Jumat, 17 Agustus 2018

Shalihmu, Bakti Terbaikmu

Gelar yang engkau dapat, mungkin membuat senang orangtuamu.

Prestasi yang engkau raih, mungkin membuat sanak saudara salut terhadapmu.

Medali dan piala yang terdapat dirumahmu, mungkin menjadikan tetangga memuji dirimu.

Harta melimpah yang engkau miliki mungkin menjadi penaik strata masyarakat untuk keluargamu.

Jabatan yang engkau terima, mungkin membuat orang sekitar berdecak kagum dengan pencapaianmu.

Dimuka bumi, semua itu memang membanggakan. Mata manusia akan sangat kagum terhadap kamu dan keluargamu. Dan bisa menjadi baktimu untuk orangtuamu.

Tapi ingatlah, itu semua hanya fatamorgana juga semu. Ada hal yang lebih penting dari semua itu. Keshalihanmu.

Ya keshalihanmu, karna shalihmu pasti menjadikan doamu untuk orangtuamu langsung tembus kelangit dan membantu orangtuamu di kehidupan abadi kelak.

Bukankah dari sabda Rasul, bahwa amal yang tak terputus adalah doa anak shalih? Sekali lagi, anak yang shalih. Tidak hanya anak, menjadi anak saja tidak cukup untuk membantu orantuamu diakhirat. Namun anak yang shalih. Dengan keshalihan engkau mendapat tiket khusus seperti apa yang disampaikan Nabi.

Maka sudahkah kita berusaha menjadi shalih? Memaksimalkan segala ibadah dan menjauhi segala dosa?

Menjalankan segala amalan wajib maupun sunnah. Menjaga interaksi lawan jenis juga menutup aurat. Dan senantiasa teguh memperbaiki diri dan memperjuangkan islam.

Semoga kita semua senantiasa berusaha menjadi shalih dan shalihah. Sebagai bakti terbaik untuk kedua orangtua.

#MelangkahMenginspirasi

Berteman dengan Orang Shalih Kadang Menjengkelkan

Bersama, berjama'ah dengan orang-orang shalih, kadang tak selamanya indah. Teramat banyak kalimat-kalimat pengingat yang jika saja kita tak memiliki kantung sabar yang banyak. Maka akan dengan segera kita meninggalkan lingkungan orang-orang shalih.

Karna kadang ketika hati sedang sempit, amatlah menjengkelkan menerima nasihat demi nasihat. Teramat tak menyenangkan menerima masukan-masukan yang kadang menggurui walaupun itu baik.

Dalam lingkungan orang-orang shalih, jika engkau terlambat sholat, engkau akan diingatkan untuk segera shalat diawal waktu. Ketika menutup auratmu belum sempurna, maka engkau akan diingatkan menutup aurat secara sempurna. Jika engkau pacaran, engkau akan diminta untuk menjadi single fisabilillah.

Bahkan kalimat-kalimat pengingat ini sampai ke hal-hal sunnah layaknya nasihat tilawah qur'an setiap hari, dhuha, tahajud, puasa sunnah dan amalan lainnya yang tentunya sulit kita dapatkan jika kita berteman dengan mereka yang menganggap enteng agama ini.
Bersama mereka yang menganggap enteng agama akan banyak pembiaran-pembiaran yang kita dapatkan. Shalat wajib yang tertinggal, akan dibiarkan. Kita membuka aurat, akan dibiarkan. Hingga maksiat-maksiat lain  yang kita lakukan, akan banyak pembiaran bahkan kadang ada ajakan melakukan maksiat bersama.

Menerima nasihat memang kadang menjengkelkan, namun disitulah indahnya. Karna kita sebagai manusia, pasti kita akan khilaf. Maka memiliki teman yang meluruskan kesalahan kita adalah anugrah Allah yang mengarahkan kita ke surga-Nya.

Terimalah dengan sabar dan lapang dada setiap interaksi yang ada, karna orang-orang shalih juga tetap manusia. Dia bukan malaikat yang memiliki sayap dan tanpa cela. Maka maklumi kesalahan dalam menasihati yang kita rasa dan ambillah hal baiknya.

Maka sudahkah kita berjama'ah dengan orang-orang shalih? Jika iya, bersyukur dan bersabarlah dalam ukhuwah yang berkah. Jika belum, carilah sekarang juga. Karena siapa tau mereka akan memberi syafaat kita ke surga di akhirat kelak.

#MelangkahMenginspirasi 

Memangkas Potensi Umat untuk Berkembang

Suatu ketika seorang ikhwan pernah mengeluarkan pernyataan seperti ini "kalau ana nikah, istri ana disuruh dirumah aja". "Kenapa tu?" Tanya saya.

Dengan mata meyakinkan dia berkata "Akhwat itu fitrahnya di rumah akhi. Lebih baik ia di rumah agar menghindari fitnah." Tegasnya kepadaku.

Aku memperbaiki cara dudukku lalu menyampaikan beberapa hal. "Oke, gini deh. Antum pasti ingin menikah dengan akhwat yang  berpendidikan, kan?". "Tentu mul, mencari istri itu mencari ibu dari anak-anak kita. Cerdas penting, minimal sarjana lah." Dia memberikan pendapatnya.

Aku meneruskan, "Antum juga nyari aktivis dakwah kan, yang paham agama kan?". "Tentu iya mul, kepahaman agama itu hal utama." Jawabnya semangat.

Saya pun tersenyum dan mulai menyampaikan pendapat "Nah gini, jumlah wanita berpendidikan tinggi itu ga banyak akhi. Kurang lebih hanya 5% jumlahnya. Terlebih lagi, wanita berpendidikan yang juga menjadi aktivis dakwah, tentu semakin sedikit.

Dan diantara sedikitnya jumlah akhwat aktivis dakwah yg berpendidikan, salah satunya ingin antum kungkung di rumah, padahal ilmu dan ghirah akhwat-akhwat ini adalah potensi untuk pengembangan umat. Liatlah, ilmu-ilmu yang mereka dapatkan di kampus bisa menggerakkan umat sesuai bidangnya. Semangat dakwahnya bisa memahamkan perempuan-perempuan lain. Dia bisa jadi peningkatan pemahaman para muslimah, setidaknya bisa mewarnai perempuan di lingkungan sekitarnya dengan nilai-nilai islam.

Minimal, jika antum ga suka dia bekerja. Pastikan dia tetap aktif berkegiatan di luar. Entah di PKK atau organisasi kemuslimahan. Dia bisa bergerak dalam isu pemberdayaan perempuan, ketahanan keluarga juga penyelamatan anak.

Wanita yang jadi istri antum yang berpendidikan juga aktivis dakwah itu memiliki kemampuan pengembangan umat. Jika antum tahan di rumah dan tak menyebar manfaat diluar. Sama saja antum memangkas potensi umat untuk berkembang." Ungkapku kepadanya.

Dia mengangguk dan setuju bahwa umat membutuhkan wanita-wanita yang menggunakan ilmunya dan pemahaman agamanya untuk mengembangkan umat. Agar penyebaran nilai-nilai islam di masyarakat lebih besar lagi.

#MelangkahMenginspirasi

Tersenyum Bersamamu, Selamanya

Berulang kali aku tulis bait-bait puisi. Namun berulang kali juga aku menghapusnya. Entah sudah seberapa banyak kalimat yang telah dihilangkan, entah sudah sekian sajak yang urung diungkapkan.

Ingin rasanya aku ucapkan semuanya. Mengutarakan segala sesak di dada, menyampaikan setiap jengkal rasa di jiwa. Namun tanpa kukira ternyata lidah ini kelu. Ia membeku, tak menentu.

Padahal sudah kubayangkan metafora yang menggugah mata. Telah aku pikirkan prosa menyentuh rasa.  Akan tetapi ia tak sampai aku tuangkan menjadi aksara, apalagi kata hingga bicara. Hanya tertahan oleh diri yang tak berdaya.

Menyedihkan bukan? Karna memang hal yang paling memilukan di dunia ini adalah menjadi bagian yang tak berdaya.

Ketika ingin memberi segala keindahan, rupanya tak sanggup. Saat ingin mempersembahkan kemewahan, ternyata tak mampu. Ingin suguhkan kesempurnaan, namun tak bisa berbuat apa-apa.

Maka izinkan aku urungkan segala mimpi hiperbola masa depan yang ingin ku jalani denganmu. Aku ingin menyederhanakannya. Agar ini tak rumit, dan engkau dapat mengerti. Supaya cepat dipahami. Dan kita dapat saling berbagi juga memiliki.

Aku hanya ingin...
Tersenyum bersamamu, selamanya.

Maukah engkau? 

Masa Muda Kita Untuk Apa?

Pernah ga sih mencoba sekedar menjawab pertanyaan "masa muda kita digunakan untuk apa?", sebelum pertanyaan ini benar-benar ditanya ketika di akhirat sana?

Pernah ga sih mencoba-coba merekam ulang kehidupan kita. Selama masih diberi kenikmatan usia muda, kita habiskan buat apa?

Sibuk hanya mengejar harta? Hingga setiap detik hanya memikirkan uang dan uang. Setiap kegiatan dihitung-hitung keuntungan finansialnya. Mati-matian untuk kehidupan mewah lagi melimpah.

Atau mengejar pangkat? Hingga setiap saat hanya berjuang mengejar ambisi dunia. Sikut kanan, sikut kiri, injak bawahan dan jilat atasan. Segala cara dicari agar dapat kehormatan, segala daya digunakan agar dapat jabatan.

Atau mungkin, hanya mengejar nafsu belaka? Hanya hura-hura dan senang-senang, menghabiskan waktu dengan ngehedon ria. Menikmati kebebasan hasrat juga syahwat. Melupakan batas adat apalagi syariat.

Sudahkah kita bertanya, apakah ada kebermanfaatan di usia muda kita? Manfaat bagi dunia dan akhirat kita. Manfaat untuk memperbaiki lingkungan sekitar kita dan manfaat untuk mengurangi kemaksiatan yang ada di hadapan kita.
Sudahkah kita bertanya, buat apa masa muda kita habiskan?
Sudahkah bermanfaat?

