Rabu, 01 Agustus 2018

Jangan Lupa Bahagia

Bebanmu boleh berat, targetmu boleh besar, mimpimu boleh tinggi. Tapi jangan sampai engkau melupakan untuk menikmati proses. Menyemai hikmah dalam titian langkah.

Tangismu boleh pecah, keringatmu boleh terkuras, dan energimu boleh habis. Tapi jangan biarkan keadaan memuramkan wajahmu. Melenyapkan ceria juga riangmu.

Engkau boleh lelah, engkau boleh perih, engkau boleh sakit. Tapi jangan pernah melupakan kebahagiaanmu.

Tersenyumlah, jangan biarkan lingkungan membuatmu sedih. Jangan biarkan orang disekitarmu mehilangkan semangatmu.

Jadi, bila dunia ini menekanmu dalam segala arah. Santai saja, lalu jangan lupa bahagia. 😊
.
#MelangkahMenginspirasi
📷 Tarhib Ramadhan FSLDK Sumbar, menjadi aksi terakhir sebagai ketua Umum FSLDK Sumbar.  InsyaAllah akan dilanjutkan dengan punggawa dakwah selanjutnya. 😊

Tentang Harapan - Part 2

Emangnya apa sih dosa kita? Judi, Membunuh, Berzina, Mencuri, apapun itu dosa kita. Sehina apapun maksiat kita. Sekotor apapun keburukan kita.
Allah akan mengampuni kita.
Bahkan jika seandainya dosa kita menumpuk. Hingga dari bumi sampai setinggi langit dan memenuhi seluruh muka bumi ini. "Wa la ubalii - Aku tidak peduli" begitu firman Allah.

Allah tak peduli sebanyak apapun dosa kita.  Sebanyak apapun itu, Allah akan mengampuninya.
Asal,
Kita mau bertaubat. Menyesal atas kesalahan kita dan berjanji untuk meninggalkan maksiat itu.

Jangan hilang harapan karena dosa kita yg sangat hina. Jangan putus asa atas kesalahan terburuk kita.

Allah suka banget sama hamba-Nya yg minta ampun. Beristighfar, bertaubat. Lalu beramal shalih. Menunjukkan kalo kita sungguh-sungguh minta ampun kepada-Nya.

Kita tidak tahu kapan kita mati, kan?

Karena kita tahu Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Lalu apa yg kita tunggu lagi?

Bulan penuh ampunan sudah di depan mata. Sudahkah kita persiapkan tekad dan rencana amal agar dosa kita terampuni?

#MelangkahMenginspirasi

Tentang Harapan - part 1

Lihatlah betapa besar rasa sayang Allah.

Kita berbuat dosa yang kotor, maksiat yg hina dina, munkar terhadap perintahnNya. Kita sudah sangat lancang kepada-Nya.

Tapi apa kata Allah. "Yaa Ibadi" " Wahai Hamba-hambaKu"

Dari banyaknya kebodohan kita, keburukan kita. Allah masih menganggap kita hamba. Masih memanggil dengan sangat lembut. "Hamba-hambaKu". Bahkan ia tak memanggil kita "Yang berdosa", "yang berbuat ingkar", tapi juga dengan panggilan yg sangat halus. "Yang melampaui batas"

Lihatlah betapa Maha Penyayang Allah. Dia masih memanggil kita dengan kasih sayang yg amat besar.

Lalu memotivasi kita agar tak putus asa karena dosa-dosa yg kita buat. Jangan berhenti berharap dari ampunan-Nya.

Karna ampunannya amat luas. Dan jika kita bersungguh-sungguh bertaubat dari dosa yg kita lakukan. Maka Allah akan mengampuni seluruh dosa kita.

Maka yuk kita bertaubat.

Move on dari kebodohan kita.
Move on dari maksiat yg hina.
Move on dari dosa yang diperbuat.

Mari kita move on.
Hijrah dari sesuatu yg buruk menuju cahaya kasih-Nya.

Berdo'alah dengan penuh harap. Meminta segala dosa yg sengaja maupun tak sengaja untuk di hapus.

Lalu bangkit berdiri melaksanakan amalan yg Allah cintai.

Terus perbaiki diri.
Dan jangan pernah berhenti berharap.

#MelangkahMenginspirasi

Setengah Warsa Bersama


Bagiku setiap detik kebersamaan kita adalah berharga.

Dari setiap senyum yang merekah, tawa yang membahana, tangis yang menerpa, hingga amarah yang kadang timbul begitu saja.

Dari setiap hal yang aku sukai dan kamu usahakan menyukainya, juga sesuatu yang kamu senangi, dan aku coba merasakan kesenangannya. Walau memang sebelumnya aku juga kamu tak menyukainya. Tapi kita berkomitmen untuk belajar menyesuaikan.

Dari setiap candaan remeh temeh yang kita lontarkan, lelucon yang kita tertawakan bersama, hingga hal serius layaknya mimpi-mimpi yang kita rencanakan, walau kadang juga terdengar absurd dan begitu besar.

Hingga setengah warsa kita bersama. Tentu tak setiap perjalanan baik-baik saja. Kadang ada situasi yang harus kita tangisi dengan pelukan saling memotivasi. Kadang ada keadaan yang membuat kita berselisih.

Tapi begitulah kebersamaan ini, ada masa lalu yang senantiasa kita perbaiki, ada kesalahan untuk saling menasehati, ada kondisi yang tak perlu kita tanggapi, cukup tertawa dan saling menyemangati.

Walau ada ujian berat yang sempat Allah takdirkan. Juga banyak nikmat yang Dia anugrahkan. Semoga kebersamaan ini adalah rumah yang menjadi tangga menuju surga-Nya.

#RumahTanggaSurga
#AzmulRimbun
#MelangkahMenginspirasi

Harusnya di posting tgl 22 juni 2018, tapi kelewatan. Gapapa lah, lebih baik terlambat dari pada ga sama sekali. 😅
22 Des 2017 -- 22 Juni 2018

Sungguh Tak Singgah, Singgah Tak Sungguh

Dalam hidup setiap perjalanan itu menarik kawan, terlebih jalan percintaan. Coba engkau perhatikan.

