Senin, 09 Januari 2023

Kebijaksanaan Seorang Insan



Saya teringat ketika kuliah dulu, kampus tiba-tiba mati listrik, masalahnya saat dosen saya membawa laptop yang harus tersambung ke listrik karena baterai laptopnya rusak.

"Yah mati, padahal ilmu ibu udah banyak berpindah ke laptop ini, kalau mati ngga tau apa yang harus dijelasin?" Kata dosen tersebut dengan sedikit tertawa.

Tentu saja dosen itu bercanda,  beliau lanjut menjelaskan dengan spidol dan papan tulis, lalu  menyampaikan materi dengan cukup dalam pada mata kuliah tersebut.

Tapi saya coba merenung, berapa banyak orang yang kepintarannya dalam menyampaikan sesuatu, akan berkurang bahkan hilang bila alat yang selama ini membantunya rusak? Baik itu komputer, laptop, hp, bahkan sekecil kalkulator.

Berapa banyak orang yang ketika diminta presentasi, namun karena  proyektor atau laptopnya tidak berfungsi, lenyap sudah apa yang harus dia sampaikan?

Berapa banyak pekerjaan yang biasa diselesaikan manusia, tak selesai karena alat tak dapat digunakan?

Jadi insan saat ini begitu bergantung pada kepintaran gawai disekitarnya. Maka apa yang kita harapkan sebagai manusia bila hanya membanggakan kepintaran, kecerdasan, dan kehebatan?

Manusia yang hanya mampu memamerkan kepintaran, lambat laun akan digantikan dengan gawai, mulai dari mesin biasa,  Artificial intelligence, hingga robot canggih.

Tapi ada beberapa hal kemampuan manusia yang takkan mungkin digantikan oleh mesin semutakhir apapun, salah satunya : kebijaksanaan.

Kita sebagai manusia modern, selain harus mengembangkan kompetensi, kepintaran, skill dan sebagainya. Sangat penting pula dibarengi dengan memiliki kebijaksanaan.

Karena kedepannya, mungkin kepintaran kita akan kalah dengan kemajuan zaman. Namun kebijaksanaan seorang insan takkan pernah tergantikan.

#MelangkahMenginspirasi 

📷 MasyaAllah gaya cool abang Ibad 😅

Jumat, 30 Desember 2022

Terima Kasih 2022

Bagi saya, tahun 2022 ini tahun refleksi. Pada tahun ini saya banyak merenung, mengevaluasi jejak sebelumnya, memperhitungkan berbagai peluang, hingga merencanakan apa yang harus dikejar kedepannya. Pastinya tetap mengerjakan yang ada didepan mata.

Karenanya saya merasa berada di jalur lambat. Langkah saya tak secepat tahun-tahun yang lalu. Ambisi saya tak semuluk warsa sebelumnya. Tentunya masih ada pencapaian yang mesti dirayakan.

Tapi kita sama-sama tahu, langkah cepat ataupun lambat tidak berbanding lurus dengan baik atau buruknya. Akan ada hikmah yang terpendam dalam tingkat kecepatan langkah kita.

Seperti ungkapan Cak Nun : "Hidup itu harus pintar ngegas dan ngerem"

Kita harus paham kapan menekan pedal gas untuk berlari kencang, atau menginjak rem agar memperlambat perjalanan. Jangan sampai kecepatan tinggi membahayakan kita, atau terlalu pelan membuat kita tak meraih apa-apa.

Yang terpenting dari masa yang terlewati, senang ataupun susah, berhasil atau gagal, kita tetap bersyukur atas apa yang telah Allah tetapkan kepada kita.

Kita harus meyakinkan bahwa setiap ketentuan-Nya, pasti banyak hal yang dapat kita petik menjadi pembelajaran hidup.

Begitu juga dengan tahun 2022 dan tahun sebelumnya. Kita bersyukur atas waktu yang telah Allah anugrahkan dan hikmah yang menyertainya.

Terima kasih 2022, semoga kita dapat memanfaatkan 2023 dan waktu-waktu berikutnya yang Allah takdirkan untuk kita.

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah.

#MelangkahMenginspirasi

Rabu, 21 Desember 2022

Alhamdulillah, Lima Tahun Pernikahan


Alhamdulillah, hari ini tepat lima tahun pernikahan kami.

Dulu, sebelum menikah saya sering kali mendapat nasihat pernikahan baik dari daurah ataupun ziarah ke para ustadz, bahwa lima tahun awal adalah masa rentan dalam pernikahan.

