Selasa, 24 Maret 2020

Mempersiapkan Diri

Mempersiapkan diri menjadi pemimpin itu wajib, masalah dipilih atau tidak itu urusan lain. Mengapa bisa seperti itu?

Selain beribadah kepada Allah, menjadi khalifah di muka bumi masuk dalam tugas suci yg Allah berikan kepada kita sebagai manusia. Tugas ini tercantum jelas dalam Surat Al-Baqarah ayat 30.

Itulah mengapa kita wajib memenuhi tugas pengelolaan bumi ini dengan segala perintah dan larangan Allah. Tentunya mempersiapkan diri menjadi jawaban agar kita memiliki kapasitas mumpuni mengemban amanah ini.

Perencanaan kapasitas, keilmuan, mentorship, buku bacaan, pelatihan skill hingga pengalaman lapangan harus berbanding lurus dengan ladang bumi mana yg ingin kita kelola. Tentunya harus dibarengi dengan semangat, usaha keras, modal, kesabaran, dan kecerdasan. Dan itu semua pasti memakan waktu yg panjang.

Jika kita berkaca kepada sejarah. Nabi Muhammad membentuk para sahabat menjadi 'khalifah' di setiap bidangnya. Ada yg memimpin di politik, ada yg leading di bisnis, adapula dalam bidang sastra dan bahasa, militer dan pastinya dalam keilmuan islam seperti tafsir Qur'an, Hadist, dan bidang lainnya.

Dan para sahabat tak ada yg pasif dalam proses pembentukan itu. Mereka semua mencurahkan segala sumberdaya yg ada untuk mencapainya. 
Tak hanya para sahabat Nabi, para tokoh besar islam di periode berikutnya seperti Imam Syafi'i, Imam Bukhari, Muhammad Al-Fatih, Shalahudin Al-Ayyubi, Ibnu Khaldun, Hasyim Asy'ari, Ahmad Dahlan, M. Natsir, dll.

Mereka juga berjuang mempersiapkan diri hingga akhirnya mereka berhasil memimpin dengan kapasitas unggulan sesuai bidangnya serta menjadikannya jalan dakwah islam untuk semesta.

Tapi adakah mereka yg memiliki kapasitas unggulan dan kontribusi luar biasa, namun tak harum namanya dalam sejarah dunia sbg pemimpin dibidangnya?

Pasti ada. Namun masalah dunia memilih atau tidak itu bukanlah masalah. Setidaknya kita telah berjuang memenuhi tugas suci dari Allah Azza wa Jalla dengan karya yg kita abdikan sekuat upaya.

Lalu, sudahkah kita mempersiapkan diri?

#MelangkahMenginspirasi

Selasa, 25 Februari 2020

Tentang Sebuah Kebersamaan

Tentang kebahagiaan yang sederhana. Mulai dari tawa yang tercipta. Walau hanya dari candaan garing apa adanya. Hingga kabar gembira yang silih berganti tiba.

Tentang kesedihan yang melanda. Dari masalah yang tiba seakan tak kunjung reda. Kehilangan yang pernah menerpa. Atau ujian kehidupan yang menguji iman dalam dada.

Tentang keraguan yang sempat menyapa. Dari kemampuan akan menafkahi keluarga. Atau masa depan yang belum pasti tentunya.

Tentang keajaiban yang Allah anugrahkan kedatangannya. Mulai dari rezeki yang hadir tak terkira. Kesuksesan hasil jerih payah usaha. Dan keberhasilan demi keberhasilan yang Allah mudahkan meraihnya.

Begitulah roller coaster kebersamaan dalam pernikahan. Terlebih bagi kita yang memulai dari titik nol permulaan. Tentu seperti Allah firmankan. Dibalik kesulitan ada kemudahan.

Tinggal kita yang memaksimalkan ikhtiar dan do'a pada-Nya. Tentu disertai tawakal yang tak pernah sirna. Agar kebersamaan ini dituntun menuju jannah-Nya.

#MelangkahMenginspirasi
#RumahTanggaSurga

Jumat, 21 Februari 2020

Menemani Langkahmu Sendiri

Bismillah

Ibad, Orang lain boleh meremehkanmu, mengejekmu, meragukan setiap keputusanmu, menyalahkan pilihan hidupmu, merendahkan segala pencapaianmu, mentertawakan langkahmu.

Tapi tidak untukmu!

Engkau harus berdiri menemani dirimu sendiri. Memuji keberhasilan yang engkau raih. Mempercayakan setiap keputusanmu. Bangga dengan pencapaianmu. Dan mendukung setiap langkahmu.

Temani dirimu sendiri, jangan ikut-ikut menyalahkan dirimu seperti yg dilakukan mereka yang tak menyukaimu.

Dan ingatlah, engkau masih ada Allah yg Maha Kekal dan Maha Penyayang. Yakinlah, Allah akan menemanimu, baik hidup dan matimu. Juga Buya dan Umma yang selalu mencintaimu. Jadi teruslah bertumbuh, Nak.

#MenjadiOrangtua #MelangkahMenginspirasi

----------------------------
Alhamdulillah Ibad udah bisa duduk sendiri. 😊

Kamis, 20 Februari 2020

Poros Peradaban di Sekitar Kita

Mungkin kita termenung kala menatap diri. Terlahir biasa saja. Hadir di negeri yang baru saja berkembang. Di kota yang tertinggal. Menjalani sekolah yang tak istimewa. Dan berbagai kesialan yang sering di dengung-dengungkan banyak orang.

Mungkin dalam decak kagum kita memandang luar biasanya karya para aktor peradaban, kita hanya merasa kerdil dan kecil.

Hanya merasa, bahwa mereka adalah 'titisan' Tuhan yang memang namanya sudah di takdirkan tertulis di tinta emas sejarah, sedangkan kita hanya makhluk Tuhan yang ditakdirkan tak dapat berbuat apa-apa.

Setiap manusia memang sudah digariskan dalam skenario-Nya. Akan tetapi tahukah engkau, Allah tak menakdirkan seseorang tanpa perjuangan sang hamba. Maka dari itu, izinkan saya mengatakan:

"Mereka yang tak merasakan jerih payah dan kepedihan dalam langkah awalnya. Tak pantas mencapai puncak kegemilangan dalam ujung jalannya."

Karena pada hakikatnya, hidup ini adalah labirin yang menghubungkan berbagai kisah yang akan dihadapi umat manusia. Dan dalam tikungan tertentu di labirin tersebut, terdapat 'pintu rahasia' untuk mengkoneksikan orang yang selama ini ‘biasa saja’ untuk memasuki kerja-kerja peradaban.

Maka boleh saja kalian terlahir biasa, tak lahir dalam lingkaran para aktor sejarah. Namun, engkau harus berjuang untuk menemukan 'pintu rahasia' itu. Karena bisa saja poros peradaban yang dirasakan para pahlawan sudah ada di sekitar kita.

Sudahkah kita berjuang untuknya? 

 #MelangkahMenginspirasi

Senin, 20 Januari 2020

Orangtua Kita Lebih Butuh Keshalihan Kita

Hari ini tanggal ulang tahun Ibu. Dan pada tahun ini masuk tahun ketiga Ibu meninggalkan kami. Sekarang Ibu berada di alam yang kita semua akan menuju kesana. Cepat atau lambat.

Saya ingin berbagi renungan sedikit. Sebelum Ibu dipindahkan ke ruang ICU dari intermediate, Ibu sdh sempat bangun, setelah berhari-hari tak sadarkan diri.

Ketika Ibu sadar, tepat saat saya yg berada d ruangan. Ibu langsung bertanya, "Ji, ini dimana?" Saya jawab di ruang intermediate care unit. Ibu bertanya kapan dipindahkannya. Karna memang saat sadar terakhir, beliau masih berada di ruang rawat biasa.

Setelah saya menjelaskan kapan dipindahkan dan memberikan bbrp teguk air. Ibu meminta sesuatu. Tahukah teman-teman apa yg beliau minta?
.
"Ji, tolong bacakan Al-Qur'an" begitu ungkapnya. Setelah menghubungi Ayah bahwa Ibu sudah sadar.

Saya pun membacakan hafalan saya, tak sebanyak para hafizh memang. Tapi saya melihat ibu begitu khusyu mendengarkannya.

Dan waktu berjalan begitu saja. Dikemudian hari ketika Ibu sudah tak bersama kami di dunia ini, permintaan Ibu ini menjadi renungan diri. Bagaimana jika ketika itu saya tak punya hafalan qur'an? Bagaimana jika saya bahkan tak pandai membaca qur'an?

Dewasa ini saya melihat banyak anak2 yg bangga dgn wajah mempesona, penampilan menarik, pekerjaan yang mapan, uang yang banyak namun lalai dengan hal2 yang sangat penting untuk baktinya kepada Orangtua.

Sungguh, akan ada masa Orangtua tak butuh pekerjaan, uang, penampilan kita. Ada masanya mereka membutuhkan keshalihan kita.

Bukankah amal yg tak terputus adalah do'a anak yang shalih. 'Yang shalih' ini harus digaris bawahi. Bukan sekedar anak. Tapi wajib yg shalih.

Maka berapapun uang yg kita miliki, mewahnya barang yg kita gunakan, hebatnya pekerjaan kita sekarang. Sungguh, Orangtua kita lebih butuh keshalihan kita.

Mereka butuh anak yg lancar melafalkan, memahami & berpedoman ayat2 Allah. Menjadi anak yg menjalankan perintahNya. Berusaha menjauhi setiap larangan-Nya. Dan menurut saya inilah bakti sesungguhnya kpd orangtua.

