Rabu, 16 September 2015

Hujan yang Indah, Walau Tidak Bulan Juni

Siapa yang tak mengira kedatanganmu. Tanpa permisi kau hadir. Membawa kesejukkan, membawa kesyahduan.

Kau warnai kesunyianku dengan melodimu. Kau harmonikan kesepianku dengan simfonimu. Kau gubah kesendirian ini dengan alunan nada yang menggugah.

Maka tiadalah yang lebih tabah dari mu. Karena siapa pula yang dapat merahasiakan rintik rindunya kepada bunga? Karena rindu merupakan hal rumit yang tiada terkira. Ia memberontak dalam dada. 
Menyiksa hati yang menyimpan kuat rasa itu.

Ia bawa diri ini berlayar dalam lamunan panjang. Ia tarik diri ini dalam ribuan tanya akan sosok kehadirannya.

Biarkan diriku menjadi bunga yang menyerah dalam kerinduan. Termangu dalam kekuyupan rindu yang mengguyur dan dengan tabahnya menyembunyikan rasa itu dalam kelopakku.

Aku kebingungan, aku tak berdaya. Tak kuasa diri ini berjalan dengan pasti karena aku tertawan. Ya, aku tertawan dalam penjara yang tiada penjara lebih indah darinya. Kau menawanku dalam setiap untaian katamu, kau menawan ku dalam setiap sikapmu, dan kau menawanku dengan segala tentangmu.

Dan sempurna kau membuatku gugup. Hingga setiap langkah kaki yang kugerakkan, selalu ditemani dengan keraguan.

Bijaklah hujan itu. Ia hapuskan jejak kaki keraguan itu dalam sepanjang jalanku. Walau kadang butiran cinta juga terhapus bersama jejak yang ku torehkan.

Maka, dalam gejolak yang mengaduk-aduk hati ini. Aku memilih untuk diam. Karena memang tak semua yang kita rasakan harus terucapkan.

Mungkin sebagian rasa begitu mengagumkan bila tersampaikan. Namun sebagian lain bisa lebih mempesona bila tak terungkap. Ia tertata rapi dalam keterdiaman. Walau kadang diri tenggelam dalam tak berdayaan.

Maka tiada yang lebih arif darinya. Ia biarkan kata-kata yang tak terucap. Terserap oleh akar-akar pohon bunga. Sampai Sang Maha Kuasa menghilangkan kata itu untuk dilupakan. Atau mengambilnya kembali untuk di reaslisasikan dibumi.

Hingga pada akhirnya, ku ingin berterima kasih kepada hujan. Ia tentramkan diri yang terpaku dalam kesenduan. Ia luruhkan segala rasa untuk menyerah yang dulu makin menderas.
Ia buat ini menjadi semakin indah. Walau ia tak jatuh di bulan juni.

Azmul Pawzi
- Sebuah Interpretasi Puisi Sapardi Djoko Damono berjudul hujan bulan juni -
 

Selasa, 15 September 2015

NU, Jenggot dan Islam Nusantara


Nahdatul Ulama merupakan salah satu organisasi tertua dan terbesar di Indonesia. Jasa NU dalam dakwah islam yang tertanam dalam pesantren-pesantrennya sehingga menghasilkan ulama-ulama tak perlu kita pertanyakan. NU itu sendiri didirikan oleh seorang ulama luar biasa bernama Hasyim Asy’ari. Beliau terinspirasi dari Muhammad Abduh yang sedang nge-trend kala beliau sedang mencari ilmu di mekkah.  Hingga kala pulang kampung ke Indonesia, akhirnya beliau mendirikan NU dengan salah satu semangat memurnikan islam.

Saya termasuk pengagum Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Beliau adalah sosok ulama besar patut kita ambil hikmah dari nasihat, kebiasaan dan perbuatannya. Namun akhir-akhir ini saya sedikit prihatin terhadap tubuh NU itu sendiri terutama bagian kepala (baca: Ketua). Tentu saja, Pak Said Aqil Siradj yang merupakan ketua NU menyampaikan sesuatu hal yang menyinggung ajaran umat islam. Yang dimana ajaran itu di laksanakan oleh bapak pendiri organisasi yang dipimpinnya.

Said Aqil dalam ceramahnya menyampaikan “Orang berjenggot itu mengurangi kecerdasan”, Ia juga menambahkan “Gusdur tidak berjenggot, Nurcholis Madjid tidak berjenggot, Quraish Shihab tidak berjenggot, yang cerdas-cerdas tidak berjenggot”.  Dan kalimat yang sungguh sangat melecehkan sunnah Rasulullah itu “Semakin Panjang Jenggotnya, Semakin Goblok”. Astaghfirullah aladzim. Semoga Allah mengampuni beliau. Karena menghina sunnah nabi adalah sebuah dosa. Dan kita juga berdoa kepada Allah agar kita semua senantiasa taat patuh kepada-Nya dan mengamalkan sunnah-sunnah rasulnya.

Saya sungguh tak habis fikir. Bagaimana bisa hal ini disampaikan seseorang yang dengan kedudukan ketua NU. Beliau menggembor-gemborkan Islam Nusantara. Mengatakan bahwa jenggot adalah arabisasi. Mengatakan bahwa islam nusantara memiliki kepribadian tersendiri. Dan memburukkan jenggot.

Sungguh jenggot adalah sunnah nabi yang secara jelas disampaikan nabi tanpa ambigu sedikit pun. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah bersabda“Potong pendeklah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.”. Sungguh para ulama sepakat ini, dan sabda nabi ini tak bisa dibandingkan dengar perkataan ulama seperti apa yang dilakukan para pembela  Said Aqil. Maka sebagai seorang muslim, tak pantas bagi kita mengolok-olok sunnah Nabi Muhammad SAW. 
 
Dan bila kita melihat dalam konteks NU itu tersendiri, KH. Hasyim Asy’ari berjenggot. Dan para penyebar islam di Nusantara, khususnya Wali Songo seperti Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri dan berbagai ulama penyebar islam di nusantara juga berjenggot. Karena jenggot ini adalah sunnah islam.

Pernyataan jenggot mengurangi kecerdasan dan dibandingkan dengan orang-orang cerdas di Indonesia yang tak berjenggot, sungguh sebuah ungkapan yang tak bisa di pertanggung jawabkan. Bila Pak Said Aqil mengatakan orang berjenggot kurang cerdas. Padahal Imam Syafi’i, ulama yang madzabnya dipakai anggota-anggota NU memiliki jenggot yang lebat. Dan saya berani dan memastikan bahwa kecerdasan Imam Syafi’i jauh di atas orang-orang yang dicontohkan Pak Said. Dan tentu sangat jauh diatas Said Aqil Siradj yang nyeleneh bilang orang berjenggot goblok.

