggegerkan kepala jika kita memperhatikannya. Mulai dari seks bebas dan pemerkosaan karena dampak video porno yang tersebar negeri ini. Virus HIV menyebar, penyakit AIDS dimana-mana bahkan pada November 2011 indonesia memiliki 200 ribu lebih penderita AIDS.
            Permasalahan-permasalahan dalam kehidupan sosial juga dapat kita temukan di negeri kita. Pemuda apatis yang enggan mau tahu dengan keadaan sekitar. Kesibukkan dalam menikmati fasilitas teknologi yang menyibukkan diri sendiri. Tak sempat memikirkan apa yang terjadi disekitar. Tak ingin diganggu dengan masalah orang lain bahkan masalah bangsa ini.
            Gelombang hedonisme juga menyerbu para agent of change negeri ini. Foya-foya ria lebih disukai dari pada bekerja keras menaruh bata-bata bangunan kesejahteraan negeri ini. Bermain di pusat-pusat perbelanjaan lebih menyenangkan dari pada sulit-sulit belajar mencari ilmu unuk mencerdaskan diri. Bila apatisme dan hedonism ini terbangun dan terharmoni dengan baik dinegeri ini. Maka lahirlah besok pemuda-pemuda yang hanya akan menjual negeri ini untuk kesenangan diri sendiri. Tak peduli apa yang terjadi terhadap orang lain.
            Kumpulan-kumpulan pemuda yang enggan bekerja ini akan terbentuklah komentator-komentator handal. Penebar kritik negative tak membangun. Pengkritisi jago bicara, yang menghilangkan asa harapan untuk negeri. Sebuah kata-kata tersusun rapi, mengutuk apa yang terjadi, mencaci para pejuang. Pemuda-pemuda komentator omong kosong inilah yang akan memenuhi negeri kita. terproduksi sangat banyak, menyebabkan stok pemuda seperti ini sangatlah melimpah.
            Fakta seperti inilah yang menambah beban dalam otak ibu pertiwi. Memperlebat tetesan air mata di pipi ia. Namun terlihat dalam remang-remang jalan sunyi. Pemuda-pemuda yang menggali asa untuk Indonesia. Pemuda-pemuda yang berusaha menyeka air mata di pipi ibu pertiwi.
            Mereka adalah pencari ilmu, berusaha mencerdaskan diri. Meraih cahaya ilmu yang bertebaran di bumi. Untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan dunia. Meramu cara- cara luar biasa menyelesaikan masalah.
            Mereka adalah para relawan penggerak. Bergerak tanpa upah, bekerja tanpa lelah, berkarya tanpa batas. Melahirkan inspirasi-inspirasi baru yang mewabah luas menyadarkan bangsa dari himpitan masalah.
            Mereka bagai Muhammad Al-Fatih, belajar tanpa henti, berusaha memantaskan diri. Baik jasmani dan rohani untuk mencapai sebuah cita yang sangat mustahil saat itu.
            Mereka bagai Mush’ab bin Umair, Meninggalkan segala kenikmatan dunia. Untuk mencapai sebuah kenikmatan tak lekang oleh waktu. Sebuah keabadian, dalam amal-amal dahsyat. Menjadi pemuda tampan nan cerdas. Menginspirasi sekitar untuk bekerja dalam segala ridho-Nya.
            Mereka bagai Sukarno, meneriakkan sebuah moralitas dalam bahasa elegan. Membakar semangat orang sekitar untuk  menjemput sebuah keinginan mulai. Berkerja dengan cinta terhadap rakyat. Mengharmonisasikan sebuah semangat baru. Kemerdekaan untuk tanah tercinta.
            Mereka bagai Muhammad Hatta. Meramu langkah-langkah kongkrit dalam membangun sebuah negara. Menggoreskan kata-kata cerdas dalam menggambarkan sebuah cita bangsa. Menemukan sistem untuk kepentingan rakyat.
            Mereka adalah pemuda-pemuda konkrit yang melangkah untuk mengispirasi. Bukan pemuda yang hanya mengkritisi tanpa kerja. Bukan pemuda yang terbuai dalam kenikmatan dunia. Bukan pemuda apatis yang enggan peduli dalam situasi sekitar.
            Inilah pemuda Indonesia itu, mereka walau belum menjadi mayoritas. Namun kerjanya mulai terasa. Langkahnya menciptakan inspirasi baru. Citanya merubah Indonesia dicicil dengan karya-karya kecil namun bermakna besar. Inilah gelora itu, gelora para pemuda untuk perubahan yang terbaik. Menggapai cita indah di dunia dan disisi-Nya.

Azmul Pawzi (10 November 2013)

Sabtu, 24 Mei 2014

Kuatlah Wahai Hati, Sabarlah Wahai Diri


Ya inilah jalanku.

Jalan yang berbatu, jalan yang penuh halang rintang, yang dimana terjatuh, celaan, hinaan hal yang biasa.

Aku tidak lah terbit di saat Rasulullah saw berdakwah di dunia ini.

Ku pun juga tidak terlahir di zaman sahabat, taabi’in dan tabi’ut tabi’in.

Kehidupan ku kini juga bukan di saat islam dan khilafahnya memimpin dunia ini.

Ku terlahir di tengah masyarakat islam, namun dimana islam sudah memudar di kehidupan mereka karena kebudayaan yang menyelisihi islam.

Namun sekuat mungkin, ku akan berjuang mempertahankan keimananku ini.

Andai matahari di tangan kananku,jika saja rembulan berada ditangan kiri ku.

Takkan mampu mengubah yakinku.

Iman ini akan selalu terpatri di dalam hati.

Takkan terbeli oleh apapun.

Iman ini, akan ku pertahankan walaupun berdarah darah jalan yang harus ku tempuh.


