Jumat, 17 Agustus 2018

Setiap Tulisan Ada Targetnya

Menurut saya, setidaknya Ini hal yg harus dipahami bagi kita pembaca dan pengguna sosmed.

Ada tulisan mengajak berpikir kreatif. Bagi kamu yg berprinsip berpikir kreatif ga perlu, ya ga usah baca.

Mungkin itu untuk mereka yg ingin kreatif tapi belum tau caranya. Jangan memangkas semangat2 mereka ini.

Ada tulisan yg mengajarkan dan mengajak untuk menikah. Buat kamu yg masih berpikir belum saatnya menikah, dan hanya menganggu proses karir dan belajar. Ya, ga perlu dibaca.
Mungkin itu untuk mereka yg sudah merasa siap atau ingin nikah namun butuh motivasi dan ilmu lebih.

Jangan malah dibilang pembahasan ini ga mutu. Cuma bikin baper. Toh targetnya bukan kamu. Plis deh jangan kege'eran sampe baper segala.

Ada tulisan yg mengajak aksi demonstrasi. Untuk kamu yg menganggap demo itu cuma omong kosong, ga perlu dibaca.

Mungkin itu untuk mahasiswa dan masyarakat aktivis atau mereka yg ragu akan efektifnya aksi, namun masih ingin coba.

Jangan malah nyindir-nyindir yg aksi ke jalanan. Karna mungkin kamu beda cara pandang.

Ada tulisan ngajak berorganisasi, bagi kamu yg nganggep organisasi itu cuma buang-buang waktu. Ga perlu baca.

Mungkin itu untuk mereka yg mau belajar kepemimpinan dan berorganisasi.

Ada tulisan mengajak untuk tidak pacaran. Buat kamu yg emg udah ga pacaran sejak lama. Atau pendukung pacaran garis keras. Ya monggo ga usah baca.

Mungkin itu mereka yg ingin memutuskan untuk tidak pacaran lagi, namun masih butuh alasan lagi.

Ada banyak tulisan punya target masing-masing. Kalo ga sesuai dengan kamu, ya ga usah baca. Toh targetnya mungkin emang bukan kamu. Sederhana, kan?

Tapi, jika kamu udah punya pilihan, tapi mau lihat perspektif lain. Silahkan baca tulisan-tulisan yang berbeda dari pemikiran kamu itu.

Siapa tau pemikiranmu yg ternyata selama ini keliru bisa benar. Yang khilaf, bisa kembali baik. Yang benar, bisa tambah yakin.

Tinggal tanggapi dengan bijaksana. Jika ga sesuai. Silahkan buat tulisan sesuai pemikiran kamu sebagai pembandingnya. Bukan malah ngejudge dan menjelek-jelekkan.

Kalo gitu kan asyik. 😊

Adakah Dakwah dalam Daftar Mimpi Kita?"

Setelah mengisi dalam agenda launching Responsi Agama Islam di kampus UMMY Solok, saya bergegas menuju parkiran karna ada agenda lagi yg harus di kejar di Padang.

Dalam perjalanan ke lantai bawah, saya di temani ketua LDK, Akh Ilham. Sambil berjalan beliau bercerita bahwa Responsi ini di legalkan pertama kali setelah sempat vakum sejak tahun 2010.

Dengan wajah ceria, Akh Ilham bercerita "Alhamdulilah bang, diresmikan juga, didukung pula sama pimpinan kampus. Ini mimpi ana sejak masuk fsi. Responsi agama islam, di wajibkan untuk mahasiswa mengambil matkul agama"

Mendengar cerita ketua ldk tersebut, saya pun ikut bahagia dengan resminya responsi agama islam kembali di kampus tsb setelah sangat lama tak berjalan. Dan juga saya juga mengambil hikmah dari ucapannya. Tentang mimpi-mimpi untuk dakwah.

Sudahkah kita menyusun mimpi untuk dakwah? Sudahkah kita menata target untuk umat? Atau mimpi-mimpi kita hanya tentang diri?
.
Hanya untuk rumah mewah, harta banyak, nilai tinggi, pekerjaan nyaman, gaji besar, tidur nyenyak, makan enak dan pasangan rupawan? Apa hanya itu saja mimpi kita?
.
Tak ada untuk pencapaian dakwah, tak ada untuk kemajuan umat islam. Tak ada impian setahap demi setahap agar agama Allah tegak di muka bumi.

Apakah begitu nafsu kita akan nikmat dunia hingga lupa tugas kita sebagai muslim? Apa begitu cinta kita akan dunia hingga kita melupakan dakwah?
.
Semoga dalam doa dan ikhtiar kita terdapat mimpi-mimpi itu. Selain mimpi untuk diri dan keluarga. Terdapat mimpi untuk dakwah, mimpi untuk umat, mimpi agar nilai-nilai ajaran-Nya tegak di muka bumi.

#MelangkahMenginspirasi

Taat yang Sesungguhnya Adalah Saat Engkau Menjalankan Amanah yang Tidak Engkau Sukai

Engkau seorang yang hobi ke pasar. Berdiri dan berkeliling pasar tak membuatmu jenuh. Bahkan berbelanja berjam-jam tak membuatmu lelah.

Lalu ibu menyuruhmu berbelanja kebutuhan rumah ke pasar. Siap siaga engkau laksanakan tugas dengan ceria. Dan akhirnya selesailah tugas dengan sempurna. Mudah, kan?
.
Tapi engkau benci mencuci piring, takut membuat tangan tak lagi mulus. Tapi ibu mengamanahimu mencuci piring.

Jika benar engkau taat, engkau akan melaksanakannya, walau berat. Jika tak taat, engkau akan membuat ribuan alasan untuk menghindarinya.

Bayangkan, jika seorang ibu membiarkan anak-anaknya memilih tugas rumah tangga sesuai selera. Bagaimana dengan tugas rumah yg tak diminati. Seperti menyuci piring/ membuang sampah. Sedangkan sang ibu sibuk mengurus bayi, memasak dll. Apa hanya dibiarkan terbengkalai?
.
Begitu juga konsep taat dalam berjama'ah. Jika engkau suka diamanahkan dalam bidang dana usaha. Lalu ternyata engkau diminta amanah kesekretariatan yg engkau bilang membosankan. Jika benar engkau taat, engkau akan laksanakan.

Engkau orang yang suka perpolitikan, namun karna keterbutuhan dakwah, engkau diminta mengurusi mentoring yang kau anggap kurang seru. Jika engkau memang taat, engkau akan jalani amanah tersebut.

Bayangkan, jika semua kader dibiarkan memilih amanah yang mereka sukai. Bagaimana nasib sayap dakwah yg tak diminati. Jauh dari popularitas, tidak seru dan membosankan?
.
Apa dibiarkan begitu saja? Padahal amanah yang tidak diminati itu punya andil besar dalam dakwah. Mentoring misalnya, jika kurang diminati, siapa yg mengelola?

Begitulah taat, kadang kita harus banyak berkorban. Termasuk berkorban melakukan sesuatu yang tidak kita sukai. Walau berat, tapi disitu pahala besar menunggu. Bukankah pahala amalan yg berat berbeda dengan yg ringan.

Ketika sebelum perang Uhud, terjadi perbedaan. Ada yang ingin perang ada yg tidak. Namun setelah musyawarah, hasil memutuskan perang. Maka yg suka maupun yg tak suka perang. Tetap menjalankan perang. Walau berat dan tak ingin.

Senantiasalah taat, walau kadang sulit juga pelik.

#MelangkahMenginspirasi

Rabu, 01 Agustus 2018

Jika Kita Terjaga, Jangan Iri Dengan Maksiat

Pada sesi tanya jawab dalam sebuah kelompok mentoring yang wajib diikuti mahasiswa baru Unand, seorang mahasiswa ekonomi bertanya.

"Bang, kan tadi abg bilang nyontek dan titip absen adalah bentuk dusta yg dianggap wajar mahasiswa. Ini berbahaya karna bisa bikin ilmu yg dipelajari ga berkah karna berbohong.

Tapi bang, beruntung banget mereka (yang nyontek dan TA), usaha kecil tapi nilai bagus. Itu gmn bang?" Sang mentor menjawab dengan gamblang, "Kitalah yg beruntung temen-temen. Karna terhindar dari dosa bohong. Kita aja lagi yg belajar rajin biar nilai bagus."

Ketika saya SMA juga ada teman saya berkata. "Beruntung banget ya dia, gonta-ganti pacar mulu, tiap bulan ganti. Udah cantik-cantik lagi ceweknya. Bisa gandengan,pelukan,dan (sensor). Gue yg jomblo akut gini, pengenlah kayak dia."

Tiba-tiba teman lain nyamber "Bro, kite-kite yg jomblo ini yg beruntung, terhindar dari dosa pacaran."

