Selasa, 31 Oktober 2017

FSLDK Menjadi Lokomotif Peradaban Umat


Mengapa dalam hashtag dan design @fsldksumbar senantiasa diisi dengan hashtag #LokomotifPeradaban? Hashtag yang menjadi jargon penyemangat kepengurusan kini.

Saya ingin menjelaskannya dengan kembali mengingat mengapa dakwah kampus mesti ada. Setidaknya ada tiga tujuan mengapa FSLDK sebagai wadah dakwah kampus terbesar harus tetap berjalan dan menguat. Pertama menyuplai alumni berafiliasi islam, mencetak kader dakwah dan upaya kampus untuk mentransformasikan masyarakat menuju madani.

Maka tujuan terbesarnya adalah membentuk masyarakat madani. Membawa umat dari keadaan kini, menuju kehidupan madani, dan ini takkan ada tanpa adanya 2 tujuan sebelumnya. Jadi menjadi cita-cita kolektif aktivis dakwah mencetak pemimpin-pemimpin hingga mampu membawa umat lebih madani.

Kalau boleh mendefinisikan masyarakat madani. Secara sederhana, bisa kita definisikan masyarakat madani ada karena orang shalih mayoritas dalam umat sehingga nilai-nilai islam berjalan dalam kehidupan sosial dan bernegara.

Kalo kita ambil sistem demokrasi, maka mayoritas ini bisa diwakili dengan 50%+1%. Nah apakah orang shalih kita telah mencapai ini di kampus, Sumbar, bahkan Indonesia? 

Membangun peradaban islam membutuhkan banyak orang shalih yang juga mushlih. Seperti apa orang shalih ini? Minimal seseorang bisa disebut shalih ada tiga. Pertama terafiliasi dengan ideologi islam, lalu menjalankan perintah wajib dan terhindar dari dosa-dosa besar.

Nah, apa hubungan orang shalih dengan peradaban? 
Dalam kerja-kerja kolektif membangun sebuah peradaban, kita membutuhkan tim inti sebagai pemikir juga penggerak langkah peradaban. Bagaimana polanya? Kita mulai berkaca dari kelahirannya negara kita Indonesia.

Dalam perjuangan kemerdekaan ini, diawal melawan penjajah, perjuangan hanya perdaerah, belum terstrategi secara bersama. Maka berdirinya boedi utomo menjadi langkah awal kebangkitan bangsa, lalu ditegaskan juga dengan gerakan masif kemerdekaan oleh Serikat Islam yang dipimpin guru bangsa Cokroaminoto. Hingga terbentuklah embrio bangsa Indonesia dalam sumpah pemuda.

Orang-orang dalam boedi utomo, sarekat islam, dan sumpah pemuda hanya segelintir manusia. Mereka hanya bagian kecil dari Indonesia, namun mereka adalah tim inti umat bangsa yang menjadi penggerak bangkit dan lahirnya bangsa Indonesia.

Jika dalam membentuk negara butuh inti umat. Bagaimana dengan membangun peradaban islam. Butuh ada kader-kader shalih yang menjadi inti umat yang menggerakkan umat menuju lebih madani.
Begitulah yang dilakukan Rasulullah dalam membangun peradaban islam. Mencetak kader-kader dakwah yang menjadi inti umat.
Jika kita boleh membandingkan, Rasulullah memiliki umat saat haji wada sebanyak 100 ribuan kepala. Dan menurut Ibn Qayyim Al Jauziyyah hanya ada 110 orang ulama pemimpin dalam tubuh umat Nabi. Terlebih 110 orang pemimpin ini adalah yang terbaik dari generasi terbaik. 
Maka berapa pemimpin shalih yang kita butuhkan untuk mengelola 200an juta umat muslim indonesia untuk membangun peradaban islam di Indonesia?
Nah inilah tugas yang diambil FSLDK. Sederhananya, tugas dakwah kampus adalah mencetak sebanyak-banyak orang shalih agar menjadi tim inti umat, agar gerakan membentuk masyarakat madani semakin masif.
Itulah mengapa senasional kita punya target menambah jumlah kader sebanyak 30.000an kader lagi.
Agar kader dakwah yang dicetak oleh dakwah kampus mampu menjadi menggerakkan umat menuju kemenangan islam.
Layaknya lokomotif yang hanya satu bisa membawa gerbong-gerbong lainnya menuju tujuan. 
Kader dakwah yang dicetak FSLDK harus menjadi inti umat dalam gerakan peradaban islam. Tugas mereka menjadi lokomotif yang membawa umat menuju bangkitnya peradaban islam.
Itulah mengapa FSLDK sudah wajib Menjadi Lokomotif Peradaban
.
Terakhir siapkah Aktivis Dakwah Kampus menjadi 
Lokomotif Peradaban?


Salam dari kami
Azmul Pawzi
Ketua Umum FLSDK Sumatera Barat 2017-2018

Sabtu, 25 Februari 2017

Di balik kata Slow

Tahun 2009, saat bbrp bulan lagi UN akan berjalan, aku yg saat itu masih kelas 3 SMP 215 jkt, diberi masukan oleh ibu. "Ji, kamu nanti masuk SMK aja. Biar nanti pas lulus bisa langsung kerja, ayah ibu ga punya uang utk kuliah." Mendengar itu aku hanya tersenyum, lalu berucap. "Slow aja bu"

Waktu berjalan, Allah punya skenario lain, walau pada awalnya aku mendaftar SMK, tapi di detik2 akhir, aku malah d terima di SMA 101 Jkt. Walau aku berada di SMA, pesan Ibu tetap sama, lulus langsung kerja saja. Ga ada biaya untuk kamu kuliah.

Aku paham, bagaimana bisa untuk membiayai kuliah yang tinggi, utk SPP SMA saja yg cukup murah jika d banding SMA negri lainnya, tetap terasa mahal. Aku harus mencovernya dengan beasiswa yg kudapat dr salah satu bank BUMN dan bantuan sekolah. Jadi aku hnya brkata "slow aja bu, liat aja nanti." Aku berusaha menenangkan ibu. Namun dibalik kata slow, aku berjuang. Mempelajari soal snmptn otodidak tanpa bimbel, karena biaya bimbel bgtu mahal. Juga mencari link beasiswa. Dan cara lainnya.

Dan ternyata, kembali skenario Allah begitu indah, aku diterima menjadi mahasiswa FE Univ.Andalas dgn beasiswa bidikmisi. Bantuan hidup 600rb/bulan ku usahakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan akademik.

Aku tak ingin meminta ortu, aku harus mandiri. Ayah memang bbrp kali memberikan uang, tapi itu hanya bbrp kali itupun jumlahnya tak banyak. Kekurangan uang kadang kututupi dgn tip hasil mengisi training motivasi atau juri. Semua berjalan lancar hingga akhirnya aku memiliki penghasilan tetap bbrp tahun terakhir disini.