#MelangkahMenginspirasi

Semuanya Sudah Akurat

Tak ada yang belum diatur. Allah Azza wa Jalla sudah menciptakan apapun secara sempurna. Segalanya sudah terkonsep. Semuanya sudah tertulis di Lauhul Mahfudz.

Setiap manusia, sudah ada takaran rezekinya, tak ada yang terlalu banyak, tak ada yang terlalu sedikit.

Setiap insan, sudah ada takaran waktunya,
tidak ada yang terlalu cepat, juga tak ada yang terlambat.

Semuanya sudah akurat, jelas dan takkan salah.

Tapi kadang kita saja yang sok tahu. Membuat persepsi sesuai kebanyakan orang. Membuat lintas pemikiran seperti apa adanya di masyarakat.

Katanya, sukses itu harus kaya, mapan itu berpenghasilan melimpah ruah. Uang harus banyak, mobil mewah dan rumah megah. Jika belum tercapai, engkau akan dipandang sebelah mata. Bahkan oleh orang-orang sekitarmu. Suaramu tak di dengar, pendapatmu tak digubris. Engkau hanyalah butiran debu bila tanpa itu. Anak ingusan yang sok bermutu.

Karna itu semua, kita jadi sok tahu akan apa yang terbaik buat kita, terbaik untuk keluarga kita, terbaik untuk sanak saudara kita, terbaik untuk teman-teman kita. Lalu memaksakan apa yang kita tahu. Hingga segalanya dihitung dengan angka-angka. Gaji, harta, usia dan segalanya tentang dunia. Lupa akan takdir, lupa akan keajaiban Sang Maha Pencipta.

Jadi berhentilah sok tahu akan jalan cerita sendiri dan orang lain. Allah sudah punya takaran yang tepat untuk masing-masing kita. Syukur dan sabar dengan apa yang di gariskan-Nya juga berdoa.

Bukan malah sok menilai apa yang lebih tepat untuk diri sendiri, apa lagi orang lain.

#MelangkahMenginspirasi

Begitulah Cinta

Begitulah cinta, kala kita telah mencintai sesuatu. Seletih apapun tubuh kita memenuhi seruannya. Berulang kali diri merasa ingin meninggalkannya. Namun tetap saja, cinta akan tetap memanggil kita untuk menemuinya. Mengerjakan apapun yang ia mau. Walau keringat bercucuran, air mata menetes, darah tercurah, hingga tubuh tersungkur. Ia akan tetap memaksamu melaksanakan pintanya.

Dan dengan anehnya, kita akan senang hati mengerjakannya. Merasa tidak ada hal yang berat ketika menjalaninya. Walau memang sesekali kita merasa ingin menyerah, berhenti, lalu pergi. Namun ketika cinta itu menghimbau kembali. Dengan seketika kita melupakan keletihan itu semua, tak menghiraukan kata-kata kita sebelumnya yang ingin meninggalkannya. Seruannya bagaikan sihir yang menghipnotis diri hingga kita akan paripurna berjuang untuknya.

Lalu sebuah pertanyaaan hadir. Bagaimana bila cinta itu mengalir ke sesuatu yang dibenci Allah? Maka kita akan senang hati melakukan kemaksiatan. Menambah pundi-pundi dosa. Berbuat berbagai keburukan dengan rasa tak bersalah. Bahkan segala kekeliruan yang diperbuat itu menjadi sebuah hal yang kita rasa benar. Hingga kita tak memedulikan orang lain yang menyampaikan kebenaran kepada kita, walau itu adalah kebenaran yang hakiki.

Jadi, arahkanlah cinta kita kepada Sang Maha Cinta serta hal yang dicintai-Nya. Agar setiap kerja-kerja cinta kita menjadi sesuatu hal yang menambah hitungan amal baik kita. Bukan romansa kosong tanpa makna.

Maka berhati-hatilah dalam mencinta. Jika kita salah, hidup kita akan sia-sia.

#MelangkahMenginspirasi

Tidak Masalah, Tersenyumlah

Tidak masalah, tersenyumlah, walau kadang berat, walau pelik dan menyesak dada.

Tidak apa-apa, tersenyumlah, walau sempit hati terasa, walau penat dan sakit di raga.

Tidak mengapa, tersenyumlah, walau perjuangan terasa sepi, memanggul segala beban sendiri dan tidak ada yang peduli.

Tersenyumlah.

Karena masalah dan beban pasti akan tiba. Namun kebahagiaan tak boleh sirna.

Tersenyumlah.

#MelangkahMenginspirasi

Asal Tidak Bermaksiat dan Tidak Pula Merugikan Orang Lain, Lakukanlah

Saya termasuk orang yang tak begitu rigid, bagi saya banyak hal yang permisif. Beberapa hal yang saklek oleh orang, bisa lebih santai dalam pandangan saya.

Standar kebebasan seseorang bagi saya sederhana sekali. Menurut saya, manusia boleh berinovasi, berbuat sekreatif dan sebebas mungkin asal tidak maksiat dan juga tak merugikan orang lain. Jika dua hal itu terpenuhi, berbuatlah sesuka hati.

Bagi saya, jika seseorang telah memenuhi dua hal ini, dan masih saja kehidupan pribadinya banyak yang ngomentari dan sok tahu. Maka cukuplah saya simpulkan, sang komentator adalah orang yang amat suka mengurusi orang lain. Berbicara seenak jidat dan tak dipikirkan. Berucap hanya untuk menunjukan superior dan digdaya. Bahwa dia lebih paham segalanya.

Kadang sang komentator berkata bijak namun menyayat jiwa. Memberikan jalan hidup sesuai pola fikir dirinya. Memberikan standar karya dan keputusan seperti apa yang diotaknya. Seakan-akan semua hal harus sama dengan ucapnya. Ibarat baju, mereka memaksakan semua orang sama ukuran sepertinya.

Inilah tindak tanduk kuno yang kaku dan tertutup akan perubahan. Segala hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan mereka caci, sindir juga hinakan. Sesuatu yang tidak sama dengan kehidupan mayoritas masyarakat, mereka pandang rendah dan digunjingkan.

Jadi, tak perlu kita pikirkan pola pikir primitif macam itu. Jika tindakanmu, karyamu dan keputusan hidupmu bukanlah sebuah maksiat dan merugikan orang lain. Lakukanlah, engkau berhak akan itu.

Tapi ingatlah, sebaik-baik perbuatan, adalah amal shalih dan kebermanfaatan bagi sesama.

@azmulpawzi
#MelangkahMenginspirasi

Tak Perlu Ada Penjelasan

Maka benar perkataan Ali bin Abi thalib, "tak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang mencintaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu". Jadi tak perlu engkau jelaskan.

Jika memang fitnah-fitnah, sindiran dan caci maki itu datang kepadamu. Baik didepan maupun dibelakangmu, biarlah. Orang yang mencintaimu takkan mempercayainya. Orang menyayangimu, takkan juga mempedulikannya.

Bahkan jika seandainya, engkau jelaskan dirimu sedemikian rupa. Mereka yang benci kepadamu, mereka yang dengki kepadamu, mereka yang tidak menyukaimu. Akan terus menghinamu, mengunjingmu, menjelek-jelekkanmu.

Menjelaskan apapun itu, hanya akan menghabiskan energimu. Menyayat-nyayat hatimu. Melukai perasaanmu.

Maka, biarlah. Biarlah mereka berkata apapun. Engkau hanya akan tahu siapa yang sebenarnya menyayangimu. Dan siapa pula yang membencimu.

Lagi pula, Allah tidak menghisab kita dari prasangka manusia. Tapi kita akan diadili atas kenyataan perbuatan kita.

Jadi, biarkanlah.

#MelangkahMenginspirasi

Terima Kasih Telah Meremehkan

Terimakasih telah merendahkan, memandang diri tak ada potensi dan kesempatan.  Menganggap diri tak bisa apa-apa. Pecundang rapuh yang tak berdaya.

Terima kasih telah menertawakan. Menilai segala mimpi ini adalah lelucon dan candaan. Membicarakan diri ini dengan gelak tawa dan nada miring penghinaan.

Terima kasih telah melihat sebelah mata. Menatap dengan mata penuh cemo'ohan. Melupakan diri ini seakan-akan tak ada dan tak berguna.

Terima kasih telah meremehkan, karenanya hidup ini lebih menantang dan menyenangkan. 😊

#MelangkahMenginspirasi
. 📷 Danau Toba, Sumatera Utara

Berhentilah Men-Judge Orang

Kadang saya ga habis fikir ya. Kadang bener juga sosmed ini bikin orang jadi suka ikut campur urusan orang lain dengan sangat jauh. Terutama pilihan-pilihan orang.

Baru-baru ini saya dengar orang-orang mengkomentari seorang artis melepas jilbab. Dan ini jadi bahan gunjingan banyak orang. Bahkan sampai di orang-orang sekitar saya.

Awal saya ga pikirin info ini. Tapi setelah salah satu teman saya bicara dengan wajah kecewa membicarakan ini artis.
Saya karna geram denger orang gunjing depan saya, saya bilang aja. "Emang dengan lepasnya jilbab dia, hilang ke imanan kamu? Ga pantas kita kecewa cuma gara-gara artis buka jilbab doang." Ini kayak gini kata-katanya gara-gara temen, jadinya bisa se-slow ini. Udah tafahum soalnya. #eeaaa

Secara langsung memang saya cuma denger beberapa orang. Tapi kalo di sosmed, orang-orang ini semakin menjadi-jadi. Banyak postingan tentang ini.

Oke lah berjilbab wajib, tapi apakah dengan orang melepas jilbab atau tak melaksanakan kewajiban lain atau bahkan melakukan maksiat, kita jadi boleh gosipin orang ini? Kita jadi boleh meluapkan kata-kata kekecewaan kepada orang ini? Kita merasa lebih mulia gitu?