Satu cerita lagi, seorang teman satu kampus dengan saya pernah mengungkapkan, "enak ya jadi si fulan, kerja di (salah lembaga keuangan konvensional), gajinya gede."

Teman saya yg sholeh menimpali pernyataan itu dengan bahasa minang yg artinya, "kerjaan kamu yg enak, bebas gajinya dari unsur riba yang haram."

Ah, kadang hati manusia iri dengan pencapaian saudaranya walau bercampur maksiat. Dan hilang kepercayaan diri karna saat taat kepada-Nya, hasil dunia tak memuaskan.

Ingatlah sahabat, ketika kita taat dengan aturan Allah, itulah keberuntungan yg hakiki. Karna ia murni, tak terkotori debu maksiat.

Bukan malah iri pada keberuntungan semu yg digapai dengan menumpuk dosa. Menghalalkan segala cara. Ingkar akan aturan Allah dengan sengaja.

Maka jika kita terjaga, bersyukurlah dengan karunia Allah itu. Karna akan menjauhkan kita dari siksa neraka. Percayalah ada balasan besar menanti kita di akhirat.

Jadi, walau kadang berat, tetaplah taat kepada-Nya. Karna masuk surga butuh pengorbanan untuk mencapainya.

#MelangkahMenginspirasi

Menggenapkan Hingga Sempurna

Dahulu, jarak tak pernah membiarkanku memikirkan semua cerita yang kita lewati kini, bahkan hanya terlintas-pun ia tak mengizinkan. Hingga pernah sempat hampirku kubur sejenak segala asa dalam dada. "Mungkin memang belum saatnya."

Namun Allah menakdirkan berbeda, Dia luruhkan segala batas pemisah, Dia rubuhkan semua sekat yang meng-hijab. Hingga akhirnya jarak itu lenyap tak tersisa, dan mempertemukan kita dengan cara yang tak terkira.

Jadilah kita bersatu saling suka dan gembira, menghimpun segala cinta dalam jiwa, menghapus segala luka yang pernah ada, dan saling berpegangan tangan untuk melanjutkan cita.

Akhirnya segala hal yang sempatku ragu, kini telah berlalu. Menjadi renjana yang semakin mengharu biru. Lalu membentuk kisah nyata antara aku juga kamu.

Barangkali memang begitu cara-Nya menyadarkanku bahwa sorot matamu adalah tatapan terindah yang pernahku lihat di dunia. Mata sendumu selalu sukses menyelimutiku dalam ketenangan.

Juga senyum manismu yang selalu meredam segala ekspresi negatif yang ada. Sehingga berada disampingmu membawaku tenggelam dalam kedamaian jiwa. Menggenapkan agama hingga sempurna.

Memang sudah semestinya kita senantiasa bersyukur pada-Nya. Karna memang setiap detik yang berlalu denganmu, adalah anugrah nyata dari-Nya.

Hingga tak pernah kulupa akan doaku pada-Nya. Agar kebersamaan ini abadi hingga surga.

#RumahTanggaSurga
#AzmulRimbun
#MelangkahMenginspirasi

Ibu Indonesia yang Aku Tahu

Yang aku tahu, Ibu Indonesia layaknya Rahmah El Yunusiyah,
Perempuan Minang yang menjadi teladan para wanita.
Jilbabnya jatuh melebar menutup tubuhnya.
Otaknya cerdas, tekadnya kuat membara.

Dia dirikan pusat pendidikan khusus wanita,
Ia inspirasi para gadis menguasai ilmu agama,
Ia motivasi perempuan-perempuan menuntut ilmu setinggi-tingginya.

Maka lahirlah diniyah putri yang kita kenal,
Hingga namanya menggelegar sampai negeri timur tengah,
Pahlawan wanita dan menjadi panutan.

Yang aku tahu, Ibu Indonesia seperti Laksamana Malahayati,
Wanita aceh yang tangguh lagi perkasa.
Dengan selendang panjang menutupi kepala.
Dia lawan penindasan di tanah airnya.

Dialah laksamana wanita pertama di dunia,
Dia nahkodai armada dengan ratusan kapal.
Dia pimpin ribuan manusia dengan keberanian.
Dia lawan penjajah bangsa yang durjana.

Yang kutahu, Ibu Indonesia layaknya Rasuna Said.
Dibalik balutan hijab menutup aurat,
Dia lawan penjajah penuh semangat.
Suaranya lantang melawan kezhaliman.
Tulisannya tajam menusuk kekejaman.

Itulah Ibu Indonesia yang aku tahu,
Bukan seorang pencerca agama,
Bukan juga pemecah belah bangsa.

Ibu Indonesia yang aku tahu adalah wanita yang peduli negara,
Tahu ajaran agama juga taat kepada Tuhannya.
Dan dengan kelembutan hatinya, Ia hancurkan kezhaliman yang ada.

Itulah Ibu Indonesia yang ku tahu.

#IbuIndonesia
#MelangkahMenginspirasi
#LokomotifPeradaban
#StayPositive
#KolaboratorKebaikan

Taat Tanpa Tanya

Aisyah, ibunda para mukminin pernah berkisah betapa hebatnya wanita-wanita anshar dalam menaati perintah-Nya.

Saat itu surat An-Nur ayat 31 yang berisi perintah kepada muslimah menutup aurat dan menjulurkan jilbabnya hingga menutupi dada.

Sebelum turun ayat ini, para wanita belum berjilbab, sehingga rambut dan beberapa bagian tubuh lain terlihat.

Jadi jika masih ada yang mengatakan jilbab apalagi cadar adalah budaya arab. Mungkin mereka terlampau polos karna kurang baca.

Kembali ke kisah para wanita anshar, setelah mendengar Surat An-Nur ayat 31 tersebut turun kepada Nabi, para lelaki segera memerintahkan istri, putri, dan saudari-saudarinya untuk berkerudung hingga terjulur menutup aurat.

Lalu apa yang muslimah generasi awal Islam itu lakukan?

Dengan bergegas mereka meraih kain yang ada, entah itu gorden atau apapun yang dapat menutup aurat mereka. Mereka taat tanpa tanya, tanpa pikir-pikir, apalagi berdalih jilbabin hati dulu.

Tak ada pertanyaan, "apa untungnya berjilbab?", "berjilbab masih bisa cantik ga?", "kira-kira masih bisa berkarir tidak?", "nanti jodoh jauh tidak?". Sungguh tidak ada pertanyaan macam-macam dari mulut mereka.

Tak ada juga pernyataan, "Nunggu hidayah dateng dulu deh", "Belum siap nih", "kelakuan masih kacau, nanti ga sesuai dengan jilbab", "pakai jilbab panas, bikin rambut rontok", dll. Semua dilakukan tanpa rasa berat. Tanpa banyak alasan.

Itulah mental manusia beriman sesungguhnya. Yang mereka lakukan hanya taat tanpa tanya. Jika Allah yang memerintahkan, maka dengan sepenuh jiwa dilaksanakan.

Sudahkah kita taat kepada Allah dan Rasul tanpa banyak tanya? Tanpa banyak alasan dan keluhan? Lalu menjalankan segala perintahNya dengan ikhlas dan sungguh-sungguh.

Untuk saudariku, terkhusus untuk para muslimah, yuk menutup aurat secara syar'i. Julurkan jilbabmu hingga menutup dada. Gunakan pakaian-pakaian longgar yang tak membentuk lekuk tubuh dan tak transparan. Jaga dirimu hingga seperti ungkapan Rasul, yaitu perhiasan terindah di dunia.

Dan untuk seluruh muslim.Mari kita taat kepada-Nya, tanpa tanya. Karna apa yang berasal dari Allah, adalah yang terbaik bagi kita.

#MelangkahMenginspirasi

Meraih Kontribusi Tertinggi

Pernahkah kita bertanya, mengapa hanya dalam waktu 2 abad islam hadir di bumi, Islam telah menjadi kiblat peradaban dunia? Dua pertiga dunia dikuasai oleh para muslim.

Padahal jika melihat realitas langkah awal Nabi Muhammad Saw menyebarkan ajaran Allah. Umat islam hanyalah seonggok komunitas kecil yang diapit peradaban-peradaban besar.

Mereka jauh di bawah peradaban adidaya Romawi dan Persia. Bahkan masih jauh lebih kecil dari peradaban cina dan india.

Namun hanya dalam waktu singkat, peradaban islam hadir dan memimpin dunia hingga beradab-abad kedepan. Bahkan umat islam masih cemerlang ketika eropa tertimpa abad kegelapan. Kira-kira mengapa?

Karna para muslim di awal kehadiran islam adalah para muslim yang memiliki mentalitas pejuang. Insan yang bertekad memberikan kontribusi tertinggi dalam kebangkitan islam.