Bahkan KH. Hasyim Asy’ari itu sendiri adalah ulama yang berjenggot. Ulama-ulama Indonesia lainnya seperti KH. Ahmad Dahlam juga berjenggot. Mereka adalah ulama yang sudah masyur di bumi nusantara dengan kecerdasannya. Tidak goblok dan kurang cerdas seperti apa yang diucapkan Bapak Ketua NU tersebut.

Saudara ku semua, dalih arabisasi yang dipakai Said Aqil Siradj dan berbagai tokoh yang menggaung-gaungkan islam nusantara sesungguhnya merupakan langkah-langkah untuk menjauhkan kita dari ajaran Rasulullah SAW. Mereka ribut akan penampilan bahwa memakai jubah dan berjenggot itu arabisasi dan harus di tentang karena berlawanan dengan islam nusantara dan kepribadian bangsa. Namun mereka diam akan westrenisasi, amerikaisasi, koreaisasi dan berbagai fashion dan lifestyle lain menyerbu muslim Indonesia. Padahal serangan itu lebih membahayakan dari pada menyalah-nyalahkan ajaran Rasulullah.

Dan sesungguhnya, islam nusantara yang mereka gembor-gemborkan juga tak sesuai dengan islam itu sendiri. Karena Islam adalah agama yang universal. Dan dalam bahasa islam tak dapat disandingkan dengan kata apapun. Bila islam disandingkan dengan kata apapun, itu akan menyempitkan arti islam itu sendiri. Sebagai contoh motor. Bila kita menyandingkan kata motor dengan bebek sehingga menjadi motor bebek, ini akan menyempitkan arti motor itu sendiri.

Maka sesungguhnya, islamyang sebenarnya adalah islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah. Tidak ada islam nusantara, islam arab, islam jawa, islam minang, islam korea, islam amerika, islam eropa, islam syiah, islam liberal dan islam-islam lainnya. Karena islam hanya satu, yaitu yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Bila dalam Al-Qur’an diperintahkan sesuatu, bila dalam Hadits di sunnahkan. Maka kita harus taat dan tidak boleh mengolok-ngoloknya.

Semoga kita dijauhkan dari propaganda-propaganda yang menjauhkan kita dari islam. Dan kita senantiasa berdo’a agar Nahdatul Ulama terselamatkan dari paham-paham orang ingin menyimpangkan pemahaman muslim Indoneisa. Dan NU menjadi organisasi yang membawa kemurnian islam. Islam yang sesuai Perintah Allah dan Rasul-Nya, sebagai mana mimpi KH. Hasyim Asy’ari ketika mendirikan NU.

Azmul Pawzi  (Ketua Komisi A FSLDK Sumbar)

Sabtu, 12 September 2015

Rembulan yang Dirindui (1)

Siapa yang tak mengenalnya? Pemuda cerdas yag berdiri tegap itu, Ya, aku mengenalnya. Bahkan melebihi mereka-mereka yang setiap hari membicarakannya. Juga melebihi mahasiswi-mahasiswi yang berulang kali ku dengar berbincang tentangnya. Aku mengenalnya, karena memang tidak mungkin ku tak mengenalnya. Namanya terdengar syahdu. Ia menjadi kebanggaan kawan-kawannya, terutama teman-teman se-fakultasnya. Dan tentu saja, teman sefakulyasnya adalah teman sefakultasku.

 
Ia, seorang lelaki yang wajahnya bagai mentari yang menyinari semesta. Senyumnya membakar semangat. Tutur katanya halus dan penuh hikmah. Teman, senior dan junior telah banyak meneguk inspirasi darinya. Matanya tajam namun teduh. Menyorotkan sebuah kepedulian. Hingga gerak-geriknya ia lakukan untuk sesama.

Maka tak mengherankan, ia di tunjuk sebagai ketua himpunan dan melanjutkan menjadi ketua organisasi kepemudaan tingkat provinsi yang senantiasa bergerilya berjuang untuk masyarakat. Ya, aku menyaksikannya. Aku menyaksikannya sejak ia berproses di himpunan dan organisasi kepemudaan itu. Aku menyaksikannya sebagai anggota. Ia memiliki kepemimpinan mempesona, pengelolaannya rapi, orasinya menggelora. Tak mudah menemukan seseorang sepertinya.

Dan kini, di bandara ini, pemuda itu berada di hadapanku. Tidak, tidak, tidak hanya di depan ku. Lebih tepatnya di hadapan teman-temannya yang lain. Bahkan ia tak tepat di depanku. Karena aku lebih memilih untuk tak mendekatinya. Dan berdiri di kerumunan belakang. Tak kuasa rasanya tubuh ini berhadapan dengannya. Bahkan sampai detik perpisahan ini, aku tak pandai berbasa-basi dengannya walau hanya sekedar kalimat indah perpisahan. “Selamat tinggal dan hati-hati”, hanya itu yang ku ucapkan, tiada yang istimewa. Namun kau menyambutnya dengan senyum, senyum bagai sinaran mentari yang membuatku tak sanggup menatapnya dan memilih menunduk.

Beberapa saat berlalu, kau akhirnya berbalik, menuju ruangan untuk mempersiapkan mu terbang tinggi. Jauh, hingga mungkin ku takkan bertemu denganmu. Engkau pergi, dengan membawa tas penuh dengan mimpi untuk di realisasikan.

Langkahmu pasti, derap langkahmu mantap. Aku mengingatnya, dengan mata penuh harapan. Kau berulang kali kau mengulang ini, mimpi-mimpi mu yang akan kau torehkan pasca wisuda. Kau sampaikan dengan menggelora di berbagai pelatihan, kau ungkapkan dengan semangat pada motivation training. Hingga kini kau mendapatkannya, mimpi untuk ke negara kincir angin untuk melanjutkan studimu akhirnya kau raih. Hingga satuan gerak kakimu membuat kau jauh, jauh, dan mengecil hingga kau hilang dari pandanganku. Dan benar, sosok mu sudah tak terlihat, lenyap tak berbekas.

Aku tak menangis, sungguh. Bahkan berkaca-kaca saja tidak. Aku masih dapat tersenyum. Walau ku akui, ada suatu hal yang berguncang dibenak ini. Cukup keras, hingga sakit dada ini. Guncangan yang tak ku sangka bisa sebesar ini.

“fira.... fira...” Rahel memanggilku, memecahkan segalanya.

“yeee.... dia ngelamun, dah ikhlasin aja Ka Rizki itu pergi.” Lanjutnya

“Apaan sih lu, siapa juga yang ngelamunin dia.” Jawab ku cuek

“Yaudah, kita balik yuk. Anak-anak ngajak makan tuh” Ajak rahel kepada ku.

Aku pun mengangguk dan mengikuti langkahnya.
***
         
       “Kadang kita harus membuat jarak dengan seorang yang kita cintai untuk saling menjaga”. Pernah ku mendengar ungkapan itu, sebuah ungkapan yang mengitari isi kepalaku. Sebuah ungkapan yang menegaskan bahwa kita harus menjarak untuk saling menjaga. Agar tiada yang tersakiti, dan agar tiada yang di murkai oleh-Nya.
        