Semoga Allah selalu memberikan Ibu kenikmatan di alam barzakh sampai surga, dan kita yg masih hidup diberi keistiqamahan utk terus beribadah kepada-Nya.

Al Fatihah

Minggu, 22 Desember 2019

Senin, 28 Oktober 2019

Abadilah Perjuangan

Tentang sepotong kisah pengabdian.
Menikmati takut dan ketegangan.
Bersimbah keringat membela kebenaran.
Untuk mencapai sebuah impian.

Agar tak ada lagi penderitaan.
Supaya kemakmuran tak hanya sekedar bualan.
Biar semua insan merasa keadilan.
Sampai terbentuk generasi dengan akhlak dan iman.
Hingga Rakyat melangkah dengan senyuman.

Maka bangkitlah wahai pemuda harapan.
Kuatkan tekadmu dan majulah ke hadapan.
Banyak masalah yang harus diselesaikan.
Saatnya kita buktikan Indonesia Sejahtera di masa depan.

@azmulpawzi
28 Oktober 2019

#SumpahPemuda
#MelangkahMenginspirasi

Kamis, 17 Oktober 2019

Cinta Sebelum Temu

Bismillah.

Pernahkah engkau jatuh cinta kepada seorang insan, bahkan sebelum tubuh saling temu. Sebelum mata saling tatap. Sebelum raga saling hadap.

Aku pernah, dan itu kurasakan kepadamu wahai anakku. Bahkan jatuh cintaku kepadamu begitu besar. Aku jatuh-sejatuh jatuhnya cinta kepadamu.

Lalu, cinta itu berlipat ganda ketika engkau lahir di muka bumi. Tangisanmu yang memenuhi ruangan bagai irama merdu.

Dan ketika lisanku melafadzkan adzan ke telingamu. Engkau terdiam, seakan khidmat mendengar pujian kepada Allah yang aku ucapkan. Pada momen itu, ada rasa yang semakin mengharu biru. Ternyata ini rasanya menjadi orangtua.

Engkaupun mulai bertumbuh, begitu juga dengan cintaku. Melihat senyummu, tawamu, dan segala perkembanganmu, senantiasa menyejukkan hati ini. Benar-benar melenyapkan segala letih diraga kala bekerja. Menghapus peluh ketika mencari rezeki.

Kini tepat 4 bulan usiamu. Do'a kami akan selalu dipanjatkan kepada Allah untukmu. Semoga kita bersama di dunia dengan iman yang Allah anugrahkan. Dan kembali berkumpul di surga dengan rahmat dari-Nya.

Salam cinta dari Abuya dan Umma untukmu Ibad.

#MelangkahMenginspirasi
#RumahTanggaSurga

Jumat, 06 September 2019

Tentang Buku Langkah Nyata Mahasiswa Menginspirasi



Adakah figur yang pernah menginspirasi diri kita? Kita bersemangat ketika melihat sosok mahasiswa yang memiliki pencapaian di atas rata-rata. Tercerahkan dengan role model yang tidak hanya memiliki nilai akademik bagus namun juga berprestasi dalam beberapa bidang, memiliki pengalaman organisasi yang hebat, jaringan yang luas, skill serta kompetensi yang mumpuni, jiwa sosial yang baik, kesalehan disertai kepahaman ilmu agama, dan yang pasti bermanfaat bagi sekitar. Pernahkah terbesit dalam diri kita untuk menjadi tokoh inspiratif tersebut? 
Langkah terbaik setelah terinspirasi adalah menginspirasi. Bila kita pernah terinspirasi oleh orang lain, maka sudah tugas kita selanjutnya untuk menginspirasi insan lain dengan karya kita. Buku ini berisi langkah-langkah nyata yang perlu untuk menjadi mahasiswa menginspirasi. Berawal dari persiapan yang harus kita pastikan sebelum melangkah, langkah-langkah nyata yang harus dijalani dan kegiatan produktif yang harus dibiasakan. Disebut langkah karena buku ini sangat praktis untuk dijalankan, sehingga tak dipenuhi dengan teori yang mengawang. Sederhananya dengan membaca buku ini kita siap lepas landas untuk melangkah, lalu menginspirasi.

 Jangan tunggu lama lagi, pesan saat ini juga buku Langkah Nyata Mahasiswa Menginspirasi karya Azmul Pawzi sekarang juga.

Order Ready Stock Buku Langkah Nyata Mahasiswa Menginspirasi

Untukmu para mahasiswa yang ingin menjadi pemuda di atas rata-rata. Tak hanya memiliki IPK yang baik, namun meraih segudang pencapaian luar biasa selama masa kuliah.

Telah hadir buku terbaru  karya Azmul Pawzi berjudul "Langkah Nyata Mahasiswa Menginspirasi", yang ditulis khusus untukmu para _Agent of Change_.

Disebut langkah karena tips dalam buku ini sangat mudah dijalani. Apa saja yg didapatkan dari buku ini?

✔ Menata Tujuan Hidup Agar Tak Bingung Pasca Wisuda
✔ Menyukseskan Nilai Akademik Hingga Skripsi Selesai Cepat
✔ Berprestasi, Berorganisasi, dan Berjejaring
✔ Meningkatkan Spiritualitas Diri
✔ Menghindari Ranjau-Ranjau Mahasiswa
✔ Membiasakan kegiatan Produktif untuk Mahasiswa
✔ Dan Masih Banyak Lagi.

Tunggu apalagi? Ayo pesan buku LNMM.


Cara pemesanan :
Ketik : Nama-Alamat-Jumlah
Kirim WA/SMS ke Admin Buku LNMM :

Harga :
Rp. 55.000

Sinopsis : bit.ly/TentangBukuLNMM

Teruntuk para mahasiswa dan calon mahasiswa, para orangtua yang anaknya sedang berkuliah, kakak dan abang yang adiknya masih mahasiswa, pemuda yang ingin kamu dan temanmu sukses dan menginpirasi selama di kampus.

Ayo pesan buku ini. Jangan sampai ketinggalan.

#MelangkahMenginspirasi #AzmulPawzi #BukuBagus #LNMM

Rabu, 17 Juli 2019

Caramu Mencintai

Caramu mencintaiku bukanlah jalan yang mudah. Dan itu engkau pilih sejak awal mula kita menikah. Terlebih ketika Allah memberi kita tambahan amanah. Hingga firman-Nya dalam Al-Qur'an berbunyi 'kelemahan yang bertambah-tambah'.
.
Bahkan diriku sulit sekali mengungkapkannya. Usahamu menjaga kandungan yg berusia muda. Gelinya pukulan dan tendangan janin nan lembut dari dalam rahim yg engkau rasa. Dan kamu selalu tersenyum setiap kali merasakannya.

Peliknya beraktifitas dengan perut semakin membesar. Mulai dari tidur yang tak nyaman. Berjalan yang mulai payah. Hingga memakai kaos kaki-pun harus kubantu memasangnya.

Juga saat proses melahirkan yang begitu menyakitkan. Rumit sekali menjelaskannya dengan kata. Aku sendiri bila berada diposisimu entah sanggup atau tidak. Tapi engkau tetap berjuang dengan sekuat tenaga.

Lalu menjaga bayi kita setiap saat. Sampai menyusui yang begitu perih ternyata. Belum lagi menahan ngantuk ketika menyusuinya. Entah berapa banyak perjuangan itu mengundang air mata. Namun engkau tetap berjuang untuk buah hati tercinta.

Aku menyaksikannya semua. Betapa besar perjuangan menjadi istri bagi seorang wanita. Dibalik kelemah-lembutan wanita ada energi besar dibaliknya. Dan kamu membuktikan itu semua. Sedangkan peranku sebagai suami dan ayah tak sesukar peranmu.

Terima kasih atas segala pengorbanan yang engkau lakukan. Segala usahamu berperan sbg istri dan ibu untuk aku dan ibad engkau laksanakan karna cinta dan pengabdianmu kepada Allah Sang Maha Kuasa. InsyaAllah balasan terindah akan diberikan kepadamu dari-Nya Sang Maha Cinta.

#MelangkahMenginspirasi
#RumahTanggaSurga
#AzmulRimbunIbad

Rabu, 10 Juli 2019

Seperempat Abad

Bismillah

Siapa yang mengira waktu berlari bergitu lekas. Bukankah dulu kita hanya seorang bayi yang senang tertidur pulas. Lalu menjadi anak kecil riang dengan tawa begitu ikhlas. Hingga menjadi remaja yang mencari jati diri di dunia yang semakin tak waras.

Berlanjut dengan diri yang menjadi seorang pemuda dengan segudang mimpi. Menatap masa depan dengan senyum berseri. Mengejar cita dengan penuh ambisi.

Terjatuh, tersingkir, tercampak, terhempas, terlupakan, dan segudang sakit yang memaksa kita untuk berhenti. Tapi asa menyadarkan bahwa menyerah bukan solusi. Kita tetap bertahan dalam segala upaya. Memanggul segala amanah yang senantiasa bertambah.

Tapi memang begitu hakikat manusia. Setiap umur yang menua, akan memperbanyak tanggungjawab yang harus dijaga.

Dan kini seperempat abad sudah usia diri. Menjadi momentum tepat untuk mengevaluasi. Apakah usaha dan karya sudah bermanfaat dan menginspirasi. Sudahkah berniat lurus hanya untuk ilahi.

Mohon maaf jika dalam 25 tahun usia ini saya memiliki salah. Dan terima kasih bagi semua yang hadir dalam perjalanan hidup saya selama ini.

Arigatou Gozaimasu.