Itulah yang membuat Zaid ibn Tsabit di usia belasan tahun mempelajari bahasa ibrani juga suryani hingga menguasainya hanya dalam beberapa pekan. Lalu menggapai jabatan penterjemah negara di usia belia.

Itu juga yang membuat Abu Hurairah yang terlambat masuk islam berjuang untuk selalu dekat Rasulullah, agar apa? Agar dia mampu meraup segala hadits Nabi. Hingga jadilah ia salah satu periwayat hadits terbanyak.

Begitu juga yang di lakukan Khalid ibn Walid seorang panglima perang, Abu Ubaidah Al Jarrah Sang Sekretaris Negara, Ibnu Abbas pakar tafsir Qur'an, Muadz Ibn Jabal pakar fiqih, ibnu mas'ud Sang Qari terindah dan berbagai post-post amal yang sahabat perjuangkan.

Mereka memaksimalkan kemampuan mereka, lalu menjadikannya kesempatan untuk memberi kontribusi tertinggi untuk islam. Sekali lagi kontribusi untuk islam, bukan hanya untuk duniawi semata.

Mentalitas seperti inilah yang dibutuhkan agar peradaban islam kembali bangkit. Semangat inilah yang harusnya mengakar di hati-hati para muslim. Agar umat islam kembali memimpin dunia. Dan ajaran Allah tegak di muka bumi.

Jadi, sudahkah kita mengenal kemampuan diri dan menjadikannya peluang untuk meraih kontribusi tertinggi untuk islam?

#MelangkahMenginspirasi
#LokomotifPeradaban
#FSLDKSumbar
.
📷 Saat Rapat Pimpinan Daerah FSLDK Sumbar tahun lalu

Jodoh itu Cerminan Diri

Temen-temen percaya kan kalo jodoh itu adalah cerminan diri? Kalo kamu ingin dapat suami sehebat Nabi Muhammad, kamu harus sekeren Bunda Khadijah.

Kalo kamu ingin istri se-shalihah Fatimah binti Muhammad, kamu harus se-shalih Ali bin Abu Thalib.

Inilah gambaran yang biasa terjadi. Wanita baik hanya untuk lelaki baik. Lelaki baik hanya untuk wanita baik. Begitu juga sebaliknya. Seperti yang tertera dalam Al-Qur'an surat An-Nur : 26.

Makanya kalo kita ingin dapat jodoh yang menjaga diri dari lawan jenis. Kita jaga diri kita juga dari hubungan lawan jenis yg haram. Jangan sampai sentuhan sama lawan jenis, jangan pacaran.

Kalo mau pasangan yg menjaga auratnya, kita jaga aurat kita. Cowok juga ada auratnya loh. Bahkan ke sesama cowok aurat juga harus dijaga.

Jadi kalo futsal atau dirumah sekosan sama temen kuliah/kerja. Minimal pake celana 3/4. Kalo cowoknya suka umbar aurat, jangan heran kalo jodohnya suka umbar aurat juga.

Makanya dilapangan ada juga pasangan suami istri kompak untuk ga suka akhwat ikhwan yang hijrah penampilan dan komitmen berislam. Sok suci dan bertopeng katanya.

Ada juga pasangan yang antipati sama gerakan-gerakan islam. Lebay katanya.

Juga ada pasangan bapak ibu yang senang-senang aja anak-anaknya pacaran. Anak gadisnya di bawa cowok malam-malam, dipegang dan entah maksiat apa yang dilakukan, tapi mereka santai. Wajar anak muda katanya.

Ada pasangan yang kompak lebih suka pergi ketempat hiburan dari pada pengajian. Bahkan dateng pengajian saja hampir ga pernah.

Ada pasangan yang santai-santai saja melihat pasangannya ngga sholat, karna dia juga ga sholat. Dan banyak lagi contohnya.

Jadi kalo kita ingin pasangan yang shalih, maka shalihkan diri kita. Jika kita ingin pasangan yang taat kepada-Nya, rajin sholat, sering ikut kajian ilmu islam, semangat berislam secara menyeluruh. Kita harus jadi seperti itu.

Karna jodoh kita, adalah cerminan diri kita.

Tapi yg terpenting, ibadah jangan karna jodoh. Tapi karna Allah. Karna amal itu tergantung niat. Kalo niat cuma karna jodoh, cuma dapat jodoh.

Tapi kalo karna Allah, dapat ridho-Nya, dapat juga jodoh dari-Nya. 😄
.
#MelangkahMenginspirasi

Pengorbanan Kita Untuk Islam

Imam Syahid Hasan Al Banna pernah berkata "Tidak ada dakwah tanpa jihad, dan tidak ada jihad tanpa pengorbanan". Maka pengorbanan di perlukan dalam mendakwahkan islam.

Dan memang sudah menjadi alur berpikir seorang mukmin untuk merencanakan kontribusi terbaik untuk islam. Jadi pertanyaan yg timbul itu "apa yang bisa saya berikan untuk umat ?". Begitulah mentalitas tentara Allah.

Berbeda dengan seorang kafir dan munafik. Mereka hanya bertanya apa yang bisa mereka ambil dari umat? Apa keuntungan bergerak untuk islam?
.
Maka memberikan pengorbanan adalah kemestian dalam perjuangan islam. Ia adalah sebab pertolongan Allah dan agar dakwah selalu berkembang.
Maka bagi seorang muslim yang beriman kepada-Nya. Kita harus mulai memberikan pengorbanan terbaik untuk islam dan umat.

Apa saja pengorbanan itu?

Kita bisa memberikan pemikiran yang brilian, rapat siang malam, memahami ilmu islam dan ilmu lainnya, merumuskan strategi dakwah yang efektif.

Kita juga bisa memberikan skill kita. Bila kita mampu menulis, kita hibahkan untuk islam. Kita bisa design dan membuat video, kita sumbangkan karya untuk perbaikan umat.

Kita juga bisa bisa kontribusikam tenaga. Mengerjakan kerja-kerja dakwah yang kadang menguras daya fisik. Kegiatan sosial lalu berkhitmat untuk umat.

Bila kita memiliki kelapangan harta, menyumbangkan harta adalah bentuk kontribusi kita. Bahkan jiwa raga jika perlu dikorbankan untuk islam, akan kita berikan. Itulah semangat perjuangan islam yang dicontohkan para Rasul dan punggawa dakwah.

Bahkan jika keterbatasan daya kita miliki, kita tetap harus memberikan apa yang kita mampu. Di zaman Nabi ada sahabat yg tak punya harta, tak punya kemampuan perang, keterbatasan dalam pemikiran. Namun dia tetap ingin berkontribusi untuk umat. Bagaimana caranya?

Secara sukarela ia bersihkan masjid nabawi setiap hari. Ia sapu dari debu. Ia bersihkan dari kotoran. Itulah kontrbusinya.

Jadi, jika kita memiliki tenaga, ilmu, kecerdasan, harta, keahlian dan jiwa raga. Apa yg sudah kita berikan dan korbankan untuk kejayaan dan kebangkitan umat islam?

#MelangkahMenginspirasi
.
📷 Orasi dalam Agenda Aksi Solidaritas untuk Suriah

Membunuh Cinta dalam Dada

Tak semua cinta harus menjadi nyata, tak semua rasa berubah realita. Kadang harus ada perasaan yang terluka, kadang ada cinta yang tak berdaya.

Jika itu adanya, maka menikam cinta hingga tiada adalah sebuah solusi nyata. Namun tak semua insan mampu memaksanya sirna. Banyak cerita hingga kisah yang gagal membunuh cinta dalam dada.

Sebut saja dia Nasr bin Hajjaj, lelaki ganteng di zaman Sang Khalifah Umar ibn Khattab yang berjaya. Lelaki tampan idola para wanita. Wajahnya gagah rupawan. Senyumnya aduhai menawan.

Pasca di deportasi ke irak karna ketampanannya, Ia jatuh cinta, namun pada perempuan yang tak seharusnya.

Cintanya berlabuh ke istri lelaki tuannya. Tentu saja cintanya tak bisa menjadi realita. Dengan terpaksa ia membunuh rasa. Namun ia menjadi tak berdaya.

Rasa yang harus ia tikam hingga hilang ternyata menyerang balik tubuhnya. Ia menderita, hingga memaksanya memeras air mata.

Jadilah tubuh kekarnya menjadi kering kerontang, wajah tampannya hilang. Dan berakhir dengan nyawa melayang.

Ia nestapa karna rasa. Ia berduka karna tak mampu membunuh cinta. “Dari dulu beginilah cinta, penderitaan tiada akhir.” begitulah ungkapan Pangeran Tian Feng, rekan Sun Go Kong mencari Kitab Suci. Walau fiksi tapi penuh arti.

Begitu juga dengan Qais yang harus sakit jiwa, Sampek yang mesti kehilangan nyawa, Romeo yang tertimpa lara, juga Zainuddin yang sepanjang hidup penuh duka.