Kadang engkau menemui mereka yang sungguh mencintai, kuat tertanam dalam hati, pertemuan senantiasa dinanti, dan bagian perpisahan begitu nyeri, hingga akhirnya rindu enggan untuk pergi.

Tapi hati yang sungguh tak kunjung singgah. Jiwa meminta raga mengelak. Karna memang ingin menjaga, walau juga ada karna diri tidak siap, atau memang pernah menyiapkan.

Kadang ada yang berjuang untuk singgah, bercucur keringat untuk tiba, namun kalah cepat. Padahal jiwa tak kenal menyerah. Namun itulah takdir, sungguh tapi takk singgah. Menyakitkan memang, apadaya ini suratan.

Lebih pilu mereka yang singgah tak sungguh. Raga berdua tapi hanya senda gurau melulu. Jalan bersama namun enggan ke penghulu.

Bertahun-tahun memadu kasih berdua. Tapi tak kunjung melamar ke orang tua. Kata-kata manis hidup bersama bahagia, namun hanya tipu-tipu belaka.

Pedih memang menghadapi dia yang singgah tapi tak kunjung sungguh. Lebih baik pergi dan perbaiki diri dulu. Meladeninya cuma numpuk maksiat dan pasti keliru.

Maka sungguh untuk singgah itu perlu, agar kesungguhan menjadikan pelaminan menjadi titik temu. Atau mungkin mengikhlaskan menjadi solusi terlebih dahulu.

Singgah dengan sungguh juga utama. Agar persinggahan tak ajang penuh salah dan dosa. Tapi berisi kesungguhan membangun surga dalam rumah tangga.

#RumahTanggaSurga
#MelangkahMenginspirasi

Tips Kelola Keuangan Mahasiswa ala Azmul

Sesuai janji di ig story saya @azmulpawzi, menjelaskan dikit cara saya agar bisa menyisihkan uang buat beli buku. Padahal saya anak bidikmisi yg pemasukan utamanya ya disitu, 600rb per bulan yg kadang telat masuknya.

Oke, jaman kuliah dulu saya mengalokasikan keuangan saya jadi 6 bagian. Untuk kebutuhan pangan (beras dan lauknya), bayar tempat tinggal (maklum anak rantau), serba serbi kuliah (tugas, fotocopyan, dan transportasi kuliah), pengembangan diri (organisasi, kepanitiaan, pelatihan2), sosial (khusus buat makan diluar sama temen, untuk biaya pergaulan, tapi ini persentase paling kecil), dan hobi (dalam hal ini beli buku dan makan martabak, karna saya suka bgt sama martabak). Setiap bagian punya persentase masing2, tergantung kebutuhan tiap bulannya.

Jadi tiap bulan beli buku dan martabak adalah masuk list wajib saya dan harus KONSITEN. Kalo kita emang mau semangat membaca dan mencintai ilmu (termasuk menghargai penulis yg memberi ilmu dgn membeli bukunya). Kita juga harus mengalokasikannya. Walaupun harus memotong biaya jajan dan nongkrong kita.

Kalo masih banyak baju kita dari pada buku, berarti kita lebih menyukai mengupdgrade penampilan dari pada otak.

Setelah saya bagi2, saya harus komitmen dengan itu. Kalo abis uang sosial, ya saya akan menolak ajakan2 main. Kalo abis biaya pengembangan diri, saya tahan untuk ga ikut training2 dan seminar. Walau kadang ga berjalan ideal. Tapi kita pastikan ga melenceng jauh.

Dua semester awal saya masih berantakan, sehingga biaya makan saya-pun tak terkendali. Pernah saya beli satu telor goreng Rp 3000 di BC depan asrama unand, di potong tiga bagian untuk jd lauk makan pagi, siang dan malam. Ini dampak pengaturan uang berantakan.

Di semester 4 keatas saya terbantu dengan beberapa kali dapat job jadi pengisi acara training-training. Walau ngga banyak, tapi cukup membantu menambah keuangan saya.

Sampai diakhir masa perkuliahan, terutama semester 7 hingga wisuda, alhamdulillah penghasilan saya cukup lumayan sbg seorang mahasiswa di padang. Karna udah banyak pemasukan ini dan itu. Jadi nominal dr bagian2 diatas semakin besar.
Itu aja, semoga ada manfaatnya.

#MelangkahMenginspirasi

Visioner Dakwah yang Tak Bijak

Saya coba membayangkan kegundahan dan pertempuran hati yang dirasakan Nabi Muhammad saat musyawarah sebelum perang uhud, perang yang nantinya membawa umat islam dalam kekalahan dan menewaskan sahabat inti seperti hamzah ibnu abdul muthalib, mus'ab bin umair, dan 70an sahabat lainnya.

Dalam rapat tersebut, Rasulullah sampaikan mimpinya yang intinya berisi lembu disembelih, pedangnya rompal, dan tangannya berlindung ke dalam baju besi yang kokoh.

Kalau kita baca Sirah Nabawiyah, Syaikh Mubarakfury mentakwilkan mimpi ini yang artinya lembu yang disembelih adalah sahabat yang terbunuh, pedang rompal adalah kematian keluarga rasul dan baju besi adalah kota madinah.

Itulah mengapa Nabi pada awalnya merekomendasikan untuk bertahan di kota madinah, bukan berperang di luar kota.

Namun sebagian sahabat yang menunggu kesempatan berjihad dan meraih kemulian dari Allah, meminta Nabi untuk menyambut peperangan. Singkat cerita hasil musyawarah memutuskan untuk berperang di bukit uhud.

Bayangkan apa yang dirasakan Rasul. Beliau telah berfirasat bahwa umat islam akan kalah, bahkan hal ini berasal dari mimpi. Ingatlah, mimpi seorang Nabi bukanlah main-main, firasat seorang Rasul tidaklah sembarangan.