#MelangkahMenginspirasi
#SeperempatAbad

Sabtu, 16 Februari 2019

Muhajirin Urban


Muhajirin urban, begitu istilah yg senang saya gunakan akhir-akhir ini untuk menyebut kaum muda yang mulai berbondong-bondong berhijrah menjadi lebih baik di wilayah perkotaan.

Seperti yg kita tahu, Muhajirin adalah sebutan bagi sahabat nabi yang hijrah dari mekah ke madinah. Sedangkan urban adalah kawasan perkotaan.

Beberapa tahun terakhir fenomena hijrah anak muda perkotaan di berbagai kota di Indonesia memang begitu menakjubkan. Kita bisa temukan banyak sekali perubahan dari banyak kaum milenial yg kita kenal.

Biasanya anak muda perkotaan terkenal dengan hedonisme, pergaulan bebas, dan kenakalan remaja lainnya. Kini mulai ada trend baru. Hijrah bagi kaum muda perkotaan.

Hijrah dari kondisi, kebiasaan, dan lingkungan yg membuat kita sering bermaksiat menjadi manusia yang kebiasaan dan lingkungan benar juga baik.

Dari yg saya liat di lingkungan pergaulan saya. Ada cewek yang dulunya pakaian terbuka, seksi dan tiba-tiba berjilbab syar'i dan tetap istiqamah hingga sekarang.

Ada yang cowok yg suka mabok pas nongkrong, eh jadi aktivis pengajian. Rajin shalat berjama'ah di masjid.

Banyak cerita keren para muhajirin urban yang menarik dan luar biasa. Mereka masih muda. Jiwa muda juga masih bergejolak dalam diri mereka.

Tapi mereka bisa mengalahkan nafsu buruk dalam dirinya, dialihkan ke kegiatan positif dan ibadah.

Banyak alasan yang mendorong mereka. Ada yang karna temen yang ngajak. Ada karna move on dari pacar yang nyakitin. Ada karna baca-nonton kajian di sosmed, dan banyak lagi.

Tapi apapun pendorong hijrah. Jika ikhlas, serius dalam proses perbaikan diri dan istiqamah, sesungguhnya mereka masuk golongan yang beruntung.

Ada hadits tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah ketika di akhirat. Dan salah satunya adalah anak muda yang senantiasa ibadah kepada Allah.

Sholat dijalankan, aurat ditutup dengan syar'i, al-qur'an dibaca, rajin nuntut ilmu agama, dan jalani banyak amalan sunnah lainnya. Juga meninggalkan segala kegiatan maksiat.

Muhajirin urban, ini baru model anak muda keren dunia akhirat. So, ayo kita sama-sama jadi  menjadi lebih baik secara dunia dan akhirat.

#MuhajirinHijrah
#MelangkahMenginspirasi

Serial Merenungi Waktu ~ Bagian Akhir


Kita diberi panjang waktu berbeda-beda. Ada yang berumur pendek, ada yang berumur panjang.

Dan sebagai hamba, kita harus memanfaatkan waktu itu agar tak menjadi manusia merugi.

Semua manusia merugi, kecuali bagi mereka yang beriman.

Semua yang beriman merugi, kecuali bagi mereka yang beramal shalih.

Semua yang beramal shalih merugi, kecuali bagi mereka yang berdakwah.

Semua yang berdakwah merugi, kecuaki bagi mereka yang istiqamah.

Lakukan 4 hal diatas, maka kita akan menjadi manusia beruntung.

-End-
#Serial
#MerenungiWaktu
#MelangkahMenginspirasi

Seria Merenungi Waktu ~ Bagian 6 : Istiqamah


Setelah saling menasehati dalam kebenaran (berdakwah). Dalam surat Al-Asr, Allah memerintahkan kita saling menasehati dalam kesabaran.

Mengapa sabar? Karna mereka yg menyeru kepada Allah, mengajak orang menjalankan kebenaran, mendakwahkan islam, SUDAH PASTI akan ada ujian berat yg menghampirinya.

Jika dakwah yg kita jalankan berjalan lancar-lancar saja, aman-aman saja. Kita harus curiga, jangan-jangan ada yg salah dalam dakwah kita.

Karna dakwah memiliki 3 sunnatullah. Pertama, orang-orangnya sedikit. Mereka yg tertarik menjadi seorang da'i itu sedikit dan minoritas, sekalipun di daerah mayoritas muslim.

Jadi seorang da'i harus bersabar dalam keadaan sepi dan dimusuhi oleh pembenci gerakan islam. Sembari meningkatkan ikatan ukhuwah antar para da'i yg tak banyak itu.

Kedua, dakwah itu jalannya panjang. Dari zaman Nabi Adam sampai akhir zaman saat ini. Dakwah belum kelar. Untuk mencapai islam menjadi rahmat lil 'alamin dan ustaziyatul 'alam itu butuh perjalanan panjang.

Namun kabar baiknya, kita tak perlu sampai finish perjuangan dakwah. Kita hanya perlu meninggal di jalan dakwah. On the track.

Ketiga, banyak onak dan duri. Dakwah pasti banyak ujian, cemo'ohan, ancaman, persekusi, dll. Nabi Muhammad SAW saja dibilang gila, diancam, disakiti.

Ayat yg berisi 'saling menasehati dalam kesabaran'. Seakan-akan Allah menegaskan kepada para da'i, jika kita saling menasehati, saling mendakwahi, pasti banyak tantangannya. Itulah alasan Allah menekankan kita harus dalam keadaan sabar.

Karna sabar yg membuat nafas dakwah kita panjang. Semangat menyeru kepada Allah terjaga. Dan kita istiqamah di jalan-Nya.

Merugilah mereka yg berdakwah, namun tak istiqamah. Mereka sekali menemukan masalah dalam dakwah langsung pergi. Mereka yg diolok-olok "sok suci, sok alim, radikal, gila, ekstrimis, teroris" langsung kabur.

Maka setelah beriman dan beramal sholeh, mulailah kita berdakwah, menyebarkan nasihat kebenaran. Lalu kita bersabar dalam ujiannya. Jadilah kita seorang da'i yg istiqamah dalam perjuangan dakwah islamiyah. Dan menjadi hamba yg beruntung.

-bersambung-
#Serial
#MerenungiWaktu
#MelangkahMenginspirasi

Serial Merenungi Waktu ~ Bagian 5 : Berdakwah


Agar diri terhindar dari manusia merugi, ternyata beriman dan beramal shalih saja tak cukup. Jadi kalo kita sholeh sendiri, rajin ibadah sendiri, alim sendiri, itu belum jadi manusia beruntung.

Dalam surat Al-Asr ayat 3, ada syarat lainnya, yaitu saling menasehati dalam kebenaran. Secara sederhananya adalah berdakwah.

Apa itu dakwah? Yaitu menyeru manusia kepada Allah, dengan hikmah dan cara yg baik. Mengajak manusia untuk menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Dan membawa manusia dari gelapnya jahiliyah hingga terang benderangnya cahaya islam.

Berdakwah adalah syarat mutlak agar kita tak jadi manusia merugi.  Apa yang kita dakwahkan? Yaitu kebenaran. Ingat kebaikan belum tentu benar, tapi kebenaran pasti baik.

Dan setiap muslim, Allah tuntut untuk saling menasehati, saling mendakwahi. Bukan malah sibuk ibadah sendiri.

Nahnu du'at qobla kulli sya'i. Kita adalah da'i sebelum jadi apapun. Sebelum menjadi profesi kita sekarang, da'i adalah profesi utama kita.

Yang perlu diingat, dakwah bukan cuma ceramah di masjid. Bukan cuma pidato di televisi. Dakwah bisa dengan banyak cara.

Bisa dengan tulisan, bisa dengan design grafis, bisa dengan video kreatif, bisa ngobrol di warung kopi dan cara-cara lainnya.

Juga ga harus bicara di depan banyak jama'ah. Bisa ke keluarga kita, teman kita, teman di sosmed dan siapapun.

Iman pasti membuat kita ingin merubah kemaksiatan menjadi amal shalih. Makanya kita buat mimpi, target dan strategi dakwah kita. Dan laksanakan dakwahmu.

Dengan berdakwah, selain mendapat pahala, kita juga berkesempatan mengemban misi mulia para Nabi. Jadi berdakwah bisa jadi bukti cinta kita kepada Rasulullah.

Yuk berdakwah. Jadi agen muslim penyebar manfaat islam. Agar kita tak menjadi manusia merugi.

Oh iya, beriman, beramal shalih dan berdakwah belum cukup juga menjauhkan kita dari golongan manusia merugi. Ada satu lagi? Apakah itu?

-bersambung-

#Serial
#MerenungiWaktu
#MelangkahMenginspirasi

Serial Merenungi Waktu ~ Bagian 4 : Beramal Shalih


Ternyata beriman saja belum cukup membuat kita tak termasuk manusia merugi. Disurat dan ayat yang sama dengan bagian tulisan sebelumnya. Setelah beriman, ada syarat lainnya, yaitu beramal shalih.

Secara simpel, amal shalih itu melaksanakan segala perintah-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya.

Menjalankan perintah Allah baik ibadah-ibadah mahdhah seperti shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya. Atau ibadah lainnya seperti menutup aurat, sedekah, tolong menolong, berakhlak baik, jujur dan sebagainya.

Menjauhi segala larangan Allah layaknya dosa-dosa besar seperti membunuh, durhaka kpd ortu, berzina, bahkan murtad. Atau menjauhi maksiat lainnya seperti membuka aurat, berburuk sangka, bergunjing, iri hati, dll.

Setiap usaha amal shalih yg kita lakukan adalah konsekuensi iman. Karna tanpa amal, iman kita belum terbukti. Maka selalu jalankan amalan wajib dan perbanyak ibadah sunnah.