Dari mereka kita belajar. Jika gagal engkau membunuh cinta dalam dada, karna tak kunjung menjadi nyata. Maka tunggulah rasa itu akan membawamu dalam nestapa.

#MelangkahMenginspirasi
.
📷 Puding dengan penuh air mata, harus memotong memori agar Sanji pergi tanpa beban di jiwa. OP 902.

Buku dan Membangun Generasi

Ketika awal-awal kuliah dulu, ada teman yang bertanya. "Mul, kenapa suka beli buku?", dia tahu dana hidup saya terbatas. Bergantung dengan uang beasiswa yg amat sering terlambat. Itulah mengapa dia bertanya.

Dengan ringan saya berkata kepada teman saya, "Sebenarnya banyak alasannya, salah satunya saya ingin buku-buku ini biar jadi saksi, agar istri dan anak-anak saya di masa depan tahu buku apa yang membentuk pola fikir suami dan ayahnya."
.
Mengapa saya berpikir seperti itu?  Karna Allah memerintahkan kita jangan meninggalkan generasi yang lemah. Kita harus membangun generasi setelah kita lebih baik dari kita.

Lebih baik dalam pemahaman islam, lebih baik dalam memahami Al-Qur'an, lebih baik dalam peduli terhadap umat, lebih dalam memecahkan masalah yang ada di dunia. Lebih baik dalam segala hal. Dan semua itu membutuhkan ilmu.

Itulah mengapa saya ingin anak-anak saya lebih dulu mencintai ilmu dari saya. Lebih dulu mengejar ilmu agama dari pada Ayahnya. Dan lebih dulu menyukai membaca buku dari pada Orangtuanya.

Bagaimana bisa seorang anak menyukai membaca buku, jika buku saja sangat minim bahkan tak ada di rumahnya. Hanya televisi yang mendominasi, hanya gadget yang menonjol di rumah.

Itulah mengapa pentingnya buku dengan genrenya masing-masing harus ada di dunia. Agar apa?? Agar seisi rumah mulai belajar memilih membaca sebagai hiburan. Memilih membaca sebagai pengisi waktu. Memilih membaca untuk mood booster. Dan pada akhirnya memilih membaca sebagai kebutuhan.

Agar anggota rumah tidak terpaku dengan menonton, bersosmed ria atau bermain permainan online. Mencintai ilmu harus didorong sejak dini. Dan buku adalah jendela ilmu yang menurut saya merupakan hal wajib ada di rumah.

Sudahkan membeli dan membaca buku minggu ini?

#MelangkangMenginspirasi
#HariBukuSedunia

Seni Membentuk Manusia

Muhammad Quthb pernah berkata "At tarbiyatu fannu shina'atil insan" Bahwa tarbiyah adalah seni membentuk manusia.

Membentuk manusia seperti apa? Seperti apa yang diinginkan Allah. Manusia yang didalam dirinya melekat ajaran-ajaran islam. Insan yang membumikan ajaran Rabbani kepada seluruh umat.

Maka tarbiyah islamiyah adalah proses mencetak manusia seperti itu. Maka merugilah mereka yang enggan bersentuhan dengan tarbiyah islamiyah. Enggan memahami ajarannya.

Karena pada dasarnya tarbiyah adalah proses memuliakan terhina, menyucikan yang ternoda, meluruskan yang tersesat.

Jadi baik yang membina maupun yg dibina, mendidik maupun yg diberi didikan. Mereka semua masuk dalam lingkup pembelajaran. Mereka semua masuk dalam proses tarbiyah.

Sudahkah kita menjadi Manusia yang Allah inginkan? Yuk kita pahami islam dan jadilah insan yang dicintai Sang Maha Cinta.

#MelangkahMenginspirasi
.
📷 Berbagi sedikit dengan teman-teman mahasiswa di Payakumbuh

Gombal Kepada Allah

Bibir dan lidah kita begitu lincah bicara Allah yang kita Cinta. Lidah kita sangat lancar mengucap Allah yang kita puja. Lisan kita sering bilang bahwa Allah yang kita tuju.

Tapi kadang kata hanya sekedar kata. Ucapan hanya sekedar ucap. Tak ada dampak dalam perbuatan. Tak ada nampak dalam aksi nyata.

Kita mengaku cinta Allah, tapi sholat terlambat, aurat di singkap, menyebarkan ajaran agama-Nya malas.

Kita bersaksi bahwa Allah yang kita puja, namun pacaran jalan terus, sentuh-sentuhan bukan mahrom, zina dan maksiat lainnya.

Kita merasa Allah yang kita tuju, akan tetapi ada yang lebih kita dahulukan dari Allah, ketika Allah memanggil, enggan mengejar panggilan-Nya. Lebih penting mengejar uang, pacar, games, drama korea, foya-foya, dll.

Kita memang begitu pandai gombal ke Allah, lisan bilang cinta. Namun hati dan perbuatan tidak. Bibir ungkap puja namun larangan-Nya di kerjakan, ajaran-Nya ditinggalkan.

Pernahkah kita merenung, doa yang kita ucap, takbir yang kita lafadzkan, tasbih yang kita ungkapkan, dan pujian-pujian kepada-Nya.

Apakah itu benar karna iman? Sehingga hati, lisan dan perbuatan kita menunjukkannya.

Atau hanya sekedar gombalan kita kepada Allah?
.
#MelangkahMenginspirasi

Jangan Lupa Bahagia

Bebanmu boleh berat, targetmu boleh besar, mimpimu boleh tinggi. Tapi jangan sampai engkau melupakan untuk menikmati proses. Menyemai hikmah dalam titian langkah.

Tangismu boleh pecah, keringatmu boleh terkuras, dan energimu boleh habis. Tapi jangan biarkan keadaan memuramkan wajahmu. Melenyapkan ceria juga riangmu.

Engkau boleh lelah, engkau boleh perih, engkau boleh sakit. Tapi jangan pernah melupakan kebahagiaanmu.

Tersenyumlah, jangan biarkan lingkungan membuatmu sedih. Jangan biarkan orang disekitarmu mehilangkan semangatmu.

Jadi, bila dunia ini menekanmu dalam segala arah. Santai saja, lalu jangan lupa bahagia. 😊
.
#MelangkahMenginspirasi
📷 Tarhib Ramadhan FSLDK Sumbar, menjadi aksi terakhir sebagai ketua Umum FSLDK Sumbar.  InsyaAllah akan dilanjutkan dengan punggawa dakwah selanjutnya. 😊

Tentang Harapan - Part 2

Emangnya apa sih dosa kita? Judi, Membunuh, Berzina, Mencuri, apapun itu dosa kita. Sehina apapun maksiat kita. Sekotor apapun keburukan kita.
Allah akan mengampuni kita.
Bahkan jika seandainya dosa kita menumpuk. Hingga dari bumi sampai setinggi langit dan memenuhi seluruh muka bumi ini. "Wa la ubalii - Aku tidak peduli" begitu firman Allah.

Allah tak peduli sebanyak apapun dosa kita.  Sebanyak apapun itu, Allah akan mengampuninya.
Asal,
Kita mau bertaubat. Menyesal atas kesalahan kita dan berjanji untuk meninggalkan maksiat itu.

Jangan hilang harapan karena dosa kita yg sangat hina. Jangan putus asa atas kesalahan terburuk kita.

Allah suka banget sama hamba-Nya yg minta ampun. Beristighfar, bertaubat. Lalu beramal shalih. Menunjukkan kalo kita sungguh-sungguh minta ampun kepada-Nya.

Kita tidak tahu kapan kita mati, kan?

Karena kita tahu Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Lalu apa yg kita tunggu lagi?

Bulan penuh ampunan sudah di depan mata. Sudahkah kita persiapkan tekad dan rencana amal agar dosa kita terampuni?

#MelangkahMenginspirasi

Tentang Harapan - part 1

Lihatlah betapa besar rasa sayang Allah.

Kita berbuat dosa yang kotor, maksiat yg hina dina, munkar terhadap perintahnNya. Kita sudah sangat lancang kepada-Nya.

Tapi apa kata Allah. "Yaa Ibadi" " Wahai Hamba-hambaKu"

Dari banyaknya kebodohan kita, keburukan kita. Allah masih menganggap kita hamba. Masih memanggil dengan sangat lembut. "Hamba-hambaKu". Bahkan ia tak memanggil kita "Yang berdosa", "yang berbuat ingkar", tapi juga dengan panggilan yg sangat halus. "Yang melampaui batas"

Lihatlah betapa Maha Penyayang Allah. Dia masih memanggil kita dengan kasih sayang yg amat besar.

Lalu memotivasi kita agar tak putus asa karena dosa-dosa yg kita buat. Jangan berhenti berharap dari ampunan-Nya.