        Karena mungkin rasa yang bergejolak dalam jiwa ini membuat kita ingin mendekatinya, berbicara dengannya, bersenda-gurau dan berjalan bersamanya. Namun kita harus mengetahui, saat kita mendekatinya, itu akan menjadi jalan awal kenestapaan kita. Itu bisa menjadi nelangsa dalam hidup kita. Kita rapuh, serapuh iman kita karena berdekatan dengannya. Kita ringkih, seringkih ketaatan kita kepada Sang Maha Kuat karena gurauan bersamanya.
          
Maka, kita harus mencontoh sang bumi. Karena cintanya kepada matahari, ia jauhkan dirinya. Agar tiada yang tersakiti, agar tiada yang tercerai-berai. Ia menjarakkan tubuhnya agar dirinya tak hancur, rusak berkeping-keping. Ia rela. Rela untuk menjaga dirinya dan matahari dari kehancuran.

Lalu sambil membuat jarak kita tersebut, kita berdo’a kepada-Nya. Agar cinta yang mengakar dalam itu, dapat terrealisasikan. Agar mentari yang panas itu, diubah-Nya menjadi rembulan. Agar ia dapat berlari riang menemani bumi menjalani orbit hidupnya. Agar ia dapat menerangi bumi dalam kegelapan. Selama-lamanya, hingga Allah menentukan waktu keberpisahan.
  
        Menjarak untuk sebuah keterjagaan. Itu yang ku lakukan sejak ku melihatnya. Walau perih, walau sulit. Semua rasa itu, ku simpan rapat dalam hati dan ku jaga dalam-dalam. Karena Allah punya jawaban. Karena Sang Maha Indah memiliki skenario yang tentu indah nanti. Entah matahari itu tetap menjadi matahari. Atau ia berubah menjadi rembulan nan cantik parasnya.
          
      Biar ku disini, berjalan seorang diri, melihat mentari ku dari kejauhan, diam dan berulang kali menggamitkan untaian do’a. Agar rembulan yang dirindui itu hadir untuk menjawab segala jawaban. Agar rembulan itu datang untuk menghapuskan kesendirian.  (to be continue...)

Selasa, 08 September 2015

Untukmu Mahasiswa Baru, Ini 7 Hal yang Buat Kamu Jadi Mahasiswa Keren

Kala menapakkan kaki kita di kampus pertama kali. Pasti kita punya banyak keinginan dan mimpi untuk di capai. Lulus cepat atau memiliki kemampuan yang tentu bisa digunakan untuk kehidupan pasca kampus. Tapi terkadang kita bingung apa aja sih hal yang harus kita capai agar kita jadi mahasiswa keren dan tentunya kompetitif dalam dunia pasca kampus nanti. Ini 7 hal yang menurut saya kudu kamu penuhi selama di kampus.

1. Akademik yang Baik


Pict By Google
Jadi mahasiswa ya tugasnya belajar, masuk kuliah, ngerjain tugas dari dosen, buat paper, praktikum, asistensi dan lain-lain. Itu sudah barang wajib yang dijalani mahasiswa. Tujuan  kita kuliah tentu ingin memiliki kemampuan hard skill yang mumpuni sesuai jurusan yang kita ambil.
Nilai akademik yang baik tentu menjadi hal yang harus kita capai. Sekarang hidup susah bro, nilai bagus aja susah nyari kerja, apalagi nilai jelek.  Kalo ada yang bilang, banyak orang yang IP-nya kecil bisa sukses. Ya jangan telen mentah-mentah. Nasib tiap orang beda-beda. Jangan ada terlintas di keinginan kamu mau IP jelek. Kalo denger berita kayak gitu, fikirkan saja, IP jelek aja bisa sukses, apalagi IP Bagus. So, kuasai bidang yang kau pelajari dan baguskan nilai akademikmu.

2. Pengalaman Organisasi yang Dahsyat


Pict By FSLDK
Kemampuan memimpin, dipimpin, mengelola sebuah tim, tanggung jawab kerja dengan ritme tinggi adalah sekelumit hal yang tidak dapat kamu raih di bangku-bangku kuliah. Semua itu hanya dapat kamu dapatkan dengan aktif organisasi. Maka barang tentu untuk mendapatkan hal itu, kamu harus ikut organisasi.
Kamu bisa masuk organisasi sesuai minat kamu. Di kampus kan terdapat banyak organisasi, baik dalam bidang keagamaan, olahraga, kesenian, kajian, budaya, politik, dan organisasi umum. Nah, kamu bisa pilih organisasi yang kira-kira bisa meningkatkan kemampuan dan bakat kamu.
Dengan banyak pengalaman organisasi, sudah barang tentu kamu bisa meningkatkan kemampuan public speaking kamu, daya kritis, manajemen waktu, kepemimpinan dan lain-lain.

3. Prestasi yang Oke


Hasrat untuk berprestasi dalam diri adalah hal-hal yang harus kamu penuhi. Selagi masih mahasiswa, segala peluang untuk memenangkan berbagai ajang perlombaan dan kejuaraan terbuka lebar bagi kamu. Maka jangan kamu sia-siakan kesempatan ini. 

Kamu bisa ikut PKM untuk tembus ke PIMNAS, atau jika kamu jago dalam bela diri atau keolahragaan lainnya, kamu bisa berprestasi dalam bidang itu. Jika kamu suka menulis, kamu bisa berprestasi dalam bidang menulis dan karya ilmiah. Kamu yang suka bicara, bisa ikut lomba pidato atau debat. Dan banyak bidang lainnya.
 Cari kemampuan, minat dan bakat mu. Dan berprestasilah.

4. Mengikuti Berbagai Pelatihan, Seminar dan Pengembangan Kemampuan Lainnya


Saat ini pelatihan untuk mahasiswa sudah sangat banyak. Baik tingkat Kampus, Daerah, Nasional bahkan Internasional. Kamu bisa mengikutinya. Tinggal kamu lagi yang mau atau tidak.
Mengikuti pelatihan, seminar, meneguk inspirasi dan hikmah yang disampaikan para pemateri. Merupakan hal yang bisa kamu cari selama kuliah.  Semakin luas tingkat pelatihan yang kamu nikmati, semakin melimpah ilmu yang kamu dapat, semakin banyak teman sepelatihan yang kamu kenal.

 

5. Aktif Kegiatan Sosial Kemasyarakatan 

Pict By FKI Rabbani

Tugas mahasiswa sebagai Agent of Change, Social Control, dan Iron Stock tidak hanya di kampus-kampus saja. Kalo kata Anies Baswedan, "Mereka harus berkompetensi Internasional namun memiliki rasa kesetaraan akar rumput." 

