Senin, 09 Januari 2023

Kebijaksanaan Seorang Insan



Saya teringat ketika kuliah dulu, kampus tiba-tiba mati listrik, masalahnya saat dosen saya membawa laptop yang harus tersambung ke listrik karena baterai laptopnya rusak.

"Yah mati, padahal ilmu ibu udah banyak berpindah ke laptop ini, kalau mati ngga tau apa yang harus dijelasin?" Kata dosen tersebut dengan sedikit tertawa.

Tentu saja dosen itu bercanda,  beliau lanjut menjelaskan dengan spidol dan papan tulis, lalu  menyampaikan materi dengan cukup dalam pada mata kuliah tersebut.

Tapi saya coba merenung, berapa banyak orang yang kepintarannya dalam menyampaikan sesuatu, akan berkurang bahkan hilang bila alat yang selama ini membantunya rusak? Baik itu komputer, laptop, hp, bahkan sekecil kalkulator.

Berapa banyak orang yang ketika diminta presentasi, namun karena  proyektor atau laptopnya tidak berfungsi, lenyap sudah apa yang harus dia sampaikan?

Berapa banyak pekerjaan yang biasa diselesaikan manusia, tak selesai karena alat tak dapat digunakan?

Jadi insan saat ini begitu bergantung pada kepintaran gawai disekitarnya. Maka apa yang kita harapkan sebagai manusia bila hanya membanggakan kepintaran, kecerdasan, dan kehebatan?

Manusia yang hanya mampu memamerkan kepintaran, lambat laun akan digantikan dengan gawai, mulai dari mesin biasa,  Artificial intelligence, hingga robot canggih.

Tapi ada beberapa hal kemampuan manusia yang takkan mungkin digantikan oleh mesin semutakhir apapun, salah satunya : kebijaksanaan.

Kita sebagai manusia modern, selain harus mengembangkan kompetensi, kepintaran, skill dan sebagainya. Sangat penting pula dibarengi dengan memiliki kebijaksanaan.

Karena kedepannya, mungkin kepintaran kita akan kalah dengan kemajuan zaman. Namun kebijaksanaan seorang insan takkan pernah tergantikan.

#MelangkahMenginspirasi 

📷 MasyaAllah gaya cool abang Ibad 😅

Jumat, 30 Desember 2022

Terima Kasih 2022

Bagi saya, tahun 2022 ini tahun refleksi. Pada tahun ini saya banyak merenung, mengevaluasi jejak sebelumnya, memperhitungkan berbagai peluang, hingga merencanakan apa yang harus dikejar kedepannya. Pastinya tetap mengerjakan yang ada didepan mata.

Karenanya saya merasa berada di jalur lambat. Langkah saya tak secepat tahun-tahun yang lalu. Ambisi saya tak semuluk warsa sebelumnya. Tentunya masih ada pencapaian yang mesti dirayakan.

Tapi kita sama-sama tahu, langkah cepat ataupun lambat tidak berbanding lurus dengan baik atau buruknya. Akan ada hikmah yang terpendam dalam tingkat kecepatan langkah kita.

Seperti ungkapan Cak Nun : "Hidup itu harus pintar ngegas dan ngerem"

Kita harus paham kapan menekan pedal gas untuk berlari kencang, atau menginjak rem agar memperlambat perjalanan. Jangan sampai kecepatan tinggi membahayakan kita, atau terlalu pelan membuat kita tak meraih apa-apa.

Yang terpenting dari masa yang terlewati, senang ataupun susah, berhasil atau gagal, kita tetap bersyukur atas apa yang telah Allah tetapkan kepada kita.

Kita harus meyakinkan bahwa setiap ketentuan-Nya, pasti banyak hal yang dapat kita petik menjadi pembelajaran hidup.

Begitu juga dengan tahun 2022 dan tahun sebelumnya. Kita bersyukur atas waktu yang telah Allah anugrahkan dan hikmah yang menyertainya.

Terima kasih 2022, semoga kita dapat memanfaatkan 2023 dan waktu-waktu berikutnya yang Allah takdirkan untuk kita.

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah.

#MelangkahMenginspirasi

Rabu, 21 Desember 2022

Alhamdulillah, Lima Tahun Pernikahan


Alhamdulillah, hari ini tepat lima tahun pernikahan kami.

Dulu, sebelum menikah saya sering kali mendapat nasihat pernikahan baik dari daurah ataupun ziarah ke para ustadz, bahwa lima tahun awal adalah masa rentan dalam pernikahan.

Akan banyak cobaan yang menguji keutuhan rumah tangga dalam waktu lima tahun awal ini, diantaranya proses mengenal pasangan.

Dua insan dengan dua latar belakang berbeda, dua pengasuhan berbeda, dua pemikiran berbeda, bertemu setiap hari dan tinggal di kamar yang sama.

Segala baik dan buruk antara sepasang manusia ini akan nampak jelas dan tanpa sekat.

Bagi mereka yang tak mampu mengelola perbedaan dan ekspektasi, akan banyak kekecewaan yang hadir.

Ini bisa jadi salah satu penyebab keretakan rumah tangga. Maka proses pengenalan mulai ta'aruf, tafahum, ta'awun hingga itsar bisa dipraktekkan dalam awal proses penyamaan suhu dalam rumah tangga.

Lalu, secara umum lima tahun pernikahan awal akan diuji dengan ekonomi keluarga yang fluktuatif, bahkan cenderung kekurangan.

Karena memang di awal pernikahan sedang membangun kemapanan finansial.

Masalah ini jika tak dihadapi dengan syukur dan sabar. Akan banyak kasus perpisahan terjadi.

Dan memang ketika saya berdiskusi dengan ketua pengadilan agama di suatu daerah, keadaan ekonomi paling banyak menjadi alasan berpisah.

Sebenarnya masih banyak alasan, namun karena takut tulisan ini terlalu panjang. Cukup itu saja dulu.

Intinya, lima tahun awal pernikahan menjadi masa yang krusial untuk sepasang kekasih dalam membangun rumah tangga.

Itulah mengapa sejak menikah hingga anniv lima tahun ini, saya enggan mengisi materi tentang pernikahan, walau sudah beberapa kali di undang. Atau menulis buku tentang pernikahan walau sudah ada yg mendorong. Setelah ini? Wallahu'alam, kita lihat nanti. 😅

Yang terpenting saat ini, kami ingin bersyukur atas takdir yang Allah beri. 

Alhamdulillah, lima tahun sudah kami lewati. Setengah dekade telah kami jalani.

Alhamdulillah, begitu banyak nikmat yang Allah anugrahkan pada rumah tangga kami.

Semoga segala doa dan cita keluarga kecil kami tercapai. Serta kebersamaan ini kekal hingga surga nanti. Dalam naungan cinta Ilahi.

#MelangkahMenginspirasi
#RumahTanggaSurga