Takdir Allah amat baik, sbg mahasiswa, aku diberikan kesempatan oleh-Nya berprestasi, juga memimpin kegiatan2 mahasiswa, bicara di forum2 nasional, hingga mewakili kampus dan provinsi.

Perjuangan ini tak seberapa memang, namun ketahuilah jika Allah bkhendak,maka tak ad yg tak mungkin.

Utk kedua orangtua ku, walau tak datang karena ibu harus dirawat inap d RSUD jakbar dan ayah menjaganya. Aku ingin bilang,
Aku persembahkan ini untuk kalian Ayah Ibu ku.

Azmul Pawzi,SE
Bintang Aktivis Kampus Unand 2017
Penulis Buku "Sewindu Menata Rindu"

#MelangkahMenginspirasi

Kamis, 23 Februari 2017

Senja di Kampus, Saatnya Gantung Almamater


4 tahun 4 bulan menjalani studi di Unand. Tak terasa almamater ini menemani banyak cerita di kampus. Ia menjadi salah satu saksi perjuangan.Bermula dari bakti (ospek), hingga mengikuti berbagai kegiatan.

Ia pernah di pakai mengikuti banyak aksi, memimpin (korlap) demostrasi, orasi di depan mahasiswa sumbar di dprd, juga orasi di hadapan ribuan mahasiswa aksi di Bundaran HI Jakarta.

Ia mendampingi diri menjalani kepanitiaan dan kegiatan organisasi. Sambutan depan event nasional dan bicara di khalayak pemuda lainnya. Hmmm... tak terasa, lebih 50an kepanitiaan telah saya rasakan baik tingkat fakultas hingga nasional, juga belasan kepengurusan organisasi mulai dari anggota, koordinator bidang, hingga ketua.

Ia juga pernah menjadi teman menjuarai lomba debat tingkat provinsi, mewakili kontingen sumbar dan prestasi lainnya. Hingga ikut forum pemuda se Indonesia dan rapat-rapat pimpinan mahasiswa se nasional. Ah, tak terasa sudah banyak kota dan provinsi kita kunjungi bersama.

Banyak lagi sebenarnya cerita bersama almamater hijau ini ingin saya tulis, tapi takut kepanjangan. Namun yang pasti setiap cerita tentu punya endingnya. Saatnya menggantungnya. Ambil peran lain.

Masih banyak lini perjuangan yg membutuhkan aktor-aktornya. Perjuangan takkan pernah usai.
Mari tetap melangkah dan menginspirasi.

#MelangkahMenginspirasi

Tulisan ini hanya usaha menata kenangan.  

Minggu, 19 Februari 2017

Aku Tak Ingin Menangis, Terlebih Membuatmu Menangis

Apa yang dapat dibanggakan dari cinta yang tak berdaya terhadap keadaan? Dia hanya dapat diam, lalu menjauh. Hanya mampu terungkap di keheningan, atau terucap dalam kesendirian. Bahkan dalam sunyi ia tak mampu bicara. Hanya menjadi manusia pengecut yang tak mampu melawan dari tembok yang menghalang.

Walau cinta tak bersuara, tapi tetap saja ia tak pernah datang sendirian. Ia selalu hadir membawa berjuta rasa lainnya. Kabar buruknya, ia juga membawa rasa ingin memiliki. Ya, sebuah rasa yang membawa ribuan harapan, juga setumpuk angan. Bodohnya sang pecinta menikmati rasa itu, bahkan terbuai dengan bayang-bayang. Ia tak sadar bahwa dibalik indahnya rasa memiliki, ada setan menakutkan bernama kehilangan.

Kehilangan tak hanya membunuh angan, ia juga menyiksa batin dan menganiaya perasaan. Mungkin saja tubuh ini tak berlumur darah. Kulit-pun tetap mulus, tanpa ada perban yang membalut. Namun tak semua luka dapat terlihat bukan?

Lihat saja aku, engkau mungkin melihatku berwajah ceria. Senyumku memekar gembira, atau sesekali  tertawa dari kelakar yang tercipta. Tapi dapatkah kau melihatnya, hati yang telah babak belur memendam rindu. Atau memar yang tertinggal dari setiap malam sendu.

Aku menahannya, mengais ketegaran yang terlupa. Lalu meramunya menjadi senyum yang menyapa. Aku tak mau terlihat merana. Aku tak ingin menangis, terlebih membuatmu menangis. Engkau tak perlu tahu apa yang aku rasa. Engkau juga tak mesti pedulikan rindu yang menikam. Ini menyakitkan, jadi jangan engkau rasakan.

Aku tak ingin engkau bersedih karena perasaan seperti ini. Biar saja hanya aku yang begini, jangan engkau. Tetaplah seperti itu, berbahagialah dalam hidupmu. Bersuka citalah tanpa ada aku yang selalu gagu dihadapanmu.




Azmul Pawzi






Selasa, 07 Februari 2017

Cinta Tak Pernah Terlambat

Mungkin kita sudah bertemu hari ini. Saling bertatap, atau sekadar berpapasan di jalan. Mungkin kita sudah berkenalan hari ini. Berdiskusi akan suatu hal, atau hanya bertukar senyuman.

Tidak ada yang tahu sebuah perjodohan, bukan?  Bisa saja, orang yang akan menemani hidup kita nanti adalah teman semasa kecil.  Seorang yang menemani kita berlari riang, berdolan petak umpet atau bertengkar memperebutkan tempat bermain.

Bisa saja, dia yang kemudian hari tinggal seatap dengan kita adalah seorang yang mewarnai kehidupan sekolah. Yang mungkin saja saling cekcok saat tugas kelompok, saling mencuri pandangan saat guru menjelaskan atau berselisih antar geng remaja.

Atau bisa juga, kan. Orang yang menjadi jodoh kita adalah mereka yang selama ini berada di lingkar aktivitas kita. Saling debat dalam sebuah rapat, atau berkeringat dalam kepanitiaan.
Tidak ada yang tidak mungkin, bukan?

Karena siapa yang tahu tentang takdir. Kita hanya perlu menunggu kesadaran cinta itu hadir. Kadang kesadaran itu membutuhkan waktu yang singkat, kita hanya perlu menunggu hitungan hari atau bulan hingga kita menyadari cinta.

Atau kadang kita perlu waktu cukup lama. Kita kadang harus menunggu satu, belasan bahkan puluhan tahun untuk menyadari cinta. Namun itulah teka-tekinya. Itulah yang mungkin menjadi jalan hidup kita.

Cinta tak pernah datang terlambat, kan? Kita saja yang memang tak tahu kapan waktu yang tepat untuk mencinta.


Tak perlu kita terburu-buru mendefinisikan cinta. Jalani saja. Bukankah Allah selalu punya cara romantis untuk mempertemukan para hamba-Nya?