Mahasiswa harus bergerak untuk masyarakat sejak ia masih menjadi mahasiswa. Maka dari itu teman-teman bisa membuat kegiatan yang dapat membangun masyarakat. Tidak hanya bakti sosial, teman-teman bisa buat komunitas untuk kota yang lebih hijau, teman-teman bisa buat gerakkan membaca, teman-teman bisa buat kegiatan peningkatan SDM anak-anak kecil di kota teman-teman. 
So, banyak gerakkan pembangunan masyarakat yang bisa kamu coba di daerahmu.

 

6. Membangun Jaringan yang Luas

 
Pict by google

Selama kuliah adalah saat yang tepat untuk memperbanyak teman, rekan kerja. Jangan sampai sampai kamu lulus kuliah. Kamu cuma kenal sebatas teman satu kelas, jurusan atau fakultas saja. Kamu bisa membuat jaringan teman hingga se kampus kamu, se kota kamu. Bahkan seluruh Indonesia.
Jaringan ini penting untuk mu untuk menghadapi kehidupan pasca kampus. Entah kamu mau bekerja atau membangun usaha. Dengan jaringan ini, bisa memudahkan kamu. Banyak teman, banyak rezeki.

Oh iya, jaringan luas ini bisa mempermudah kamu yang suka travelling. Terutama kamu yang suka travelling dengan dana pas-pasan. Setidaknya jika kamu memiliki jaringan yang menyebar tiap provinsi, bisa memudahkan kamu untuk tidur "gratis".
Dan bisa bilang ke orang tua pas kamu mau jalan-jalan , "Tenang aja bu, teman aku ada di setiap provinsi di Indonesia. Bahkan di Merauke sekalipun."
 

7. Ibadah yang Mantap

Pict By Google

Inilah hal mendasar. Percuma kamu memiliki kemampuan dan kehebatan lainnya jika kamu jauh dari Tuhan yang Maha Esa. Seluruh kehidupan kamu bisa dijadikan ibadah. Kuliah mu, bisa jadi ibadah. Semua kegiatan kemahasiswaan kamu bisa kamu jadikan ibadah. Jangan kamu kotori dengan perbuatan yang membuat Allah murka. Kayak Mencontek, Titip Absen, Pacaran, dan maksiat lainnya.
Tentunya Ibadah mahdhah seperti shalat wajib di awal waktu (berjamaah untuk cowok), shalat dhuha, shalat malam, tilawah qur'an, puasa sunnah dan ibadah lainnya juga kamu lakukan. Biar kamu tidak cuma keren di mata manusia. Tapi juga keren di mata Allah.


Finally, semua itu bisa kamu dapat semasa kamu kuliah. Tentu dengan mengurangi hidup santai mu, mengurangi main-mainmu. Serta memaksa mu untuk keluar dari zona nyaman mu.
Karena tidak ada pencapaian yang dicapai tanpa pengorbanan dan perjuangan. Berjuang untuk masa depan mu, untuk kebahagiaan orang tua mu, untuk agama dan bangsamu.
Semoga Allah meridhoi dan memudahkan langkah-langkah kita.
Semangat !!!!!! ^_^

Selasa, 25 Agustus 2015

Menyatu

Karena pada dasarnya kita diciptakan berbeda.
Aku adalah kiri, kau pun kanan.
Kita layaknya dua sisi yg berlawanan.
Kau berjalan dijalanmu, dan aku berjalan di jalanku.

Namun, aku tau pasti. Bahwa suatu saat nanti.
Perbedaan ini menjadi penyatu yang indah di jalan itu.
Jalan yg mempertemukan jalan mu dan jalanku.

Hingga pada waktunya, kita akan berjalan beriringan, melangkah bersamaan.
Juga pada satuan detik itu, kita seperti layaknya kaki yang berpasangan.
Kau tanpa aku adalah sebuah kepayahan.
Aku tanpa kamu adalah sebuah kepincangan.
Kita saling menyempurnakan dalam berbagai sisi kehidupan.

Maka sampai saatnya tiba.
Kita biarkan saja rasa yang membuncah itu dalam keterdiaman.
Tak perlu berkobar kuat hingga banyak pasang mata yg melihatnya.
Tak perlu ia melengking tinggi hingga ribuan pasang telinga mendengarnya.
Biarkan ia tersusun rapi dalam ridho-Nya.

Karena memang pisah memiliki teman bernama temu. Dan sepi memiliki teman bernama kebersamaan.
Dan keberpisahan dalam kesepian ini akan terbayar suatu saat nanti dengan pertemuan yang meneguhkan kebersamaan yang suci.

Aku kiri, dan kau pun kanan. Dan suatu saat nanti, Dia akan mempertemukan langkah-langkah berbeda kita. Dalam kesatuan yang harmonis dan tentunya indah dalam ketenangan cinta keberkahan.

#MelangkahMenginspirasi
Azmul Pawzi


Kenapa Rupiah Melemah Terhadap Dollar?


Gonjang-ganjing turunnya nilai mata uang negara kita terhadap dollar yang menerobos angka Rp 14.000 semakin marak di masyarakat kita. Masyarakat cemas dan khawatir akan keadaan ini. Walau sebagian orang tak paham akan keadaan yang melanda kurs mata uang kita ini. Namun mereka merasakan dari naiknya Sate Padang, Bakso, hingga rendang di rumah masakan padang yang ukurannya semakin imut.


                Disini saya mencoba mengulas sedikit, kenapa rupiah menurun nilainya. Atau dalam bahasa ekonominya, rupiah terdepresiasi. Pembahasan kali ini tidak mendalam dan panjang lebar. Saya akan mencoba se-sederhana mungkin agar dapat dipahami oleh kita semua dan tidak ngantuk membacanya.

Turunnya nilai mata uang tidak hanya dirasakan oleh bangsa kita saja. Banyak negara-negara lain yang merasakan. Baik Malaysia, Turki, Brazil, India dan lainnya. Hal ini disebabkan karena membaiknya perekonomian Negara Amerika sejak krisis global tahun 2008. 

Amerika cukup “tertampar keras”dalam krisis 2008. Hingga pada akhirnya mereka mengambil kebijakan untuk menstimulasi perekonomian dengan menyuntikkan dollar dengan wadah obligasi yang dikenal sebagai quantitative easing. Dana stimulasi ini di investasi ke negara-negara berkembang termasuk ke Indonesia. Dan Amerika mendapat keuntungan dengan sistem ini cukup besar.

Setelah perekonomian amerika  membaik. Mereka ingin mengurangi stimulus dengan mengurangi pembelian obligasi secara bertahap. Kebijakan ini dalam bahasa ekonominya adalah  tapering off.