Karna ampunannya amat luas. Dan jika kita bersungguh-sungguh bertaubat dari dosa yg kita lakukan. Maka Allah akan mengampuni seluruh dosa kita.

Maka yuk kita bertaubat.

Move on dari kebodohan kita.
Move on dari maksiat yg hina.
Move on dari dosa yang diperbuat.

Mari kita move on.
Hijrah dari sesuatu yg buruk menuju cahaya kasih-Nya.

Berdo'alah dengan penuh harap. Meminta segala dosa yg sengaja maupun tak sengaja untuk di hapus.

Lalu bangkit berdiri melaksanakan amalan yg Allah cintai.

Terus perbaiki diri.
Dan jangan pernah berhenti berharap.

#MelangkahMenginspirasi

Setengah Warsa Bersama


Bagiku setiap detik kebersamaan kita adalah berharga.

Dari setiap senyum yang merekah, tawa yang membahana, tangis yang menerpa, hingga amarah yang kadang timbul begitu saja.

Dari setiap hal yang aku sukai dan kamu usahakan menyukainya, juga sesuatu yang kamu senangi, dan aku coba merasakan kesenangannya. Walau memang sebelumnya aku juga kamu tak menyukainya. Tapi kita berkomitmen untuk belajar menyesuaikan.

Dari setiap candaan remeh temeh yang kita lontarkan, lelucon yang kita tertawakan bersama, hingga hal serius layaknya mimpi-mimpi yang kita rencanakan, walau kadang juga terdengar absurd dan begitu besar.

Hingga setengah warsa kita bersama. Tentu tak setiap perjalanan baik-baik saja. Kadang ada situasi yang harus kita tangisi dengan pelukan saling memotivasi. Kadang ada keadaan yang membuat kita berselisih.

Tapi begitulah kebersamaan ini, ada masa lalu yang senantiasa kita perbaiki, ada kesalahan untuk saling menasehati, ada kondisi yang tak perlu kita tanggapi, cukup tertawa dan saling menyemangati.

Walau ada ujian berat yang sempat Allah takdirkan. Juga banyak nikmat yang Dia anugrahkan. Semoga kebersamaan ini adalah rumah yang menjadi tangga menuju surga-Nya.

#RumahTanggaSurga
#AzmulRimbun
#MelangkahMenginspirasi

Harusnya di posting tgl 22 juni 2018, tapi kelewatan. Gapapa lah, lebih baik terlambat dari pada ga sama sekali. 😅
22 Des 2017 -- 22 Juni 2018

Sungguh Tak Singgah, Singgah Tak Sungguh

Dalam hidup setiap perjalanan itu menarik kawan, terlebih jalan percintaan. Coba engkau perhatikan.

Kadang engkau menemui mereka yang sungguh mencintai, kuat tertanam dalam hati, pertemuan senantiasa dinanti, dan bagian perpisahan begitu nyeri, hingga akhirnya rindu enggan untuk pergi.

Tapi hati yang sungguh tak kunjung singgah. Jiwa meminta raga mengelak. Karna memang ingin menjaga, walau juga ada karna diri tidak siap, atau memang pernah menyiapkan.

Kadang ada yang berjuang untuk singgah, bercucur keringat untuk tiba, namun kalah cepat. Padahal jiwa tak kenal menyerah. Namun itulah takdir, sungguh tapi takk singgah. Menyakitkan memang, apadaya ini suratan.

Lebih pilu mereka yang singgah tak sungguh. Raga berdua tapi hanya senda gurau melulu. Jalan bersama namun enggan ke penghulu.

Bertahun-tahun memadu kasih berdua. Tapi tak kunjung melamar ke orang tua. Kata-kata manis hidup bersama bahagia, namun hanya tipu-tipu belaka.

Pedih memang menghadapi dia yang singgah tapi tak kunjung sungguh. Lebih baik pergi dan perbaiki diri dulu. Meladeninya cuma numpuk maksiat dan pasti keliru.

Maka sungguh untuk singgah itu perlu, agar kesungguhan menjadikan pelaminan menjadi titik temu. Atau mungkin mengikhlaskan menjadi solusi terlebih dahulu.

Singgah dengan sungguh juga utama. Agar persinggahan tak ajang penuh salah dan dosa. Tapi berisi kesungguhan membangun surga dalam rumah tangga.

#RumahTanggaSurga
#MelangkahMenginspirasi

Tips Kelola Keuangan Mahasiswa ala Azmul

Sesuai janji di ig story saya @azmulpawzi, menjelaskan dikit cara saya agar bisa menyisihkan uang buat beli buku. Padahal saya anak bidikmisi yg pemasukan utamanya ya disitu, 600rb per bulan yg kadang telat masuknya.

Oke, jaman kuliah dulu saya mengalokasikan keuangan saya jadi 6 bagian. Untuk kebutuhan pangan (beras dan lauknya), bayar tempat tinggal (maklum anak rantau), serba serbi kuliah (tugas, fotocopyan, dan transportasi kuliah), pengembangan diri (organisasi, kepanitiaan, pelatihan2), sosial (khusus buat makan diluar sama temen, untuk biaya pergaulan, tapi ini persentase paling kecil), dan hobi (dalam hal ini beli buku dan makan martabak, karna saya suka bgt sama martabak). Setiap bagian punya persentase masing2, tergantung kebutuhan tiap bulannya.

Jadi tiap bulan beli buku dan martabak adalah masuk list wajib saya dan harus KONSITEN. Kalo kita emang mau semangat membaca dan mencintai ilmu (termasuk menghargai penulis yg memberi ilmu dgn membeli bukunya). Kita juga harus mengalokasikannya. Walaupun harus memotong biaya jajan dan nongkrong kita.

Kalo masih banyak baju kita dari pada buku, berarti kita lebih menyukai mengupdgrade penampilan dari pada otak.

Setelah saya bagi2, saya harus komitmen dengan itu. Kalo abis uang sosial, ya saya akan menolak ajakan2 main. Kalo abis biaya pengembangan diri, saya tahan untuk ga ikut training2 dan seminar. Walau kadang ga berjalan ideal. Tapi kita pastikan ga melenceng jauh.

Dua semester awal saya masih berantakan, sehingga biaya makan saya-pun tak terkendali. Pernah saya beli satu telor goreng Rp 3000 di BC depan asrama unand, di potong tiga bagian untuk jd lauk makan pagi, siang dan malam. Ini dampak pengaturan uang berantakan.

Di semester 4 keatas saya terbantu dengan beberapa kali dapat job jadi pengisi acara training-training. Walau ngga banyak, tapi cukup membantu menambah keuangan saya.

Sampai diakhir masa perkuliahan, terutama semester 7 hingga wisuda, alhamdulillah penghasilan saya cukup lumayan sbg seorang mahasiswa di padang. Karna udah banyak pemasukan ini dan itu. Jadi nominal dr bagian2 diatas semakin besar.
Itu aja, semoga ada manfaatnya.

#MelangkahMenginspirasi

Visioner Dakwah yang Tak Bijak

Saya coba membayangkan kegundahan dan pertempuran hati yang dirasakan Nabi Muhammad saat musyawarah sebelum perang uhud, perang yang nantinya membawa umat islam dalam kekalahan dan menewaskan sahabat inti seperti hamzah ibnu abdul muthalib, mus'ab bin umair, dan 70an sahabat lainnya.

Dalam rapat tersebut, Rasulullah sampaikan mimpinya yang intinya berisi lembu disembelih, pedangnya rompal, dan tangannya berlindung ke dalam baju besi yang kokoh.

Kalau kita baca Sirah Nabawiyah, Syaikh Mubarakfury mentakwilkan mimpi ini yang artinya lembu yang disembelih adalah sahabat yang terbunuh, pedang rompal adalah kematian keluarga rasul dan baju besi adalah kota madinah.

Itulah mengapa Nabi pada awalnya merekomendasikan untuk bertahan di kota madinah, bukan berperang di luar kota.

Namun sebagian sahabat yang menunggu kesempatan berjihad dan meraih kemulian dari Allah, meminta Nabi untuk menyambut peperangan. Singkat cerita hasil musyawarah memutuskan untuk berperang di bukit uhud.

Bayangkan apa yang dirasakan Rasul. Beliau telah berfirasat bahwa umat islam akan kalah, bahkan hal ini berasal dari mimpi. Ingatlah, mimpi seorang Nabi bukanlah main-main, firasat seorang Rasul tidaklah sembarangan.

Tapi lihatlah sikap Rasul, beliau tak merendahkan hasil musyawarah. Beliau tak menyalah-nyalahkan ahli syuro selainnya. Beliau menjalankan keputusan musyawarah karena Allah dengan sepenuh jiwa raga.