Bagaimana jika kita bermaksiat? Menjalankan larangan Allah? Setiap manusia pasti pernah berdosa dan melakukan kesalahan. Maka langkah terbaik setelah berdosa adalah bertaubat.

Gimana caranya? Menyesal dengan dosa yg dikerjakan, berjanji takkan melakukannya, dan jauhi perbuatan maksiat itu.

Jika kita ikhlas dan kita perbanyak ibadah sbg bukti kesungguhan taubat. InsyaAllah akan mengampuni.

Kalau bermaksiat kita biarkan aja gimana?

Hati-hati, jika dosa kita biarkan berkembang, akan mematikan hati dan membuat kita merasa tak berdosa ketika melakukan maksiat. Sehingga kita terbiasa dengan dosa.

Jadi, jauhi maksiat, perbanyak ibadah. Jika bermaksiat, segera bertaubat. InsyaAllah kita termasuk orang-orang yg beramal shalih.

Akan tetapi, beriman dan beramal shalih belum membuat kita keluar dari golongan orang-orang merugi. Masih ada syarat lainnya. Apa itu?

-bersambung-

#Serial
#MerenungiWaktu
#MelangkahMenginspirasi

Serial Merenungi Waktu ~ Bagian 3 : Beriman


Setidaknya ada 4 hal yg harus kita miliki agar waktu atau umur yg telah Allah berikan kepada kita, tidak membawa kita menjadi manusia merugi. Menurut surat al Asr ayat tiga, hal yg pertama dan paling mendasar adalah iman.

Jumhur ulama mendefinisikan iman adalah membenarkan dengan hati, mengakui dengan lisan, dan mengamalkan dengan perbuatan.

Apa yang dibenarkan? Bahwa Allah adalah satu-satunya Sesembahan yg pantas disembah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang membawa risalah islam untuk seluruh umat manusia.

Iman inilah yang membuat tentram jiwa dan selalu berusaha menggapai cinta-Nya. Iman ini yang menggelorakan semangat untuk memperjuangkan islam. Iman ini yg menjadi alasan mengapa kita melawan ketika islam dilecehkan. Dan iman ini pula yang membawa kita ingin memperbaiki kemungkaran dimuka bumi.

Bicara iman saya selalu teringat hadits arba'in ke 34 yang berbunyi : "Barangsiapa melihat kemungkaran, hendaklah merubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan yang demikian itu tingkatan iman paling lemah.”
.
Tingkatan iman terendah adalah merubah kemungkaran walau dalam hati. Walau hanya dengan do'a yang hanya didengar Allah Sang Maha Pendengar. Walau hanya memohon hidayah kepada sang pelaku.

Tapi bayangkan jika kita melihat kemungkaran, namun hati kita tenang-tenang saja. Kita bersikap masa bodoh, dan tak acuh. Apakah masih ada iman dalam hati kita? Terlebih jika kita pelaku kemungkaran. Naudzubillah.

Mari kita evaluasi keimanan kita. Akan tetapi ternyata beriman belum cukup membebaskan kita dari manusia merugi.

Masih ada hal yg harus kita penuhi. Apa itu?

-bersambung-

#Serial
#MerenungiWaktu
#Beriman
#MelangkahMenginspirasi

Serial Merenungi Waktu ~ Bagian 2 : Semua Manusia Merugi


Setelah Allah bersumpah atas nama ciptaannya bernama waktu. Dan Allah juga menganugrahkan panjang waktu (umur) yg berbeda-beda kpd setiap manusia.

Hal yang menarik dari ayat selanjutnya surat Al-Asr adalah firman Allah yg menegaskan bahwa setiap manusia pasti merugi. Bahwa setiap insan bernyawa akan celaka.

Para ulama membagi kerugian ini kepada dua hal : rugi total atau sebagian. Tapi rugi tetaplah rugi. Kerugian yang Allah maksud, walau sekecil apapun bentuk kerugiannya. Pasti adalah sesuatu yang amat mengerikan. Apalagi rugi total.

Maka kita sebagai manusia yg diberikan modal umur oleh Allah. Diberikan waktu oleh Sang Maha Pencipta. Harus mengetahui dan sadar diri bahwa modal yg kita pegang akan membawa kita kepada kerugian & kebinasaan.

Kesadaran inilah yg membawa kita untuk tidak mau jadi manusia yg merugi. Jika kita berdagang, kita pasti ingin untung. Pedagang mana yg orientasinya adalah kerugian. Mereka pasti ingin keuntungan. Selayaknya seorang pedagang, sudah manusiawi jika kita untung.

Jadi dengan modal umur/waktu yg Allah anugrahkan ini, harus kita gunakan sebaik-baiknya, agar kita tidak tak termasuk menjadi manusia merugi, dan masuk menjadi insan beruntung.

Tapi, bagaimana caranya?
.
-bersambung-

#Serial
#MerenungiWaktu
#MelangkahMenginspirasi

Serial Merenungi Waktu ~ Bagian 1 : Waktu


Demi Waktu, begitu firman pertama Allah dalam surat Al-Asr. Sang Maha Pencipta takkan pernah bersumpah atas nama ciptaannya kecuali ciptaan itu memiliki peran penting dalam kehidupan.

Waktu manusia tiap hari sama, hanya 24 jam. Tapi Allah mengamanahkan panjang waktu yg diberikan berbeda-beda tiap insannya. Ada yg 63 tahun, ada yg 20 tahun, bahkan ada yg 100 tahun.

Amanah itu biasa kita sebut nyawa. Dan amanah waktu yg diberikan Allah punya batas. Batas itu adalah kematian.

Menariknya, kita tak tahu berapa panjang waktu yg Allah amanahkan kepada kita. Kita tak memiliki ilmu atas batas waktu kita. Bisa saja kita mati muda atau tua.

Sehingga kita tak tahu berapa waktu tersisa kita dimuka bumi. Berapa persen waktu yg telah kita lewati selama ini.

Maka sudah sepantasnya kita memanfaatkan waktu yg terbatas ini dengan sebaik-baiknya.

Namun pertanyaannya, bagaimana cara memanfaatkan waktu dengan baik menurut-Nya? Dan sudahkah kita melakukannya?

~Bersambung~

#Serial
#MerenungiWaktu
#MelangkahMenginspirasi

Jangan Jadi Manusia Inferior


Lihat yg rumit dikit, mundur. Hadapin yg agak susah, gak sanggup. Dilingkungan dengan ritme cepat dan menuntut kualitas, merasa ga mampu. Dikelilingi orang yg punya gagasan, ribet katanya.

Pengennya mengerjakan yg mudah-mudah. Jalani yg murah-murah. Agak mewah dikit perjuangannya, eh malah nyerah.

Kalo mandek, terus cari-cari alasan. "Ah gue ga ada waktu, sibuk bgt", "gue kan dari keluarga miskin, ga kaya dia yg tajir", "Dia mah enak banyak bakat, ya gue?", dan seabrek alasan-alasan pembenaran lainnya.

Jangan gitulah sob. Biasakan diri melewati segala hal yg diatas kualitas kita. Tantang diri ngelakuin hal yg kita ga bisa.

Kalo kita cuma ngelakuin hal-hal yg kita bisa. Kapan kita berkembangnya? Kapan kita majunya? Ayo pacu diri dengan ngelakuin hal yg kita anggap sulit. Kita anggap ga mungkin.

Jangan mau jadi manusia inferior. Setiap kita memiliki kemewahan yang tak ternilai. Potensi kita bisa ditempa hingga cemerlang dan mempesona.

Kuncinya adalah kembangkan diri terus dan jangan gampang puas dengan pencapaian sekarang.

#MelangkahMenginspirasi

Dewasa dalam Perbedaan


Tua pasti, dewasa itu pilihan. Memang begitu adanya. Ada mereka yg sudah beruban, namun masih mindset bocah. Idenya ga mau dikritik, ga mau diluruskan, dan pengen menang sendiri. Tidak ingin ada perubahan, bertahan dalam sistem kolot, padahal dunia ini dinamis.

Bahayanya jika penyakit ini diidap oleh pemuda-pemuda. Jadilah setiap perbedaan persepsi gerakan menjadi peruncing permusuhan. Padahal perbedaan itu sunnatullah, ga bisa dipaksa semua orang punya pemikiran sama.

KH. Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan sama-sama berguru dengan  Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi di tanah arab, namun arah kontribusi awal mereka berbeda. Satu ke ranah pemikiran, satu ke amal khidamy. Mereka rukun.

Imam Syafi'i itu salah satu murid terbaik Imam Maliki, tapi beliau membuat banyak fatwa yg berbeda dengan sang guru. Bahkan membuat mazhab baru yg berbeda dengan gurunya. Imam Malik santai aja. Ga ada makian atau dibilang Imam Syafi'i salah arah.

Abul A'la Al Maududi, M Abduh, Jamaludin Al Afghami, M Iqbal, Hasan Al Banna, dan sederet ideolog islamisme lainnya punya tafsir masing-masing dalam gerakan islam, padahal sumber mereka sama-sama Al Qur'an dan Sunnah. Walau berbeda namun mereka punya kesamaan untuk kejayaan islam menjadi Rahmat semesta. Tak ada yg merasa lebih baik.

Jadi mulailah berhenti memburukkan arah gerakan setiap orang. Mereka punya tafsir gerakan masing-masing. Apalagi menyebutnya dengan kata sampah dan makian lainnya.

Satu guru bisa menghasilkan murid-murid cemerlang yg berbeda arah. Jika sang murid bikin wadah, gerakan atau bahkan madzhab berbeda dengan sang guru, selagi masih dalam koridor 'jama'ah minal muslimin' untuk kejayaan umat. Apa salahnya?