Plis deh ya, jangan gampang men-judge orang. Konsekwensi iman memang resah melihat kemungkaran, tapi mencegahnya bukan dengan digunjingin. Paling minimal do'akan saja. Tanpa menghakimi atau mengosipkan.
Kalau mau menasehati, dengan chat pribadi aja. Bukankah menasehati di kolom komentar sama saja mengkomentari di depan orang banyak? Soalnya siapa saja bisa melihat komentarnya. Ingat, ngasih nasihat di depan banyak orang itu bukan akhlak seorang da'i.

Aktivis Gunjing

Salah satu kehebatan manusia zaman now adalah tidak pernah kehabisan bahan gunjing. Tidak melakukan kewajiban, digunjing. Ngerjain maksiat, digunjing. Bahkan melakukan hal baik tapi tidak sesuai dengan pikirannya, digunjing.

Mereka sangat aktiv dalam menggunjing, bahkan sangat militan layaknya seorang aktivis. Keahlian kemampuan aktivis gunjing ini pun ada yang newbie hingga profesional. Jago cari sumber kekurangan, ahli membesar-besarkan kesalahan, hingga pakar pembuat berita gunjing yang cetar.

Siapapun bisa jadi objek gunjingan. Artis, temen, sahabat, bahkan keluarga adalah objek menarik untuk digunjing. Apalagi kalo ustaz, beh makin jadi-jadi gunjingnya. Makin dekat agama dia, makin asik digunjingin.

Ekspresi yang dihadirkan para aktivis gunjing ini pun sangat variatif. Kadang heran dengan embel-embel "kok bisa ya?", "ih ga nyangka deh, ngaji tapi kayak gitu." Atau ekspresi menghakimi dengn kata "tuh gue bilang juga apa, dia kan..." , "dia mah munafik.." dan banyak ekspresinya.

Begitulah cerita aktivis gunjing zaman now. Suatu hal yang pasti para penggunjing ini adalah menunjukkan superior. Semangat mereka adalah : Ana khairu minhu, saya lebih baik dari dia. Aktivis gunjing menunjukkan bahwa pegunjing lebih baik dari pada objek digunjing.

Ada yang sudah hijrah menyampaikan kesalahan yang belum hijrah dengan embel-embel "gue kan udah ngaji, dia suka maksiat". Ada yang belum hijrah menceritakan kesalahan yang sudah hijrah dengan embel-embel "mending gue masih kayak gini, tapi ga munafik kayak dia." Na'udzubillah.

Mari kita hindari dari sifat para aktivis gunjing. Karna relakah kita memakan bangkai saudara kita. Menghabiskan pahala kita dan menjadikan kita manusia paling bangkrut. So, jauhi gunjing.

#MelangkahMenginspirasi

Pemuda, Ilmu dan Takwa

Imam Syafi'i pernah berkata, "Demi Allah, Hakikat kehidupan pemuda adalah dengan mencari ilmu dan bertaqwa, bila keduanya tak mewujud, maka tak ada jatidiri padanya."
.
Jadi jika seorang pemuda tak memiliki satu diantara dua hal ini. Maka hilanglah jatidirinya sebagai pemuda. Lenyap tak berbekas. Ditelan arus hedonisme. Terbawa nafsu syahwat juga syubhat. Melupakan tugas dirinya sebagai seorang hamba dan manusia.

Padahal jika kita menilik apa yang disampaikan imam syahid Hasan Al Banna bahwa "Dalam membangun peradaban, tekad pemuda adalah pilarnya, idealisme pemuda dalah pondasinya, dan aksi pemuda adalah panji-panjinya."

Maka seharusnya pemudalah tonggak kebangkitan, pemudalah aktor-aktor kejayaan. Tapi jelaslah jika tanpa ilmu dan ketakwaan. Pemuda hanyalah zombie hidup. Bergerak, namun tanpa ruh.
Selayaknya ungkapan imam Syafi'i "Barangsiapa yang tidak belajar di waktu mudanya. Bertakbirlah 4x atas kematiannya."

Tanpa semangat menuntut ilmu, seorang pemuda itu sesunggunya telah mati sebelum kematian sesungguhnya tiba.
Maka bersemangatlah kita dalam mengejar ilmu. Bertekadlah kita dalam memperkuat ketakwaan.

Karna dengan dua hal inilah kita akan menjadi pemuda terbaik di dunia dan dipuji di akhirat.

#MelangkahMenginspirasi

Mempersiapkan Pemimpin

Likulli marhalatin rijaluha wa likulli marhalatin masyakiluha-Setiap masa itu ada pemimpinnya  dan setiap masa itu ada masalahnya tersendiri.

Masa yang kita lewati, tentu berbeda dengan generasi sebelum kita. Begitu pula masa kita juga berbeda dengan masa generasi setelah kita.

Setiap masa ada tantangan tersendiri, ada permasalahannya masing-masing. Maka tak pantas rasanya jika perjuangan kita disamakan dengan perjuangan zaman penjajah atau zaman orde baru.

Jadi tak perlu ada yang merasa zaman saya lebih keren, zaman dia lebih dahsyat. Karna setiap zaman ada bentuk kontribusinya masing-masing.

Namun satu hal yang pasti adalah setiap generasi wajib mempersiapkan generasi selanjutnya. Agar estafet perjuangan cita tak mundur bahkan berhenti. Agar spirit kejayaan tak sirna.

Karna dalam islam-pun tak boleh kita meninggalkan generasi yang lemah. Terlebih lemah iman dan ketakwaan. Jadi kewajiban kita bersama mempersiapkan pemimpin untuk masa depan.

Dari dulu, saya selalu berpegang teguh pada sebuah pernyataan "Menjadi pemimpin memang hebat, namun membentuk pemimpin hebat jauh lebih dahsyat."
.
Sudahkah kita bersiap dan mempersiapkan generasi kuat untuk cita-cita jangka panjang kita bersama?

#MelangkahMenginspirasi
#kkp2017
.
📷dalam agenda Kawah Kepemimpinan Pelajar 2017

Aku Berharap Engkaulah Rumah

Jiwaku petualang,
dengan kumpulan langkah jauh membentang.
Berkeringat mencari pangan dan sandang.
Tetap maju walau kadang luka menghadang.

Jiwaku petualang,
Bukan berarti aku tak ingin pulang.
Karena setiap perjalanan tak selamanya berujung panjang.
Pasti selalu ada rasa ingin kembali yang tak mampu terhalang.

Sekuat apapun jiwa seorang petualang,
Setangguh apapun raga sosok pejuang.
Mereka selalu membutuhkan tempat untuk pulang.

Begitu juga aku,
Aku ingin pulang,
Melihat senyum hangat ditemani kopi nikmat.
Membangkitkan semangat hingga meraih rahmat.

Aku tak ingin memilih, karena ku tak ingin menjadikanmu pilihan.
Aku ingin mengukuhkanmu sebagai tujuan.
Tempatku kembali setelah letih membanting tulang.
Tempatku berteduh saatku rapuh menatap masa depan.

Dan aku berharap engkaulah rumah.
Yang ku jadikan tujuan setelah di luar memenuhi amanah.
Tempat ku kembali dan menyapamu ramah.

Aku berharap engkaulah rumah,
Karna ku tak ingin hanya sekedar berkemah,
Yang hanya bersemayam sejenak hanya untuk singgah.

Aku berharap engkau rumah, menikmati hidup ini walau kadang payah.
Mengobati hati kita walau kadang gundah.

Aku berharap engkaulah rumah.
Seatap bersamamu dalam sakinah.
(2017)

#MelangkahMenginspirasi
#SewinduMenataRindu 

Mencintai dengan Sesungguhnya

Mencintai adalah gabungan antara gagasan, emosi dan tindakan. Karna emosi atau perasaan cinta yg besar saja tidak cukup untuk mencintai. Rasa sayang yang meluap pun belum memadai dalam proses mencintai.

Harus ada gagasan di dalamnya. Gagasan untuk saling tumbuh berkembang. Mencapai tujuan yg digariskan bagi setiap manusia sebagai hamba Sang Pencipta. Agar cinta tidak hanya tentang dunia. Namun juga sebuah visi untuk bersama menggapai surga.

Mencintai juga harus ada tindakan disana. Tindakan untuk menjalankan gagasan, dan menuangkan perasaan. Perbuatan untuk senantiasa memberi. Usaha yang menunjukkan bahwa benarlah kita mencintai dengan sesungguhnya. Sebuah panggung pertunjukan cinta untuk objek yg dicintai.

Tanpa ketiga hal ini. Kita tidak akan mampu mencintai dengan sesungguhnya.

Apabila mencintai hanya sekedar emosi, maka hanya akan menjadi insan penebar janji romantisme. Seorang penggombal ulung.

Apabila mencintai tanpa gagasan, maka hanya akan membuat sebuah hubungan tali kasih sayang berujung kebosanan. Karena tak tumbuh, tak berkembang. Juga tak tentu arahnya. Stagnan dan tidak dinamis. Karena tak ada tujuan bersama. Tak ada mimpi yang ingin diwujudkan.

Apabila tanpa tindakan, mencintai hanya omong kosong belaka. Hanya pengkhayal yg ingin kesenangan. Namun tak ingin berbuat. Dan apabila tanpa emosi, itu bukanlah cinta.

Jadi, mari kita mencintai dengan sesungguhnya. Dengan memastikan bahwa cinta kita terdapat gagasan, emosi dan tindakan didalamnya.
(2017)

#MelangkahMenginspirasi
#SewinduMenataRindu

Tetap Berujung Surga

Bentuk awal cinta boleh berbeda, namun akhirnya harus tetap mulia. Para Nabi adalah contoh kehidupan yg menawan. Patut di ikuti. Begitu dalam kehidupan cinta.

Contoh pertama, layaknya Sang Rasul Muhammad  SAW dan ummul mukmini Khadijah. Sejak awal cinta mereka bermuara ketaatan. Dari hulu hingga hilir perasaan mereka suci. Perbuatan mereka lurus dan bersih. Hingga meninggal salah satu di antara dua sosok manusia mulia ini, cinta mereka tetap utuh dalam ketaatan kepada-Nya.