Maka saya bingung dengan mereka yang mengaku visioner dan rasional dalam dakwah. Yang menghasilkan ide cerdas demi kemajuan gerakan, menyampaikan berbagai pikiran brilian. Tapi ketika ide kerennya tak di dengar anggota musyawarah. Atau hasil rapat tak sesuai pemikirannya, dia malah menjelek-jelekkan anggota musyawarah. Dia malah menyindir-nyindir tak baik gerakan dakwah.

Mereka berdalih "kalo kayak gini firasat gue dakwah bakalan hancur dan kalah". Retorikanya demi kebaikan dakwah malah merongrong dakwah itu sendiri.

Padahal firasat dia bukan firasat Nabi, pemikiran dia bukan pemikiran Nabi. Tapi entah mengapa dia tak menghargai hasil musyawarah gerakan.

Nabi Muhammad saja yang seorang kekasih Allah, surga sudah pasti, utusan Sang Maha Pencipta masih menghargai hasil musyawarah, dan menjalankan dengan seksama. Walau diawal beliau punya pemikiran berbeda dan sempat berfirasat akan kekalahan.

Bahkan ketika kekalahan benar-benar terjadi, sahabat dekat bahkan juga pamannya syahid, beliau tetap legowo dengan hasil rapat. Tak ada dalam lisan beliau berujar "Bener kan kata saya, hasil syuronya keliru" atau kata-kata menyalah-nyalahkan hasil atau anggota musyawarah.

Begitulah teladan dalam berjama'ah dan bermusyawarah dari Sang Rasul. Mari kita menjadi visioner dakwah yang bijak. Dengan senantiasa memikirkan kemajuan dakwah, dan memperjuangkannya dengan etika dakwah yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.

Wallahu'alam

Bukan Kader Dakwah?

Jujur sampai sekarang saya tidak pernah nyaman dengan pernyataan "dia bukan kader dakwah lagi", terlebih cap 'mantan aktivis dakwah' karna tak mengikuti kewajiban atau menyalahi aturan jama'ah.

Bukankah dakwah tidak monopoli sebuah jama'ah? Sama seperti sunnah, itu bukan milih kelompok. Dakwah dan sunnah adalah milik umat islam.

Maka tak sepantasnya mencap orang tak lagi kader dakwah, apalagi bukan sunnah karna tak lagi membersamai jama'ah yang diikutinya.

Makna bukan atau mantan ini lebih pantas jika di sematkan terhadap ormas atau partai. "Ah dia mantan aktivis ormas ini","dia bukan kader partai ini", ini baru cocok. Jadi mulailah berhenti memvonis seseorang bukan lagi kader dakwah, atau mantan aktivis dakwah.

Kecuali memang dia menjadi musuh islam, memecah-mecah umat, mempermainkan syariat, menggunakan ilmu untuk membuat umat islam semakin terpuruk, loyal kepada orang kafir dan tak peduli dengan urusan kaum muslimin, bahkan tak pernah memikirkan tentang dunia islam. Itu baru bukan lagi kader dakwah.

Namun, selagi dia masih menjalankan pengertian dakwah yang sama-sama kita pahami dalam lingkaran ilmu.

Mengajak manusia kepada yang ma'ruf, mencegah kepada yang munkar, dengan hikmah dan cara yang baik, mengingkari thagut, beriman kepada Allah, membawa manusia dari gelapnya jahiliyah menuju cahaya islam.

Jika seseorang masih melaksanakan dakwah seperti di atas, dimana pun dia menuntut ilmu, apapun jama'ahnya, dan bagaimana pun caranya. Maka dia tetap KADER DAKWAH.

#MelangkahMenginspirasi

Jamaa'ahmu Tak Menjaminmu Masuk Surga

Jangan kekanak-kanakan dalam berjamaah. Karena jama'ahmu tak menjaminmu masuk surga.

Boleh saja engkau berbangga menjadi bagian NU, Muhammadiyah, HTI, FPI, Jamah Tabligh, Wahdah, Salafi, Tarbiyah, Majelis Rasulullah dll. Tapi bukan itu yg membawamu ke surga, namun ketaqwaanmu dan jihadmu untuk islam.

Maka tak perlu engkau merasa jamaahmu paling benar. Selagi jamaah orang lain masih beraqidah ahlulsunnah wal jamaah, tak pantas engkau salah-salahkan.

Selagi ia bukan syi'ah, murji'ah, khawarij, mu'tazillah, dll. Tak perlu engkau buruk-burukkan.

Jangan ke kanak-kanakan dalam berjamaah. Karena dakwah bukan monopoli satu ormas atau jamaah. Maka tak perlu engkau berucap "Si Fulan membelot dari dakwah" di karenakan ia hanya pindah jamaah. Selagi ia masih amar ma'ruf nahi munkar, maka ia masih dalam golongan orang beruntung sesuai ali-imran : 104.

Sesama da'i jangan saling sikut, jangan saling ribut. Sesama jamaah dakwah jangan saling sikat. Tapi bersama membangun umat.

Jangan kekanak-kanakan dalam berjamaah. Loyal boleh, taqlid jangan.

#MelangkahMenginspirasi

Jumat, 05 Januari 2018

Menjaga Narasi Besar dalam Bernegara

Memimpin adalah menebarkan nilai dan menggerakkan sekitar menuju cita bersama. Setidaknya itu hakikat memimpin yang saya yakini sejak SMA. Maka gagasan adalah hal penting yang harus dimiliki para pemimpin.

Tanpa gagasan, takkan ada tujuan yang akan digapai. Tanpa narasi, tak jelas gambaran mimpi yang ingin diraih.

Saya sangat menyayangkan para aktifis yang dangkal gagasan. Bergerak hanya dasar ikutan atau diperintah. Jika ditanya visi dan narasi yang mengikutinya, tak jelas jawabannya.

Jadi, literasi dalam gerakan adalah hal pokok yang harus dibiasakan para pemuda sebagai calon pemimpin. Tapi keadaan kini malah berbalik, sebagian kalangan aktifis pemuda islam sangat minim budaya literasi.

Jangankan membaca tulisan para pemikir barat yang mereka hindari karna 'katanya' takut menjadi orientalis dan liberalis. Gagasan para pemikir muslim banyak yang tak mereka dalami. Baik pemikir muslim indonesia maupun internasional.

Berapa banyak para aktifis  pemuda islam yang gagap gagasan. Bahkan tak tahu tokoh pemikir muslim, terlebih narasi yang mereka bawa. Ini menunjukkan lemah wawasan dan bacaan.

Maka tak heran, dewasa ini menyebar sifat kritis tanpa landasan. Memimpin tanpa gagasan. Bergerak begitu saja tanpa narasi berkesan.

Jadi belajarlah dari punggawa dakwah Natsir, M.Roem, Syafrudin Prawiranegara dan pejuang islam masyumi lainnya. Mereka bergerak dengan narasi kuat dalam mengelola negara. Akal yang senantiasa berpikir besar diikuti fisik yang berkeringat hingga berdarah.

Mari menjaga narasi besar dalam bernegara. Tentunya dengan membudayakan membaca, diskusi dan menulis. Agar memimpin bukan hanya soal popularitas, namun ide yang ingin direalisasikan untuk kebermanfaatan bersama.

#MelangkahMenginspirasi
#Menuju2019

Selasa, 31 Oktober 2017

FSLDK Menjadi Lokomotif Peradaban Umat


Mengapa dalam hashtag dan design @fsldksumbar senantiasa diisi dengan hashtag #LokomotifPeradaban? Hashtag yang menjadi jargon penyemangat kepengurusan kini.

Saya ingin menjelaskannya dengan kembali mengingat mengapa dakwah kampus mesti ada. Setidaknya ada tiga tujuan mengapa FSLDK sebagai wadah dakwah kampus terbesar harus tetap berjalan dan menguat. Pertama menyuplai alumni berafiliasi islam, mencetak kader dakwah dan upaya kampus untuk mentransformasikan masyarakat menuju madani.

Maka tujuan terbesarnya adalah membentuk masyarakat madani. Membawa umat dari keadaan kini, menuju kehidupan madani, dan ini takkan ada tanpa adanya 2 tujuan sebelumnya. Jadi menjadi cita-cita kolektif aktivis dakwah mencetak pemimpin-pemimpin hingga mampu membawa umat lebih madani.

Kalau boleh mendefinisikan masyarakat madani. Secara sederhana, bisa kita definisikan masyarakat madani ada karena orang shalih mayoritas dalam umat sehingga nilai-nilai islam berjalan dalam kehidupan sosial dan bernegara.

Kalo kita ambil sistem demokrasi, maka mayoritas ini bisa diwakili dengan 50%+1%. Nah apakah orang shalih kita telah mencapai ini di kampus, Sumbar, bahkan Indonesia? 