Selasa, 24 Januari 2017

Hantu Masa Lalu ~ (Part 1)

Begitu kelam, tak ada bintang yang tampak. Terlebih rembulan, seluruhnya tersaput oleh awan.  Malam itu sunyi, tak seorang manusia yang terlihat, tak ada obrolan atau gelak tawa yang terlacak. Hanya  sayup-sayup suara jangkrik yang terdengar jelas. Juga detak suara jam dinding yang tak mau kalah menghentak telinga. Hening dan sepi, tapi tidak untuk perasaan Selma. Hatinya bergemuruh kencang, banyak pertanyaan yang hadir, dia bingung juga sedih. Bukankah kabar siang tadi harusnya menjadi kabar gembira? Mengapa malam ini dia menangis?

Selma tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Disudut kamar 4x4 itu dia meringkuk. Lampu kamar tak menyala, gelap menyelimuti tubuhnya. Kepalanya tertunduk, tangannya memeluk kedua kakinya. Suaranya terisak-isak, tubuhnya gemetar.  Sesekali dia mendongak keatas, menyeka air mata. Lalu kembali menangis lagi. Dalam keheningan dia bertanya dalam hati. Mengapa kabar bahagia ini begitu menyakitkan?
***

“Harusnya elu seneng, Selma.” Diah mendengus kesal melihat temannya yang satu ini. Sejak kajian pagi dimulai hingga perjalanan pulang, Selma terus memasang wajah muram. Bagaimana bisa kabar sebahagia itu membuat dia murung berkepanjangan.

Selma menatap mata Diah, lalu kembali tertunduk. Dia menghembus nafas, langkahnya berat. Lalu ia memegang ujung jilbabnya yang terjulur panjan. Ibu jari dan telunjuknya memainkan kain berbahan wolpeach itu. Dia teringat perjuangannya untuk bisa berpenampilan seperti ini. Diah belum mengetahuinya, wajar dia tak mengerti. Ungkapnya dalam hati.

Tak ada suara lagi terdengar dari lisan kedua wanita berjilbab ini. Setapak jalan dari masjid menuju kos mereka hanya diiringi suara kendaraan lalu lalang. Selma diam, tak menjawab pertanyaan teman dekatnya. Sedangkan Diah masih terheran, bagaimana bisa dia semurung itu mendapat kabar sebaik kemarin? Dia saja lompat-lompat tak jelas di kamar kosnya ketika sore kemarin Selma menelpon bahwa lelaki itu datang ke rumahnya di Jakarta. Bicara dengan kedua orangtuanya, melamar Selma.

Wanita mana yang tak akan bahagia dilamar lelaki sesempurna Fatur? Lelaki teduh, berwajah ganteng, aktifis organisasi islam, dan lagi dia adalah hafizh Qur’an. Setidaknya 20-an juz al-Qur’an telah ia hafal. Walaupun jurusan kuliahnya adalah Matematika, namun ia sering mengisi ceramah-ceramah di berbagai tempat. Kurang komplit apa lagi? Ditambah lagi keluarganya adalah tokoh agama di provinsi ini. Pendidikan Fatur sebelum masuk kampus ini-pun juga ia habiskan di Islamic Boarding School. Lelaki baik, dari keluarga baik dan pergaulannya terjaga baik. Benar-benar lelaki sempurna.

Berita hebatnya kemarin siang dia sendiri datang bersama temannya untuk melamar Selma. Jauh-jauh pergi ke Jakarta untuk menemui orangtuanya. Dalam hati Diah, jika ia yang dilamar, mungkin ia sudah terbang kelangit tertinggi, saking senangnya. Dan jika kabar ini tersebar seantero kampus, entah berapa banyak wanita yang patah hati mendengarnya. Tapi ini sangat mengherankan, tak ada rona bahagia terpancar dari wajah Selma pagi ini. Dia seperti menyembunyikan sesuatu yang amat pelik dalam hatinya. Melihat wajah Selma yang tertekuk dari pagi, Diah memilih diam. Dia tak mau mengorek lebih dalam.  Cepat atau lambat Selma akan cerita kepadanya, begitu gumamnya.

Tiba-tiba hujan turun, tanpa waktu yang lama, hujan tersebut berangsur-angsur lebih deras. Tanpa pikir panjang, kedua gadis ini berlari menuju kedai bakso. Niat awal mereka berteduh, karena sungkan dan tergoda aroma yang sedap, mereka akhirnya memutuskan memesan dua mangkok bakso. Kedai itu cukup luas dan masih lengang. Diah mengajak Selma memilih meja paling ujung, lebih jauh dari pegawai kedai dan mungkin lebih nyaman jika seandainya Selma ingin bercerita, karena topik mereka tak akan terdengar.

Lima belas menit berlalu, dua mangkok yang telah terpesan itu sudah habis. Sedangkan hujan semakin deras diluar, mereka terjebak, harus bertahan lebih lama lagi di dalam kedai itu. Melihat keadaan, Diah ingin bertanya lebih dalam lagi. Namun sebelum terucap sebuah kata dari mulut Diah, Selma terlebih dulu bicara. Memulai obrolan.

“Aku bingung, Diah.” Diah tetap diam, menunggu kata berikutnya dari Selma. wajahnya memasang mimik seakan bertanya dalam diamnya. Bingung kenapa?

Aku takut dia menyesal, Diah. Aku takut Fatur menyesal.”

“Fatur lelaki Shalih kok, Selma. Kekhawatiranmu berlebihan saja. Memangnya kenapa, Sih?”

“Aku..... ” Setengah berbisik Selma menuntaskan ucapannya. Mata Diah terbelalak. Dalam hatinya dia tak menyangka mendengar itu. Bagaimana bisa?


*Bersambung*

Kamis, 29 Desember 2016

Menyimpan Perasaan adalah Hak Setiap Individu

            Suatu hal yang sangat penting di dunia ini yang sangat tidak boleh dicampuri oleh orang lain adalah perasaan.  Ia adalah sisi kehidupan seseorang yang amat privasi, tak boleh ada intervensi apapun dari pihak luar. Karena perasaan lah tempat ia menjadi manusia paling jujur. Seberapa besar kebohongan yang pernah ia buat, ia tetap harus jujur dengan perasaannya.

            Tak boleh kita memaksakan perasaan orang lain terhadap kita, baik itu benci, rindu, dendam, hingga cinta. Setiap orang berhak membenci setiap orang yang dia inginkan, setiap manusia berhak mendendam kepada siapapun yang dia mau. Jika pun ada seseorang yang membenci kita. Bukan ranah kita untuk memaksanya menyukai kita. Begitu-pun perasaan cinta, ia tak bisa dibuat-buat dan dipaksakan. Karena Kahlil Gibran pernah berkata bahwa  “cinta adalah tunas pesona jiwa, dan jika tunas itu tak tercipta dengan sesaat, ia takkan tercipta bertahun-tahun bahkan berabad-abad”.