Akan banyak cobaan yang menguji keutuhan rumah tangga dalam waktu lima tahun awal ini, diantaranya proses mengenal pasangan.

Dua insan dengan dua latar belakang berbeda, dua pengasuhan berbeda, dua pemikiran berbeda, bertemu setiap hari dan tinggal di kamar yang sama.

Segala baik dan buruk antara sepasang manusia ini akan nampak jelas dan tanpa sekat.

Bagi mereka yang tak mampu mengelola perbedaan dan ekspektasi, akan banyak kekecewaan yang hadir.

Ini bisa jadi salah satu penyebab keretakan rumah tangga. Maka proses pengenalan mulai ta'aruf, tafahum, ta'awun hingga itsar bisa dipraktekkan dalam awal proses penyamaan suhu dalam rumah tangga.

Lalu, secara umum lima tahun pernikahan awal akan diuji dengan ekonomi keluarga yang fluktuatif, bahkan cenderung kekurangan.

Karena memang di awal pernikahan sedang membangun kemapanan finansial.

Masalah ini jika tak dihadapi dengan syukur dan sabar. Akan banyak kasus perpisahan terjadi.

Dan memang ketika saya berdiskusi dengan ketua pengadilan agama di suatu daerah, keadaan ekonomi paling banyak menjadi alasan berpisah.

Sebenarnya masih banyak alasan, namun karena takut tulisan ini terlalu panjang. Cukup itu saja dulu.

Intinya, lima tahun awal pernikahan menjadi masa yang krusial untuk sepasang kekasih dalam membangun rumah tangga.

Itulah mengapa sejak menikah hingga anniv lima tahun ini, saya enggan mengisi materi tentang pernikahan, walau sudah beberapa kali di undang. Atau menulis buku tentang pernikahan walau sudah ada yg mendorong. Setelah ini? Wallahu'alam, kita lihat nanti. 😅

Yang terpenting saat ini, kami ingin bersyukur atas takdir yang Allah beri. 

Alhamdulillah, lima tahun sudah kami lewati. Setengah dekade telah kami jalani.

Alhamdulillah, begitu banyak nikmat yang Allah anugrahkan pada rumah tangga kami.

Semoga segala doa dan cita keluarga kecil kami tercapai. Serta kebersamaan ini kekal hingga surga nanti. Dalam naungan cinta Ilahi.

#MelangkahMenginspirasi
#RumahTanggaSurga

Minggu, 18 Desember 2022

Messi dan Cerita Hampir Menyerah

Gagal di tiga final Copa Amerika dan satu final Piala Dunia membuat hati Messi hancur berkali-kali. Lebih dari satu kali dia memilih ingin berhenti.

Pemain dengan gelar La Pulga ini sudah meraih segalanya dalam karir klub dan individu, semua gelar domestik, benua hingga dunia telah dia raih bersama Barcelona. Semua Gelar individu baik pemain terbaik dari liga hingga Ballon D'or serta topskor berulang kali pula dia rasakan.

Namun cerita indah itu tak berlaku dengan karir bersama tim nasional, Messi berulang pula patah hati dengan perjalanannya bersama Argentina.

Terlebih saat 2016, rival terbesarnya, Cristiano Ronaldo membawa Portugal Juara Euro, sedangkan dia kalah melawan Chile di Final Copa America. Makin besar badai hujatan yang La Pulga terima, bahkan dari fans Argentina sendiri.

Kekalahan pertama Messi di partai puncak terjadi tahun 2007, Albiceleste dibungkam Brazil 3-0. Namun ketika itu Messi masih sangat muda, usia 20 tahun. Belum menjadi kapten, bahkan tak menyandang nomor 10. Kekalahan Argentina lebih menyorot Tevez, Riquelme dan Zanetti.

Kekalahan pertama La Pulga sebagai kapten di laga final terjadi di ajang paling bergengsi sepakbola, Messi harus puas sebagai runner up setelah gol Gotze membawa Jerman Juara.

Sempat ingin pensiun, namun setelah bujukan berbagai pihak termasuk Presiden Argentina, Messi kembali membela Tim Tango, namun nasib kurang beruntung masih menghantui.

Dua kali berturut-turut Messi gagal di Final Copa America, di kalahkan Chile pada tahun 2015 dan 2016. Dan ini menjadi salah satu kekalahan paling menyakitkan sepanjang karirnya.