Tapi lihatlah sikap Rasul, beliau tak merendahkan hasil musyawarah. Beliau tak menyalah-nyalahkan ahli syuro selainnya. Beliau menjalankan keputusan musyawarah karena Allah dengan sepenuh jiwa raga.

Maka saya bingung dengan mereka yang mengaku visioner dan rasional dalam dakwah. Yang menghasilkan ide cerdas demi kemajuan gerakan, menyampaikan berbagai pikiran brilian. Tapi ketika ide kerennya tak di dengar anggota musyawarah. Atau hasil rapat tak sesuai pemikirannya, dia malah menjelek-jelekkan anggota musyawarah. Dia malah menyindir-nyindir tak baik gerakan dakwah.

Mereka berdalih "kalo kayak gini firasat gue dakwah bakalan hancur dan kalah". Retorikanya demi kebaikan dakwah malah merongrong dakwah itu sendiri.

Padahal firasat dia bukan firasat Nabi, pemikiran dia bukan pemikiran Nabi. Tapi entah mengapa dia tak menghargai hasil musyawarah gerakan.

Nabi Muhammad saja yang seorang kekasih Allah, surga sudah pasti, utusan Sang Maha Pencipta masih menghargai hasil musyawarah, dan menjalankan dengan seksama. Walau diawal beliau punya pemikiran berbeda dan sempat berfirasat akan kekalahan.

Bahkan ketika kekalahan benar-benar terjadi, sahabat dekat bahkan juga pamannya syahid, beliau tetap legowo dengan hasil rapat. Tak ada dalam lisan beliau berujar "Bener kan kata saya, hasil syuronya keliru" atau kata-kata menyalah-nyalahkan hasil atau anggota musyawarah.

Begitulah teladan dalam berjama'ah dan bermusyawarah dari Sang Rasul. Mari kita menjadi visioner dakwah yang bijak. Dengan senantiasa memikirkan kemajuan dakwah, dan memperjuangkannya dengan etika dakwah yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.

Wallahu'alam

Bukan Kader Dakwah?

Jujur sampai sekarang saya tidak pernah nyaman dengan pernyataan "dia bukan kader dakwah lagi", terlebih cap 'mantan aktivis dakwah' karna tak mengikuti kewajiban atau menyalahi aturan jama'ah.

Bukankah dakwah tidak monopoli sebuah jama'ah? Sama seperti sunnah, itu bukan milih kelompok. Dakwah dan sunnah adalah milik umat islam.

Maka tak sepantasnya mencap orang tak lagi kader dakwah, apalagi bukan sunnah karna tak lagi membersamai jama'ah yang diikutinya.

Makna bukan atau mantan ini lebih pantas jika di sematkan terhadap ormas atau partai. "Ah dia mantan aktivis ormas ini","dia bukan kader partai ini", ini baru cocok. Jadi mulailah berhenti memvonis seseorang bukan lagi kader dakwah, atau mantan aktivis dakwah.

Kecuali memang dia menjadi musuh islam, memecah-mecah umat, mempermainkan syariat, menggunakan ilmu untuk membuat umat islam semakin terpuruk, loyal kepada orang kafir dan tak peduli dengan urusan kaum muslimin, bahkan tak pernah memikirkan tentang dunia islam. Itu baru bukan lagi kader dakwah.

Namun, selagi dia masih menjalankan pengertian dakwah yang sama-sama kita pahami dalam lingkaran ilmu.

Mengajak manusia kepada yang ma'ruf, mencegah kepada yang munkar, dengan hikmah dan cara yang baik, mengingkari thagut, beriman kepada Allah, membawa manusia dari gelapnya jahiliyah menuju cahaya islam.

Jika seseorang masih melaksanakan dakwah seperti di atas, dimana pun dia menuntut ilmu, apapun jama'ahnya, dan bagaimana pun caranya. Maka dia tetap KADER DAKWAH.

#MelangkahMenginspirasi

Jamaa'ahmu Tak Menjaminmu Masuk Surga

Jangan kekanak-kanakan dalam berjamaah. Karena jama'ahmu tak menjaminmu masuk surga.

Boleh saja engkau berbangga menjadi bagian NU, Muhammadiyah, HTI, FPI, Jamah Tabligh, Wahdah, Salafi, Tarbiyah, Majelis Rasulullah dll. Tapi bukan itu yg membawamu ke surga, namun ketaqwaanmu dan jihadmu untuk islam.

Maka tak perlu engkau merasa jamaahmu paling benar. Selagi jamaah orang lain masih beraqidah ahlulsunnah wal jamaah, tak pantas engkau salah-salahkan.

Selagi ia bukan syi'ah, murji'ah, khawarij, mu'tazillah, dll. Tak perlu engkau buruk-burukkan.

Jangan ke kanak-kanakan dalam berjamaah. Karena dakwah bukan monopoli satu ormas atau jamaah. Maka tak perlu engkau berucap "Si Fulan membelot dari dakwah" di karenakan ia hanya pindah jamaah. Selagi ia masih amar ma'ruf nahi munkar, maka ia masih dalam golongan orang beruntung sesuai ali-imran : 104.

Sesama da'i jangan saling sikut, jangan saling ribut. Sesama jamaah dakwah jangan saling sikat. Tapi bersama membangun umat.

Jangan kekanak-kanakan dalam berjamaah. Loyal boleh, taqlid jangan.

#MelangkahMenginspirasi

Jumat, 05 Januari 2018

Menjaga Narasi Besar dalam Bernegara

Memimpin adalah menebarkan nilai dan menggerakkan sekitar menuju cita bersama. Setidaknya itu hakikat memimpin yang saya yakini sejak SMA. Maka gagasan adalah hal penting yang harus dimiliki para pemimpin.

Tanpa gagasan, takkan ada tujuan yang akan digapai. Tanpa narasi, tak jelas gambaran mimpi yang ingin diraih.