            Maka berhentilah memaksa perasaan seseorang, karena itu menghabiskan tenaga. Engkau hanya perlu memainkan peran dengan sebaik yang engkau punya kepada setiap orang disekitarmu. Tak boleh ada yang termarjinalkan atau kita asingkan. Berlakulah adil dalam pergaulan, menyebar senyum ke sesama, membantu jika sanggup dan menjadi seseorang yang terbaik semampu kita.

            Jika masih ada seseorang yang membenci kita, tak perlu risau. Itu hak mereka. Jika ada dendam kepada kita, tak perlu gundah. Jadilah insan terbaik semampu kita dihadapannya. Tetap menjadi seseorang ramah dan pemaaf. Juga perasaan dendam dan benci dihati kita, itu juga hak kita untuk mengaturnya, mau disimpan atau dibuang, sekali lagi itu hak kita. Namun karena itu perasaan kita, tentu kita bisa mengaturnya dengan baik, kan? Melenyapkan benci dan dendam bukannya lebih baik?


            Begitu juga bila seseorang yang kita cintai, ternyata tak mencintai kita. Tak perlu memaksakan. Masih banyak cinta lain yang bisa kita perjuangkan, bukan? Atau mungkin, ada seseorang di ujung sana yang menyimpan cinta amat dalam kepada kita. Bahkan orang itu sedang berada disekeliling kehidupan kita sekarang. Siapa yang tahu, kan?


Azmul Pawzi
#MelangkahMenginspirasi



Kamis, 10 November 2016

Tentang Buku Sewindu Menata Rindu



Rindu adalah sebuah konsekuensi akan cinta yang terpendam. Ia akan tumbuh berkembang seiring rasa yang semakin dalam. Adakalanya ia menjadi melodi indah yang menemani setiap senyum  ceria. Ada masanya ia menjadi tersangka akan kesenduan yang melanda. Ia memperlambat waktu, menyita pikiran hingga menguras perasaan. Kadang ia begitu manis, kadang begitu pahit. Kadang ia dinikmati, kadang ia dibenci.
Manusia memang begitu lugu dalam mengartikan rindu. Karena memahaminya tak lebih mudah dari mengerti akan cinta. Keduanya sama-sama pelik, sama-sama sukar dimengerti. Maka aku ingin menuliskannya, tentang kerinduan dalam arti luas. Karena ia bisa saja hadir karena interaksi dengan Tuhan, orang terdekat, benda kesayangan, negara bahkan pahlawan.
Siapa yang dapat mengartikan rindu dengan lugas? Seperti layaknya kebanyakan manusia, saya juga sedang bergulat dengan kenangan juga perasaan yang meluap pengap. Terlebih ketika rindu melanda, ia bagaikan banjir menderas yang menenggelamkan kita dalam kepedihan yang begitu manis. Setiap orang punya banyak cara dalam menangani kerinduan yang mendalam. Sedangkan saya lebih memilih menulis untuk menata setiap rasa. Dan sejatinya menulis adalah proses pengenalan diri lebih dalam, karena kita harus melewati renungan hingga kontemplasi yang cukup intens untuk menghasilkan sebuah tulisan. 
Perjalanan menata rasa tersebut ternyata berbuah positif dari teman-teman sekitar. Mereka memotivasi saya merapikan setiap tulisan, lalu membukukannya. Keraguan yang pada awalnya sempat terpikir dengan mudahnya terpecahkan begitu saja karena dukungan teman-teman dan juga setiap pembaca tulisan saya. Akhirnya saya memutuskan untuk menghimpun tulisan tersebut dan mempublikasikannya dalam bentuk buku.
Sewindu Menata Rindu adalah kumpulan prosa, cerpen, puisi dan berbagai tulisan yang mewakili setiap renungan kehidupan yang senantiasa mengerumuni setiap sudut ruang otak saya. Buku ini adalah cara saya menginterpretasikan rindu dalam setiap lingkupnya. Karena memang rindu begitu kompleks, ia begitu luas hingga dapat hadir dalam interaksi yang kita lakukan.
Bersiaplah untuk membacanya, lalu bersiap juga untuk menata setiap makna. Karena kenangan tiada berharga tanpa hikmah yang kita petik darinya.
*Buku ini sudah diterbitkan oleh Penerbit Mediakita (ig : @mediakita) pada tahun 2017, dan telah tersebar di seluruh Gramedia di seluruh Indonesia dari aceh hingga papua dan toko buku offline dan online lainnya.

Azmul Pawzi
#MelangkahMenginspirasi



Rabu, 28 September 2016

Aku Selalu Menantimu

Aku selalu menantimu
Itulah mengapa aku bersujud kepada-Nya
Menangis tersedu dalam doa-doa

Aku selalu menantimu
Itulah mengapa aku berusaha hadir kerumah-Nya
Menyambut setiap panggilan untuk berjama'ah menyembah Sang Maha Pencipta


Aku selalu menantimu
Itulah mengapa aku memohon ampun dari dosa-dosa
Menyesali setiap maksiat yg terlaksana

Aku selalu menantimu
Karena aku tahu engkau pasti datang menjemputku
Secepat apapun aku menghindar engkau takkan menjauh, namun semakin dekat dan semakin dekat

Aku selalu menantimu
Karena memang hanya orang cerdas yang selalu mengingatmu
Setidaknya itu yang Rasul sabdakan

Aku selalu menantimu
Memisahkan diri dari dunia yang fana
Lalu membawaku menuju keabadian

#MelangkahMenginspirasi

Jumat, 02 September 2016

Menjadi yang Engkau Butuhkan

Kadang aku ingin menjadi mentari
Agar aku dapat bersinar cerah menerangi ruang hatimu
Menghangatkan kala hari dingin, atau mungkin hanya sekedar menyapamu disetiap pagi
Kadang aku ingin menjadi rembulan
Agar aku dapat menghiasi malam-malam kelammu
Mengobati rasa sepi, atau sekedar dapat engkau pandang bila gelap membuatmu gundah
Kadang aku ingin menjadi hujan
Agar aku dapat membasahi tiap-tiap rasamu yang mulai kering
Tempatmu bersenang ria menikmati gemericik air, atau sekedar menarik perhatianmu kala aku hadir
Kadang aku ingin menjadi udara
Agar senantiasa diri ini mengelilingimu
Membantumu dalam menjalani hidup, atau sekedar agar kamu yakin, kala engkau tak melihatku sesungguhnya aku ada dan terasa untukmu
Kadang aku ingin menjadi pelangi
Yang mewarnai langit pikiranmu kala badai cobaan berusaha membuatmu sedih
Menjadi inspirasi tiap imajinasimu, atau sekedar menjadi energi agar engkau menghapus air matamu
Kadang aku ingin menjadi pepohonan
Agar aku dapat menyediakan oksigen segar untukmu
Membuat lingkunganmu terlihat asri, atau sekedar menjadi sandaran saat engkau berteduh membaca buku
Sesungguhnya semua ini sederhana
Aku hanya ingin menjadi sesuatu yang engkau butuhkan
Agar tiada lagi hal yang engkau inginkan selain aku
Atau mungkin hanya sekedar menjadi alasanmu untuk tersenyum setiap hari

Rabu, 31 Agustus 2016

Kegelisahan itu Hadir – Serial Setapak Jalan Dakwah (Part 2)

Setidaknya saya setuju dengan apa yang dikatakan novelis penerima nobel dari jepang bernama Yasunari Kawabata. Ia berkata bahwa “Manusia yang tak mau gelisah, sesungguhnya ia telah mati”. Karena memang kegelisahan bagaikan gerigi yang memaksa seseorang untuk bergerak dan berpikir. Dan pastilah setiap perubahan besar dimuka bumi ini berasal dari sebuah kata yang bernama gelisah.