Di masa inilah fase nadir karir Messi bersama Albicelestes. Berbagai tekanan dan cemo'ohan mewarnai hidupnya. Puncaknya Messi mengumumkan pensiun dari Argentina di usia baru 29 tahun.

Dia mengucapkan "Bagi saya, timnas sudah berakhir. Saya sudah melakukan segalanya. Rasanya sakit tidak bisa jadi juara,"

Dia ingin menyerah, terlebih dirinya selalu dibandingkan dengan CR7 yang sukses membawa Portugal juara Euro lalu diikuti pula juara UEFA Nation League.

Namun pada akhirnya Messi memilih untuk terus melangkah, walau tertatih-tatih membangun harapan kembali, kekalahan demi kekalahan tetap saja menghampiri Messi dan Argentina.

Pada Piala Dunia 2018 hanya sampai 16 besar, ditambah Copa America 2019 hanya sampai semi final. Messi hampir kembali menyerah, namun dia kembali comeback dan menguatkan hati.

Dan cerita melegenda itu akhirnya terbit, dia berhasil juara Copa America pada pertengahan 2021. Saya menonton final melawan brazil itu, saat pluit akhir berbunyi, Messi tersungkur bahagia. Teman-teman satu tim mengejar dan memeluknya.

Satu mimpinya untuk meraih piala bersama Argentina tercapai, dan semalam Messi menggenapkan pencapaian sepakbolanya dengan menjuarai ajang sepak bola paling bergengsi sejagat raya : Fifa World Cup 2022 atau yang kita kenal Piala Dunia.

Dari Messi kita dapat belajar bahwa kita boleh hampir menyerah atas kekalahan-kekalahan besar dalam hidup. Namun ketika kita benar-benar berhenti, disitulah kegagalan sejati.

Selagi masih ada kesempatan dan harapan dalam hati, kita harus memaksimalkan ikhtiar untuk mencapai mimpi dan cita. Kisah Messi ini dapat menjadi inspirasi bagi mereka yang berulang kali gagal, namun menolak menyerah.

Dan akhir yang manis menjadi epilog karir Messi. Dia sukses mencapai cita dengan pertandingan final yang paling menghibur dan menegangkan yang pernah saya tonton. Btw, saya sudah menonton seluruh final Piala Dunia sejak 2002 hingga 2022 ini.

Selamat Argentina, Selamat Messi. Anda sukses menegaskan diri sebagai pemain bola Greatest of All Time. 

#MelangkahMenginspirasi

Selasa, 13 Desember 2022

Perhitungan

Cukup seseorang dianggap bodoh bila memasuki gelanggang yang belum pernah dia ukur. Buta tanpa ada pengetahuan.

Langkah-langkah yang kita ambil harus terhitung jelas, bukan mudah terbuai dengan banyaknya peluang, tapi tetap sadar akan resiko dan berusaha memitigasinya.

Menjadi perhitungan dalam hidup itu penting. Terlebih menghitung tiap resiko dan peluang yang mungkin diraih. Tapi ingat, jangan jadi insan yang hitung-hitungan.

Karna melakukan perhitungan bukan berarti selalu risau dengan segala resiko dan ancaman. Hingga takut rugi walau hanya untuk berbagi.

Maksud kita menghitung resiko agar kita mampu melewatinya. Namun jika kita gagal mengantisipasinya. Jelas tak mengapa. Itu akan menjadi pelajaran baru bagi kita.

Perhitungan.
Jangan hitungan-hitungan.
Ambil pelajaran dari prosesnya.

#MelangkahMenginspirasi

Rabu, 23 November 2022

Belajar Jadi Pejuang Sejati dari Sosok Perdana Menteri Baru Malaysia : Anwar Ibrahim


Sanggupkah kita, berkali-kali difitnah, hingga 3 kali masuk penjara, bahkan dengan tuduhan palsu yang sangat keji seperti sodomi. Namun tetap berjuang memperjuangkan cita demi negerinya tercinta, Malaysia.

Begitulah perjalanan politik Dato Anwar Ibrahim, sosok anak emas penguasa pada awalnya. Namun terbuang karena niat baiknya memberantas kebusukan partai penguasa.

Kisahnya berawal sejak pelajar, bergerak lewat aktivisme jalanan pada tahun 1960-an hingga 1970-an. Lalu dipenjara tanpa peradilan di tahun 1974 tersebab gerakannya.