Dewasalah dalam menanggapi perbedaan. Pesan ini sangat kuat saya tujukan ke pemuda. Sudah sepantasnya gagasan dibalas dengan gagasan, ujaran buruk dibalas dengan akhlak mulia. Bukankah akhlak mulia itu kelebihan ideologi islamisme?

Muda berdaya, Indonesia Berjaya.

#MelangkahMenginspirasi
#SumpahPemuda
#MasihTetapTegakLurus

Tauhid


Dalam dada ini tertanam kalimat tauhid.
Kalimat yg dibawa Rasulullah melewati ujian sulit.
Kalimat yg membuat semangat bangkit.
Pemantik ghirah untuk berjuang hingga syahid.

Dalam jiwa ini ada kalimat tauhid.
Kalimat yg dipegang teguh Bilal walau batu menghimpit.
Menyebutnya saat hidup semakin menjepit.
Tetap meyakininya sampai tubuh jadi mayit.

Dalam tubuh ini terpatri kalimat tauhid.
Kalimat yg dibenci orang hipokrit.
Kalimat yg tak disukai oleh manusia berhati sakit.
Yang dalam pikirannya hanya ada duit.

Pesan Untuk ADK Tahun Akhir


Ikhwah, tahun akhir memang banyak masalahnya. Pertanyaan " kapan wisuda?" semakin bising, bolak-balik ke jurusan nunggu pembimbing, liat revisi skripsi eh malah pusing, galau liat foto wisuda temen yg pada diposting, dan banyak hal yg buat ngelamun makin sering.

Akibatnya, menyambut panggilan dakwah jadi lamban, mulai enggan ngisi liqo mingguan, malas pergi agenda rapat pekanan, dan berat jalanin amanah yg semakin berantakan.

Tapi ingatlah akhi wa ukhti tahun akhir,

Jangan pernah sia-siakan kesempatan dakwah antum di kampus. Yakinlah, di dunia pasca kampus, akan sulit untuk antum mendapatkan kesempatan ladang dakwah yg subur seperti dakwah kampus.

Dengan sekali agenda, belasan, puluhan bahkan ratusan mahasiswa terjaring dalam gerakan dakwahmu. Dalam setahun, satu, dua bahkan tiga kelompok halaqah menjadi binaanmu.

Bandingkan dengan kehidupan pascakampus, keinginan dakwahmu ada, namun mad'u-mu tak sebanyak di kampus. Mengajak seorang untuk berhijrah saja pelik, apalagi satu kelompok. Ditambah dengan beban pekerjaan yg membuatmu mengurangi waktu menyeru kepada Allah.

Jadi ikhwah fillah, tahun akhir bukanlah alasan untuk menurunkan semangat dakwahmu. Malah seharusnya semakin melecut semangat dakwahmu, karna sebentar lagi akan meninggalkan ladang dakwah kampus yang amat subur.

Seharusnya selagi mengerjakan tugas akhir kuliah, ghirah dakwahmu meningkat karna waktumu terbatas.

Amanah dakwahmu semakin berjalan baik karna kurangnya jam kuliah.

Ide-ide dakwahmu semakin cemerlang  karna engkau punya pengalaman dalam gerakan dakwah.

Maka untukmu ADK tahun akhir, torehkanlah karya dakwah terbaikmu sebelum engkau meninggalkan kehidupan dakwah kampus menuju dakwah pasca kampus.

Hilangkan sejenak jenuhmu karna banyaknya amanah dakwah di tahun akhir. Karna setelah engkau meninggalkannya untuk kehidupan pasca kampus kelak, engkau akan rindu serindu rindunya dengan dakwah ini.

#MelangkahMenginspirasi

Ekspresi Kebahagiaan


Setiap orang punya cara masing-masing dalam mengekspresikan kebahagiaan. Ada dengan mentraktir teman, menari-nari, bernyanyi, melompat, bersujud syukur, upload di sosmed, atau hanya tersenyum.

Mereka punya langkah sendiri dalam meluapkan kesenangan di momen indah kehidupan mereka.

Jadi bahagialah ketika keluargamu, sahabatmu, temanmu, sedang bahagia dan mengekspresikan kebahagiaannya.

Jangan sinis, risih atau menyindir, apalagi menjelek-jelekan. Cara mereka mengekspresikan kebahagiaan mungkin tak sesuai dengan caramu. Tapi itu kan cara mereka, bukan caramu.

Jangan memaksakan pola pikirmu ke semua orang. Tak mungkin. Jangan paksakan ukuran bajumu ke semua manusia. Tentu ga muat.

Selagi bukan perbuatan dosa dan merusak ketertiban umum. Biarlah mereka berkreasi sesuka mereka.

Bahagialah ketika orang lain bahagia, jangan sebaliknya.

Sederhana bukan?

Bersyukur dan Terus Berikhtiar


Bersyukurlah atas segala hal yang telah kita capai.
Bersyukurlah untuk apa yg sudah kita miliki.
Bersyukurlah karna kita masih diberi kesampatan untuk taat pada ilahi.
Bersyukurlah.

Karna masih banyak orang yang lebih tak beruntung darimu.
Karna ada yang dalam harapnya ingin seperti dirimu.
Karna begitu banyak nikmat dari-Nya yang di anugrahkan kepadamu.

Dan teruslah berikhtiarlah.
Untuk mimpi yang ingin engkau raih.
Untuk misi yang akan engkau capai.
Untuk mereka yang senantiasa engkau cintai.
Dan untuk menjadi hamba-Nya yang berbakti.

Bersyukurlah, dan terus berikhtiar.

Lahia Mancari Kawan, Batin Mancari Tuhan


Lahia Mancari Kawan, Batin Mancari Tuhan, begitulah motto yg didapatkan dari silek minang, artinya "Lahir mencari kawan, batin mencari tuhan".
.
Belajar silat bukan hanya belajar memukul, menendang, membanting, bertarung, dll. Tapi ada nilai-nilai sangat bermakna dalam proses pembelajarannya.
.
Belajar silat bukan malah menjadi kita jumawa sehingga menyakiti manusia lain, menambah musuh, atau suka berkelahi. Tapi semangat mencari teman, kawan dan sahabat perjuangan.
.
Dalam pertarungan silat, seorang pesilat bisa memahami lawan tandingnya, dan berkawan baik. Ketika SMA, saya punya banyak teman baik dalam latihan maupun kejuaraan.
.
Belajar silat seharusnya juga menjadi sarana mengilhami bahwa sesungguhnya kita hanya manusia yang tak berdaya. Membuat kita rendah hati kepada sesama dan tunduk taat kepada Sang Maha Penguasa.
.
Perguruan Silat Merpati Putih yg saya ikuti juga mengajarkan saya sebuah motto "Sumbangsihku tak berharga, namun Keikhlasanku nyata".
.
Bahwa tak penting menghitung-hitung kontribusi kita kepada sesama, bangsa dan negara. Apapun yang kita berikan baik harta, tenaga, pikiran itu tak berharga, yang terpenting kita ikhlas dalam memberi.
.
Alhamdulillah, dalam gelanggang pencak silat, dua tokoh kita berpelukan dan memberikan tauladan yang baik untuk bangsa. Saya terharu melihat foto tersebut. Sejuk pilpres nanti insyaAllah.
.
Dan selamat kepada atlit pencak silat yg telah memberi 14 medali emas untuk Indonesia. Kalian luar biasa.

#MelangkahMenginspirasi
#AsianGames

Jumat, 17 Agustus 2018

Dibalik Seorang Pahlawan



Siapa yang mengenal istri seorang Abu Bakar Ash Shiddiq? Siapa pula yang mengenal istri Umar bin Khattab? Siapa yang mengetahui istri Imam Syafi’i atau Imam Hasan Al Banna? Atau siapa pula yang mengenal sang ibu dari kedua tokoh tersebut? Hanya segelintir orang yang mengetahuinya. Nama istri dan ibu mereka tak seharum nama mereka. Seantero jagad raya sudah terlalu terpesona dengan kiprah Abu Bakar, Umar, Hasan Al Banna serta Imam Syafi’i. Mereka terlupa orang-orang di balik mereka.

Juga kenalkah kita dengan istri Muhammad Natsir? Atau istri Buya Hamka? Atau bahkan suami seorang Cut Nyak Dien? Tak semua orang mengenalnya, bukan? Hanya mereka yang mendalami sejarahnya sajalah yang mengetahui nama mereka. Mereka tak dikenal, insan nusantara sudah begitu kagum hanya akan jasa para pahlawan nasional.

Tahukah kalian bagaimana kiprah orang-orang di belakang para pahlawan? Bagaimana pengorbanannya? Mungkin kita mengenal para pahlawan dan mengelu-elukannya. Memujinya serta mengutip setiap kata mutiaranya. Tapi pernahkah kita berpikir apa yang dirasakan orang terdekat para pahlawan?

Mereka merasakan pahit getirnya perjuangan para pahlawan. Mereka menjadi aktor sulitnya menyelesaikan kerja-kerja besar. Bahkan Al Mutanabbi, seorang penyair masyur dari Arab berkata “Orang luar mengagumi kedermawanan seorang pahlawan, tapi tidak merasakan kemiskinan yang mungkin diciptakan kedermawanan. Orang luar mengagumi keberanian sang pahlawan, tetapi mereka tidak merasakan luka pahlawan menghantarkannya menuju kematian.”