Setiap otak yang diisi kegelisahan akan memaksa dirinya mencari solusi dari masalah yang meresahkan diri. Semakin besar masalah yang dipikirkan, semakin besar juga kegelisahan yang menimpanya. Namun jika masalah besar itu ditemukan jalan keluarnya, maka semakin luas jugalah dampak yang dibuatnya.

Soekarno, Hatta, Natsir dan berbagai pahlawan bangsa ini dulunya hanya para pemuda yang gelisah. Mereka khawatir akan penjajahan yang merajalela. Pikiran mereka dipenuhi akan kebebasan yang terkungkung kolonialisme. Hati mereka tak nyaman akan imperialisme yang hadir di tanah kelahiran mereka. Menyimpan segala kegelisahan itu, naruni kepahlawanan dalam diri mereka memberontak. Mereka tak bisa memilih untuk diam dari segala gundah gulana didada mereka. Sehingga karena itu semua, mereka lahir menjadi sosok pejuang yang menjadi aktor kemerdekaan bangsa.

Seorang pahlawan butuh kegelisahan untuk bergerak. Seorang pejuang butuh kegelisahan untuk berkarya. Dan dengan kegelisahan itu pula yang membuat sebagian generasi awal islam menjadi pengikut setia Nabi Muhammad SAW dan memeluk islam. Layaknya Abu Bakar yang sejak awal tak menyukai berbagai maksiat dari kaum Jahiliyyah. Ketika Rasulullah hadir membawa ajaran Tauhid, ia menyambut dengan cepat. Seakan-akan setiap pertanyaan dalam jiwanya terjawab sudah, dan putra Abdullah itulah yang membawa jawaban atas pertanyaan yang menghantui dirinya. Juga Abu Dzar Al Ghifari yang rela bermandi keringat melewati teriknya gurun sahara. Berletih ria berjalan dari kampung halaman menuju mekah untuk menemui Muhammad SAW. agar sang Rasul membacakan perkataan yang ingin ia dengar. Yang mungkin perkataan itu telah menjadi pertanyaan besar dalam hidupnya yang membuat hatinya gelisah dan membawanya ke daerah kelahiran Sang Nabi.
Seorang pahlawan butuh kegelisahan untuk bergerak. Seorang pejuang butuh kegelisahan untuk berkarya.
Kegelisahan bisa menjadi awal cahaya islam masuk. Kegelisahan bisa menjadi jalan hidayah yang mengantarkan seorang manusia menjalankan islam secara paripurna. Dan seperti yang kita tahu, hidayah bisa hadir dari manapun dan kapanpun. Waktunya tak terduga, dan kita harus berjuang menyambutnya. Kadang dia hadir dari sebuah pertanyaan atau hal yang ingin sekali kita ingin tahu.

Membangkitkan kegelisahan dapat bermula dari berbagai hal. Dalam kasus diri sendiri, kegelisahanku hadir dengan cara yang begitu sederhana. Dia hanya berawal dari keingintahuan akan seseorang, dan menimbulkan sebuah pertanyaan “siapa dia?”

Kala itu setelah shalat berjama’ah isya, aku menyempatkan diri duduk-duduk di teras masjid sekedar berdiskusi atau mungkin hanya mendengar pembicaraan para jama’ah lainnya yang juga sedang mengobrol ringan. Dan entah darimana awalnya, obrolan malam itu tentang seorang pejuang islam yang meninggal ditangan pemerintah. Dan demi mendengar kematiannya, warga Amerika ketika itu sontak bahagia. Seorang yang menceritakan itu mengambil dari kesaksian seorang ustadz, yang dihari kemudian baru saya ketahui ustadz tersebut bernama Sayyid Quthb.

Maka karena rasa penasaran yang mulai memenuhi dada, aku bertanyalah tentang seorang yang disebut meninggal oleh makar dari pemerintah kepada Mas Fajar. Beliau adalah salah satu pengurus masjid yang sering memberikan saya ilmu keislaman selama saya tergabung menjadi remaja masjid.

“Hasan Al Banna ini siapa ya mas?”

“Dia itu pendiri organisasi Ikhwanul Muslimin, salah satu gerakan dakwah yang berkembang pesat abad ini. Dan gerakan organisasi ini ditakuti oleh Amerika”

Ikhwanul Muslimin? gerakan dakwah? Amerika takut? pembunuhan? Jadilah dalam perjalanan pulang aku bertanya-tanya akan banyak hal. Manusia macam apa yang membuat dia ditakuti negara adidaya seperti Amerika sehingga pemerintah membuat makar untuk membunuhnya bahkan sampai meminta Rumah Sakit untuk tidak merawatnya agar dia meninggal karena kehabisan darah. Manusia macam apa Hasan Al Banna itu? Namun malam itu aku masih memendam pertanyaan itu. Belum ada upaya mencari tahu apalagi mempelajari pemikirannya.

Hingga esok harinya disekolah, seorang teman wanita yang berjilbab besar sedang komat-kamit sebelum bel pagi berbunyi. Karena penasaran lagi, aku bertanya ke wanita itu.

“Eh lu baca apaan?”

“Al-Matsurat mul.” Jawabnya singkat. Sungguh sejak kecil diri ini mengaji, bahkan hingga SMA masih berlanjut, belum pernah mendengar bacaan bernama Al-Matsurat.

“Apaan tu Al-Matsurat?” Tanya ku kembali. Lalu dia menyodorkan sebuah buku kecil dan tipis bertulis Al-Matsurat. Dan yang membuat ku tertarik, ada nama Hasan Al Banna dibagian sampulnya.

“Lu tau Hasan Al Banna? Dia yang nulis ini?”

“Engga mul, Al-Matsurat itu dari Al-Qur’an dan Hadits. Beliau cuma nyusun aja. Kalo Hasan Al Bannanya siapa, mmm gue juga lupa-lupa.” Jawabnya dengan sedikit tertawa.

Maka beberapa kejadian itu menjadikan aku semakin penasaran, barulah aku mulai bertekad untuk mencari tahu siapakah Hasan Al Banna itu, dan gerakan macam apa Ikhwanul Muslimin itu.”