Hingga mendapat perhatian dari tokoh besar Mahathir, lalu beberapa tahun kemudian Anwar Ibrahim menjadi Menteri Pemuda, lalu berpindah jabatan menteri lainnya. Karirnya sangat cemerlang ketika ditunjuk sebagai Menteri Keuangan Malaysia.

Ditangannya perekonomian Malaysia meroket dan mendapat penghargaan dari berbagai lembaga internasional. Puncaknya dia ditunjuk menjadi Wakil Perdana Menteri Malaysia tahun 1993.

Awalnya, semua berfikir bahwa dia adalah anak emas Mahathir yang akan menjadi suksesor Perdana Menteri Malaysia selanjutnya. Namun akhirnya dia berlawan pikiran dengan mentor politiknnya itu, khususnya dalam penanganan krisis ekonomi 1997/98 saat itu.

Anwar Ibrahim disingkirkan, dengan tuduhan yang keji, melakukan sodomi katanya. Berbagai media pun ikut menyuarakan jika itu fitnah. Namun tetap saja dia tersingkir dari pemerintahan, lalu masuk jeruji besi untuk kedua kali.

Walau terjebak dalam hotel prodeo, namun tekadnya mengejar cita untuk bangsa tak surut. Sejak saat itu Anwar menjadi pemimpin oposisi paling berpengaruh di Malaysia. Ikhtiarnya berlanjut dengan membuat partai baru, karena dia masih tak boleh melakukan kegiatan politik. Partai barunya, Partai Keadilan Rakyat dipimpin oleh istrinya, Wan Azizah.

Meski tahun 2008 kembali difitnah dengan kasus yang sama hingga dia kembali masuk penjara. Namun Anwar Ibrahim semakin berhasil membawa partainya menjadi partai oposisi terbesar di pemerintahan.

Perjuangannya melawan pemerintahan koruptif berbuah ketika Perdana Menteri Malaysia dari partai penguasa, Najib Razak ditangkap karna kasus korupsi. Hingga koalisi Pakatan Harapan yang dibangunnya memenangkan pemilu. Tentunya dengan kerjasama dengan mantan mentor yang pernah mengkhianatinya, Mahathir.

2018 berkat koalisi Pakatan Harapan, Mahathir menjadi Perdana Menteri Malaysia kembali, Wan Azizah jadi wakilnya. Perjanjiannya 2 tahun memimpin Mahathir akan memberikan tongkat kepemimpinannya kepada Anwar Ibrahim yang saat itu masih di penjara.

Namun dua tahun berselang, saat Anwar sudah keluar dari jeruji besi dan berhasil menjadi anggota parlemen kembali. Drama politik terjadi, Muhyidin membelot, Mahathir berkelit. Jadilah Perdana Menteri Malaysia saat itu Muhyidin, Anwar dituntut kembali bersabar.

Barulah tahun ini, November 2022, setelah koalisinya Pakatan Harapan kembali menjadi suara mayoritas di Parlemen Malaysia dengan 82 kursi, namun diwarnai dengan drama tak ada pemenang mutlak dalam pemilu Malaysia.

Anwar Ibrahim akhirnya ditunjuk oleh Kerjaaan Malaysia menjadi Perdana Menteri Malaysia ke 10. Sebuah perjalanan panjang, 50 tahun berpolitik, naik hingga dihormati, lalu turun karena dikhianati. Kini dia adalah orang nomor 1 di Malaysia, dia mampu menjalankan mimpinya untuk kejayaan negerinya. 

Selamat menjalankan tugas Dato Anwar, beliau adalah politisi di ASEAN (tentunya di luar Indonesia) yang paling penulis ikuti perjalanannya sejak Mata Najwa menghadirkan beliau saat Najwa Shihab mewawancarai Eyang Habibi, Presiden ketiga Republik Indonesia.

Beliau berdua adalah sahabat, sama-sama anak emas yang tersingkirkan. Namun dari mereka kita belajar bagaimana menjaga ketulusan dan semangat perjuangan untuk bangsa dan negara.

#MelangkahMenginspirasi

Rabu, 09 November 2022

Berkumpul di Surga

Pagi ini saya terhenti dan merenungi sebuah ayat dalam Al-Qur'an, kabar yang menyejukkan hati dan menyenangkan jiwa ini. Yaitu surat Ath-Thur ayat 21. Dengan arti :

"Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya."
Lebih lanjut saya selami ayat ini dari penuturan Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, disana dijelaskan bahwa "Allah SWT, memberitahukan tentang karunia, kemurahan, anugerah, dan kelembutan-Nya kepada semua hamba-Nya. Yakni bahwa jika orang2 mukmin diikuti oleh keturunan mereka dalam keimanannya, maka Allah akan mempertemukan mereka di suatu tempat di dalam surga."