Saya sangat menyayangkan para aktifis yang dangkal gagasan. Bergerak hanya dasar ikutan atau diperintah. Jika ditanya visi dan narasi yang mengikutinya, tak jelas jawabannya.

Jadi, literasi dalam gerakan adalah hal pokok yang harus dibiasakan para pemuda sebagai calon pemimpin. Tapi keadaan kini malah berbalik, sebagian kalangan aktifis pemuda islam sangat minim budaya literasi.

Jangankan membaca tulisan para pemikir barat yang mereka hindari karna 'katanya' takut menjadi orientalis dan liberalis. Gagasan para pemikir muslim banyak yang tak mereka dalami. Baik pemikir muslim indonesia maupun internasional.

Berapa banyak para aktifis  pemuda islam yang gagap gagasan. Bahkan tak tahu tokoh pemikir muslim, terlebih narasi yang mereka bawa. Ini menunjukkan lemah wawasan dan bacaan.

Maka tak heran, dewasa ini menyebar sifat kritis tanpa landasan. Memimpin tanpa gagasan. Bergerak begitu saja tanpa narasi berkesan.

Jadi belajarlah dari punggawa dakwah Natsir, M.Roem, Syafrudin Prawiranegara dan pejuang islam masyumi lainnya. Mereka bergerak dengan narasi kuat dalam mengelola negara. Akal yang senantiasa berpikir besar diikuti fisik yang berkeringat hingga berdarah.

Mari menjaga narasi besar dalam bernegara. Tentunya dengan membudayakan membaca, diskusi dan menulis. Agar memimpin bukan hanya soal popularitas, namun ide yang ingin direalisasikan untuk kebermanfaatan bersama.

#MelangkahMenginspirasi
#Menuju2019

Selasa, 31 Oktober 2017

FSLDK Menjadi Lokomotif Peradaban Umat


Mengapa dalam hashtag dan design @fsldksumbar senantiasa diisi dengan hashtag #LokomotifPeradaban? Hashtag yang menjadi jargon penyemangat kepengurusan kini.

Saya ingin menjelaskannya dengan kembali mengingat mengapa dakwah kampus mesti ada. Setidaknya ada tiga tujuan mengapa FSLDK sebagai wadah dakwah kampus terbesar harus tetap berjalan dan menguat. Pertama menyuplai alumni berafiliasi islam, mencetak kader dakwah dan upaya kampus untuk mentransformasikan masyarakat menuju madani.

Maka tujuan terbesarnya adalah membentuk masyarakat madani. Membawa umat dari keadaan kini, menuju kehidupan madani, dan ini takkan ada tanpa adanya 2 tujuan sebelumnya. Jadi menjadi cita-cita kolektif aktivis dakwah mencetak pemimpin-pemimpin hingga mampu membawa umat lebih madani.

Kalau boleh mendefinisikan masyarakat madani. Secara sederhana, bisa kita definisikan masyarakat madani ada karena orang shalih mayoritas dalam umat sehingga nilai-nilai islam berjalan dalam kehidupan sosial dan bernegara.

Kalo kita ambil sistem demokrasi, maka mayoritas ini bisa diwakili dengan 50%+1%. Nah apakah orang shalih kita telah mencapai ini di kampus, Sumbar, bahkan Indonesia? 

Membangun peradaban islam membutuhkan banyak orang shalih yang juga mushlih. Seperti apa orang shalih ini? Minimal seseorang bisa disebut shalih ada tiga. Pertama terafiliasi dengan ideologi islam, lalu menjalankan perintah wajib dan terhindar dari dosa-dosa besar.

Nah, apa hubungan orang shalih dengan peradaban? 
Dalam kerja-kerja kolektif membangun sebuah peradaban, kita membutuhkan tim inti sebagai pemikir juga penggerak langkah peradaban. Bagaimana polanya? Kita mulai berkaca dari kelahirannya negara kita Indonesia.

Dalam perjuangan kemerdekaan ini, diawal melawan penjajah, perjuangan hanya perdaerah, belum terstrategi secara bersama. Maka berdirinya boedi utomo menjadi langkah awal kebangkitan bangsa, lalu ditegaskan juga dengan gerakan masif kemerdekaan oleh Serikat Islam yang dipimpin guru bangsa Cokroaminoto. Hingga terbentuklah embrio bangsa Indonesia dalam sumpah pemuda.

Orang-orang dalam boedi utomo, sarekat islam, dan sumpah pemuda hanya segelintir manusia. Mereka hanya bagian kecil dari Indonesia, namun mereka adalah tim inti umat bangsa yang menjadi penggerak bangkit dan lahirnya bangsa Indonesia.

Jika dalam membentuk negara butuh inti umat. Bagaimana dengan membangun peradaban islam. Butuh ada kader-kader shalih yang menjadi inti umat yang menggerakkan umat menuju lebih madani.
Begitulah yang dilakukan Rasulullah dalam membangun peradaban islam. Mencetak kader-kader dakwah yang menjadi inti umat.
Jika kita boleh membandingkan, Rasulullah memiliki umat saat haji wada sebanyak 100 ribuan kepala. Dan menurut Ibn Qayyim Al Jauziyyah hanya ada 110 orang ulama pemimpin dalam tubuh umat Nabi. Terlebih 110 orang pemimpin ini adalah yang terbaik dari generasi terbaik. 
Maka berapa pemimpin shalih yang kita butuhkan untuk mengelola 200an juta umat muslim indonesia untuk membangun peradaban islam di Indonesia?
Nah inilah tugas yang diambil FSLDK. Sederhananya, tugas dakwah kampus adalah mencetak sebanyak-banyak orang shalih agar menjadi tim inti umat, agar gerakan membentuk masyarakat madani semakin masif.
Itulah mengapa senasional kita punya target menambah jumlah kader sebanyak 30.000an kader lagi.
Agar kader dakwah yang dicetak oleh dakwah kampus mampu menjadi menggerakkan umat menuju kemenangan islam.
Layaknya lokomotif yang hanya satu bisa membawa gerbong-gerbong lainnya menuju tujuan. 
Kader dakwah yang dicetak FSLDK harus menjadi inti umat dalam gerakan peradaban islam. Tugas mereka menjadi lokomotif yang membawa umat menuju bangkitnya peradaban islam.
Itulah mengapa FSLDK sudah wajib Menjadi Lokomotif Peradaban
.
Terakhir siapkah Aktivis Dakwah Kampus menjadi 
Lokomotif Peradaban?