Pernahkah kalian merasa apa yang dipikirkan keluarga Abu Bakar ketika manusia agung itu menginfakkan seluruh hartanya dan mengatakan, “Saya menyisakan Allah dan Rasul-Nya buat mereka (keluarga Abu-Bakar).” Atau ketika Hasan Al Banna meninggalkan istri dan anaknya yang sedang sakit parah untuk sebuah agenda dakwah.

Bukan hal mudah bertahan dalam hal genting, bukan hal ringan membersamai para pahlawan. Jalan mereka mendaki, penuh onak duri, dan kesulitan akan selalu membersamai mereka. Terlebih lagi kematian yang selalu mengintai para pahlawan. Karena mungkin saja mereka, para pahlawan dengan keberanian yang tinggi tak takut akan sebuah kematian.

Bagaimana dengan keluarga para pahlawan? Mereka mungkin juga tak takut mati, karena memang dalam kehidupan bukan kematian diri sendirilah yang begitu menakutkan, namun perginya sang orang tercinta.
Maka benarlah kata banyak orang, jika Anda terkagum dengan seorang bujang yang hebat, maka lihatlah ibunya. Jika Anda terperangah dengan lelaki luar biasa, maka lihatlah istrinya. Karena jika seorang suami bersinar terang karyanya, biasanya sang istri meredup, tak dilihat orang banyak. Karena segala potensi dirinya telah dia baktikan untuk sang suami. Begitupun sebaliknya.

Karena menjadi pendorong dari belakang bukanlah hal mudah. Mungkin para pahlawan terjatuh, mentalnya mengatakan ingin menyerah. Namun orang sekitar para pahlawanlah yang menguatkan. Mungkin para pahlawan timbul ketakutan, keberaniannya menyusut. Namun keluarga merekalah yang mengembalikan keberanian itu.

Hal ini tak mudah, butuh orang berjiwa besar untuk berada di balik orang besar. Dan kita harus menyiapkan potensi kita untuk kerja-kerja besar agar tercapai kejayaan peradaban islam. Sudahkah kita menyiapkannya?

Bagaimana sih mencintai karena Allah itu?

Bagaimana sih mencintai karena Allah itu?

Pertama,
syarat awal kita mencintai karena Allah itu adalah kita mencintai Allah.
Ini jelas ya, bagaimana bisa kita mencintai karena Allah sedangkan kita saja mencintai selain Allah.
Mencintai Allah disini adalah sebenar-benarnya cinta. Cinta yg ada tindakan. Bukan hanya gombal mengatakan "Aku mencintai Allah", tapi tidak ada ketaatan, tidak ada ibadah menghamba kepada-Nya.
Jika kita mencintai Allah, kita harus senantiasa beramal, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Disuruh Allah sholat, ya sholat. Jujur ya jujur. Nutup aurat, ya kita nutup aurat, dll. Bukankah cinta membutuhkan pembuktian? Begitu juga cinta kpd Allah, harus ada bukti.

Kedua,
kita mencintai seseorang itu karena dia mencintai Allah.
Ya, alasan kita mencintainya bukan karena paras cantik/gantengnya, cerdasnya, hartanya, kiprahnya, populernya.
Tapi karena ketaatannya kepada Allah.
Kita tahu dia taat kepada Allah, itulah mengapa kita mencintainya. Jika hilang cintanya kepada Allah. Sehingga hilang ketaatannya dan hidupnya jadi penuh maksiat dan keingkaran. Maka hilang pula cinta kita.

Ketiga,
Dengan bersamanya, kita berharap surga menjadi lebih dekat.
Setidaknya kita tahu dan yakin, dia akan mengajak kita kepada ketaatan, mengingatkan kita dalam amal-amal shalih, saling membantu dalam menebar manfaat.
Dengan bersamanya, kehidupan akan dipenuhi dengan ibadah. Bukan malah menambah maksiat dan mendekat ke neraka.

Nah, kira-kira, pacaran bisa ga pake kalimat, "aku mencintaimu karena Allah"? Ngga kan? 😄

Kalo mau nambahin, bisa tulis di komentar ya. Bagaimana sih mencintai karena Allah itu.

#MelangkahMenginspirasi

Keagungan Cinta

Bukankah keagungan cinta ada saat kita masih peduli walau hati terluka?
Tetap memperhatikan walau tersakiti?
Tetap mengutamakan senyumnya walau air mata menetes?

Kebahagiaan terindah hadir setelah kita melewati hal paling menyakitkan.

Karena kesalahan ada bukan untuk disesali, namun untuk di perbaiki.
Kegagalan ada bukan untuk membuat menyerah, namun untuk terus belajar.
Kekurangan ada bukan menjadi alasan untuk meninggalkan, namun untuk dimaafkan.
Perbedaan ada  bukan untuk dituntut, namun untuk dimengerti.

Ketika ketulusan cinta memenuhi relung jiwa, bukan alasan untuk pergi yang kita cari.
Namun alasan untuk tetap bertahan.

#MelangkahMenginspirasi
@azmulpawzi

Perjuangkanlah

Jika seseorang itu memang benar-benar berharga untuk diperjuangkan. Maka kerahkanlah segala sumberdaya yg ada untuk memperjuangkannya.

Begitu juga,
Bila memang seseorang itu sangat pantas untuk ditunggu, maka kumpulkan sebanyak mungkin kantung sabar untuk menunggunya.

Bukankah indahnya hidup begitu terasa setelah kita maksimal berjuang?

Bukankah manisnya kebersamaan begitu nikmat setelah penantian itu usai?

Maka berjuang dan menunggulah.

Jika dengannya surga akan terasa dekat. Bila bersamanya hidup akan lebih baik,berkah dan tenang.

Tak ada salahnya kan berjuang dan menunggu?

InsyaAllah kali ini tak perlu waktu sewindu.
Maka bersabarlah.
😊
#SewinduMenataRindu
#MelangkahMenginpirasi

Cinta Memang Tak Bisa Dipaksakan

Wanita mana yg tak mau dengan lelaki sepertinya?

Lelaki yg sangat tampan, bahkan dalam riwayat ketampanannya melebihi kecantikan wanita paling cantik. Ia juga berkuasa, pendiri awal dinasti khilafah umayyah. Salah satu manusia berkuasa dan disegani saat itu. Seorang yg juga berharta.  Lelaki parlente juga berselera. Di damaskus, istananya begitu megah. Keshalihannya jangan ditanya, ia termasuk ring satu sahabat Rasulullah. Jundi yg taat dan patuh kpd sang Nabi.

Ia adalah Muawiyyah ibn abu sofyan.

Ketampanan, kekuasaan, kekayaan, keshalihan. Semua yg ia miliki adalah mimpi para wanita.
Namun menariknya, ia malah jatuh cinta kepada gadis kampung, bukan kpd wanita modern dan modis pada zamannya. Cintanya telah berlabuh kepada wanita arab badui yg cantik dan lugu.

Setelah proses terjalani, mereka menikah. Sang gadis badui tinggal di istana nan megah.

Seiring berjalan waktu, ternyata sejak awal sang gadis tak menyukai kehidupan mewahnya. Ia selalu termenung dan mengingat dusunnya.

Usut punya usut ternyata hingga saat itu, sang gadis belum bisa mencintai sang khalifah. Muawiyyah gagal membuat gadis itu jatuh cinta kepadanya. Apa yg dimiliki sang khalifah tak menarik jiwanya.

Hingga suatu saat, Muawiyyah mendengar sang gadis bersyair akan kampung halaman dan pemuda yg dulu ia cintai di dusun.

Seketika Muawiyyah terkesiap, dan membiarkan sang wanita ini memilih secera merdeka.

Dan wanita memilih pergi menuju kampungnya, menemui lelaki yg ia cintai dan hidup sederhana dengannya.

Muawiyyah pun menceraikannya, dan gadis itu pergi meninggalkan kemewahan dan keindahan yg diimpikan banyak wanita.

Begitu lah cinta, ia adalah pesona jiwa. Tak bisa terbeli oleh kemewahan dan kekuasaan.
Harta dan Tahta mungkin bisa membawa raga dalam pelukan, namun tidak untuk jiwa.

Benarlah kata Kahlil Gibran "Salahlah bagi orang yang mengira bahwa cinta itu datang karena pergaulan yang lama dan rayuan yang terus menerus.
Cinta adalah tunas pesona jiwa, dan jika tunas ini tak tercipta dalam sesaat, ia takkan tercipta bertahun-tahun atau bahkan abad." Hmm... begitulah cinta.

#MelangkahMenginspirasi

Engkau Berkata Ingin Mencintai dengan Sederhana

Engkau berkata ingin mencintai dengan sederhana.
Tapi engkau masih mengharap kemewahan.

Engkau berkata ingin mencintai dengan sederhana.
Tapi engkau masih memohon  harta benda.

Engkau berkata ingin mencintai dengan sederhana.
Tapi engkau masih meminta wajah tampan rupawan cantik jelita.

Engkau berkata ingin mencintai dengan sederhana.
Tapi engkau masih menilai nama masyhur penuh tepuk tangan popularitas.

Engau berkata ingin mencintai dengan sederhana.
Tapi mencintai dengan sederhana tak sesederhana yang engkau ucap.

Mencintai dengan sederhana adalah hal yg tidak sederhana. Itu sangat rumit.
Karena tak mudah mencintai seseorang dengan sederhana.

Akan ada bias egoisme yg timbul. Akan ada rasa gengsi.

Apa engkau yakin ingin mencintai dengan sederhana?

#MelangkahMenginspirasi

Mengenalmu Sekali Lagi

Ada luka yang tak mampu terobati. Ada perih yang tak sanggup untuk pulih. Anehnya ku biarkan ia menjalar dalam hingga seluruh tubuh ini. Membuat nyeri dalam hati.