Murid syaikhul Islam ini melanjutkan "Mereka dihimpunkan dengan cara yang paling baik, yakni anggota keluarga yang mempunyai amal kurang akan ditinggikan derajatnya melalui sanak sesepuh yang amalnya sudah sempurna, namun hal itu tidak menjadikan amal-amal mereka berkurang atau kedudukannya turun sedikit pun."

MasyaAllah, betapa indahnya ayat ini. Keluarga yang dipisahkan di dunia, akan dipertemukan kembali di surga, dengan syarat iman dan amal shalih. Yang dimana amal shalih itu bisa meninggikan amal shalih keluarga lainnya tanpa mengurangi derajat pelaku amal shalih.

Saya jadi teringat hadist Nabi yang diriwayatkan Imam Ahmad, Rasulullah bersabda "Sesungguhnya Allah meninggikan derajat seorang hamba yang shalih di dalam surga, maka dia (hamba) pun berkata 'Ya Rabbi, dari manakah aku mendapatkan karunia ini?' Maka Allah berfirman, 'Ia bersebab doa istighfar dari anakmu bagimu."

MasyaAllah, Allahu Akbar.

Ayat ini menegaskan kepada kita, berpisah di dunia hanya sementara. Perpisahan hakiki terjadi ketika tak bertemunya lagi di akhirat, karna yang satu di surga dan yang lain tidak.

Maka sudah sepantasnya bagi kita berdo'a agar kita dan keluarga kita bertemu di Jannah-Nya kelak.

📷 Ya Rabbi, pertemukan hamba dan Ibu hamba di surga-Mu. Kumpulkanlah hamba dengan Ayah, Ibu, Istri, Anak2, Kakak, Adik hamba di jannah-Mu kelak. Aamiin.

Ditulis tanggal 9 November 2020

Senin, 07 November 2022

Penerus dalam Menyembah Allah

Bismillah.

Saya pernah dapat nasihat dari seorang ustadz, pesannya kurang lebih seperti ini : "Saat melihat anak, lihatlah mereka sebagai penerus dalam Menyembah Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Sehingga segala hal yang kita berikan kepada mereka, mulai dari kasih sayang, waktu, tenaga, pendidikan, harta dan lainnya. Menjadi pemberian kepada para penyembah Allah, umat Nabi Muhammad SAW."

Begitulah niat bekerja. Setiap orangtua pasti membesarkan anak dengan niat berbeda-beda. Serta pandangan kepada anak yang tak sama.

Ada dengan niat agar anak bisa jadi kebanggaan, ada yang memandang anak sebagai tumpuan hidup di hari tua, ada pula yang meniatkan agar menjadi penerus dalam beragama Islam. Atau bahkan tak ada pandangan dan niat sama sekali, asal gede aja nih anak.

Semuanya berawal dari pandangan awal dan niat, jika kita meniatkan dalam membesarkan anak hanya berdasarkan dunia, kita hanya mendapatkan dunia. Jika mengharapkan akhirat, dunia dan akhirat sekaligus didapat.

Anak Sholeh yang taat menyembah Allah sesuai tuntunan Agama Islam, pasti akan jadi kebanggaaan ortunya dan pasti siap jadi tumpuan ortunya di usia renta.

Namun anak yang dapat dibanggakan dan berbakti pada ortu, belum tentu mereka taat dalam penyembahan kepada Allah.

Jadi mulailah kita memandang anak sebagai umat Nabi Muhammad yang menyembah kepada Allah. Sebagai penerus kalimat Tauhid di muka bumi.

Sehingga segala pengorbanan yang kita berikan untuk sang buah hati, bernilai pahala karena merawat anak yang ketika besar menjadi hamba Allah yang taat.

#MelanglahMenginspirasi
#MenjadiOrangTua

Ditulis 8 November 2020

Selasa, 01 November 2022

Bermanfaat Bagi Pemberi

Jika kita berpikir bahwa pemberian hanya atau lebih bermanfaat bagi para penerima, jelas ini kurang tepat.

Ia tentunya lebih besar bahkan lebih dulu bermanfaat bagi si pemberi. Karena bila kita menghitung-hitung dampak dari pemberian, terutama di akhirat, maka apa yang kita berikan di dunia tak seberapa.