Salam dari kami
Azmul Pawzi
Ketua Umum FLSDK Sumatera Barat 2017-2018

Sabtu, 25 Februari 2017

Di balik kata Slow

Tahun 2009, saat bbrp bulan lagi UN akan berjalan, aku yg saat itu masih kelas 3 SMP 215 jkt, diberi masukan oleh ibu. "Ji, kamu nanti masuk SMK aja. Biar nanti pas lulus bisa langsung kerja, ayah ibu ga punya uang utk kuliah." Mendengar itu aku hanya tersenyum, lalu berucap. "Slow aja bu"

Waktu berjalan, Allah punya skenario lain, walau pada awalnya aku mendaftar SMK, tapi di detik2 akhir, aku malah d terima di SMA 101 Jkt. Walau aku berada di SMA, pesan Ibu tetap sama, lulus langsung kerja saja. Ga ada biaya untuk kamu kuliah.

Aku paham, bagaimana bisa untuk membiayai kuliah yang tinggi, utk SPP SMA saja yg cukup murah jika d banding SMA negri lainnya, tetap terasa mahal. Aku harus mencovernya dengan beasiswa yg kudapat dr salah satu bank BUMN dan bantuan sekolah. Jadi aku hnya brkata "slow aja bu, liat aja nanti." Aku berusaha menenangkan ibu. Namun dibalik kata slow, aku berjuang. Mempelajari soal snmptn otodidak tanpa bimbel, karena biaya bimbel bgtu mahal. Juga mencari link beasiswa. Dan cara lainnya.

Dan ternyata, kembali skenario Allah begitu indah, aku diterima menjadi mahasiswa FE Univ.Andalas dgn beasiswa bidikmisi. Bantuan hidup 600rb/bulan ku usahakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan akademik.

Aku tak ingin meminta ortu, aku harus mandiri. Ayah memang bbrp kali memberikan uang, tapi itu hanya bbrp kali itupun jumlahnya tak banyak. Kekurangan uang kadang kututupi dgn tip hasil mengisi training motivasi atau juri. Semua berjalan lancar hingga akhirnya aku memiliki penghasilan tetap bbrp tahun terakhir disini.

Takdir Allah amat baik, sbg mahasiswa, aku diberikan kesempatan oleh-Nya berprestasi, juga memimpin kegiatan2 mahasiswa, bicara di forum2 nasional, hingga mewakili kampus dan provinsi.

Perjuangan ini tak seberapa memang, namun ketahuilah jika Allah bkhendak,maka tak ad yg tak mungkin.

Utk kedua orangtua ku, walau tak datang karena ibu harus dirawat inap d RSUD jakbar dan ayah menjaganya. Aku ingin bilang,
Aku persembahkan ini untuk kalian Ayah Ibu ku.

Azmul Pawzi,SE
Bintang Aktivis Kampus Unand 2017
Penulis Buku "Sewindu Menata Rindu"

#MelangkahMenginspirasi

Kamis, 23 Februari 2017

Senja di Kampus, Saatnya Gantung Almamater


4 tahun 4 bulan menjalani studi di Unand. Tak terasa almamater ini menemani banyak cerita di kampus. Ia menjadi salah satu saksi perjuangan.Bermula dari bakti (ospek), hingga mengikuti berbagai kegiatan.

Ia pernah di pakai mengikuti banyak aksi, memimpin (korlap) demostrasi, orasi di depan mahasiswa sumbar di dprd, juga orasi di hadapan ribuan mahasiswa aksi di Bundaran HI Jakarta.

Ia mendampingi diri menjalani kepanitiaan dan kegiatan organisasi. Sambutan depan event nasional dan bicara di khalayak pemuda lainnya. Hmmm... tak terasa, lebih 50an kepanitiaan telah saya rasakan baik tingkat fakultas hingga nasional, juga belasan kepengurusan organisasi mulai dari anggota, koordinator bidang, hingga ketua.

Ia juga pernah menjadi teman menjuarai lomba debat tingkat provinsi, mewakili kontingen sumbar dan prestasi lainnya. Hingga ikut forum pemuda se Indonesia dan rapat-rapat pimpinan mahasiswa se nasional. Ah, tak terasa sudah banyak kota dan provinsi kita kunjungi bersama.

Banyak lagi sebenarnya cerita bersama almamater hijau ini ingin saya tulis, tapi takut kepanjangan. Namun yang pasti setiap cerita tentu punya endingnya. Saatnya menggantungnya. Ambil peran lain.

Masih banyak lini perjuangan yg membutuhkan aktor-aktornya. Perjuangan takkan pernah usai.
Mari tetap melangkah dan menginspirasi.

#MelangkahMenginspirasi

Tulisan ini hanya usaha menata kenangan.  

Minggu, 19 Februari 2017

Aku Tak Ingin Menangis, Terlebih Membuatmu Menangis

Apa yang dapat dibanggakan dari cinta yang tak berdaya terhadap keadaan? Dia hanya dapat diam, lalu menjauh. Hanya mampu terungkap di keheningan, atau terucap dalam kesendirian. Bahkan dalam sunyi ia tak mampu bicara. Hanya menjadi manusia pengecut yang tak mampu melawan dari tembok yang menghalang.