Bersambung



Rabu, 24 Agustus 2016

Pada Mulanya – Serial Setapak Jalan Dakwah (Part 1)


Dalam buku berjudul Fityatun Amanu bi Rabbihim seorang ulama masyur dari Arab Saudi bernama Aidh Al Qarni memaparkan dua penyakit yang menimpa generasi muda, yaitu Syubhat dan Syahwat. Syubhat adalah penyakit yang menyerang pola pikiran manusia sehingga menjadi ragu terhadap Sang Maha Pencipta, membawa kesesatan hingga menyebar pemikiran atheis. Penyakit ini sangatlah berbahaya, karena ia menggerogoti pemikiran dan akan menjadikan penderitanya menjadi orang-orang sok pintar yang membahas Agama tanpa landasan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang pas.

Kita bisa saja mengambil contoh para pemikir islam liberal yang membuat pernyataan-pernyataan yang mengobok-obok pemikiran umat islam. Contoh pernyataan pemikir liberal yang seperti ini. “Agama adalah urusan pribadi dengan Tuhannya, jadi fokuslah ibadah kita masing-masing.

Maka lihatlah betapa banyak pemuda yang termakan dengan pemikiran ini. Sehingga ketika sebuah nasihat terlontar dalam tempat nongkrong mereka, tanpa waktu panjang akan banyak perkataan seperti “Lu urus sendirilah diri lu, biar gue urus diri gue” atau “Ga usah ceramah-ceramahin gue, lu kalo mau ceramah ke masjid tuh,  jangan disini.” Dan tentunya banyak lagi jawaban atas sebuah pernyataan itu. Pemikiran ini sungguh mengkebiri kebiasaan saling menasihati antar pemuda, sekaligus menghilangkan sosial kontrol yang ada di masyarakat. Sehingga bisa saja kemaksiatan merajalalela tanpa ada orang yan meluruskan.

Tentu saja itu baru satu contoh. Belum lagi berbagai pemikiran-pemikiran sok-sok filsafat yang membawa kepada kesyirikan. Seperti “Allah itu Maha Pencipta, apakah Allah dapat menciptakan Allah lainnya.” Atau “Semua agama itu sama, nggak perlu lah merasa agama paling bener.” Naudzubillah, inilah salah satu penyakit yang membuat para pemuda tersesat sehingga jauh dari Allah Azza wa Jalla.

Penyakit selanjutnya adalah syahwat. Ini menjadi penyakit yang begitu mengerikan. Karena bila syahwat ini tak terkendali, maka ia akan menjadi produsen dosa yang sangat sulit dihentikan. Karena syahwat ini menjanjikan kesenangan dan kebebasan. Kita ambil contoh tiga hal penyakit syahwat, pacaran, video porno dan mabuk-mabukan.

Sungguh, tiga hal ini bukanlah hal asing disekitaran pemuda. Berpesta dengan berbotol-botol anggur, berbatang-batang gele (ganja) dan berbagai hal memabukan lainnya. Muda-mudi berjalan ria, menghabiskan hari dengan suka cita, bergandeng tangan, tertawa hingga akhirnya hubungan badan atas hubungan pacaran. Hingga pemuda yang candu akan melihat video dan foto-foto porno.

Syubhat dan Syahwat, keduanya menjadi krisis, dan aku sebagai pemuda akhir zaman melihatnya, mendengarnya, bahkan merasakan berbagai penyakit umat ini. Maka izinkan aku bercerita tentang pengalamanku dalam melihat fenomena ini dalam kacamata sebagai pemuda.

Aku adalah pemuda yang lahir dan besar di Jakarta. Sebuah kota metropolitan yang menjadi pusat perkembangan berbagai hal, termasuk kehidupan sosial. Dalam beragamnya pergaulan di ibukota negara. Allah menakdirkan aku menjadi anak supel yang mampu menyesuaikan berbagai pergaulan. Maka jadilah aku seorang pemuda yang dapat merasakan berbagai pergaulan, baik itu anak-anak warnet yang sering main game online, anak jalanan yang kerjanya nongkrong pinggir jalan dan beberapa kali tawuran, anak band rock, anak-anak pintar yang kerjanya belajar, dan berbagai pergaulan lainnya. Semua pergaulan itu tentunya diluar aktivitasku yang juga menjalani berbagai organisasi dan ekstrakulikuler.  

Dalam beragamnya warna pergaulan maka wajar jika aku melihat berbagai kemerosotan umat. Yang anehnya pada saat itu ternyata para pemudanya (termasuk aku saat itu) mengatakan itu “keren”. Pernahkah kau melihatnya, seorang anak gadis kelas 6 SD menjadi pelampiasan syahwat para anak-anak kecil lainnya dan ternyata anak gadis itu senang?

Aku yang saat ini sesungguhnya tidak percaya, namun ternyata kehidupan masa lalu memang merekamnya sangat jelas. Ketika itu teman-teman seumuran yang kala itu berstatus siswa SMP kelas satu hingga kelas tiga sudah nongkrong di tempat biasa, di pinggir jalan belakang sebuah supermarket. Saat itu aku datang terlambat, kira-kira jam setengah 11 malam, dan langsung dikagetkan ada seorang gadis yang sudah dikelilingi teman-temanku dan melakukan ciuman bergantian dengan kira-kira ada 5 hingga 7 orang disana.

“Cewek dari mana tuh?” tanya ku penasaran.

“Katanya sih anak kampungan ******, kelas 6 tu bocah baru.” Jawab seorang temanku yang saat itu baru saja membakar rokoknya.

“Ko bisa disini tu anak?”

“Ngga tau dah, ketemu aja tadi. Di ajak nongkrong mau-mau aja die.”

“Dari jam berapa tu anak dimari?” Tanyaku lebih dalam.

“Yaelah banyak nanya amat dah lu mul. Kalo pengen gabung dah sono.” Kembali dia menjawab yang kali ini menghembuskan asap rokok dari mulutnya.

“Ogah dah, males gue sama cewek dipake rame-rame gitu.” Jawabku singkat. Hal ini tidaklah bohong. Karena pada saat itu ekspektasi wanita yang ku inginkan waktu yang tidak semua lelaki bisa memegangnya dan juga aku masih takut dosa. Maklum saja, anak pengajian. Walau ku akui banyak isi pengajian itu yang tak terserap menjadi sebuah pemahaman. Maka jadilah aku saat itu seperti remaja biasanya, walau memang tidak separah yang lain.

Ketika malam semakin larut, tahukah kalian apa yang terjadi? Teman-temanku itu semakin beringas melakukan apa yang mereka inginkan ke gadis itu. Dan yang tak habis pikir, gadis itu senang-senang saja. Hingga setelah sekian lama, seorang diantara teman-temanku menyuruh agar jangan banyak-banyak yang disini. “Dua orang aja disini, jangan kebanyakan. Nanti gantian” begitu ucapnya. Dan akhirnya kami yang tersisa berpencar. Aku yang masa bodo dan ogah ambil pusing lebih memilih pulang dan pergi kerumah. Apa yang terjadi selanjutnya? Aku tak tahu, yang pasti mengerikan jika dibayangkan.