Membangun peradaban islam membutuhkan banyak orang shalih yang juga mushlih. Seperti apa orang shalih ini? Minimal seseorang bisa disebut shalih ada tiga. Pertama terafiliasi dengan ideologi islam, lalu menjalankan perintah wajib dan terhindar dari dosa-dosa besar.

Nah, apa hubungan orang shalih dengan peradaban? 
Dalam kerja-kerja kolektif membangun sebuah peradaban, kita membutuhkan tim inti sebagai pemikir juga penggerak langkah peradaban. Bagaimana polanya? Kita mulai berkaca dari kelahirannya negara kita Indonesia.

Dalam perjuangan kemerdekaan ini, diawal melawan penjajah, perjuangan hanya perdaerah, belum terstrategi secara bersama. Maka berdirinya boedi utomo menjadi langkah awal kebangkitan bangsa, lalu ditegaskan juga dengan gerakan masif kemerdekaan oleh Serikat Islam yang dipimpin guru bangsa Cokroaminoto. Hingga terbentuklah embrio bangsa Indonesia dalam sumpah pemuda.

Orang-orang dalam boedi utomo, sarekat islam, dan sumpah pemuda hanya segelintir manusia. Mereka hanya bagian kecil dari Indonesia, namun mereka adalah tim inti umat bangsa yang menjadi penggerak bangkit dan lahirnya bangsa Indonesia.

Jika dalam membentuk negara butuh inti umat. Bagaimana dengan membangun peradaban islam. Butuh ada kader-kader shalih yang menjadi inti umat yang menggerakkan umat menuju lebih madani.
Begitulah yang dilakukan Rasulullah dalam membangun peradaban islam. Mencetak kader-kader dakwah yang menjadi inti umat.
Jika kita boleh membandingkan, Rasulullah memiliki umat saat haji wada sebanyak 100 ribuan kepala. Dan menurut Ibn Qayyim Al Jauziyyah hanya ada 110 orang ulama pemimpin dalam tubuh umat Nabi. Terlebih 110 orang pemimpin ini adalah yang terbaik dari generasi terbaik. 
Maka berapa pemimpin shalih yang kita butuhkan untuk mengelola 200an juta umat muslim indonesia untuk membangun peradaban islam di Indonesia?
Nah inilah tugas yang diambil FSLDK. Sederhananya, tugas dakwah kampus adalah mencetak sebanyak-banyak orang shalih agar menjadi tim inti umat, agar gerakan membentuk masyarakat madani semakin masif.
Itulah mengapa senasional kita punya target menambah jumlah kader sebanyak 30.000an kader lagi.
Agar kader dakwah yang dicetak oleh dakwah kampus mampu menjadi menggerakkan umat menuju kemenangan islam.
Layaknya lokomotif yang hanya satu bisa membawa gerbong-gerbong lainnya menuju tujuan. 
Kader dakwah yang dicetak FSLDK harus menjadi inti umat dalam gerakan peradaban islam. Tugas mereka menjadi lokomotif yang membawa umat menuju bangkitnya peradaban islam.
Itulah mengapa FSLDK sudah wajib Menjadi Lokomotif Peradaban
.
Terakhir siapkah Aktivis Dakwah Kampus menjadi 
Lokomotif Peradaban?


Salam dari kami
Azmul Pawzi
Ketua Umum FLSDK Sumatera Barat 2017-2018

Sabtu, 25 Februari 2017

Di balik kata Slow

Tahun 2009, saat bbrp bulan lagi UN akan berjalan, aku yg saat itu masih kelas 3 SMP 215 jkt, diberi masukan oleh ibu. "Ji, kamu nanti masuk SMK aja. Biar nanti pas lulus bisa langsung kerja, ayah ibu ga punya uang utk kuliah." Mendengar itu aku hanya tersenyum, lalu berucap. "Slow aja bu"

Waktu berjalan, Allah punya skenario lain, walau pada awalnya aku mendaftar SMK, tapi di detik2 akhir, aku malah d terima di SMA 101 Jkt. Walau aku berada di SMA, pesan Ibu tetap sama, lulus langsung kerja saja. Ga ada biaya untuk kamu kuliah.

Aku paham, bagaimana bisa untuk membiayai kuliah yang tinggi, utk SPP SMA saja yg cukup murah jika d banding SMA negri lainnya, tetap terasa mahal. Aku harus mencovernya dengan beasiswa yg kudapat dr salah satu bank BUMN dan bantuan sekolah. Jadi aku hnya brkata "slow aja bu, liat aja nanti." Aku berusaha menenangkan ibu. Namun dibalik kata slow, aku berjuang. Mempelajari soal snmptn otodidak tanpa bimbel, karena biaya bimbel bgtu mahal. Juga mencari link beasiswa. Dan cara lainnya.

Dan ternyata, kembali skenario Allah begitu indah, aku diterima menjadi mahasiswa FE Univ.Andalas dgn beasiswa bidikmisi. Bantuan hidup 600rb/bulan ku usahakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan akademik.

Aku tak ingin meminta ortu, aku harus mandiri. Ayah memang bbrp kali memberikan uang, tapi itu hanya bbrp kali itupun jumlahnya tak banyak. Kekurangan uang kadang kututupi dgn tip hasil mengisi training motivasi atau juri. Semua berjalan lancar hingga akhirnya aku memiliki penghasilan tetap bbrp tahun terakhir disini.

Takdir Allah amat baik, sbg mahasiswa, aku diberikan kesempatan oleh-Nya berprestasi, juga memimpin kegiatan2 mahasiswa, bicara di forum2 nasional, hingga mewakili kampus dan provinsi.

Perjuangan ini tak seberapa memang, namun ketahuilah jika Allah bkhendak,maka tak ad yg tak mungkin.

Utk kedua orangtua ku, walau tak datang karena ibu harus dirawat inap d RSUD jakbar dan ayah menjaganya. Aku ingin bilang,
Aku persembahkan ini untuk kalian Ayah Ibu ku.

Azmul Pawzi,SE
Bintang Aktivis Kampus Unand 2017
Penulis Buku "Sewindu Menata Rindu"

#MelangkahMenginspirasi

Kamis, 23 Februari 2017

Senja di Kampus, Saatnya Gantung Almamater


4 tahun 4 bulan menjalani studi di Unand. Tak terasa almamater ini menemani banyak cerita di kampus. Ia menjadi salah satu saksi perjuangan.Bermula dari bakti (ospek), hingga mengikuti berbagai kegiatan.

Ia pernah di pakai mengikuti banyak aksi, memimpin (korlap) demostrasi, orasi di depan mahasiswa sumbar di dprd, juga orasi di hadapan ribuan mahasiswa aksi di Bundaran HI Jakarta.

Ia mendampingi diri menjalani kepanitiaan dan kegiatan organisasi. Sambutan depan event nasional dan bicara di khalayak pemuda lainnya. Hmmm... tak terasa, lebih 50an kepanitiaan telah saya rasakan baik tingkat fakultas hingga nasional, juga belasan kepengurusan organisasi mulai dari anggota, koordinator bidang, hingga ketua.

Ia juga pernah menjadi teman menjuarai lomba debat tingkat provinsi, mewakili kontingen sumbar dan prestasi lainnya. Hingga ikut forum pemuda se Indonesia dan rapat-rapat pimpinan mahasiswa se nasional. Ah, tak terasa sudah banyak kota dan provinsi kita kunjungi bersama.

Banyak lagi sebenarnya cerita bersama almamater hijau ini ingin saya tulis, tapi takut kepanjangan. Namun yang pasti setiap cerita tentu punya endingnya. Saatnya menggantungnya. Ambil peran lain.

Masih banyak lini perjuangan yg membutuhkan aktor-aktornya. Perjuangan takkan pernah usai.
Mari tetap melangkah dan menginspirasi.

#MelangkahMenginspirasi

Tulisan ini hanya usaha menata kenangan.  

Minggu, 19 Februari 2017

Aku Tak Ingin Menangis, Terlebih Membuatmu Menangis

Apa yang dapat dibanggakan dari cinta yang tak berdaya terhadap keadaan? Dia hanya dapat diam, lalu menjauh. Hanya mampu terungkap di keheningan, atau terucap dalam kesendirian. Bahkan dalam sunyi ia tak mampu bicara. Hanya menjadi manusia pengecut yang tak mampu melawan dari tembok yang menghalang.

Walau cinta tak bersuara, tapi tetap saja ia tak pernah datang sendirian. Ia selalu hadir membawa berjuta rasa lainnya. Kabar buruknya, ia juga membawa rasa ingin memiliki. Ya, sebuah rasa yang membawa ribuan harapan, juga setumpuk angan. Bodohnya sang pecinta menikmati rasa itu, bahkan terbuai dengan bayang-bayang. Ia tak sadar bahwa dibalik indahnya rasa memiliki, ada setan menakutkan bernama kehilangan.