Walau cinta tak bersuara, tapi tetap saja ia tak pernah datang sendirian. Ia selalu hadir membawa berjuta rasa lainnya. Kabar buruknya, ia juga membawa rasa ingin memiliki. Ya, sebuah rasa yang membawa ribuan harapan, juga setumpuk angan. Bodohnya sang pecinta menikmati rasa itu, bahkan terbuai dengan bayang-bayang. Ia tak sadar bahwa dibalik indahnya rasa memiliki, ada setan menakutkan bernama kehilangan.

Kehilangan tak hanya membunuh angan, ia juga menyiksa batin dan menganiaya perasaan. Mungkin saja tubuh ini tak berlumur darah. Kulit-pun tetap mulus, tanpa ada perban yang membalut. Namun tak semua luka dapat terlihat bukan?

Lihat saja aku, engkau mungkin melihatku berwajah ceria. Senyumku memekar gembira, atau sesekali  tertawa dari kelakar yang tercipta. Tapi dapatkah kau melihatnya, hati yang telah babak belur memendam rindu. Atau memar yang tertinggal dari setiap malam sendu.

Aku menahannya, mengais ketegaran yang terlupa. Lalu meramunya menjadi senyum yang menyapa. Aku tak mau terlihat merana. Aku tak ingin menangis, terlebih membuatmu menangis. Engkau tak perlu tahu apa yang aku rasa. Engkau juga tak mesti pedulikan rindu yang menikam. Ini menyakitkan, jadi jangan engkau rasakan.

Aku tak ingin engkau bersedih karena perasaan seperti ini. Biar saja hanya aku yang begini, jangan engkau. Tetaplah seperti itu, berbahagialah dalam hidupmu. Bersuka citalah tanpa ada aku yang selalu gagu dihadapanmu.




Azmul Pawzi






Selasa, 07 Februari 2017

Cinta Tak Pernah Terlambat

Mungkin kita sudah bertemu hari ini. Saling bertatap, atau sekadar berpapasan di jalan. Mungkin kita sudah berkenalan hari ini. Berdiskusi akan suatu hal, atau hanya bertukar senyuman.

Tidak ada yang tahu sebuah perjodohan, bukan?  Bisa saja, orang yang akan menemani hidup kita nanti adalah teman semasa kecil.  Seorang yang menemani kita berlari riang, berdolan petak umpet atau bertengkar memperebutkan tempat bermain.

Bisa saja, dia yang kemudian hari tinggal seatap dengan kita adalah seorang yang mewarnai kehidupan sekolah. Yang mungkin saja saling cekcok saat tugas kelompok, saling mencuri pandangan saat guru menjelaskan atau berselisih antar geng remaja.

Atau bisa juga, kan. Orang yang menjadi jodoh kita adalah mereka yang selama ini berada di lingkar aktivitas kita. Saling debat dalam sebuah rapat, atau berkeringat dalam kepanitiaan.
Tidak ada yang tidak mungkin, bukan?

Karena siapa yang tahu tentang takdir. Kita hanya perlu menunggu kesadaran cinta itu hadir. Kadang kesadaran itu membutuhkan waktu yang singkat, kita hanya perlu menunggu hitungan hari atau bulan hingga kita menyadari cinta.

Atau kadang kita perlu waktu cukup lama. Kita kadang harus menunggu satu, belasan bahkan puluhan tahun untuk menyadari cinta. Namun itulah teka-tekinya. Itulah yang mungkin menjadi jalan hidup kita.

Cinta tak pernah datang terlambat, kan? Kita saja yang memang tak tahu kapan waktu yang tepat untuk mencinta.


Tak perlu kita terburu-buru mendefinisikan cinta. Jalani saja. Bukankah Allah selalu punya cara romantis untuk mempertemukan para hamba-Nya?

Selasa, 24 Januari 2017

Hantu Masa Lalu ~ (Part 1)

Begitu kelam, tak ada bintang yang tampak. Terlebih rembulan, seluruhnya tersaput oleh awan.  Malam itu sunyi, tak seorang manusia yang terlihat, tak ada obrolan atau gelak tawa yang terlacak. Hanya  sayup-sayup suara jangkrik yang terdengar jelas. Juga detak suara jam dinding yang tak mau kalah menghentak telinga. Hening dan sepi, tapi tidak untuk perasaan Selma. Hatinya bergemuruh kencang, banyak pertanyaan yang hadir, dia bingung juga sedih. Bukankah kabar siang tadi harusnya menjadi kabar gembira? Mengapa malam ini dia menangis?

Selma tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Disudut kamar 4x4 itu dia meringkuk. Lampu kamar tak menyala, gelap menyelimuti tubuhnya. Kepalanya tertunduk, tangannya memeluk kedua kakinya. Suaranya terisak-isak, tubuhnya gemetar.  Sesekali dia mendongak keatas, menyeka air mata. Lalu kembali menangis lagi. Dalam keheningan dia bertanya dalam hati. Mengapa kabar bahagia ini begitu menyakitkan?
***

“Harusnya elu seneng, Selma.” Diah mendengus kesal melihat temannya yang satu ini. Sejak kajian pagi dimulai hingga perjalanan pulang, Selma terus memasang wajah muram. Bagaimana bisa kabar sebahagia itu membuat dia murung berkepanjangan.

Selma menatap mata Diah, lalu kembali tertunduk. Dia menghembus nafas, langkahnya berat. Lalu ia memegang ujung jilbabnya yang terjulur panjan. Ibu jari dan telunjuknya memainkan kain berbahan wolpeach itu. Dia teringat perjuangannya untuk bisa berpenampilan seperti ini. Diah belum mengetahuinya, wajar dia tak mengerti. Ungkapnya dalam hati.

Tak ada suara lagi terdengar dari lisan kedua wanita berjilbab ini. Setapak jalan dari masjid menuju kos mereka hanya diiringi suara kendaraan lalu lalang. Selma diam, tak menjawab pertanyaan teman dekatnya. Sedangkan Diah masih terheran, bagaimana bisa dia semurung itu mendapat kabar sebaik kemarin? Dia saja lompat-lompat tak jelas di kamar kosnya ketika sore kemarin Selma menelpon bahwa lelaki itu datang ke rumahnya di Jakarta. Bicara dengan kedua orangtuanya, melamar Selma.