Sejenak kembali terputar kenangan pertama mengenalmu. Aku mengingat setiap detik itu. Caramu menyebut namamu, lalu tersenyum dengan teduh. Tiba-tiba kamu tertunduk saat itu, dan aku yang berdebar malu. Namun, itu bertahun-tahun lalu.

Hingga saat ini, ada sehimpun rasa tak terkira. Hal yang tak mampu aku bendung semua. Anehnya aku hanya diam, lalu tenggelam. Hingga tak banyak kenangan kita buat. Hanya sapaan ringan tanpa obrolan.

Bertahun lamanya ku kunci ia dalam jiwa. Ku biarkan ia mengiris-ngiris rasa. Perih memang. Tapi, bukankah rindu adalah jelmaan dari cinta yang belum bersama?

Dan kini rindu masih menyiksa ku. Bahkan lebih ngilu. Karena tak hanya waktu yang membuat ku pilu. Ada jarak yang tak mampu ku tempuh. Walaupun itu hanya sekedar melihatmu dari jauh.

Ingin ku tuntaskan rinduku semua. Mencurahkannya dalam kasih sayang. Mengejewantahkannya dalam kerja-kerja cinta.

Aku ingin mengenalmu sekali lagi. Lebih dalam lagi.

Pura-Pura

Ketika pura-pura berujung luka. Ketika menipu diri berakhir perih. Tak ku duga menahan rasa begitu rumit seperti ini.

Bertahun-tahun lalu,
aku berpura-pura.
Mendustakan senyummu dengan membuang muka. Membohongi teduh wajahmu dengan enggan memandang.

Aku berpura-pura.
Berlagak sibuk didepanmu agar tak ada waktuku berbincang denganmu. Bersandiwara bahwa tak terjadi apa-apa dalam diri saat ku lihat sosokmu.

Aku berpura-pura.
Dan aku tak menyangka, ternyata menipu diri terdapat karma tak terkira.

Ada rindu yang kian menebal ketika jarak semakin lebar. Ada renjana yang mekar ketika jauh semakin besar.

Dan kini ku tak mampu berpura-pura.
Bahwa itu amat menyakitkan.

@azmulpawzi
#GaBisaTidur
#MelangkahMenginpirasi
#SewinduMenataRindu

Setia Kepada Kebenaran

Salah satu ajaran yang paling sering ditanam oleh ibu kepadaku adalah tegas mengambil sikap. Tak boleh menjadi sosok peragu. Dalam hal serumit dan seringan apapun.

Begitu pula dalam berbagai moment keluarga besar. Ibu selalu mengambil sikap. Ada alasan dalam setiap sikap setuju dan ketidaksetujuannya. Kadang alur pikir ibu selalu diceritakan kepadaku.

Ketika diri ini di Padang, dan ibu di jakarta. Kami pun membahas banyak hal memalui sarana telepon. Tentang ibu yg meminta pendapatku dalam beberapa masalah, membahas kejadian di TV baik isu sosial dan politik. Hingga berbagai hal lainnya.

Ibu juga mengajarkan, jika kita telah yakin sebuah kebenaran. Maka bela, setia padanya, jangan hanya diam. Namun tetap berhati-hati dan tak gegabah. Semua hal butuh perhitungan. Jangan sembrono.

Ah, mungkin masih banyak lagi hikmah tentang pembelajaran karakter dari ibu tercinta. Aku rindu.

Nb: Foto ketika mencoblos capres RI 3 tahun lalu.

#MelangkahMenginpirasi

Harta & Kemampuan Mengelolanya

Kita masih bahas hadits di postingan sebelumnya, wanita dinikahi karena 4 hal : Kecantikan, harta, keturunan dan agama.

Setelah kecantikan, alasan lain yang bisa dijadikan pertimbangan menikahi seseorang adalah harta. Harta maksud disini bisa jadi secara zhahir (terlihat). Memang dia berharta banyak. Kaya raya atau keturunan dari orangtua berpunya.

Namun ada hal terpenting yang harus digaris bawahi dari alasan harta yg disampaikan para ulama. Diantara maksud dari alasan harta ini salah satunya adalah kemampuan mengelola harta.

Kemampuan mengelola harta bisa menjadi pertimbangan menikahi seseorang. Jika seorang laki-laki yang hanya berpenghasilan 5 juta. Jangan menikahi wanita yang zakat Mall-nya sebulan (Mall ya bukan mal) lebih dari 10 juta. Biaya shoping, salon, perawatan dan sebagainya.
Karena itu akan memberatkan dan tentunya bukan menambah sakinah dalam keluarga, malah menambah stress. Jika penghasilan lelaki 15 juta, sesuatu yg wajar jika dia menikahi seorang wanita yang biaya pengeluarannya hanya 10 juta per bulan. Ini tak masalah.

Maka pertimbangan kemampuan pengelolaan harta ini penting. Banyak beberapa temen cowok saya berkata. "Enak kali ya nikah sama artis ini." (dia menyebut salah satu artis film terkenal berjilbab besar). "Emang kenapa tu?". "Udah cantik, shalihah, adem, artis juga lagi." Begitu ucapnya.

Mungkin jika dia tau berapa biaya perawatan artis itu sebulan, tanpa diberi instruksi mundur, niat dia tadi akan lenyap dengan seketika.

Maka mempertimbangkan kemampuan calon pasangan mengelola harta adalah amat penting.

Diantara istri-istri Rasul, ada yg amat perhitungan dengan harta. Dulu sebelum menikah dengan Rasul, perhitungannya tentang dunia, baik uang, perhiasan atau apapun namanya. Namun dengan tempaan Rasulullah, perhitungannya berubah menjadi bagaimana sekecil apapun harta,  bisa jadi ibadah. Bagaimana satu kurma bisa menjadi amal shalih. Dan begitulah ke-shalih-an itu bekerja.

#WanitaShalihah
#MelangkahMenginspirasi

Kecantikan yang Meneduhkan

Kita masih bahas hadits di postingan sebelumnya, wanita dinikahi karena 4 hal : Kecantikan, harta, keturunan dan agama.

Objek yang kita serap hikmahnya tetap kisah dua pasang suami istri paling romantis. Nabi Muhammad dan Khadijah.

Mari kita lanjutkan cerita turunnya wahyu kepada Rasul. Dalam kalut dan gundahnya jiwa Rasulullah. Seperti cerita dalam postingan sebelumnya. Dengan hanya melihat wajah Khadijah sang istri tercinta. Hilang setengah masalah Sang Nabi. Inilah kecantikan sejati.

Namun cerita belum usai. Masih ada setengah kegundahan lainnya dalam jiwa Nabi. Maka ketika masuk kamar, Rasul meminta di selimuti.
Singkat cerita, karena Khadijah masih melihat masih ada masalah dalam wajah suaminya. Ada satu ucapan Khadijah yang sangat manis. "Suamiku sayang, engkau orang baik, tidak punya musuh, sering menolong orang. Dan yakinkan pada dirimu, aku akan bersamamu dalam suka maupun duka". Seketika Nabi Muhammad tenang. Ada keteduhan yang muncul dalam relung jiwanya.

Maka itulah kecantikan yang meneduhkan. Karena cantik atau tampan fisik itu akan sirna. Namun dengan melihat dan mendengar ucapannya kita menjadi tenang. Itulah tujuan pernikahan : ketenangan atau sering dalam doa kita disebut Sakinah.

Buat apa cantik/ganteng fisik bila mendengar ungkapannya kita bertambah pusing kepala. Buat apa jelitanya paras namun melihat ulahnya bertambah ruwet masalah.

Maka cantik-lah secara sejati dan meneduhkan layaknya Khadijah. Membungkus perangai dengan akhlak islam. Berpenampilan dengan patuh terhadap syariat.

#WanitaShalihah
#MelangkahMenginspirasi

Postingan selanjutnya tentang alasan karena harta.

Kecantikan Sejati

Sesuai hadits di postingan sebelumnya, wanita dinikahi karena 4 hal : Kecantikan, harta, keturunan dan agama.

Maka, kecantikan seperti apa yang di cari? Bukankah kecantikan itu relatif? Sedangkan jelek itu mutlak (Becanda 😁). Hehe

Diantara istri-istri rasul, ada yg parasnya amat cantik. Beliau bernama Zainab Binti Jahsy. Wajahnya sangat amat mempesona, bahkan dalam sebuah riwayat, kecantikan Zainab di gambarkan "apabila melihat wajahnya (zainab) maka mata takkan berkedip dan kepala takkan berpaling." Begitulah gambaran paras wanita keturunan bangsawan ini.

Ada juga aisyah yg berparas jelita, bahkan digelari humairah, yang kemerah-merahan. Jadi cantik merah merona seperti yg diiklankan produk kecantikan.
Namun, dari semua istri Rasulullah. Tak ada satu pun yang masuk dalam mimpi Rasul bahkan selalu di kenang oleh Rasulullah. Tidak ada satu pun kecuali, Khadijah binti Khuwailid.

Mengapa Khadijah menempati tempat paling spesial dihati Nabi Muhammad? Seorang janda dua kali karena kedua suami sebelumnya meninggal. Dan di nikahi Rasul ketika umurnya tak muda lagi, 40 tahun. Secara fisik mungkin tak secantik Zainab dan Aisyah. Namun Khadijah memiliki kecantikan yg istimewa.

Kecantikan yg seperti apa?

Kecantikan yg ketika dipandang, setengah dari masalah sang suami lenyap.
Coba anda bayangkan jika Anda menjadi Rasulullah ketika pertama kali mendapat wahyu. Siang hari bolong, sesosok tak di kenal memanggilnya, dan sosok itu duduk melayang antara bumi dan langit.