Nah, lalu apa dampak dari kebijakan ini? Dollar yang parkir di Indonesia dalam memodali perekonomian Indonesia pada pulang kampung dan meninggalkan Indonesia. Modal-modal yang nangkring mulai pergi, atau bahasa ekonominya capital outflow. Sehingga dollar menjadi langka dan permintaan akan dollar meningkat. Sudah hukumnya kalo permintaan meningkat maka nilainya akan naik. Maka ini yang membuat Dollar terapresiasi sehingga nilai mata uang di negara berkembang termasuk di Indonesia menurun.

Keinginan Bank Sentral Amerika, The Fed untuk menaikkan suku bunga juga menjadi salah satu faktor. Amerika yang mengurangi inflasi karena berkurangnya pengangguran membuat mereka berencana menaikkan suku bunga. Rencana ini juga yang membuat dollar naik nilainya.

Di tambah lagi keadaan dalam negeri Indonesia yang juga rapuh. Terlalu banyak modal asing yang lalu lalang di negara ini. Sehingga ketika modal itu pergi, maka lesu dan bahkan bisa pingsan perekonomian kita. 

Dampak dari defisitnya neraca perdagangan, atau bahasa simpelnya impor lebih besar dari ekspor selama 3 tahun terakhir, juga membuat rupiah menjadi lemah. Karena bila impor banyak, maka permintaan akan rupiah menurun. Ya juga sudah hukumnya kalo permintaan menurun, nilai juga turun.

Sebenarnya masih banyak faktor lainnya. Namun ini saja dahulu untuk menjawab sedikit pertanyaan dalam hati teman-teman. Jadi, memang benar faktor eksternal mempengaruhi dalam turunnya nilai mata uang kita. Tapi pemerintah harus cepat tanggap dalam menanggulanginya. Karena angka 14 ribu bukanlah kecil. Ia menjadi rekor terburuk pasca reformasi. 

Pemerintah harus bergerak, agar PHK yang terjadi di berbagai sektor industri dapat terhentikan, harga-harga yang melambung dapat di normalkan serta sate padang yang dagingnya mulai imut-imut mulai seperti sedia kala. Sekian ^_^.

Azmul Pawzi


Senin, 17 Agustus 2015

Bukankah?


Bukankah cinta memiliki teman bernama benci?
Lalu mengapa hujan selalu menjadi melodi sendu dalam gemuruh jiwa

Bukankah senyum memiliki teman bernama tangis?
Namun mengapa langit tak berbintang tetap menjadi ejaan hati yang tertusuk sembilu

Bukankah temu memiliki teman bernama pisah?
Lalu mengapa kelabu masih menjadi penjelasan aksara perih tanpa rasa

Terlalu banyak mengapa ketika kau tak mangerti apa yang kau hadapi

Karena ini bukan tentang kekosongan yang hampa tanpa ujaran
Ini tentang dimana mendung yang tiada hentinya memenuhi ruang otak.

-Azmul Pawzi-

Minggu, 16 Agustus 2015

Merdeka dari Kebodohan


70 tahun bukanlah angka yang muda untuk sebuah negeri. Ia telah bertambah usia, ia telah tumbuh dewasa, hingga ia telah bersiap-siap, memantapkan kuda-kuda. Dan pada akhirnya ia melompat tinggi, menjulang dan menjadi besar.

Dalam tumbuh kembangnya negeri ini. terkadang kita lupa. Kita begitu terfokus akan material yang terhampar indah di Nusantara. Kita terjebak pada keyakinan bahwa kekayaan terbesar bangsa ini adalah minyak, gas , tambang, atau bahkan lautan biru yang membentang atau hutan lebat menghijaukan dunia.

Ya benar, kita lupa bahwa sesungguhnya kekayaan Indonesia terbesar adalah manusianya. Kita merdeka bukan karena kekayaan alam kita, namun karena kemampuan sumberdaya manusia kita.

Maka coba renungkanlah, hal apa yang membuat kita terjajah?  Dan hal apa yang membuat kemerdekaan dapat kita raih. Oleh karena itu silahkan teman perhatikan, bahwa Allah mengkehendaki hanya mereka yang berilmu-lah yang akan membawa kemerdekaan.

Dapat kita saksikan sesama, mereka yang memproklamirkan kemerdekaan adalah para anak bangsa yang memiliki ilmu. Soekarno seorang Insinyur dari sebuah kampus yang kini kita kenal ITB. Atau bahkan Bung Hatta yang belajar ilmu di Rotterdam belanda dan kembali kenegerinya untuk mengusir belanda.

Ilmu adalah hal pasti untuk sebuah kemerdekaan. Dan ketahuilah, berilmu pada saat itu bukanlah hal mudah. Bagaimana kau bisa termotivasi belajar ketika Bangsa sebesar Indonesia ini, sebesar 95% penduduknya buta huruf. Tak dapat membaca.

Kebodohan menjangkiti bangsa dengan kekayaan alam ini. Maka terjajahlah kita. Beratus-ratus tahun lamanya. Tapi dapat kita lihat, atas takdir-Nya, Negara ini lahir dari tangan para intelektual.

Maka lihatlah kebenaran firman Allah pada ayat 11 surat Al-Mujadilah “..... Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang berilmu beberapa derajat...”

Dan saksikanlah bahwa Allah menjadikan mereka yang berilmu menjadi orang-orang bermanfaat untuk membebaskan negeri ini dari keterjajahan hingga akhirnya kebodohan yang telah menjangkiti bangsa ini telah hampir sempurna hilang.

92 persen penduduk Indonesia telah melek huruf, namun jika kita perhatikan lebih dalam. Kebiasaan membaca bangsa ini begitu kurang. Bangsa Indonesia membutuhkan waktu 15 hari untuk membaca sebuah halaman. Begitulah hasil survey unesco.

Padahal membaca adalah kebiasaan orang-orang besar yang telah berperan penting dalam kemerdekaan bangsa.  Kita mengenal Tan Malaka yang hidupnya walau terusir dan berdiaspora ke negara-negara lain. Namun buku berpeti-petinya tetap menemani walau silih berganti hilang.

Kita juga mengenal bung hatta sang kutu buku yang telah melahap berbagai ilmu dari buku-buku. Kita dapat melihat banyaknya bacaan bapak proklamator ini dari koleksi buku di pustaka pribadinya.
Dan kita juga mengenal soekarno yang menguasai berbagai gagasan-gagasan besar dunia. Sehingga ia dapat memandu bangsa yang terbelakang hingga menuju sekarang.

Membaca adalah budaya para orang besar, membaca adalah kebiasaan para intelektual. Maka memperingati 70 tahun lahirnya negara ini, kami Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia membuat gerakkan #Baca25 untuk seluruh warga bangsa.

Gerakkan ini hanya mengajak setiap elemen masyarakat bangsa untuk membaca 25 halaman sehari. Mudah bukan? Tak perlu kita mengikuti Badiuzzaman Said Nursi yang dapat membaca seribuan halaman dalam sehari. Cukup 25 halaman. Maka kita dapat menyinari bangsa dengan ilmu.