Contoh kedua, layaknya dua pasangan pertama di muka bumi. Selayaknya manusia apa adanya. Kedua insan mulia ini khilaf dalam perjalanan awal cinta mereka, Adam AS dan Hawa berbuat sebuah dosa. Godaan memakan buah khuldi tak mampu mereka tepis.

Namun kesalahan itu tak berlanjut. Mereka menyesal, lalu bertaubat. Meluruskan arah cinta mereka. Memantapkan tujuan hubungan mereka. Hingga ketaatan demi ketaatan kepada-Nya mewarnai kehidupan dua manusia pertama.

Kedua kisah cinta ini, sama-sama mulia. Sama-sama berujung surga.

Jika kisah cinta kita seindah Nabi Muhammad SAW dan Khadijah, maka bersyukurlah. Tetap istiqamahkan kisah itu hingga surga.

Jika awal cinta kita khilaf layaknya Nabi Adam As dan Hawa. Ada maksiat dalam langkah awalnya. Maka cepatlah perbaiki arah cinta kita, bertaubat dan kembali taat kepada-Nya. Agar cinta ini tetap berjalan menuju surga-Nya.
(2017)

#MelangkahMenginpirasi

Memenuhi Hak Anak Sebelum Dia Lahir

Selayaknya ada anak durhaka, Umar bin Khattab yang dikutip dalam kitab Tanbih Al-Ghafilin juga mengungkapkan ada orangtua yang durhaka. Orangtua macam apa? Orangtua yg tidak memenuhi hak-hak seorang anak.

Setidaknya ada 3 hal hak seorang anak menurut Khalifah Umar ibn Khattab.
1. Ia harus mencarikan seorang ibu yang shalehah untuknya.
2. Memberikan nama yang bagus.
3. Mengajarkannya al-Qur’an.

Dua terakhir adalah hak anak saat mereka telah lahir. Dan yang pertama adalah hak anak sebelum dia lahir.
Hal ini juga seperti apa yang dicontohkan Abu Aswad Ad-Du’ali, sang ulama pakar ilmu nahwu.

Ia pernah berkata kepada anak laki-lakinya, “Wahai anak-anakku, aku telah berlaku baik terhadap kalian pada saat kalian masih kecil sampai besar, bahkan sebelum kalian dilahirkan”.
.
Anak-anaknya pun berkata, “Bagaimana ayah berbuat baik sebelum kami lahir?" Ad-Duali menjawab, “Aku telah mencarikan untukmu sosok seorang wanita yang dapat merawat, menjaga dan tidak membuat kesulitan bagimu”.
.
Jadi memilih ibu shalihah sebelum anak lahir adalah hak seorang anak. Ibu yang mampu menjaga iman dalam dada mereka, menanamkan akhlak yang baik. Serta membangkitkan ketakwaan kepada Allah dalam diri sang anak.

Maka sudah sepantasnya seorang muslim mencari muslimah shalihah sebagai ibu dari anak-anaknya. Karna ibu adalah madrasatul ula, sekolah utama seorang anak.

Dan tentu saja para lelaki muslim selain mencari ibu yang shalihah untuk anak-anaknya kelak. Juga harus menambah keilmuan dan memperbanyak amal shalih. Karna mereka akan menjadi ayah. Pemimpin rumah tangga, pendidik anggota keluarga dengan nilai-nilai islam, menanamkan ajaran qur'an dalam hati-hati mereka, pemberi teladan serta penanggung jawab dari kesalahan-kesalahan istri dan anak-anaknya.

Jadi, sudahkah kita menyiapkan diri untuk mencetak generasi islam tangguh masa depan?

#MelangkahMenginpirasi
#SewinduMenataRindu

Mengabaikan Waktu Sejenak

Engkau pernah berkata, “hanya waktu yang dapat menjawab.” Dan seketika aku tak mengerti, sungguh. Begitu banyak manusia yang menjadikan waktu sebagai subjek penyelesai masalah.

Padahal waktu hanyalah rangkaian alam yang berputar terus menerus. Ia tuli, tak dapat mendengar permintaan. Hingga parau suara kita berteriak, ia takkan berhenti walau hanya sejenak.

Waktu juga bisu, ia tak dapat memberi jawaban. Sebanyak apa pun pertanyaan yang kita tulis, hingga habis seluruh lautan jika dijadikan tintanya. Tetap saja, waktu tak dapat memberi tanggapan.

Ia buta, tak dapat melihat sekitar. Ia juga mati rasa, karena tak peka mengartikan kepedihan dalam jiwa. Ia adalah ciptaan Tuhan yang tak berdaya, yang ia ketahui hanyalah berjalan dan bergerak tiada jeda. Ia adalah lambang keegoisan sejati, ia merupakan simbol nyata sifat apatis di dunia.

Manusia macam apa yang masih meminta jawaban dari waktu? Bukankah ia tak dapat berbuat apa-apa. Seharusnya manusia itu sendiri yang menjawab setiap pertanyaan, menanggapi rentetan keresahan. Bukan malah menggantungkannya kepada waktu, karena jika kita masih berharap waktu menyelesaikan masalah kita. Maka jadilah kita makhluk tak berdaya lainnya.

Mari abaikan waktu sejenak, bukan untuk membuang waktu. Tetapi memfokuskan pencarian jawaban kepada dirimu. Tenangkan saja setiap resah dalam hatimu.

Merenunglah juga berdo’a, cari setiap jawaban, dan tentukan pilihan terbaik. Bisa saja Allah langsung memberikan jawaban pasti akan berbagai pertanyaan besar dalam hidupmu.

Seperti pertanyaan yang sering engkau sebutkan kepadaku. Apakah masih ingin menunggu atau berujar jujur kepadanya?

#MelangkahMenginpirasi
#SewinduMenataRindu 

Menikam Jarak Cinta

Aku hanya lelaki sepi, yang cuek dan keras kepala. Dan diujung sana engkau gadis ceria dan perasa. Lalu Tuhan mempertemukan kita dalam ruang waktu dan tempat, namun berjarak.

Bertahun lamanya aku hanya memandangmu dari jauh. Memasang sikap tak acuh, dan membuat senggang.

Bertahun lamanya, aku hanya mampu melihat senyummu dari kejauhan. Yang sesungguhnya itu bukan untukku, tapi untuk teman-teman sepermainanmu yang para wanita itu.

Bertahun lamanya aku hanya berpura tak merasa, berpura tak terjadi apa-apa. Padahal setiap engkau ada, bibirku gagu tanpa kata. Keringatku mengalir ditemani detakan kencang di dada.

Bertahun lamanya, kita bertemu tanpa bicara. Hanya sekedar sapa tanpa bincang. Hanya menatap sejenak lalu menunduk lalu angkat kaki.

Bertahun lamanya aku biarkan cinta ini bersembunyi dalam ketakberdayaan. Membiarkan ia menumbuhkan rindu yang menyembilu. Pasrah dari jerat-jerat renjana yang menyiksa.

Bertahun lamanya, dan aku rasa cukup. Akanku tikam jarak yang memisahkan cinta. Akanku singkirkan jeda yang membuatmu jauh.

Menjadikan kita bicara dan mengungkapkan rasa. Tanpa sekat dan hijab. Lalu bersama hingga surga.

Maka biarkan aku menikam jarak antara kita. Agar kita bertemu dalam singgasana cinta yang abadi juga menyejarah.

#MelangkahMenginpirasi
#SewinduMenataRindu
5 Desember 2017

Kita Adalah Palestina

Permasalahan palestina, bukan hanya permasalahan warga palestina. Bukan hanya permasalahan bangsa arab. Bahkan bukan hanya masalah kita para muslim.

Tapi permasalahan palestina adalah permasalahan kita sebagai manusia.

Jika ada hati nurani dalam diri kita.
Jika ada rasa kemanusiaan dalam hati kita. Maka sudah sepantasnya kita peduli kepada palestina.

Hati manusia mana yg rela melihat tanah kelahirannya di rampas, warga-warga ditahan, disiksa. Bahkan diperlakukan layaknya binatang di penjara israel.

Maka inti masalah kali ini, bukan hanya menanggapi pernyataan trump masalah ibukota israel.

Permasalahan inti adalah, MENDESAK ISRAEL PERGI DARI BUMI PALESTINA.

Karna mereka bukan negara, hanya sekelompok penjajah teroris yg dilindungi dunia.

Maka mari kita sebagai manusia, terlebih lagi kita muslim. Berikan bantuan materil, tenaga dan doa untuk saudara-saudara kita.

15.12.17, dalam aksi bela al quds bersama aliansi masyarakat sumbar peduli palestina.

Alhamdulillah puluhan ormas dan ribuan warga sumbar tumpah ruah di jalan. Menyuarakan solidaritas kepada saudara palestina.

#FreedomForAlAqsha
#JerusalemTheCapitalOfPalestine
#SavePalestine
#FSLDKSUMBAR
#FSLDKINDONESIA
#DariSumbarUntukIndonesia
#RumahUkhuwah
#KolaboratorKebaikan
#LokomotifPeradaban

Tak Terduga

Maka izinkan aku mengatakan, bahwa sebagian isi buku ini adalah tentang kamu. Yang ku tulis kala jauh dengan malu-malu. Yang juga ku yakin setiap kali aku merangkai  kata-kata, engkau tak pernah tahu bahwa itu semua terkaitmu.

Wajar bukan? karna memang kita telah hitungan tahun tanpa temu. Dan rasa ini telah ku pendam hingga tak seorang-pun tahu.

Kita memang pernah berada dalam satu wadah yang sama. Memiliki tempat berjuang yang juga serupa. Namun sepanjang kisah itu tak ada bincang antar kita, hanya ada sapa, yang itu-pun tak seberapa adanya.

Aku tetap menjadi lelaki cuek dengan segala kegiatanku yang ada. Dan engkau dengan duniamu bersama teman-temanmu seperti biasa. Aku dengan hidupku, engkau juga dengan hidupmu pula. Tapi ternyata ada rasa yang menyelinap disana. Yang rupanya telah tumbuh berkembang tanpa terkira.