Kaget? Merinding? Penuh beban? Kalut? Pucat?

Maka Sang Nabi berjalan cepat, dengan menggigil dan kusut. Lalu ketika diketuk pintu rumah dan di buka pintu oleh sang istri. Maka ketika rasul melihat wajah khadijah,ia tenang.  Bahkan dalam bahasa Nabi "setengah masalahnya hilang." MasyaAllah.

Kecantikan seperti inilah yg patut dijadikan teladan. Bukan kecantikan penuh dempul bedak, atau bibir terlapisi merah lipstik. Sibuk menggambar alis atau memakai pakaian seksi. Memakai aksesoris dan pulang balik salon ala-ala artis. Karena semua kecantikan seperti itu semu.

Kecantikan seperti khadijah-lah yang sejati.

#WanitaShalihah
#MelangkahMenginspirasi

Hikmah Banyaknya Istri Rasulullah

Salah satu hikmah berbilangnya istri Rasulullah yang disampaikan oleh para ulama yaitu semua pribadi dari masing-masing wanita mulia ini mewakili karakter seluruh wanita yg ada di muka bumi.

Dari yg paling perhitungan sampai cemburuan, paling kalem sampai ceria, paling bersahaja hingga manja.

Ummul mukminin mewakili semua karakter yg ada dari para wanita yg hidup.

Merekalah role model wanita shalihah, karena di tempa langsung oleh manusia paling mulia dimuka bumi. Maka, bagi para wanita temukan karakter sholehah-mu yg sesuai dengan dirimu dengan mempelajari pesona dari setiap pribadi istri nabi.

By the way
“Perempuan dinikahi karena empat faktor. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah perempuan yang mempunyai agama, engkau akan beruntung.” (HR Bukhari, Muslim)

InsyaAllah postingan selanjutnya tentang 4 hal ini satu-satu. InsyaAllah.

@azmulpawzi
#MelangkahMenginpirasi
#WanitaShalihah

Kitab dalam gambar ini adalah milik Buya (kakek saya). Saya boyong ketika bareng ibu saya beres2in rumah nenek dan menemukan kitab ini. Sudah menguning dan tua. Namun isinya sangat luar biasa. Ini buku terjemahan, saya lupa judulnya apa, karena bukunya masih terringgal di padang.

Masjid Agung Karawang : Saksi Bisu Romantisme Cinta yang Bertemu Karena Qur'an

Siapa yang mengira masjid yang konon tertua di pulau Jawa, bahkan lebih tua dari Masjid Agung Demak memiliki kisah romantis di awal terbentuk.

Dalam sejarah tercatat bahwa masjid ini dibangun oleh seorang ulama yang sangat santun bernama Syekh Quro. Ketika ia berlabuh ke Karawang, beliau membangun masjid ini dan menjadikan masjid ini menjadi pusat dakwah islam.
Syekh Quro tak datang sendirian, beliau membawa seorang anak perempuan bernama Nyi Subang Larang.

Penyebaran islam begitu pesat di Karawang, sehingga mengganggu Kerajaan Galuh yang beragama Hindu. Akhirnya diutuslah Raden Pamanah Rasa atau yg lebih dikenal Prabu Siliwangi sang putra Mahkota Kerajaan Padjajaran.

Namun Maha Besar Allah, dalam misinya Prabu Siliwangi mendengar tak sengaja Nyi Subang Larang menyenandungkan ayat-ayat Al-Qur'an dan terkesima lalu jatuh hati. Dengan hati dipenuhi rasa kagum kepada gadis tersebut, ia menmurungkan niatnya menutup majelis ilmu Syekh Quro.

Singkat cerita karena Prabu Siliwangi selalu terngiang merdunya tilawah Qur'an Nyi Subang Larang yang menyejukkan hatinya. Ia mengambil keputusan untuk melamar Nyi Subang Larang kepada Syekh Quro. Akhirnya mereka menikah di masjid ini, Masjid Agung Karawang.

Hingga di masa depan pernikahan Prabu Siliwangi dengan Nyi Subang Larang akan melahirkan keturunan cucu yang menjadi Da'i agung di Bumi Nusantara. Salah satu dari Wali Songo bernama Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Di masa kini nama Wali Allah ini diabadikan menjadi nama kampus UIN Jakarta.

Beginilah jika Al-Qur'an menyatukan cinta. Ia akan melahirkan punggawa-punggawa dakwah yang militan. Wali-wali Allah yang tangguh. Dan mujahid-mujahid islam yang ikhlas.

Romantis bukan?
Kisah kita insyaAllah Qur'an juga yang menyatukan.

@azmulpawzi
#MelangkahMenginspirasi

Setelah sekian lama disini, jalan-jalan refreshing juga sepulang kantor 'sendirian'. Biasanya sepulang kantor langsung ngekos aja.

Cita-Cita Seorang Muslim

Seorang muslim sudah sepantasnya memiliki satu diantara dua cita-cita ini.

1. Ulama yg Cendekiawan
2. Cendikiawan yg Ulama

Seperti yg kita ketahui, ulama ada mereka yg memiliki kepahaman ilmu mendalam dalam agama dan menjadi pembimbing umat. Sedangkan cendekiawan adalah mereka yang memiliki kedalaman dalam sebuah ilmu dan mempergunakan ilmu yang dia miliki dan ketajaman pikiran untuk menganalisis dan merumuskan solusi dalam masalah manusia.

Maka, Ulama yg cendekiawan adalah mereka yg memiliki keilmuan agama yg dalam. Mampu menguasai Tafsir Al-Qur'an dan Hadits. Memiliki ilmu nahwu yg mumpuni, serta keilmuan lainnya yg membuat ia menjadi rujukan dalam masalah beragama. Lalu ia adalah ulama yg mampu membawa idealisme Islam sesuai dengan realitas kehidupan. Membumikan ajaran Allah sehingga umat terbimbing dengan baik dan benar. Menyelesaikan permasalah hidup dan sosial dalam perspektif agama. Dan tak merasa berat menjalankan islam dalam berbagai aspek kehidupannnya.

Dan Cendekiawan yg Ulama adalah mereka yg mumpuni dan bergerak dalam bidang ilmu masing-masing. Baik itu ekonomi, kesehatan, sosial politik, sains teknologi, sastra dan berbagai lainnya. Ia bisa membawa ketinggian bidang ilmu itu dengan paduan pemahaman islam yg baik. Sehingga memberi solusi untuk umat dalam berbagai perkaranya dan berkembang dalam pagar syariat.

Seperti yang kita ketahui kecenderungan pakar sains pengikut peradaban barat yang memiliki landasan sekuleristik dan ateisitik membuat para cendekiawan mulai sekuler dan anti Tuhan. Usaha pemisahan dunia sains dan teologi sudah amat jelas kita lihat. Dan hal ini membuat slogan-slogan pemisahan antara agama dan sisi kehidupan semakin gencar digemakan kaum sekuler. Pisahkan ekonomi,politik, budaya, dan sebagainya dengan agama hal yg sering kita dengar bahkan oleh rezim saat ini.

Maka dari itu alangkah patutnya pemuda-pemuda muslim memiliki cita-cita satu antara dua hal ini. Ulama yg cendekiawan atau Cendekiawan yg ulama. Agar menjadi solusi umat manusia yg beragama, bermoral dan holistik juga integratif.

Nah kamu, apa cita-citamu?
#MelangkahMenginspirasi

Jika Salah dalam Satu Hal, Jangan Biarkan Diri juga Salah dalam Hal Lain

Keliru, silap, salah, khilaf, lupa, itu semua adalah sifat yg wajar dalam manusia. Setiap kita kalau dalam surat asy-syam memiliki potensi taqwa dan potensi dosa. Dan melakukan kesalahan adalah hal yg wajar. Dan sebaik-baiknya berbuat salah adalah memperbaikinya, bertaubat.

Tapi, jika kita terlanjur salah dalam satu hal. Jangan biarkan diri malah melakukan kesalahan lagi dalam hal lain.

Ibarat kita sedang mengerjakan ujian berbasis komputer, yang dimana soal yg telah terlewati tak bisa kembali.

Bila kita menyadari soal nomor 4 tidak tepat jawabannya. Jangan kita biarkan soal nomor 5 hingga soal terakhir juga salah. Jangan malah berkata, "ah nomor 4 udah salah, sekalian aja salah." Ini tentu tidak tepat dan nilai pasti akan buruk.

Begitu juga dalam menjawab soal-soal kehidupan. Jika seandainya kita terlupa shalat zhuhur, jangan malah sekalian tinggalin shalat ashar, maghrib dll. Jika kita terlanjur menggunjing, jangan malah makin semangat gunjingnya. Jika kita terlanjur nyontek, jangan malah semakin mnjadi nyonteknya.

Terjatuh kelubang sekali itu sah-sah saja. Tapi sudah terjatuh, malah menggali lobang lebih dalam lagi karna sudah terlanjur jatuh hanya akan berujung nestapa.

Konsep ini memang sederhana, tapi betapa banyak manusia yg salah dalam kehidupan malah semakin larut dalam kesalahan.

Bukankah semua manusia pasti pernah salah?
Dan yang membedakan manusia yg salah tersebut beriman atau tidak adalah jika seorang yg salah tersebut beriman maka ia akan kembali taubat kpd Allah. Minta petunjuk dan ampunan. Jika ia tak beriman, maka ia akan melakukan kesalahan lainnya. Dan tak peduli.

Semoga kita senantiasa menjadi insan yang terus memperbaiki diri.
#MelangkahMenginspirasi