Karena kami percaya, kebodohan adalah tanda masyarakat terjajah. Maka dengan membaca adalah cara meretas kebodohan tersebut. Mari membaca, agar bangsa ini sempurna merdeka dari kebodohan.

Azmul Pawzi
Koordinator Komisi A FSLDK Sumbar

Jumat, 14 Agustus 2015

Cinta yang Menyendiri


Pelik memang saat kita melihat tragedi hilangnya sosok yang dicinta dalam kehidupan. Ia perih, bahkan cairan asam yang tersiram dalam luka tidaklah lebih perih seperti yang dirasakan seorang patah hati. 

Orang-orang besar yang pernah tercatat oleh bumi ternyata pernah jua merasakan. Maka kita mengenal Sayyid Quthb dengan serial patah hatinya. Dalam sebuah disertasi tentang Sayyid Quthb, diceritakan bahwa seorang syahid di tiang gantungan ini pernah jatuh cinta. Ia jatuh cinta pada sorot mata seorang gadis, yang dalam bahasa Sayyid Qutb,  bukanlah gadis yang cantik dalam pandangan orang mesir. Walau seperti itu, cinta Sayyid Quthb telah tercurah. Rasa itu telah mengalir deras, tak terbendung.

Maka ia pun bersiap meminang gadis itu, sebuah tragedi terjadi. Ternyata memang benar, kadang akal tak dapat mengikuti resonansi cinta. Dalam persiapan pernikahannya. Gadis itu jujur bahwa Sayyid Quthb bukanlah lelaki pertama yang mengisi hatinya.

Retak sudah harapannya. Keangkuhannya rutuh, amarahnya membuncah. Mimpi meminang gadis yang perawan fisik maupun hati telah usai. Gadis itu hanya perawan fisik. Dan Sayyid pun membatalkan segala hubungannya yang siap untuk menikah.

Namun, cinta itu telah terlanjur tercurahkan. Ia layaknya banjir membandang yang memenuhi hati sang Syahid. Dengan penuh penyesalan, ia kembali kewanita itu untuk melanjutkan pernikahan yang telah ia batalkan. Akan tetapi, gadis itu menolak.

Penolakkan itu beriringan dengan patahnya hati sang Sayyid Quthb. Dalam kelinglungan diri, ia curahkan segala perihnya hati dalam puisi, hingga terkumpullah bait-bait roman karya Sayyid Quthb. Hingga dalam fase kehidupan ia selanjutnya, ia dipenjara selama 15 tahun, dan berakhir di tiang gantungan dalam keadaan sendiri, ya benar sendiri.

Namun, dalam penjara itu, lahirlah Tafsir Qur’an fenomenal dari tangannya, Fii Zhilalil Qur’an. Sebuah Tafsir yang memiliki keindahan sastra yang di akui seantero muslim dunia.

Sama layaknya Sang Sastrawan hebat dari Pakistan, kahlil Gibran. Ia jatuh cinta, mata dan hatinya telah tertuju pada seorang gadis. Hingga cinta yang tak sampai itu membawanya menulis sebuah buku yang luar biasa berjudul “Sayap-sayap patah”. Hati mana yang tak tersentuh ketika membaca bait-bait syair dalam buku tersebut. Ia bagai ruh yang membawa kita kedalam dalamnya sakit yang dirasakan sang Kahlil Gibran.

Begitulah cinta, ketika ia meninggalkan kita sendiri. Hal apa yang akan kita lakukan. Terpuruk nista dalam kegalauan, atau merubah perihnya sakit hati menjadi karya yang dikagumi umat manusia. Para orang-orang besar memilih yang kedua. Karena cinta yang menyendiri bukanlah sebuah kenesatapaan. Ia memang menyakitkan, tapi ia dapat menjadi energi yang tak terkira kala kita bijak menggunakannya.

Sudahkah kau gunakan dengan baik kegalauanmu?

Rabu, 15 Juli 2015

Menyuka & Membenci


Layaknya kita yang tak dapat menyukai semua orang, maka tak perlulah kita melakukan hal yang disukai semua orang. Karena itu tak mungkin, dan itu hanya menghabiskan energy kita.

Manusia mana yang dapat menyukai segala hal? Tentu ada yang ia sukai, dan tentu ada yang ia benci. Perasaan yang timbul itu ada karena keyakinan dan persepsi yang manusia itu miliki.

Layaknya hujan yang turun ke bumi dengan segala kesejukkannya. Ia menyebarkan kesegaran di setiap sudut yang ia basahi. Ia berikan kesenangan kepada setiap makhluk yang menikmatinya. Maka menghijaulah dedaunan, dan tumbuhlah pepohonan. Tersenyum lebarlah para penikmat hujan. Tertawalah anak-anak yang merindu hujan.

Namun, dalam meriahnya kesyukuran atas turunnya jutaan tetes air itu. Terdapat insan yang membencinya. Mendakwa sang hujan sebagai pembawa duka, mendatangkan berbagai kesedihan. Hingga keluhan bahkan makian keluar dari mulut-mulut mereka.

Maka seindah apapun karya mu, tentu ada pandangan membenci dan menghujat langkah kerjamu. Tak perlu kau merasa pilu. Bahkan manusia se-mulia Rasulullah masih ada manusia yang membencinya.
Karena memang pada dasarnya, kebenaran tak akan menyukai keburukan. Dan keburukan tidak akan menyukai kebenaran. Maka berdiri dimanakah engkau? Kebenarankah atau kesalahan?

Maka tak perlu kau berbuat yang disukai semua manusia. Dan tak perlu juga engkau menyukai segala hal. Kau boleh menyukai sesuatu dan membenci sesuatu. Akan tetapi ingatah, sebaik-baiknya suka dan benci adalah karena Allah.
Jadi mari kita menyuka dan menbenci hanya karena Allah.

Sabtu, 20 Juni 2015

"Celakalah Orang yang Mendapati Bulan Ramadhan.."

Siapa yang ingin akan sebuah kecelakaan? Siapa yang mau di sebut orang celaka? Terlebih lagi saat yang menyebutkannya adalah bukan sembarang manusia. Melainkan manusia yang menjadi kekasih Sang Pencipta Alam semesta.  Siapa yang rela disebut celaka, apalagi mereka dikatakan celaka kala bertemu bulan mulia, bulan yang dirindui semua muslim sejati. Siapa yang sudi?  Tolong sebutkan padaku siapa?

"Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadhan.." Bagaimana bisa? Di bulan suci nan berkah ini, malah sebuah kecelakaan di sabdakan Rasulullah Habiballah. Bagaimana bisa? Padahal Rasulullah dalam riwayat bukhari pernah bersabda pula "Sesiapa yang mendirikan ibadah dalam bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan ihtisab" Lanjut beliau "akan diampunkan dosa-dosanya yang lalu". Maka apa yang terjadi hingga sebuah kecelakaan menimpa mereka yang mendapati bulan ramadhan?