Wanita mana yang tak akan bahagia dilamar lelaki sesempurna Fatur? Lelaki teduh, berwajah ganteng, aktifis organisasi islam, dan lagi dia adalah hafizh Qur’an. Setidaknya 20-an juz al-Qur’an telah ia hafal. Walaupun jurusan kuliahnya adalah Matematika, namun ia sering mengisi ceramah-ceramah di berbagai tempat. Kurang komplit apa lagi? Ditambah lagi keluarganya adalah tokoh agama di provinsi ini. Pendidikan Fatur sebelum masuk kampus ini-pun juga ia habiskan di Islamic Boarding School. Lelaki baik, dari keluarga baik dan pergaulannya terjaga baik. Benar-benar lelaki sempurna.

Berita hebatnya kemarin siang dia sendiri datang bersama temannya untuk melamar Selma. Jauh-jauh pergi ke Jakarta untuk menemui orangtuanya. Dalam hati Diah, jika ia yang dilamar, mungkin ia sudah terbang kelangit tertinggi, saking senangnya. Dan jika kabar ini tersebar seantero kampus, entah berapa banyak wanita yang patah hati mendengarnya. Tapi ini sangat mengherankan, tak ada rona bahagia terpancar dari wajah Selma pagi ini. Dia seperti menyembunyikan sesuatu yang amat pelik dalam hatinya. Melihat wajah Selma yang tertekuk dari pagi, Diah memilih diam. Dia tak mau mengorek lebih dalam.  Cepat atau lambat Selma akan cerita kepadanya, begitu gumamnya.

Tiba-tiba hujan turun, tanpa waktu yang lama, hujan tersebut berangsur-angsur lebih deras. Tanpa pikir panjang, kedua gadis ini berlari menuju kedai bakso. Niat awal mereka berteduh, karena sungkan dan tergoda aroma yang sedap, mereka akhirnya memutuskan memesan dua mangkok bakso. Kedai itu cukup luas dan masih lengang. Diah mengajak Selma memilih meja paling ujung, lebih jauh dari pegawai kedai dan mungkin lebih nyaman jika seandainya Selma ingin bercerita, karena topik mereka tak akan terdengar.

Lima belas menit berlalu, dua mangkok yang telah terpesan itu sudah habis. Sedangkan hujan semakin deras diluar, mereka terjebak, harus bertahan lebih lama lagi di dalam kedai itu. Melihat keadaan, Diah ingin bertanya lebih dalam lagi. Namun sebelum terucap sebuah kata dari mulut Diah, Selma terlebih dulu bicara. Memulai obrolan.

“Aku bingung, Diah.” Diah tetap diam, menunggu kata berikutnya dari Selma. wajahnya memasang mimik seakan bertanya dalam diamnya. Bingung kenapa?

“Aku takut dia menyesal, Diah. Aku takut Fatur menyesal.”

“Fatur lelaki Shalih kok, Selma. Kekhawatiranmu berlebihan saja. Memangnya kenapa, Sih?”

“Aku..... ” Setengah berbisik Selma menuntaskan ucapannya. Mata Diah terbelalak. Dalam hatinya dia tak menyangka mendengar itu. Bagaimana bisa?


*Bersambung*

Kamis, 29 Desember 2016

Menyimpan Perasaan adalah Hak Setiap Individu

            Suatu hal yang sangat penting di dunia ini yang sangat tidak boleh dicampuri oleh orang lain adalah perasaan.  Ia adalah sisi kehidupan seseorang yang amat privasi, tak boleh ada intervensi apapun dari pihak luar. Karena perasaan lah tempat ia menjadi manusia paling jujur. Seberapa besar kebohongan yang pernah ia buat, ia tetap harus jujur dengan perasaannya.

            Tak boleh kita memaksakan perasaan orang lain terhadap kita, baik itu benci, rindu, dendam, hingga cinta. Setiap orang berhak membenci setiap orang yang dia inginkan, setiap manusia berhak mendendam kepada siapapun yang dia mau. Jika pun ada seseorang yang membenci kita. Bukan ranah kita untuk memaksanya menyukai kita. Begitu-pun perasaan cinta, ia tak bisa dibuat-buat dan dipaksakan. Karena Kahlil Gibran pernah berkata bahwa  “cinta adalah tunas pesona jiwa, dan jika tunas itu tak tercipta dengan sesaat, ia takkan tercipta bertahun-tahun bahkan berabad-abad”.

            Maka berhentilah memaksa perasaan seseorang, karena itu menghabiskan tenaga. Engkau hanya perlu memainkan peran dengan sebaik yang engkau punya kepada setiap orang disekitarmu. Tak boleh ada yang termarjinalkan atau kita asingkan. Berlakulah adil dalam pergaulan, menyebar senyum ke sesama, membantu jika sanggup dan menjadi seseorang yang terbaik semampu kita.

            Jika masih ada seseorang yang membenci kita, tak perlu risau. Itu hak mereka. Jika ada dendam kepada kita, tak perlu gundah. Jadilah insan terbaik semampu kita dihadapannya. Tetap menjadi seseorang ramah dan pemaaf. Juga perasaan dendam dan benci dihati kita, itu juga hak kita untuk mengaturnya, mau disimpan atau dibuang, sekali lagi itu hak kita. Namun karena itu perasaan kita, tentu kita bisa mengaturnya dengan baik, kan? Melenyapkan benci dan dendam bukannya lebih baik?


            Begitu juga bila seseorang yang kita cintai, ternyata tak mencintai kita. Tak perlu memaksakan. Masih banyak cinta lain yang bisa kita perjuangkan, bukan? Atau mungkin, ada seseorang di ujung sana yang menyimpan cinta amat dalam kepada kita. Bahkan orang itu sedang berada disekeliling kehidupan kita sekarang. Siapa yang tahu, kan?