Namun inilah aku, lelaki lemah juga tak berdaya. Yang hanya mampu menyimpan rasa dalam dada. Membiarkannya hanya bersemanyam tanpa kata. Menahan rindu karna belum siap menjadikannya nyata.

Tapi kucoba menata daya dengan seksama. Menyiapkan diri dengan segala yang ku bisa. Memantaskan kondisi walau menghabiskan bertahun waktu yang kupunya. Hingga seiring berjalannya masa, akhirnya hari itu tiba. Ku bertamu kerumahmu dengan aku apa adanya. Bertemu dirimu juga orangtua. Yang juga dibantu guru mengaji kita yang ternyata dua sejoli juga.

Dan proses berjalan begitu saja. Memang ada hambatan juga tantangan diawal proses kita. Namun atas kuasa-Nya kita bersatu dalam mahligai cinta. Yang akan kita bangun untuk berjuang di jalan-Nya.

Kita-pun bersama, dan ternyata ada yang tak terduga. Ternyata engkau memendam rasa yang sama. Dan dalam waktu yang juga lama. Aku terkejut juga bahagia. Ternyata cinta yang kupaksa diam, tak bertepuk sebelah tangan semata.

Ah, Allah memang selalu punya cara romantis menyatukan  hamba-Nya. Dan itu terjadi dalam cerita kita yang saling menjaga rasa. Yang kedepanya akan berkembang menjadi kisah membina rumah tangga berorientasi surga.

Terima kasih telah mencintai dan siap berjuang bersamaku. Aku bersyukur pilihan Allah itu adalah kamu.

Azmul-Rimbun
22 Desember 2017
#RumahTanggaSurga
#SewinduMenataRindu

Kini Hingga Senja

Sampai senja tiba, ku ingin engkau tersenyum dihadapanku. Membalas senyumku. Juga kadang tertawa bersama. Sampai nanti tawaku menunjukkan gigi yang tiada, karna tak lagi muda.

Hingga senja datang, ku harap kakimu menemani langkah kakiku sepanjang hari. Mulai dari pagi untuk menikmati pepohonan dan sejuknya aroma embun. Dan juga kita akan berlarian bersama. Riang dan saling kejar. Hingga tubuhku bungkuk, jalanku payah, karena termakan usia.

Dan bila nanti senja tiba, dan rambutku mulai memutih. Keriput hadir diwajahku. Kulitku mulai melonggar. Tetaplah memandang wajahku dengan segala keteduhan itu.

Maka, mulai dari hari-hari yang kita lewati kini. Tetaplah bersama hingga senja. Hingga hari tiada. Sampai kita di surga.

#InsyaAllah
#RumahTanggaSurga
#AbadiBersamamu
#MelangkahMenginpirasi

Break The Limits, Beyond The Horizon

Setiap kita pasti ada hal-hal yang membatasi langkah kita. Menghalangi karya-karya kita. Mempersulit dalam mengejar cita kita.

Tak ada manusia yang tak di uji. Tak ada manusia yang tak bermasalah. Semua ada rintangan yang harus dilewati.

Namun kadang kita menyerah dengan batasan-batasan yang ada. Dan membuat-buat alasan pembenaran atas diri kita. Baik itu segi ekonomi lah, segi usia lah, segi bakat lah. Kita amat suka membuat alasan pembenaran kalau kita tak bisa, kita tak sanggup.

Maka jadilah kita sosok yang seperti itu-itu saja. Hari hingga bulan bahkan tahun berjalan. Tak ada yang berkembang.

Tak ada pola pikir dari bacaan-bacaan yang bertambah. Tak ada keterampilan yang meningkat. Tak ada pengalaman padat ilmu yang didapat. Hanya menjadi manusia yang begitu saja dan nyaman menjalankannya.

Maka mari kita merobos batas, menghancurkan segala penghalang. Keluar dari zona memabukkan yang membuat kita tak berkembang. Bergerak dan berkaryalah untuk sekitar. Tembuslah cakrawala.

Jangan jadikan kita manusia yang terjebak dalam tempurung. Namun kembangkan sayap cita kita. Terbanglah, gapai cita dan impian yang ingin kita raih.

Tetaplah melangkah dalam karya, hingga kita mampu menginspirasi sekitar.

#MelangkahMenginspirasi
.
📷 Waktu Saya kelas 2 SMA 

Berlombalah dengan Orang Bertaqwa, Bukan dengan Budak Dunia

Punya saingan itu perlu, terlebih berlomba dalam menuju lebih baik. Namun masalahnya, kadang kita keliru milih kompetitor kehidupan. Sehingga kita keliru dalam menentukan target kehidupan.
.
Ada yang ingin jadi orang kaya dengan banyak uang. Mati-matian berjuang mencarinya. Berangkat gelap pulang gelap. Sampai tak sempat mengaji, tak sempat dakwah.
.
Padahal kita tahu, Allah memberi kekayaan harta ke orang yg ingkar dan taat kepadanya. Bahkan 9 dari 10 orang terkaya di Indonesia adalah orang kafir. #cmiiw. Mereka yang tak percaya Allah sebagai Rabb. Lalu kita iri kepada mereka?
.
Ada yang ingin jabatan, hingga tetes darah penghabisan dia perjuangkan. Sikut kanan kiri, injek bawah, jilat atasan agar mendapat posisi strategis.
.
Padahal kita tahu, Allah memberi tahta kepada yang ingkar dan taat kepadanya. Bahkan Allah pernah memberi jabatan raja kepada orang yang mengaku Tuhan? Iri kah kita?
.
Begitu juga berlomba menjadi tenar. Padahal banyak orang tenar tak percaya Allah. Bahkan ada yang bunuh diri disaat puncak popularitasnya. Irikah kita dengannya?
.
Kita ingin banyak uang dan harta, kita ingin jabatan tinggi, kita ingin terkenal. Lalu kita iri kepada yang memiliki itu semua lalu menjadikannya kompetitor kehidupan.
.
Tapi apakah kita iri kepada mereka yang terjaga amal ibadahnya? Sempurna menutup auratnya? Semangat mengajinya? Gigih dakwahnya? Berusaha menghafal kitab-Nya?
.
Pernahkah kita menjadikan mereka ini kompetitor hidup kita. Hingga kita mati-matian beramal shalih seperti pergi kajian islam, tilawah, tahajud, menutup aurat dengan benar, berdakwah, menghafal qur',an hingga bersemangat menjadi insan taqwa?
.
Bukankah ketaqwaan hanya Allah berikan kepada yang taat kepada-Nya? Yang beriman dengan sungguh-sungguh kepada-Nya.
.
Fastabiqul Khairot, berlomba-lombalah dalam kebaikan. Bukan kebaikan menurut kita, tapi kebaikan menurut Allah.
.
Maka berlombalah, berlombalah dengan orang bertaqwa. Bukan dengan mereka yang diperbudak dunia.
.
Selayaknya Umar yg menjadikan Abu bakar menjadi kompetitor hidupnya dalam beramal. Berlombalah dengan orang bertaqwa.
.
#MelangkahMenginspirasi

Masa yang Tak Tergantikan

Akan tiba masanya kita akan merekam ulang cerita yang baru kita lewati kini. Dikala wajah kita saling bersemu merah. Jantung berdetak begitu cepat. Dan keringat yang mengucur begitu deras. Karna kikuk tiba begitu saja saat kita saling berhadapan.

Akan datang saatnya kita mengingat setiap episode ini. Segala kisah tentang hal yang membuat kita tertawa dan saling melempar senyum ceria. Matamu yang menyipit karna simpul bibirmu melengkung amat lebar. Atau gigiku yang terlihat karna bahagia yang mendalam.

Akan sampai waktunya kita mengulang setiap kisah ini. Saat air mata jatuh berderai membasahi pipi. Tangis yang hadir menemani usaha yang kadang tak terkendali. Dan sabar yang kita jaga dalam problema yang menghampiri.

Jadi biarkan semua yang kita lewati kini dan nanti menjadi arti. Setiap senyum tulus yang terlihat, setiap tangis yang tercurah, setiap kecemasan yang melanda, dan setiap doa yang kita panjatkan.

Biarkan dia berjalan membentuk potongan cerita yang bermakna, yang saling kita ingat di hari kelak. Dan nanti, semua itu bisa kita sebut sebagai 'masa yang tak tergantikan'.

#RumahTanggaSurga
#MelangkahMenginspirasi

Malu

Pernah ga sih kita merasa malu dengan diri sendiri? Malu karna ga taat sama Allah.
Padahal kalo kita itung-itung sangat amat banyak kenikmatan di kasih Allah ke kita. Nikmat sehat dari tubuh kita. Nikmat makan, jalan-jalan, dan kebutuhan yg dipenuhi.

Sebanyak itu nikmat Allah dikasih ke kita, tapi kita masih kurang taat. Tilawah ga banyak, tahajud jarang, dhuha kelupaan, nutup aurat ga sempurna, ibadah-ibadah lain berantakan.

Belum lagi maksiat yang kita lakuin, pergaulan begitu cair sama lawan jenis. Ngga jujur dan berbagai keingkaran kepadaNya.

Pernah ga sih kita merasa malu? Merasa durhaka banget sama Allah.
Jika pernah kita merasa malu dengan kesalahan-kesalahan kita sama Allah. Mungkin itu 'kode' Allah biar kita cepet taubat. Cepet perbaiki diri. Buru-buru benerin diri dimata Allah.

Jadikan rasa malu itu jadi energi untuk mengejar cinta Allah. Hingga kita bisa menjadi pribadi taqwa.

Tapi jika kita bermaksiat dan tak taat namun merasa tak berdosa.

Ingatlah, hukuman terberat bagi pendosa di dunia adalah merasa tak berdosa.
#MelangkahMenginspirasi

Miskin Inspirasi Sejarah

Bila ditanya mengapa banyak pemuda muslim lesu dari visi-visi besar. Terlena dengan gemerlap harta dan nyenyaknya dunia. Maka salah satu jawaban tepat adalah, pemuda sedang miskin inspirasi sejarah.