Dan ternyata, memang begitulah keadaannya. Ternyata, dibulan yang pahala melimpah ruah, waktu-waktu mustajab berkeliaran, ampunan mudah diberikan. Masih terdapat manusia-manusia celaka. Seperti apakah manusia celaka itu? Mari kita lihat hadits shahih yang diriwayatkan Bukhari ini.

Dari Kaab bin 'Ujrah ra
Rasulullah S.A.W bersabda: "Berhimpunlah kamu sekalian dekat dengan mimbar." Maka kami pun berhimpun. Lalu beliau menaiki anak tangga mimbar, beliau berkata: Amin. Ketika naik ke anak tangga kedua, beliau berkata lagi: Amin. Dan ketika menaiki anak tangga ketiga, beliau berkata lagi: Amin.
Dan ketika beliau turun (dari mimbar) kami pun bertanya: Ya Rasulullah, kami telah mendengar sesuatu dari engkau pada hari ini yang kami belum pernah mendengarnya sebelum ini. Lalu baginda menjawab: “Sesungguhnya Jibril (A.S) telah membisikkan (doa) kepadaku, katanya:
“Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadhan tetapi dosanya tidak juga diampuni.”
Lalu aku pun mengaminkan doa tersebut............ (HR. Bukhari)

 Ya benar,  "Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadhan tetapi dosanya tidak juga di ampuni". Begitulah rangkaian kata yang terlontar dari bibir mulia Rasulullah. Maka celakalah mereka, celaka, sungguh sangat celaka. Di bulan yang seharusnya menjadi ajang pengampunan dosa kita sangat hina itu. Di bulan yang seharusnya setiap deru nafas kita semakin mendekatkan kita kepada surga. Dibulan yang seharusnya rahmat-Nya turun kepada kita. Akan tetapi malah kecelakaan menghampiri kita.

Wahai saudaraku, masihkah kita bersantai ria melihat ramadhan ini terlewat begitu saja. Dalam dahaganya kerongkongan, kita masih melakukan kemaksiatan yang membuat kita jauh dari ampunanya. Aurat-aurat kita masih terbuka, berpacaran, bersentuhan dengan yang tak muhrim, gosip dan fitnah yang terucapkan. 

Hingga saat diri menahan lapar dan haus ini, Al-Qur'an enggan kita sentuh, Berdo'a enggan kita lantunkan dan bahkan shalat wajib-pun kita tinggalkan. Dan kita masih tertawa dengan rangkaian acara gurauan televisi yang tak berguna itu? Apakah seperti itu bulan ramadhan kita?

Marilah kita perjuangkan ramadhan kita, agar diakhir ramadhan nanti ampunan-Nya yang kita gapai, bukan malah sebuah kecelakaan.

Semoga bermanfaat.

 

Kamis, 11 Juni 2015

Logika Orang Puasa Harus Hormati Orang yang Tak Puasa


Pernyataan Pak Menteri Agama menarik rasanya untuk di kupas. Mereka yang berpuasa harus menghormati yang tidak puasa, biarkan tempat makan buka, tempat hiburan buka dan lain-lain. Saya geli rasanya mendengar itu,  ingin ketawa rasanya. Seakan-akan selama ini orang yang puasa semena-mena terhadap yang tidak puasa.  Dan yang saya bingung itu malah keluar dari seorang muslim, padahal yang ibadah itu orang yang puasa dan yang gak puasa gak melakukan ibadah puasa. Anehnya lagi yang mendukung statement itu juga muslim.

Saya teringat waktu kecil. Dulu bersama teman-teman kami ngobrol-ngobrol dan bercanda saat orang shalat di masjid. Itu terjadi pas lagi shalat sunnah, soalnya waktu shalat wajib kami masuk barisan shalat. Lalu  ada bapak-bapak yang datengin kami dan ceramahin kami kalo kami harus menghormati orang yang beribadah seperti shalat sunnah. Semenjak itu kalo kami lagi di masjid, kalo ada yang rebut langsung kita bilang “ssssttt... Orang sholat woy, diem apa lu”.

Nah kalo logika Pak Mentri di pakai, sang bapak-bapak akan bilang ke orang yang sholat “Kalian harus hormati mereka yang ngobrol-ngobrol, itu kan hak mereka”. Kan begitu jadinya. Atau kita ambil contoh di agama lain. Kalo misalnya ada remaja yang lari-larian di gereja ketika jamaat gereja lagi doa, pasti ada yang melarang, karena kita sebagai makhluk beragama harus ngehormati yang lagi ibadah.  Bukan mereka yang berdoa harus menghormati yang lari-larian. Bener kan?

Logika pak mentri ini kebablasan kebaliknya. Lagi pula umat beragama selain islam udah pandai ko nyari makan walau tempat makan ditutup. Sejak SD, SMP hingga SMA teman saya yang non islam banyak kok. Dan ketika bulan puasa, mereka kalo mau minum pasti minta izin atau bilang “Sorry nih gue minum dulu ya” atau yang mau makan akan menghindar dari mereka yang puasa karena menghormati muslim yang puasa. Ini malah muslimnya yang nyeleneh, mentri agama pula lagi.

Menutup tempat makan ini atau seenggaknya tempat makannya yang tertutup itu penting. “Tugas kita kan puasa dan menahan dari godaan apapun” Ya itu benar, tapi bagi yang dewasa. Tapi kalo anak-anak yang lagi belajar puasa bagaimana? Apa yang mereka fikirkan ketika melihat makanan lezat-lezat terpampang. Padahal belajar puasa harus sejak dini.

Kita harus paham logika seperti apa yang dibangun dalam mempengaruhi persepsi masyarakat. Jangan sampai muslim jadi korban karena logika nyeleneh para pimpinan.

Azmul Pawzi

Minggu, 31 Mei 2015

Maka Lupakanlah Cintamu!


Musim haji-pun tiba, umat muslim mulai berbondong-bondong menuju Kota nan agung, Mekkah. Pada musim itu, seorang pemimpin tertinggi muslim saat itu juga melaksanakan rukun islam kelima tersebut. Ia adalah seorang kepala dari khilafah islamiyah abbasiyah. Khalifah Al Mahdi namanya.

Kala itu, khalifah Al Mahdi sedang beristirahat dalam perjalannanya menuju tanah kelahiran Rasulullah Muhammad. Dalam peristirahatannya, ia mendengar seorang pemuda yang berteriak “aku sedang jatuh cinta”. Mendengar itu, sang khalifah memanggil pemuda itu.

“Apa masalahmu?” Tanya sang khalifah.  “Aku mencintai puteri pamanku dan ingin menikahinya. Tapi ia menolak karena ibuku bukan Arab. Sebab itu aib dalam tradisi kami.” Jawab si pemuda.