Azmul Pawzi
#MelangkahMenginspirasi



Kamis, 10 November 2016

Tentang Buku Sewindu Menata Rindu



Rindu adalah sebuah konsekuensi akan cinta yang terpendam. Ia akan tumbuh berkembang seiring rasa yang semakin dalam. Adakalanya ia menjadi melodi indah yang menemani setiap senyum  ceria. Ada masanya ia menjadi tersangka akan kesenduan yang melanda. Ia memperlambat waktu, menyita pikiran hingga menguras perasaan. Kadang ia begitu manis, kadang begitu pahit. Kadang ia dinikmati, kadang ia dibenci.
Manusia memang begitu lugu dalam mengartikan rindu. Karena memahaminya tak lebih mudah dari mengerti akan cinta. Keduanya sama-sama pelik, sama-sama sukar dimengerti. Maka aku ingin menuliskannya, tentang kerinduan dalam arti luas. Karena ia bisa saja hadir karena interaksi dengan Tuhan, orang terdekat, benda kesayangan, negara bahkan pahlawan.
Siapa yang dapat mengartikan rindu dengan lugas? Seperti layaknya kebanyakan manusia, saya juga sedang bergulat dengan kenangan juga perasaan yang meluap pengap. Terlebih ketika rindu melanda, ia bagaikan banjir menderas yang menenggelamkan kita dalam kepedihan yang begitu manis. Setiap orang punya banyak cara dalam menangani kerinduan yang mendalam. Sedangkan saya lebih memilih menulis untuk menata setiap rasa. Dan sejatinya menulis adalah proses pengenalan diri lebih dalam, karena kita harus melewati renungan hingga kontemplasi yang cukup intens untuk menghasilkan sebuah tulisan. 
Perjalanan menata rasa tersebut ternyata berbuah positif dari teman-teman sekitar. Mereka memotivasi saya merapikan setiap tulisan, lalu membukukannya. Keraguan yang pada awalnya sempat terpikir dengan mudahnya terpecahkan begitu saja karena dukungan teman-teman dan juga setiap pembaca tulisan saya. Akhirnya saya memutuskan untuk menghimpun tulisan tersebut dan mempublikasikannya dalam bentuk buku.
Sewindu Menata Rindu adalah kumpulan prosa, cerpen, puisi dan berbagai tulisan yang mewakili setiap renungan kehidupan yang senantiasa mengerumuni setiap sudut ruang otak saya. Buku ini adalah cara saya menginterpretasikan rindu dalam setiap lingkupnya. Karena memang rindu begitu kompleks, ia begitu luas hingga dapat hadir dalam interaksi yang kita lakukan.
Bersiaplah untuk membacanya, lalu bersiap juga untuk menata setiap makna. Karena kenangan tiada berharga tanpa hikmah yang kita petik darinya.
*Buku ini sudah diterbitkan oleh Penerbit Mediakita (ig : @mediakita) pada tahun 2017, dan telah tersebar di seluruh Gramedia di seluruh Indonesia dari aceh hingga papua dan toko buku offline dan online lainnya.

Azmul Pawzi
#MelangkahMenginspirasi



Rabu, 28 September 2016

Aku Selalu Menantimu

Aku selalu menantimu
Itulah mengapa aku bersujud kepada-Nya
Menangis tersedu dalam doa-doa

Aku selalu menantimu
Itulah mengapa aku berusaha hadir kerumah-Nya
Menyambut setiap panggilan untuk berjama'ah menyembah Sang Maha Pencipta


Aku selalu menantimu
Itulah mengapa aku memohon ampun dari dosa-dosa
Menyesali setiap maksiat yg terlaksana

Aku selalu menantimu
Karena aku tahu engkau pasti datang menjemputku
Secepat apapun aku menghindar engkau takkan menjauh, namun semakin dekat dan semakin dekat

Aku selalu menantimu
Karena memang hanya orang cerdas yang selalu mengingatmu
Setidaknya itu yang Rasul sabdakan

Aku selalu menantimu
Memisahkan diri dari dunia yang fana
Lalu membawaku menuju keabadian

#MelangkahMenginspirasi

Jumat, 02 September 2016

Menjadi yang Engkau Butuhkan

Kadang aku ingin menjadi mentari
Agar aku dapat bersinar cerah menerangi ruang hatimu
Menghangatkan kala hari dingin, atau mungkin hanya sekedar menyapamu disetiap pagi
Kadang aku ingin menjadi rembulan
Agar aku dapat menghiasi malam-malam kelammu
Mengobati rasa sepi, atau sekedar dapat engkau pandang bila gelap membuatmu gundah
Kadang aku ingin menjadi hujan
Agar aku dapat membasahi tiap-tiap rasamu yang mulai kering
Tempatmu bersenang ria menikmati gemericik air, atau sekedar menarik perhatianmu kala aku hadir
Kadang aku ingin menjadi udara
Agar senantiasa diri ini mengelilingimu
Membantumu dalam menjalani hidup, atau sekedar agar kamu yakin, kala engkau tak melihatku sesungguhnya aku ada dan terasa untukmu
Kadang aku ingin menjadi pelangi
Yang mewarnai langit pikiranmu kala badai cobaan berusaha membuatmu sedih
Menjadi inspirasi tiap imajinasimu, atau sekedar menjadi energi agar engkau menghapus air matamu
Kadang aku ingin menjadi pepohonan
Agar aku dapat menyediakan oksigen segar untukmu
Membuat lingkunganmu terlihat asri, atau sekedar menjadi sandaran saat engkau berteduh membaca buku
Sesungguhnya semua ini sederhana
Aku hanya ingin menjadi sesuatu yang engkau butuhkan
Agar tiada lagi hal yang engkau inginkan selain aku
Atau mungkin hanya sekedar menjadi alasanmu untuk tersenyum setiap hari