Tidak begitu lama aku mengikuti pergaulan dijalanan seperti itu, hanya beberapa bulan saja. Karena memang ketika itu adrenalin ku sudah terpompa dalam berselancar di dunia para gamer. Kehidupan bermain game online menjadikan aku pelanggan setia di warnet dan banyak waktu ku habiskan disana. Banyak hal yang ku alami dalam menjadi anak warnet ini. Misalnya di sebuah warnet yang menyediakan jasa paket malam dan tanpa aturan membuka situs apapun. Banyak kejadian yang jika ku ingat adalah hal yang seharusnya menjadi perhatian para orangtua.

Berulang kali kutemukan, anak-anak kecil sekitar kelas 1 hingga 4 SD di warnet membuka situs-situs porno. Bahkan mereka mengetahui alamat dan cara membukanya dari mas-mas yang juga membuka situs itu. Sungguh miris rasanya jika diingat saat ini. Mengapa aku yang dulu hanya memilih untuk tak ambil pusing dan fokus kepada game yang ku mainkan? Kenapa ketika itu aku bersikap tak acuh, bukannya mengingatkan mereka?  

Sungguh masalah pornografi ini bukanlah hal yang remeh-temeh. Ini adalah masalah umat yang harus diperhatikan para orangtua. Karena itu semua itu tidak hanya merusak moral seorang anak, bahkan menurut bunda Elly Risman dapat menghancurkan lima bagian otak. Dan hebatnya masalah ini, setiap anak-anak memiliki kesempatan besar untuk mengkonsumsi gambar-gambar haram itu dengan gadget dan internet yang dengan mudah mereka akses.

Dua contoh diatas sudah menjadi gambaran betapa mengerikannya dunia anak muda masa kini. Dan diluar itu semua entah sudah berapa banyak teman-temanku yang berbangga telah melakukan hubungan badan dengan pacarnya. Entah sudah berapa banyak teman-teman yang berhenti sekolah karena mereka hamil diluar nikah. Entah sudah berapa banyak teman-temanku yang dalam depresinya meminum anggur atau menghisap ganja. Entah sudah berapa banyak teman-temanku yang direhabilitasi karena masalah narkoba, bahkan ada yang tertangkap karena menjadi bandar narkoba. Entah sudah berapa banyak kesia-sia’an dan kehancuran pemuda yang ku lihat disekitaran diriku selama hidup.

Aku mengingatnya, aku mengenangnya. Banyak diantaranya yang dulu sangat dekat. Bermain dan tertawa bersama. Namun kini mereka menjadi korban atas kebringasan dan kerasnya kehidupan jahiliyyah modern.

Dan ini semua bukanlah sebuah dongeng, ini bukanlah cerita fiktif di negeri antah berantah. Ini adalah kehidupan pemuda masa kini kita jalani. Dunia yang ku lihat dan aku berada disana, yang mungkin kalian juga menemukan hal yang lebih mengerikan dari pada ini semua.

Maka inilah masalah pemuda masa kini. Inilah penyakit yang mengidap hingga kejantung kehidupan para generasi penerus. Apakah engkau juga melihatnya?

(Bersambung)

Senin, 22 Agustus 2016

Pagi

Lihatlah keluar dan tataplah pepohonan
Ditemani desauan angin yang membelai lembut daunnya
Ia menari gemulai, rantingnya seakan melambai mesra
Menggoda untuk tidak memalingkan pandangan dari pesonanya

Lalu pejamkan matamu, dan rasakanlah
Burung-burung yang berkicauan merdu dengan ceria
Bersaut-sautan dengan sekali-kali mengibaskan sayap
Yang tiada malu menampilkan harmoni beragam nada

Dalam hembusan nafas yang kian melambat
Tenggelamkanlah dirimu dengan bisikan kata penuh do'a
Khusyuk'an hati dalam syukur dan ketundukan
Dan gamitlah pagi dengan semangat tak terkira.

#MelangkahMenginspirasi

Selasa, 02 Agustus 2016

Tuhan, Seperti Inikah Cinta? ~ (Part 1)

Siang ini hari begitu panas. Teriknya mentari seakan-akan mencubit-cubit kulitku. Perih, sangat menyengat. Sebagian diriku berusaha mencari kesejukkan dengan mengipas-ngipaskan diri dengan buku yang ku bawa. Dan sebagian lainnya menyesal, mengapa hari ini aku memilih polo berlengan pendek, bukan kemeja panjang.

Di tempat duduk di koridor gedung perkuliahan, aku terduduk sambil meminum teh kemasan botol dingin yang baru saja ku beli. Sejuk, lumayan untuk mengobati panas yang memeluk diri.

“Ketua.... Ketua...” Dari sebelah kiri terdengar suara seorang lelaki memanggilku. Dan dengan sekejap kepala ini juga menengok ke arahnya.

“Wah ketemu sama ketua disini, lapor ketua, anggota udah lengkap ketua. Yang daftar udah pas. Bagusnya dalam waktu dekat kita lakukan rapat.” Rupanya itu suara Bima, sekretaris  dalam project event sosial yang sedang aku jalani.

“Wah bagus, berapa jumlah panitianya?” Tanya ku singkat.

“Nambah lima belas orang. Jadi anggota kita sudah dua puluh tujuh orang ketua. Oh iya, kira-kira kapan kita bisa rapat? Besok? Lusa?”

“Lusa InsyaAllah, jam 16.30 ya di taman depan fakultas Ilmu Budaya. Bisa kamu kasih infonya ke anggota baru dan temen-temen lainnya?”

“Wah pas ketua, siap laksanakan”

Aku tersenyum dan mengangkat jempol tanda apresiasi dengan semangatnya. Bima sosok yang tak pernah hilang semangat dalam dirinya. Walau kadang suka panik dalam beberapa hal, ia adalah seorang yang cekatan dan rapi dalam administrasi, sangat cocok dengan jurusannya di Akuntansi. Berbeda dengan ku yang agak kurang rapi dalam arsip mengarsipkan.

“Oh iya ketua, ada anak MIPA yang badai.”

“Heh? Maksudnya Bim?”

“Namanya Bella, katanya dari Bandung. Wiiih putih, cantik, mulus, bohay, fashionable, rambutnya panjang. Pokoknya badai deh. Ketua pasti tertarik ngeliatnya”

“Hadeeh, udah jadi presenter infotainmet kamu sekarang Bim?”

“Ya kali ketua tertarik, kalo kagak aku yang samber nih.”

“Samber, samber, emang listrik apa. Yaudah sampai ketemu lusa ya, tolong juga kasih tau siapa yang konfirmasi izin. Oke?”

“Oke sip ketua, aku ke jurusan dulu ya.”