Tanpa pikir panjang, sang khalifah memanggil paman pemuda tersebut. Kala sang paman telah tiba, Khalifah Al Mahdi-pun berkata padanya. “Kamu lihat putera-puteri Bani Abbasiyah? Ibu-ibu mereka juga banyak yang bukan Arab. Lantas apa salah mereka? Sekarang nikahkanlah lelaki ini dengan puterimu dan terimalah 20 ribu dirham ini: 10 ribu untuk aib dan 10 ribu untuk mahar.

Beruntunglah si pemuda, ia dapati cintanya kala tembok besar yang menghalangi bersatunya rasa suci itu roboh. Hancur, hingga ia dapat membersamai sang kekasih hati. Menjemput kebaikan yang dalam sabdanya Rasulullah “Tidak ada yang lebih baik bagi mereka yang sudah jatuh cinta kecuali pernikahan.”

Indah bukan? Karena islam adalah agama yang fitrah. Islam akan ramah terhadap gejolak yang meluap-luap dalam benak seorang insan. Dan memberi jalan indah untuk berseminya cinta, yaitu pernikahan.

Namun bagaimana bila hal sebaliknya terjadi? Bila putihnya cinta tak dapat bersatu, ia tersekat dengan banyak halangan. Maka lihatlah Qais, lihatlah betapa besar gejolak jiwanya kepada seorang wanita bernama layla. Sebuah rasa yang tergambar rapi dalam syairnya “Layla laksana minuman yang menyegarkan dan menghilangkan dahaga kalbuku. Cintaku pada layla adalah cinta suci, tidak tercampur dengan hawa nafsu walau sebutir debu. Meskipun orang-orang mencela, mengusir dan menyia-nyiakan diriku.”

Akan tetapi, cinta tulus yang jiwa selalu merindu, pikiran selalu mengenang dan lidah yang tak pernah kelu menyebut nama sang kekasih terbentur keras. Sang ayah tak setuju.  Qais terpana, cintanya yang telah menghujam dalam, mengakar dalam hati tak memiliki jalan. Maka majnun-lah pemuda itu. Beratnya menanggung cinta membawanya kedalam kegilaan.

Begitu pula Zainuddin dalam karya apik Buya Hamka, 2 bulan lamanya dirinya terkapar. Menderita, terhina. Tak kuat raganya menanggung beratnya siksaan rasa, kala Hayati memilih lelaki lain, setelah sang paman tak menerima lelaki makasar tersebut untuk meminang sang ponakan karena bukan seorang minang. Maka perihlah batinnya. Hingga hayati meninggal-pun rasa cinta itu masih menghantuinya. Tak memberi ampun terhadap sang pecinta.

“Dari dulu beginilah cinta, penderitaan tiada akhir.” Kata-kata Chu Patkai dalam kisah Kera Sakti ini mungkin menjadi kata pas dalam menggambarkan penderitaan para pecinta. Maka kasihanilah para pecinta, mereka yang terjebak dalam asmara yang melilit nurani. Tak berdaya dalam menghadapi rasa yang menerobos dari langit menghujam kehati.

Maka, Lupakanlah!  Lupakanlah cintamu yang tak dapat bertaut dalam tali pernikahan. Karena cinta yang tak sampai pelaminan hanya berujung penderitaan.

Maka Lupakanlah! Atau kau akan berakhir seperti Nasr bin Hajjaj, pemuda tampan yang menjadi pembicaraan para gadis di Madinah saat masa Umar bin Khattab. Pesona wajahnya tak memiliki arti. Ia berakhir nestapa, tak sanggup tubuhnya menahan cinta yang tumbuh di tempat yang salah. Ia mencintai istriorang lain. Maka ia pun menyendiri, sakit dan tubuh kekarnya kurus kering hingga akhirnya ia meninggal. 

Tragis memang, namun itulah hakikatnya.  Cinta yang tak menuju pernikahan hanya sebuah penderitaan.
Dan bila kau menyadari cintamu tak berujung dipelaminan.
Maka lupakanlah cintamu itu!

Azmul Pawzi

Rela Kehilangan Allah

“Lebih baik kehilangan sesuatu apapun itu, namun karena Allah. Dari pada kehilangan Allah karena sesuatu. “ Mudah memang, kalimat yang mungkin saja tidak perlu waktu yang lama kita ucapkan. Dalam hitungan detik saja, kumpulan kata itu sanggup kita ucapkan.

Ideal memang, siapa pula yang ingin menukarkan Sang Maha Sempurna dengan keinginan semu yang terlintas di otak manusia. Mungkin pernyataan itu lah yang kita ujarkan untuk mengungkapkan apa yang terlintas di kepala kita saat membaca kalimat itu.

Akan tetapi, bila kita lihat sekitar, dengan mudahnya manusia meninggalkan Allah akan keinginan yang fatamorgana. Mereka rela kehilangan Allah. Mereka rela Allah tak bersemayam di hati-hati mereka.

Mari kita ambil contoh, tentang cinta. Banyak insan saling mencinta, itu fitrah. Namun, kala cinta berbenturan dengan syari’at-Nya. Mayoritas manusia itu memilih untuk membersamai kekasih hatinya dari pada memilih Sang Maha Cinta. Maka banyaklah insan yang melakukan pacaran. Mereka rela, rela kehilangan Allah dalam hatinya, menggantinya dengan cinta lawan jenis yang tak abadi.

Selanjutnya, banyak wanita ingin pujian kecantikan. Namun kala mempertontonkan kecantikan dengan menebar aurat berbenturan dengan perintah-Nya. Mayoritas Wanita memilih untuk mendapat pujian “wah cantiknya”, “wah manisnya”, dan pujian-pujian dari manusia baik laki-laki maupun perempuan dari pada pujian Sang Maha Menyayangi akan ketaatan hambanya.  Mereka rela, rela kehilangan Allah dalam hatinya, menggantinya dengan pujian keindahan paras dan tubuh dengan cara tebar auratnya, atau berpakaian tertutup namun membentuk lekuk tubuh sana-sini.

Lalu, banyak mahasiswa/siswa ingin nilai bagus. Namun kala cara curang bertentangan dengan firman-Nya. Mayoritas mereka memilih mencontek untuk mendapatkan nilai bagus dengan cara pecundang. Mereka rela, rela kehilangan Allah dalam hatinya demi nilai bagus mentereng namun dengan cara salah.

Banyak lagi keinginan manusia yang rela dengan senang hati mereka kerjakan walau kehilangan Allah-lah konsekuensinya. Ingin uang, ingin jabatan, ingin kebebasan, ingin dunia dan seisinya.

Mereka rela, mereka rela kehilangan Allah untuk itu semua. Maka apakah kita termasuk dalam golongan yang rela kehilangan Allah?

Mari berikan hati ini sepenuhnya untuk-Nya, maka Ia akan memberikan kebahagiaan yang kita inginkan tanpa perlu kehilangan-Nya.

Azmul Pawzi