Kehilangan tak hanya membunuh angan, ia juga menyiksa batin dan menganiaya perasaan. Mungkin saja tubuh ini tak berlumur darah. Kulit-pun tetap mulus, tanpa ada perban yang membalut. Namun tak semua luka dapat terlihat bukan?

Lihat saja aku, engkau mungkin melihatku berwajah ceria. Senyumku memekar gembira, atau sesekali  tertawa dari kelakar yang tercipta. Tapi dapatkah kau melihatnya, hati yang telah babak belur memendam rindu. Atau memar yang tertinggal dari setiap malam sendu.

Aku menahannya, mengais ketegaran yang terlupa. Lalu meramunya menjadi senyum yang menyapa. Aku tak mau terlihat merana. Aku tak ingin menangis, terlebih membuatmu menangis. Engkau tak perlu tahu apa yang aku rasa. Engkau juga tak mesti pedulikan rindu yang menikam. Ini menyakitkan, jadi jangan engkau rasakan.

Aku tak ingin engkau bersedih karena perasaan seperti ini. Biar saja hanya aku yang begini, jangan engkau. Tetaplah seperti itu, berbahagialah dalam hidupmu. Bersuka citalah tanpa ada aku yang selalu gagu dihadapanmu.




Azmul Pawzi






Selasa, 07 Februari 2017

Cinta Tak Pernah Terlambat

Mungkin kita sudah bertemu hari ini. Saling bertatap, atau sekadar berpapasan di jalan. Mungkin kita sudah berkenalan hari ini. Berdiskusi akan suatu hal, atau hanya bertukar senyuman.

Tidak ada yang tahu sebuah perjodohan, bukan?  Bisa saja, orang yang akan menemani hidup kita nanti adalah teman semasa kecil.  Seorang yang menemani kita berlari riang, berdolan petak umpet atau bertengkar memperebutkan tempat bermain.

Bisa saja, dia yang kemudian hari tinggal seatap dengan kita adalah seorang yang mewarnai kehidupan sekolah. Yang mungkin saja saling cekcok saat tugas kelompok, saling mencuri pandangan saat guru menjelaskan atau berselisih antar geng remaja.

Atau bisa juga, kan. Orang yang menjadi jodoh kita adalah mereka yang selama ini berada di lingkar aktivitas kita. Saling debat dalam sebuah rapat, atau berkeringat dalam kepanitiaan.
Tidak ada yang tidak mungkin, bukan?

Karena siapa yang tahu tentang takdir. Kita hanya perlu menunggu kesadaran cinta itu hadir. Kadang kesadaran itu membutuhkan waktu yang singkat, kita hanya perlu menunggu hitungan hari atau bulan hingga kita menyadari cinta.

Atau kadang kita perlu waktu cukup lama. Kita kadang harus menunggu satu, belasan bahkan puluhan tahun untuk menyadari cinta. Namun itulah teka-tekinya. Itulah yang mungkin menjadi jalan hidup kita.

Cinta tak pernah datang terlambat, kan? Kita saja yang memang tak tahu kapan waktu yang tepat untuk mencinta.


Tak perlu kita terburu-buru mendefinisikan cinta. Jalani saja. Bukankah Allah selalu punya cara romantis untuk mempertemukan para hamba-Nya?

Selasa, 24 Januari 2017

Hantu Masa Lalu ~ (Part 1)

Begitu kelam, tak ada bintang yang tampak. Terlebih rembulan, seluruhnya tersaput oleh awan.  Malam itu sunyi, tak seorang manusia yang terlihat, tak ada obrolan atau gelak tawa yang terlacak. Hanya  sayup-sayup suara jangkrik yang terdengar jelas. Juga detak suara jam dinding yang tak mau kalah menghentak telinga. Hening dan sepi, tapi tidak untuk perasaan Selma. Hatinya bergemuruh kencang, banyak pertanyaan yang hadir, dia bingung juga sedih. Bukankah kabar siang tadi harusnya menjadi kabar gembira? Mengapa malam ini dia menangis?

Selma tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Disudut kamar 4x4 itu dia meringkuk. Lampu kamar tak menyala, gelap menyelimuti tubuhnya. Kepalanya tertunduk, tangannya memeluk kedua kakinya. Suaranya terisak-isak, tubuhnya gemetar.  Sesekali dia mendongak keatas, menyeka air mata. Lalu kembali menangis lagi. Dalam keheningan dia bertanya dalam hati. Mengapa kabar bahagia ini begitu menyakitkan?
***

“Harusnya elu seneng, Selma.” Diah mendengus kesal melihat temannya yang satu ini. Sejak kajian pagi dimulai hingga perjalanan pulang, Selma terus memasang wajah muram. Bagaimana bisa kabar sebahagia itu membuat dia murung berkepanjangan.

Selma menatap mata Diah, lalu kembali tertunduk. Dia menghembus nafas, langkahnya berat. Lalu ia memegang ujung jilbabnya yang terjulur panjan. Ibu jari dan telunjuknya memainkan kain berbahan wolpeach itu. Dia teringat perjuangannya untuk bisa berpenampilan seperti ini. Diah belum mengetahuinya, wajar dia tak mengerti. Ungkapnya dalam hati.

Tak ada suara lagi terdengar dari lisan kedua wanita berjilbab ini. Setapak jalan dari masjid menuju kos mereka hanya diiringi suara kendaraan lalu lalang. Selma diam, tak menjawab pertanyaan teman dekatnya. Sedangkan Diah masih terheran, bagaimana bisa dia semurung itu mendapat kabar sebaik kemarin? Dia saja lompat-lompat tak jelas di kamar kosnya ketika sore kemarin Selma menelpon bahwa lelaki itu datang ke rumahnya di Jakarta. Bicara dengan kedua orangtuanya, melamar Selma.

Wanita mana yang tak akan bahagia dilamar lelaki sesempurna Fatur? Lelaki teduh, berwajah ganteng, aktifis organisasi islam, dan lagi dia adalah hafizh Qur’an. Setidaknya 20-an juz al-Qur’an telah ia hafal. Walaupun jurusan kuliahnya adalah Matematika, namun ia sering mengisi ceramah-ceramah di berbagai tempat. Kurang komplit apa lagi? Ditambah lagi keluarganya adalah tokoh agama di provinsi ini. Pendidikan Fatur sebelum masuk kampus ini-pun juga ia habiskan di Islamic Boarding School. Lelaki baik, dari keluarga baik dan pergaulannya terjaga baik. Benar-benar lelaki sempurna.

Berita hebatnya kemarin siang dia sendiri datang bersama temannya untuk melamar Selma. Jauh-jauh pergi ke Jakarta untuk menemui orangtuanya. Dalam hati Diah, jika ia yang dilamar, mungkin ia sudah terbang kelangit tertinggi, saking senangnya. Dan jika kabar ini tersebar seantero kampus, entah berapa banyak wanita yang patah hati mendengarnya. Tapi ini sangat mengherankan, tak ada rona bahagia terpancar dari wajah Selma pagi ini. Dia seperti menyembunyikan sesuatu yang amat pelik dalam hatinya. Melihat wajah Selma yang tertekuk dari pagi, Diah memilih diam. Dia tak mau mengorek lebih dalam.  Cepat atau lambat Selma akan cerita kepadanya, begitu gumamnya.

Tiba-tiba hujan turun, tanpa waktu yang lama, hujan tersebut berangsur-angsur lebih deras. Tanpa pikir panjang, kedua gadis ini berlari menuju kedai bakso. Niat awal mereka berteduh, karena sungkan dan tergoda aroma yang sedap, mereka akhirnya memutuskan memesan dua mangkok bakso. Kedai itu cukup luas dan masih lengang. Diah mengajak Selma memilih meja paling ujung, lebih jauh dari pegawai kedai dan mungkin lebih nyaman jika seandainya Selma ingin bercerita, karena topik mereka tak akan terdengar.

Lima belas menit berlalu, dua mangkok yang telah terpesan itu sudah habis. Sedangkan hujan semakin deras diluar, mereka terjebak, harus bertahan lebih lama lagi di dalam kedai itu. Melihat keadaan, Diah ingin bertanya lebih dalam lagi. Namun sebelum terucap sebuah kata dari mulut Diah, Selma terlebih dulu bicara. Memulai obrolan.

“Aku bingung, Diah.” Diah tetap diam, menunggu kata berikutnya dari Selma. wajahnya memasang mimik seakan bertanya dalam diamnya. Bingung kenapa?

Aku takut dia menyesal, Diah. Aku takut Fatur menyesal.”

“Fatur lelaki Shalih kok, Selma. Kekhawatiranmu berlebihan saja. Memangnya kenapa, Sih?”

“Aku..... ” Setengah berbisik Selma menuntaskan ucapannya. Mata Diah terbelalak. Dalam hatinya dia tak menyangka mendengar itu. Bagaimana bisa?


*Bersambung*