Disaat orang lain segenerasiku berjalan mengikuti arus syahwati.

Sibuk dan terlena dengan hiburan memenuhi nafsu.

Asyik dengan cinta yang mereka realisasikan dengan kenistaan.

Namun diri ini mencoba untuk berlawanan dengan arus itu.

Karena itulah jalan yang akan diridhoi Allah.

Aku….

Memang menjalani kehidupan di akhir zaman.

Dimana maksiat dapat ditemui di segala sisi kehidupan.

Namun aku bersyukur aku masih dapat menemukan orang-orang yang menginginkan islam kembali memimpin dunia, mewarnai sisi-sisi kehidupan manusia.

Ku kuatkan azzam untuk ikut menyertai mereka.

Ikut berusaha mengemban jalan dakwah ini.

Walaupun aku ketahui diri masih sangat banyak kekurangan.

Masih belum sempurna untuk mengembannya.

Namun tugas besar ini dalah sebuah kewajiban untuk muslim dan tidak menuntut manusia sempurna untuk melaksanakannya.

Karena tidak ada manusia yang luput dari dosa.

Bukanlah harta yang ku cari, bukanlah nama dan jabatan yang ku damba.

Hanya Ridho-Nya yang ku harap sebagai harga.

Andaikan beribu siksaan, celaan, makian menghantam tubuh ini.

Ku takkan pernah ragu, walaupun se ujung rambuat untuk maju.

Ku akan selalu berdoa kepada Allah Azza wa Jalla agar hati ini dikuatkan, diri ini di bimbing dan dan di sabarkan.

Bantu lah hamba ya Allah.

Semoga generasi ku yaitu generasi muda dapat kembali ke jalan-Mu

Dan keyakinan ini akan bangkitya islam akan selalu berda dlam hati dan fikiran ini.

Inilah jalan ku, jalan yang di lewati para pejuang

Ya Allah bimbing dan bantu hamba.


“Katakanlah inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada ALLAH dengan yakin, Maha Suci ALLAH, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik” (Q.S Yusuf : 108)

Sebuah postingan untuk mengingatkan saya khususnya


Azmul Pawzi (2 September 2012)

Apa Kabar Bulan?


Hai langit. Apa kabarmu di kelamnya malam ini? Sepertinya awan masih membuaimu dalam pelukannya ya. 
Banyak potongan-potongan hidup yang ingin daku ceritakan kepadamu. 
Oh ya, bagaimana kabarmu bulan di gulita ini? Ku lihat setengah wajahmu memancar pada malam ini. Kau tetap cantik. Kau tetap indah. Pesona mu tetap tak terkira walau bintang tak menemanimu malam ini. Engkau tetap menawan dimata ku hai rembulan.


S
edang apa kau rembulan? Apakah kau kesepian? Sepertinya awan tak menghiraukanmu dalam gumulan indahnya yah. Ku lihat cahayamu malam ini sedikit sendu. Kau baik-baik sajakan? Apakah sepi menganiayamu disana? Namun sepertinya tidak. Aku mungkin salah menerjemahi parasmu. Setengah wajahmu malam ini sepertinya tersenyum. Senyum nan indah. Bahkan diri ini sulit menerka berapa keindahannya. 


Begitu luar biasa anugrah Sang Maha Pencipta. Ia menggantungmu dikala insan telah sibuk dengan lelapnya. Bermain ria dengan bunga-bunga mimpinya. Namun bukan itu intinya. Sang Maha Cinta menggantungmu saat itu untuk menjadi teman setia makhluk lainnya. Mereka yang berkutat dengan tugasnya. Mereka yang gusar tak menentu dalam malam. Kau lah yang menemani mereka dengan setia wahai rembulan.

Selamat malam untukmu wahai rembulan. Tetaplah tersenyum. Senyum yang menentramkan hati yang mentadaburinya, Senyum yang melegakan jiwa yang mensyukuri ciptaan indah seperti mu. 

Saat Fatamorgana Dirindukan

Dalam kehampaan tanpa tepi. Ku buka mata ini. Dan mulai terjaga ketika kegelapan masih memeluk bumi. 
Tanpa sadar diri ini tak berdaya melihat rintihan dunia. Terpuruk dalam aniaya kelam. Tersesak kebimbangan. Isak tangis berirama dengan bau ketamakan. kedengkian menjarah asa. 
Satu kata pun tak dapat ku mengerti yang dialami semesta. Hamparan luka menemani manusia lemah. Keadilan berdarah-darah tersayat kebohongan. Rasa tolong-menolong berguguran. Meronta-ronta tergerus zaman.
Lalu kupejamkan mata. Tersautlah bisikan. Bisikan yang membawa kedunia fatamorgana. Dimana embun pagi menyimpul kedamaian.Dimana belaian angin menyejukkan jiwa. Membasuh perih yang membekas.
Kulihat disana keramahan mengalir lembut. Membasahi nurani yang dulu kering. Menumbuhkan asa yang dulu rapuh.
Beribu kata tak sanggup menjelaskan keindahan ini. Bahkan aku tak dapat meraba betapa besar rindu yang membuncah. Betapa nikmat jiwa yang bermanja-manja dalam ketulusan. Tak ada lagi keangkuhan, tak ada lagi kerakusan.
Namun itu hanya fatamorgana. Saat ku terjaga kembali. Keyakinan berdiriku tergerogoti kembali oleh keraguan. Harapku terkubur dalam kenyataan.
Inilah bumiku,kenyataan memaksa sukma suci tak terbangun. Melempar kebaikan dalam keterpurukan. Hanya untaian do'a disandarkan kepada Sang Maha Pemberi. Agar fatamorgana itu terwujud. Agar mimpi indah itu tak hanya berbunga dalam lelapnya diri.