Hal ini saya dapatkan dari taujih Ust. Agus beberapa minggu lalu dalam agenda pelantikan IKADI.

Namun berharap pamrih sejak awal memberi, apalagi berharap balasan dunia lagi, seperti memberi 50 juta berharap langsung dibalas 1,4 M. Jelas kurang pas juga.

Ungkap guru kami, Ust Zulfi "Jangan takut mengeluarkan sebagian harta dunia demi memperoleh akhirat, bukan jangan takut mengeluarkan sebagian harta dunia demi mendapatkan dunia yang lebih banyak lagi. Karena untuk dunia sudah ditentukan dan dijamin oleh Allah jauh-jauh sebelum manusia diciptakan."

Jadi ungkapan motivator yang bicara ayo sedekah kijang biar dapet fortuner agak bagaimana gitu. Memberi juga harus memiliki niat yang ikhlas. 

Ikhlas berharap balasan hanya dari Allah, baik balasan di akhirat ataupun di dunia. Dan kita serahkan kepada Sang Maha Tahu kapan waktu terbaiknya. Jika tidak di dunia, semoga berlipat-lipat di akhirat. Bukankah balasan akhirat jauh lebih indah?

Jika sejak awal sedekah hanya berharap dunia, takutnya ternyata Allah hanya membalas di dunia saja. Sudah habis balasannya di dunia, karena niatnya awalnya memang hanya ingin mendapat rumah, mobil mewah, hp terbaru, dll.

Maka yuk sama-sama perbaiki hati ketika memberi. Agar pemberian itu bermanfaat bukan hanya untuk penerima, namun kepada pemberi.

#MelangkahMenginspirasi

Selasa, 04 Oktober 2022

Malpraktek Gas Air Mata, Si Pangkal Bala

Kesal, sedih, marah, geram, dan berbagai perasaan campur aduk dalam hati. Sejak kejadian kanjuruhan. Euforia menonton bola saya sedang meredup.

Saya menonton MCity vs MU, biasanya jika MU dipermalukan seperti itu dalam derby, saya sudah mengupdate kelucuan permainan MU. Tapi enggan hati melakukannya.

Begitu juga ketika saya menonton timnas u17 semalam, padahal skor Indonesia mengagumkan, 14-0 lawan guam. Tapi benar2 tak menarik untuk berbahagia atas kemenangan timnas.

Benar2 dingin hati saya sekarang menonton bola, padahal saat saya menonton Arema vs Persebaya lewat HP. Saya terhibur melihat pertandingan seru dan panas, wajar karna ini derby. Tapi saya tidak habis fikir diakhir laga ratusan orang meninggal.

Lalu kenapa saya geram, ya saya geram. Kenapa harus ada Gas Air mata?

Suporter yg turun ke lapangan memang melanggar, tapi dampak  paling buruknya mungkin hanya rusaknya fasilitas stadion. Itu hanya tinggal didenda arema dan aremania. Selesai.

Karena tak ada bonek, jadi sesama aremania tak mungkin saling menyakiti walau kondisi chaos. Tak mungkin ada provokasi.

Tapi, jika turun kelapangan dilawan dengan gas air mata.  Apalagi ditembakkan ke tribun.

Saya bisa tegas mengatakan ini "malpraktek" dalam penanganan kerusuhan. Dan hukumannya tak bisa hanya administratif.

Karena "sudah sesuai prosedur" yang dikatakan Polda Jatim dalam penggunaan gas air mata, menunjukkan memang kesalahan  prosedur yg ditetapkan pihak keamanan. Knp kesalahan? Karena bertentangan dengan aturan FIFA.

Ya, gas air mata lah si pangkal bala.

Karena jika seandainya tak ada gas air mata, tak akan ada orang2 yg hipoksia, kesulitan nafas bahkan hingga kehabisan nafas.

Tak akan ada orang2 yg panik berlarian dengan mata terpejam karna perih, lalu terjatuh dan terinjak-injak.

Faktanya terinjak dan sulit nafas, menurut petugas medis yang paling banyak jadi penyebab kematian.

Jadi, saya berharap tim investigasi dapat mencari siapa penanggunghjawab gas air mata ini. Dan dihukum secara adil.

Dan PSSI, Panpel, PT.LIB dan pihak bertanggungjawab lainnya mendapat konsekuensi yang adil pula.

#KanjuruhanBerdukaCita