Sehingga tak ada kisah heroik yang menyuntik semangat mereka. Tak ada sosok yang mendorong mereka mengambil kerja-kerja besar.

Mereka luput dari sejarah yang membelalakan mata. Sehingga misi besar ke-islam-an hanya mereka anggap mitos yang tak mungkin terealisasi.

Luputnya sejarah dalam benak pemuda membuat mereka absen dalam kerja besar seorang muslim.
Padahal dalam sejarah ada Harun Al Rasyid yang menaiki singgasana khalifah dalam usia 22 tahun dan membawa dinasti abbasiyah mencapai puncak kejayaan. Disana juga ada Usamah bin Zaid yang menjadi panglima perang melawan Imperium roma pada usia 19 tahun.

Ada ibnu rusyd yang sejak kecil hingga meninggal setiap malamnya tak pernah luput dari buku. Juga al jahidz yang menjual rumah untuk membeli buku, bukan malah sebaliknya. Hingga mereka dikenal sebegai cendekiawan di bidang masing-masing.

Belum lagi Hasan Al Banna, Iqbal, Shalahudin Al-Ayyubi, Muhammad Al Fatih, Sudirman, M.Natsir dan banyak lagi tokoh-tokoh muslim yang bagai bintang gemintang yang bersinar terang. Bahkan nafas akan tertahan dan dada akan memanas karna terbakar semangat membara dari kisah mereka.

Namun, jangankan tokoh diatas. Kini berapa banyak pemuda yang khatam sejarah Nabi Muhammad? Intimidasi yang beliau terima, proses membangun negara dan sistem yang mengaturnya, perang yang menegangkan, pengkhianatan yang menyakitkan, diplomasi yang menawan hingga ekspansi dakwah yang meluas.

Maka sudah sepantasnya seorang pejuang muda muslim kembali mereguk inspirasi sejarah dari para manusia taqwa yang menyejarah.

Agar jiwa dan raga tiap pemuda muslim siap mengambil misi besar keislaman. Dan mengambil porsi jumbo dalam kerja-kerja dakwah.

#MelangkahMenginspirasi

Mantan Pemuda yang Menyesal

Apa yang terjadi jika kita melewati siklus hidup pasaran? Lahir - besar - sekolah - kuliah - bekerja - menikah - beranak - tua - lalu mati. Tanpa karya untuk bangsa, nihil manfaat untuk umat, absen kontribusi untuk agama.

Kehidupan yang dijalani hanya menambah daftar manusia anonim karya di muka bumi. Karna diotaknya hanya ada rumah megah, kendaraan mewah, tidur nyenyak, makan lezat, pasangan rupawan dan harta melimpah.

Tak ada rencana kerja besar bagi peradaban islam. Tak ada rancangan karya menawan untuk kesejahteraan umat. Menjalani kehidupan hanya untuk hidup itu sendiri. Karna yang terpenting perut kenyang, dan istirahat nyaman.

Padahal manusia-manusia terbaik islam tak pernah terlena dengan tipudaya dunia. Hatinya resah memikirkan kemunduran umat, otaknya diputar untuk mencari solusi bagi masalah negara, fisiknya bekerja untuk memberi kontribusi terbaik untuk sekitar.

Mereka belajar ilmu keahlian yang mereka tekuni, juga dibarengi ilmu keislaman, mendalaminya lalu menancapkannya dalam hati untuk memupuk iman. Mereka beribadah untuk menguatkan ruhiyah. Dan mereka berdakwah agar bumi disinari oleh cahaya islam.

Tapi begitulah kebanyakan manusia merugi. Terperdaya oleh kesenangan dan keserakahan. Rela dan bangga walau ia menambah panjang barisan budak nafsu dunia.

Mereka lupa bawa setiap detik umur akan ditanya Sang Pencipta. "Buat apa masa mudamu?", namum mereka kadang tidak tau atau pura-pura tak mengetahui, hingga waktu berjalan begitu saja dengan sia-sia.

Sampai pada akhirnya, mereka hanya menjadi mantan pemuda yang menyesal. Dan tak mampu kembali untuk memperbaikinya.

#MelangkahMenginspirasi
#Menuju2019
.
.
📷 Dalam agenda bersama temen-temen Univ. Dharma Andalas.

Mikirin Nikah dan Kontraproduktif Dakwah

Katanya "kader dakwah yang kerjanya mikirin nikah, akan menurunkan semangat dakwahnya." Hmm..., ini menarik. Karna yang mengatakan ini tidak hanya satu atau dua orang, tapi lebih.

Sebenernya pernyataan ini tak salah. Tapi mungkin menjadi fenomena wajar karna kurangnya konstruksi pemahaman dakwah di kalangan aktivis dakwah. Loh, maksudnya??
.
Banyak kader ketika membaca tulisan, caption, atau buku tentang nikah. Akan sangat cepat menyelesaikan bacaannya. Namun jika buku-buku harokah. 3 bulan pun tak kelar-kelar. Bahkan ada yang meminjam buku saya tentang gerakan. Sudah 1 tahun dipinjam. Ga abis juga.

Inilah mengapa mikirin nikah jadi kontraproduktif dalam dakwah. Saya memang menulis buku tentang cinta dan rindu dengan nilai yang saya selipkan didalamnya. Tapi tahukah temen-temen, buku roman yang pertama kali saya habisi itu ketika saya tahun 2 kuliah. Padahal saya sudah mulai aktif membaca dan koleksi buku sejak SMA.

Masa-masa awal hijrah saya di SMA dan tahun satu kuliah untuk menyelesaikan buku sirah nabawiyah, harokah islam internasional, dan buku gerakan serta politik islam lainnya.

Jadi salah dong baca buku nikah? Tentu tidak, bahkan sangat perlu. Karna menikah butuh ilmu. Sebelum saya menikah, saya sudah melahap puluhan buku nikah baik beli maupun minjam, ikut pelatihan pranikah, dan mendengar banyak kajian ustaz tentang nikah. Nikah butuh persiapan dan ilmu, tapi tidak hanya itu bacaan kita. Banyak lagi tema ilmu yang harus diserap.

Buku tentang pernikahan yang saya beli pertama kali di tahun 2 kuliah. Dan seluruh koleksi buku tentang cinta dan nikah di rak buku saya paling hanya belasan. Dan itu-pun kurang dari 10% dari jumlah buku saya. 90% lebih sisanya? Buku sejarah, politik, teologi, gerakan, biografi, ekonomi, keislaman dan tema-tema lainnya.

Itulah mengapa, jika junior-junior saya meminjam buku bertema nikah, saya selalu menyuruh mereka selesaikan buku-buku wajib kader dakwah. Baru akan saya pinjamkam.

Untuk apa? Agar tak ada kesalahan konstruksi pemahaman. Agar mikirin nikah bukan malah jadi kontraproduktif dakwah. Namun menambah karya dalam dakwah.

#MelangkahMenginspirasi


gambar

Suka Banget Baperan, Tapi Ditanya Nikah Malah Ga Siap

Selain fenomena menurunnya produktifitas dakwah seperti yang saya sampaikan di postingan sebelumnya. Fenomena yang perlu di share lagi adalah, mudahnya ikhwan atau akhwat baperan.
Hal ini disampaikan oleh salah seorang istri teman saya, bahwa banyak sekali akhwat baperan. Di like sedikit sama ikhwan, langsung baper. "Ih si fulan like status ana.", di pandang sedikit, "ih si akhi itu merhatiin saya". Padahal kadang pandangannya ga sengaja, atau like asal-asalan aja. Tapi bukan main bapernya.

Ada juga saling memamerkan ikhwan-ikhwan terkenal di kampus yang mereka kagumi dalam pembicaraan para akhwat. Eh, Pas si akhwat di tanya udh siap nikah? Malah geleng.

Begitu juga para ikhwan, entah mana yg lebih banyak di bahas. Problematika umat atau nikah. Setiap bertemu nikah, nikah dan nikah. Ada akhwat militan dan lumayan. Di bahas sama mereka. Tapi pas di tanya udah siap nikah? Langsung cengengesan dan beralasan belum siap dan belum mapan.

Tentunya hal ini berbeda ceritanya jika mereka yang membahas nikah dan baper sudah siap menikah, bahkan sedang mencari pasangan halal segera mungkin. Tapi jika siap nikah saja belum, tapi udah baper minta ampun. Bahas nikah setiap pertemuan. Ini baru ngga pas.

Baperlah pada waktunya bro sist, kalo dalam buku Sewindu Menata Rindu. Ada hikmah kurang lebih kaya gini, jika bapermu tak membawamu ke jenjang pernikahan segera mungkin maka hapuskanlah dulu. Hingga Allah akan mempertemukan dengan cara romantis, entah dengan orang yang kita baperin sekarang atau orang yg lebih baik lainnya.

#MelangkahMenginspirasi


📷 lagi foto dan caption ga ada hubungannya. Bingung cari foto yg mana. Ini foto agenda FIM 14 B hampir 5 tahun yg lalu. Masih imut2 tahun satu kuliah,...

Fotonya ga nyambung? gapapa lah ^_^

Wahai Akhwat, Hati-Hati Cowok Predator Berkedok Keshalihan — Part 3

Apa yang harus dilakukan akhwat untuk menangkal cowok predator ini?

1. Jangan Gampang Baper.

Kontrol diri itu perlu banget, jangan sampe di like postingan langsung ke ge'eran, di chat dikit langsung merasa ini jangan2 kode, dipuji dikit langsung ke kahyangan. Ah, ribet banget hidup kalo sering-sering arahkan ke arah situ.

Apalagi sekarang, belum siap nikah udah rajin baperan. Ngasih tau kesana kemari kalo suka sama si dia. Tiap ngumpul bahasnya nikah terus. Yang kayak gini jangan deh. Kalo ada rasa sama seseorang, diem aja. Malah kalo belum siap nikah, mending lupain dlu,fokus perbaiki diri. Banyak masalah umat kudu diselesein.