Aku mengangkat tangan kanan ku dan tersenyum. Kini Bima berjalan dengan langkahnya yang terlihat ceria. Cukup cepat hingga dirinya menghilang. Sedangkan aku tetap terduduk disini, dengan hikmat meminum teh dingin berkemasan botol  dengan sesekali mengusap muka yang sudah banyak mengelurakan keringat.

Aku mendongak ke atas, dan melihat sekeliling. Banyak mahasiswa – mahasiswi yang bercengkrama. Di ujung sana ada sekelompok mahasiswi, bersenda gurau. Sepertinya pembicaraannya menarik, hingga dari kejauhan saja, sangat terlihat bahwa mereka bahagia dengan pembicaraannya. Apakah dia membicarakan ketampanan lelaki seperti Bima yang membicarakan kecantikan wanita?

Huft, cantik? Ganteng? Entah dari mana standarisasi tentang kedua hal ini ada. Apakah putih dan mulus seperti yang diucapkan Bima dan berbagai iklan kosmetik di televisi? Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak putih dan mulus. Padahal putih dan mulus itu adalah stereotip yang dipaksakan penjaja kosmetik kepada manusia Indonesia agar terpengaruh dan membeli jualannya.

Karena kebanyakan wanita Indonesia berkulit kuning langsat, sawo matang, coklat dan lain-lain. Makanya penjual kosmetik Indonesia membuat definisi cantik itu ya putih. Karena jika cantik itu kuning langsat udah banyak di Indonesia dan dagangannya gak akan laku. Itulah mengapa, artis-artis dan bintang iklan kosmetik banyak yang putih. Agar para lelaki tersihir agar mengatakan yang putih seperti itu yang cantik. Dan para wanita juga terpengaruh agar menjadi putih mulus seperti bintang iklan tersebut agar terlihat cantik dimata lelaki.

Dan seketika aku teringat Agnes Monika. Dia cantik dalam definisi orang Indonesia (lebih tepatnya penjual kosmetik Indonesia). Agnes adalah wanita yang berkulit putih, mulus dan cantik. Namun lihat ketika dia memutuskan go internasional. Kulitnya yang putih ia ubah menjadi coklat. Mengapa? Ya karena wanita berkulit putih di Amerika adalah hal yang lumrah. Dan jika mereka (penjual kosmetik) mengkampanyekan cantik itu putih, ya tidak laku barang dagangan mereka. Oleh karena itu penjual kosmetik mempropaganda warga Amerika, cantik itu coklat seperti halnya Beyonce, Rihana dan lainya. Itulah salah satu alasan mengapa kulit Agnes Monika coklat di penampilan internasionalnya.

Menarik bukan? Cantik definisi ini untuk keuntungan ekonomi beberapa pihak dan tentunya sangat tak adil. Semoga aku berusaha agar tak termakan propaganda ini.
Dalam lamunan panjangku, aku tersentak mengingat bahwa ada jadwal kuliah dalam waktu dekat. Ku lihat jam tanganku, waktu sudah menunjukkan 13.36. Terlambat enam menit,  saatnya masuk kelas kembali.
                                                                        ***

Rapat sudah di mulai 15 menit yang lalu. Kini Kirana, koordinator bidang acara sedang menjelaskan gambaran projek sosial yang akan kita laksanakan ke teman-teman yang sedang bergabung. Aku yang juga pemimpin rapat saat ini dalam posisi memperhatikan.

“Ya sampai disini ada tanggapan dan pertanyaan?” Tanya kirana

“Aku kak?” seorang mahasiswa mengangkat tangan.

“Ya silahkan” Aku mengizinkan.

“Wah bagus kak, kalo gitu acara yang kita buat seharusnya pasca event ada lagi follow up-nya. Biar impact nya lebih besar dan suistainable.” Mahasiswa itu memberikan tanggapannya.

“Ketua aja yang jawab” Minta kirana kepada aku.

“Nah bener teman-teman, event ini hanya sebagai langkah awal. Abis ini kita akan buat sebuah gerakan yang terprogram dengan baik. Agar potensi-potensi yang telah dijelaskan kirana tadi bisa kita kembangkan secara maksimal. Oleh karena itu tingkat kesuksesan event ini, mempengaruhi langkah kita kedepannya.” Jelas ku.

Rapat berjalan sangat baik, beberapa anggota baru itu cukup kritis dan memberikan masukkan yang baik. Hingga sepuluh menit kemudian Bima yang berada di sampingku berbisik kepadaku.

“Ketua, itu yang namanya Bella baru dateng.”

Mata ku tertuju kepada tiga mahasiswa yang sedang berjalan menuju forum rapat. Aku melihat sekilas, tak begitu memperhatikan. Lalu kembali fokus kepada penjelasan ide seorang mahasiswi yang juga anggota baru.

“Assalamu’alaikum” Ucap salah seorang mahasiswa yang tadi berbarengan langkah dengan Bella.

“Wa’alaikumsalam” beberapa peserta rapat menjawab.

“Gimana ketua? Badai kan?” Bima berbisik, pelan.

Kali ini aku tak begitu mendengar suara Bima. Tanpa aba-aba yang ia ucapkan perhatianku sudah sepenuhnya teralihkan. Tertuju kepada salah seorang dari tiga orang yang baru saja datang. Bukan, bukan kepada Bella yang dengan rambut panjang tergerai, kemeja dan jeans yang cukup ketat. Dan tentunya dempul muka yang terlihat ia sangat lihai dalam berdandan. Sungguh bukan kepada dia yang mungkin bisa menarik perhatian yang lain.

Mata ini sungguh telah terfokuskan kepada seseorang yang membersamainya, gadis berkaca mata yang menggunakan jilbab hijau terulur panjangg hingga menyentuh bagian pinggangnya. Cardigan hijau lumut yang ia padukan dengan gamis hijau entah bagaimana serasi dimataku. Teduh, bagai melihat pepohonan rimbun dalam savana yang luas di tengah hari yang terik.

Nafas ku tertahan, jantungku berdegub kencang. Dia dengan sempurna  membuat aku merasakan ke anehan yang ku rasa belum pernah terjadi sepanjang hidupku dalam 15 detik terakhir.

“yee.. Jangan di liat mulu Bella-nya. Fokus ketua.” Bima menyadarkanku dengan sikutnya yang mengenai perut ku bagian samping.

“Siapa si yang ngeliatin Bella. Udah-udah ah bahas ceweknya. Orang lagi rapat tu fokus Bim.”

Aku coba kembali memfokuskan diri dalam suasana rapat. Kirana masih menjelaskan beberapa hal. Sebagian peserta rapat sesekali mengangguk-angguk, termasuk dia. Ya dia, entah bagaimana dia terasa berbeda. Aura macam apa yang terpancar darinya. Dan mata itu, mata sendu itu bagaimana bisa mengambil alih perhatianku? Dan bagaimana bisa juga ketukan jantung ini menjadi tak beraturan dan begitu cepat.

Oh Tuhan, mengapa juga terlalu banyak pertanyaan? Seperti inikah cinta?

(Bersambung) 


gambar