2. Jangan Pernah Berikan Hati Kalian ke Seorang Cowok, Sebaik Apapun Dia.

Mau dia seorang aktivis, penghapal qur'an, anak masjid atau terkenal baik. Sebelum akad, jangan pernah sesekali memberikan hati dan apapun yg berharga darimu kepada seorang cowok pun. Walaupun dia janji nikahin.

Ingat kisah Abdah Ibn Abdurrahim, seorang tabi'in yang hafizh dan mujahid islam. Rela melepaskan agamanya karna cinta ke seorang gadis romawi, hingga berpindah ke agama nasrani.

Jika seorang tabi'in yg mujahid perang juga hafizh qur'an bisa melakukan kemunkaran amat besar. Apalagi cowok akhir zaman kayak sekarang. Maksiat seperti murtad aja bisa, apalagi zina.

3. Rajin ke Majelis Ilmu

Rajin ke majelis ilmu, baik itu pengajian, mentoring atau apapun namanya itu penting. Karna ilmu yang senantiasa di ingat akan menjaga kita untuk tidak maksiat.

4. Jaga Amalan Harian

Shalat wajib, dhuha, tahajud, tilawah qur'an, zikir pagi petang, dll. Perlu banget dijaga. Kalo ga kita jadi rentan baper dan melakukan hal ga mutu.

5. Kumpul sama Temen Shalih.

Domba yg sendirian lebih gampang diterkam srigala. Apalagi kalo dia ganteng-ganteng srigala. Lebih rentan ke terkam baper akut. Makanya rajin kumpul sama temen shalih itu penting, karna kadang kita absen dari liat kesalahan diri.

Banyak sebenernya solusinya, tapi ini aja dulu ya. Semoga dengan baca tulisan ini para cowok predator ini taubat, dan para akhwat mulai jaga diri dengan baik.
.
End

#MelangkahMenginspirasi

Wahai Akhwat, Hati-Hati Cowok Predator Berkedok Keshalihan — Part 2

Modus yang biasa digunakan oleh-oleh cowok-cowok predator ini adalah pura-pura ta'aruf dan janji menikahi. Ia mendekati para akhwat dengan niat ta'aruf. Berjanji akan menikahi. Tapi hanya harapan kosong belaka. Pergi setelah meninggalkan luka yang mendalam di dada sang akhwat.

Seperti yang kita tahu, fitrah wanita adalah gampang bawa perasaan. Walaupun ia telah berusaha hijrah, sisi tersebut tentu masih ada. Dan setan selalu cari-cari celah.

Apalagi jika sang akhwat sedang dalam kondisi rentan. Seperti sedang jauh dari majelis ilmu dan teman akhwat lainnya karna sudah wisuda atau tugas akhir, atau memang sudah lama menanti jodoh namun tak kunjung tiba.

Ini kondisi-kondisi rentan. Jika tidak diperkuat benteng iman, akan mudah terpleset dalam godaan. Ditambah jika si cowok predator ini mantan atau masih aktivis berjabatan keren, juga punya ribuan gombal yang dibuat-buat islami. Maka bisa semakin besar potensi sang akhwat untuk terperdaya dan nyaman sama si cowok ini.

Dan jika seorang akhwat sudah nyaman, dan memberikan hati kepada cowok predator ini. Maka hancurlah sudah. Si cowok predator ini akan melakukan apa yang ia suka. Lalu pergi begitu saja.

Dan lebih bahayanya kasus ini tidak hanya satu dua, tapi lebih. Ngeri kan? Nah, jadi apa yang harusnya di lakukan?
.
Bersambung di postingan selanjutnya ya 🔜🔜🔜
.
#MelangkahMenginspirasi

Wahai Akhwat, Hati-Hati Cowok Predator Berkedok Sholeh — Part 1

Seorang akhwat didekati oleh seorang cowok. Mereka pun saling memiliki rasa. Dengan ribuan rayuan sang cowok, si akhwat semakin terlena. Terlebih janji untuk dinikahi.

Namun setelah sekian lama. Sang cowok tak kunjung datang, malah ia menemukan fakta bahwa bukan hanya dia yg di janjikan nikah. Namun ada akhwat lainnya. Miris bukan? Menjadi korban php nikah.

Dari beberapa kasus yang saya temui, ini adalah contoh paling ringan dan paling banyak dari kasus cowok sang predator berkedok sholeh. Karna ada kasus yang lebih mengerikan. Bahkan begitu pilu diceritakan.

Bayangkan, akhwat yg sudah mulai bertekad menjaga diri. Menjaga hati agar tak terjamah. Menjaga tubuh agar tak tersentuh. Akhirnya bentengnya roboh begitu saja.

Si akhwat di dekati, di gombali, di berikan nasihat surga, di janjikan nikah, sampai si akhwat nyaman hingga ada kasus si akhwat rela "disentuh". Namun mirisnya, setelah itu semua, si akhwat di tinggal begitu saja. Dan rupanya si cowok juga melakukan itu ke banyak akhwat.

Kasus paling parah saya temui adalah seorang akhwat runtuh kehormatannya, karna telah melakukan hubungan badan. Ia rela karna terlampau nyaman dan sayang dengan si cowok bertopeng sholeh.

Lalu si akhwat menaruh kepercayaan juga harapan tinggi karna si cowok sudah menjanjikan untuk nikah. Tapi akhirnya pergi begitu saja. Tanpa tanda dan rasa bersalah.

Biasanya cowok brengsek ini adalah mereka menyalahgunakan jabatan strategis yg diamanahkan kepadanya. Punya pesona dan keahlian keren. Hingga jadi bahan bincangan akhwat dan membuat mereka kesemsem.

Ditambah lagi dia juga pake pura-pura jadi "ikhwan", biar dibilang suka ke pengajian dan paham agama. Segala topeng amanah dan keshalihan digunakan untuk memulai aksi kejinya.

Biasanya korbannya adalah akhwat yang gampang baperan, kena gombal sedikit langsung klepek-klepek. Akhwat yang sudah siap menikah namun tak kunjung ada proposal masuk. Dan  akhwat tahun akhir atau sudah wisuda, lalu jauh dari teman-teman akhwat dalam tarbiyah lainnya.

Modus yang biasa digunakan adalah...
.
Bersambung di postingan selanjutnya ya 🔜🔜🔜
.
#MelangkahMenginspirasi

Ingat, Kita Pasti Mati

Jika kamu bertanya hal yang pasti di dunia, maka kematian jawabnya. Karna kita pasti mati, cepat atau lambat. Kita akan kehilangan nyawa, dalam waktu dekat atau panjang.

Kematian pasti akan menghampiri, siap atau tidaknya kita. Maka tak ada pilihan lain, bekal akhirat yang segera harus kita perjuangkan.

Karena apalah arti harta yang kita genggam. Walau kita mendapatkan dengan cara halal saja, ia tak lebih berharga dari sayap nyamuk. Terlebih bila kita mendapatkannya dengan cambur baur riba. Bekerja ditempat riba, dan menerima gaji dari riba. Kehinaan saja yang akan kita terima.

Apalah arti kesenangan yang kita kejar? Berfoya-foya di masa muda. Mulai dari pacaran yang berisi segala zina. Menghabiskan waktu dengan mengikuti budaya kafir yang tak bernilai agama. Mengidolakan dan memuja mereka yang bukan muslim. Hingga minuman memabukkan hingga narkoba yang dinikmati.

Apalah arti jabatan yang kita buru? Bahkan dengan cara yang tak bermutu. Sogok sana, suap sini. Injak bawahan, sikut kanan kiri dan jilat atasan.
Apalah arti segala itu bila tak kita mulai penuhi hidup dengan iman dan ibadah? Bersihkan harta dari riba dan hal haram lainnya. Bersenang dan berlezat-lezat dengan ketaatan kepada Sang Maha Pengasih. Mengejar kuasa untuk menegakkan nilai ilahi dan tentunya dengan cara yang terpuji.

Maka ingatlah bahwa kita akan mati. Kita akan pergi dan tak kembali. Lalu hilang dari dunia. Yang fana dan tak berharga. Dan tak ada yang tersisa. Selain amal shalih dan keimanan.

#MelangkahMenginspirasi

Setiap Tulisan Ada Targetnya

Menurut saya, setidaknya Ini hal yg harus dipahami bagi kita pembaca dan pengguna sosmed.

Ada tulisan mengajak berpikir kreatif. Bagi kamu yg berprinsip berpikir kreatif ga perlu, ya ga usah baca.

Mungkin itu untuk mereka yg ingin kreatif tapi belum tau caranya. Jangan memangkas semangat2 mereka ini.

Ada tulisan yg mengajarkan dan mengajak untuk menikah. Buat kamu yg masih berpikir belum saatnya menikah, dan hanya menganggu proses karir dan belajar. Ya, ga perlu dibaca.
Mungkin itu untuk mereka yg sudah merasa siap atau ingin nikah namun butuh motivasi dan ilmu lebih.

Jangan malah dibilang pembahasan ini ga mutu. Cuma bikin baper. Toh targetnya bukan kamu. Plis deh jangan kege'eran sampe baper segala.

Ada tulisan yg mengajak aksi demonstrasi. Untuk kamu yg menganggap demo itu cuma omong kosong, ga perlu dibaca.

Mungkin itu untuk mahasiswa dan masyarakat aktivis atau mereka yg ragu akan efektifnya aksi, namun masih ingin coba.

Jangan malah nyindir-nyindir yg aksi ke jalanan. Karna mungkin kamu beda cara pandang.

Ada tulisan ngajak berorganisasi, bagi kamu yg nganggep organisasi itu cuma buang-buang waktu. Ga perlu baca.

Mungkin itu untuk mereka yg mau belajar kepemimpinan dan berorganisasi.

Ada tulisan mengajak untuk tidak pacaran. Buat kamu yg emg udah ga pacaran sejak lama. Atau pendukung pacaran garis keras. Ya monggo ga usah baca.

Mungkin itu mereka yg ingin memutuskan untuk tidak pacaran lagi, namun masih butuh alasan lagi.

Ada banyak tulisan punya target masing-masing. Kalo ga sesuai dengan kamu, ya ga usah baca. Toh targetnya mungkin emang bukan kamu. Sederhana, kan?

Tapi, jika kamu udah punya pilihan, tapi mau lihat perspektif lain. Silahkan baca tulisan-tulisan yang berbeda dari pemikiran kamu itu.

Siapa tau pemikiranmu yg ternyata selama ini keliru bisa benar. Yang khilaf, bisa kembali baik. Yang benar, bisa tambah yakin.

Tinggal tanggapi dengan bijaksana. Jika ga sesuai. Silahkan buat tulisan sesuai pemikiran kamu sebagai pembandingnya. Bukan malah ngejudge dan menjelek-jelekkan.

Kalo gitu kan asyik. 😊

Adakah Dakwah dalam Daftar Mimpi Kita?"

Setelah mengisi dalam agenda launching Responsi Agama Islam di kampus UMMY Solok, saya bergegas menuju parkiran karna ada agenda lagi yg harus di kejar di Padang.

Dalam perjalanan ke lantai bawah, saya di temani ketua LDK, Akh Ilham. Sambil berjalan beliau bercerita bahwa Responsi ini di legalkan pertama kali setelah sempat vakum sejak tahun 2010.

Dengan wajah ceria, Akh Ilham bercerita "Alhamdulilah bang, diresmikan juga, didukung pula sama pimpinan kampus. Ini mimpi ana sejak masuk fsi. Responsi agama islam, di wajibkan untuk mahasiswa mengambil matkul agama"

Mendengar cerita ketua ldk tersebut, saya pun ikut bahagia dengan resminya responsi agama islam kembali di kampus tsb setelah sangat lama tak berjalan. Dan juga saya juga mengambil hikmah dari ucapannya. Tentang mimpi-mimpi untuk dakwah.

Sudahkah kita menyusun mimpi untuk dakwah? Sudahkah kita menata target untuk umat? Atau mimpi-mimpi kita hanya tentang diri?
.
Hanya untuk rumah mewah, harta banyak, nilai tinggi, pekerjaan nyaman, gaji besar, tidur nyenyak, makan enak dan pasangan rupawan? Apa hanya itu saja mimpi kita?
.
Tak ada untuk pencapaian dakwah, tak ada untuk kemajuan umat islam. Tak ada impian setahap demi setahap agar agama Allah tegak di muka bumi.

Apakah begitu nafsu kita akan nikmat dunia hingga lupa tugas kita sebagai muslim? Apa begitu cinta kita akan dunia hingga kita melupakan dakwah?
.
Semoga dalam doa dan ikhtiar kita terdapat mimpi-mimpi itu. Selain mimpi untuk diri dan keluarga. Terdapat mimpi untuk dakwah, mimpi untuk umat, mimpi agar nilai-nilai ajaran-Nya tegak di muka bumi.

#MelangkahMenginspirasi

Taat yang Sesungguhnya Adalah Saat Engkau Menjalankan Amanah yang Tidak Engkau Sukai

Engkau seorang yang hobi ke pasar. Berdiri dan berkeliling pasar tak membuatmu jenuh. Bahkan berbelanja berjam-jam tak membuatmu lelah.

Lalu ibu menyuruhmu berbelanja kebutuhan rumah ke pasar. Siap siaga engkau laksanakan tugas dengan ceria. Dan akhirnya selesailah tugas dengan sempurna. Mudah, kan?
.
Tapi engkau benci mencuci piring, takut membuat tangan tak lagi mulus. Tapi ibu mengamanahimu mencuci piring.

Jika benar engkau taat, engkau akan melaksanakannya, walau berat. Jika tak taat, engkau akan membuat ribuan alasan untuk menghindarinya.

Bayangkan, jika seorang ibu membiarkan anak-anaknya memilih tugas rumah tangga sesuai selera. Bagaimana dengan tugas rumah yg tak diminati. Seperti menyuci piring/ membuang sampah. Sedangkan sang ibu sibuk mengurus bayi, memasak dll. Apa hanya dibiarkan terbengkalai?
.
Begitu juga konsep taat dalam berjama'ah. Jika engkau suka diamanahkan dalam bidang dana usaha. Lalu ternyata engkau diminta amanah kesekretariatan yg engkau bilang membosankan. Jika benar engkau taat, engkau akan laksanakan.

Engkau orang yang suka perpolitikan, namun karna keterbutuhan dakwah, engkau diminta mengurusi mentoring yang kau anggap kurang seru. Jika engkau memang taat, engkau akan jalani amanah tersebut.

Bayangkan, jika semua kader dibiarkan memilih amanah yang mereka sukai. Bagaimana nasib sayap dakwah yg tak diminati. Jauh dari popularitas, tidak seru dan membosankan?
.
Apa dibiarkan begitu saja? Padahal amanah yang tidak diminati itu punya andil besar dalam dakwah. Mentoring misalnya, jika kurang diminati, siapa yg mengelola?

Begitulah taat, kadang kita harus banyak berkorban. Termasuk berkorban melakukan sesuatu yang tidak kita sukai. Walau berat, tapi disitu pahala besar menunggu. Bukankah pahala amalan yg berat berbeda dengan yg ringan.

Ketika sebelum perang Uhud, terjadi perbedaan. Ada yang ingin perang ada yg tidak. Namun setelah musyawarah, hasil memutuskan perang. Maka yg suka maupun yg tak suka perang. Tetap menjalankan perang. Walau berat dan tak ingin.

Senantiasalah taat, walau kadang sulit juga pelik.

#MelangkahMenginspirasi

Rabu, 01 Agustus 2018

Jika Kita Terjaga, Jangan Iri Dengan Maksiat

Pada sesi tanya jawab dalam sebuah kelompok mentoring yang wajib diikuti mahasiswa baru Unand, seorang mahasiswa ekonomi bertanya.

"Bang, kan tadi abg bilang nyontek dan titip absen adalah bentuk dusta yg dianggap wajar mahasiswa. Ini berbahaya karna bisa bikin ilmu yg dipelajari ga berkah karna berbohong.

Tapi bang, beruntung banget mereka (yang nyontek dan TA), usaha kecil tapi nilai bagus. Itu gmn bang?" Sang mentor menjawab dengan gamblang, "Kitalah yg beruntung temen-temen. Karna terhindar dari dosa bohong. Kita aja lagi yg belajar rajin biar nilai bagus."

Ketika saya SMA juga ada teman saya berkata. "Beruntung banget ya dia, gonta-ganti pacar mulu, tiap bulan ganti. Udah cantik-cantik lagi ceweknya. Bisa gandengan,pelukan,dan (sensor). Gue yg jomblo akut gini, pengenlah kayak dia."

Tiba-tiba teman lain nyamber "Bro, kite-kite yg jomblo ini yg beruntung, terhindar dari dosa pacaran."

Satu cerita lagi, seorang teman satu kampus dengan saya pernah mengungkapkan, "enak ya jadi si fulan, kerja di (salah lembaga keuangan konvensional), gajinya gede."

Teman saya yg sholeh menimpali pernyataan itu dengan bahasa minang yg artinya, "kerjaan kamu yg enak, bebas gajinya dari unsur riba yang haram."

Ah, kadang hati manusia iri dengan pencapaian saudaranya walau bercampur maksiat. Dan hilang kepercayaan diri karna saat taat kepada-Nya, hasil dunia tak memuaskan.

Ingatlah sahabat, ketika kita taat dengan aturan Allah, itulah keberuntungan yg hakiki. Karna ia murni, tak terkotori debu maksiat.

Bukan malah iri pada keberuntungan semu yg digapai dengan menumpuk dosa. Menghalalkan segala cara. Ingkar akan aturan Allah dengan sengaja.

Maka jika kita terjaga, bersyukurlah dengan karunia Allah itu. Karna akan menjauhkan kita dari siksa neraka. Percayalah ada balasan besar menanti kita di akhirat.

Jadi, walau kadang berat, tetaplah taat kepada-Nya. Karna masuk surga butuh pengorbanan untuk mencapainya.

#MelangkahMenginspirasi

Menggenapkan Hingga Sempurna

Dahulu, jarak tak pernah membiarkanku memikirkan semua cerita yang kita lewati kini, bahkan hanya terlintas-pun ia tak mengizinkan. Hingga pernah sempat hampirku kubur sejenak segala asa dalam dada. "Mungkin memang belum saatnya."

Namun Allah menakdirkan berbeda, Dia luruhkan segala batas pemisah, Dia rubuhkan semua sekat yang meng-hijab. Hingga akhirnya jarak itu lenyap tak tersisa, dan mempertemukan kita dengan cara yang tak terkira.

Jadilah kita bersatu saling suka dan gembira, menghimpun segala cinta dalam jiwa, menghapus segala luka yang pernah ada, dan saling berpegangan tangan untuk melanjutkan cita.

Akhirnya segala hal yang sempatku ragu, kini telah berlalu. Menjadi renjana yang semakin mengharu biru. Lalu membentuk kisah nyata antara aku juga kamu.

Barangkali memang begitu cara-Nya menyadarkanku bahwa sorot matamu adalah tatapan terindah yang pernahku lihat di dunia. Mata sendumu selalu sukses menyelimutiku dalam ketenangan.

Juga senyum manismu yang selalu meredam segala ekspresi negatif yang ada. Sehingga berada disampingmu membawaku tenggelam dalam kedamaian jiwa. Menggenapkan agama hingga sempurna.

Memang sudah semestinya kita senantiasa bersyukur pada-Nya. Karna memang setiap detik yang berlalu denganmu, adalah anugrah nyata dari-Nya.

Hingga tak pernah kulupa akan doaku pada-Nya. Agar kebersamaan ini abadi hingga surga.

#RumahTanggaSurga
#AzmulRimbun
#MelangkahMenginspirasi