Senin, 22 Agustus 2016

Pagi

Lihatlah keluar dan tataplah pepohonan
Ditemani desauan angin yang membelai lembut daunnya
Ia menari gemulai, rantingnya seakan melambai mesra
Menggoda untuk tidak memalingkan pandangan dari pesonanya

Lalu pejamkan matamu, dan rasakanlah
Burung-burung yang berkicauan merdu dengan ceria
Bersaut-sautan dengan sekali-kali mengibaskan sayap
Yang tiada malu menampilkan harmoni beragam nada

Dalam hembusan nafas yang kian melambat
Tenggelamkanlah dirimu dengan bisikan kata penuh do'a
Khusyuk'an hati dalam syukur dan ketundukan
Dan gamitlah pagi dengan semangat tak terkira.

#MelangkahMenginspirasi

Selasa, 02 Agustus 2016

Tuhan, Seperti Inikah Cinta? ~ (Part 1)

Siang ini hari begitu panas. Teriknya mentari seakan-akan mencubit-cubit kulitku. Perih, sangat menyengat. Sebagian diriku berusaha mencari kesejukkan dengan mengipas-ngipaskan diri dengan buku yang ku bawa. Dan sebagian lainnya menyesal, mengapa hari ini aku memilih polo berlengan pendek, bukan kemeja panjang.

Di tempat duduk di koridor gedung perkuliahan, aku terduduk sambil meminum teh kemasan botol dingin yang baru saja ku beli. Sejuk, lumayan untuk mengobati panas yang memeluk diri.

“Ketua.... Ketua...” Dari sebelah kiri terdengar suara seorang lelaki memanggilku. Dan dengan sekejap kepala ini juga menengok ke arahnya.

“Wah ketemu sama ketua disini, lapor ketua, anggota udah lengkap ketua. Yang daftar udah pas. Bagusnya dalam waktu dekat kita lakukan rapat.” Rupanya itu suara Bima, sekretaris  dalam project event sosial yang sedang aku jalani.

“Wah bagus, berapa jumlah panitianya?” Tanya ku singkat.

“Nambah lima belas orang. Jadi anggota kita sudah dua puluh tujuh orang ketua. Oh iya, kira-kira kapan kita bisa rapat? Besok? Lusa?”

“Lusa InsyaAllah, jam 16.30 ya di taman depan fakultas Ilmu Budaya. Bisa kamu kasih infonya ke anggota baru dan temen-temen lainnya?”

“Wah pas ketua, siap laksanakan”

Aku tersenyum dan mengangkat jempol tanda apresiasi dengan semangatnya. Bima sosok yang tak pernah hilang semangat dalam dirinya. Walau kadang suka panik dalam beberapa hal, ia adalah seorang yang cekatan dan rapi dalam administrasi, sangat cocok dengan jurusannya di Akuntansi. Berbeda dengan ku yang agak kurang rapi dalam arsip mengarsipkan.

“Oh iya ketua, ada anak MIPA yang badai.”

“Heh? Maksudnya Bim?”

“Namanya Bella, katanya dari Bandung. Wiiih putih, cantik, mulus, bohay, fashionable, rambutnya panjang. Pokoknya badai deh. Ketua pasti tertarik ngeliatnya”

“Hadeeh, udah jadi presenter infotainmet kamu sekarang Bim?”

“Ya kali ketua tertarik, kalo kagak aku yang samber nih.”

“Samber, samber, emang listrik apa. Yaudah sampai ketemu lusa ya, tolong juga kasih tau siapa yang konfirmasi izin. Oke?”

“Oke sip ketua, aku ke jurusan dulu ya.”

Aku mengangkat tangan kanan ku dan tersenyum. Kini Bima berjalan dengan langkahnya yang terlihat ceria. Cukup cepat hingga dirinya menghilang. Sedangkan aku tetap terduduk disini, dengan hikmat meminum teh dingin berkemasan botol  dengan sesekali mengusap muka yang sudah banyak mengelurakan keringat.

Aku mendongak ke atas, dan melihat sekeliling. Banyak mahasiswa – mahasiswi yang bercengkrama. Di ujung sana ada sekelompok mahasiswi, bersenda gurau. Sepertinya pembicaraannya menarik, hingga dari kejauhan saja, sangat terlihat bahwa mereka bahagia dengan pembicaraannya. Apakah dia membicarakan ketampanan lelaki seperti Bima yang membicarakan kecantikan wanita?

Huft, cantik? Ganteng? Entah dari mana standarisasi tentang kedua hal ini ada. Apakah putih dan mulus seperti yang diucapkan Bima dan berbagai iklan kosmetik di televisi? Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak putih dan mulus. Padahal putih dan mulus itu adalah stereotip yang dipaksakan penjaja kosmetik kepada manusia Indonesia agar terpengaruh dan membeli jualannya.

Karena kebanyakan wanita Indonesia berkulit kuning langsat, sawo matang, coklat dan lain-lain. Makanya penjual kosmetik Indonesia membuat definisi cantik itu ya putih. Karena jika cantik itu kuning langsat udah banyak di Indonesia dan dagangannya gak akan laku. Itulah mengapa, artis-artis dan bintang iklan kosmetik banyak yang putih. Agar para lelaki tersihir agar mengatakan yang putih seperti itu yang cantik. Dan para wanita juga terpengaruh agar menjadi putih mulus seperti bintang iklan tersebut agar terlihat cantik dimata lelaki.

Dan seketika aku teringat Agnes Monika. Dia cantik dalam definisi orang Indonesia (lebih tepatnya penjual kosmetik Indonesia). Agnes adalah wanita yang berkulit putih, mulus dan cantik. Namun lihat ketika dia memutuskan go internasional. Kulitnya yang putih ia ubah menjadi coklat. Mengapa? Ya karena wanita berkulit putih di Amerika adalah hal yang lumrah. Dan jika mereka (penjual kosmetik) mengkampanyekan cantik itu putih, ya tidak laku barang dagangan mereka. Oleh karena itu penjual kosmetik mempropaganda warga Amerika, cantik itu coklat seperti halnya Beyonce, Rihana dan lainya. Itulah salah satu alasan mengapa kulit Agnes Monika coklat di penampilan internasionalnya.

Menarik bukan? Cantik definisi ini untuk keuntungan ekonomi beberapa pihak dan tentunya sangat tak adil. Semoga aku berusaha agar tak termakan propaganda ini.
Dalam lamunan panjangku, aku tersentak mengingat bahwa ada jadwal kuliah dalam waktu dekat. Ku lihat jam tanganku, waktu sudah menunjukkan 13.36. Terlambat enam menit,  saatnya masuk kelas kembali.
                                                                        ***

Rapat sudah di mulai 15 menit yang lalu. Kini Kirana, koordinator bidang acara sedang menjelaskan gambaran projek sosial yang akan kita laksanakan ke teman-teman yang sedang bergabung. Aku yang juga pemimpin rapat saat ini dalam posisi memperhatikan.

“Ya sampai disini ada tanggapan dan pertanyaan?” Tanya kirana

“Aku kak?” seorang mahasiswa mengangkat tangan.

“Ya silahkan” Aku mengizinkan.

“Wah bagus kak, kalo gitu acara yang kita buat seharusnya pasca event ada lagi follow up-nya. Biar impact nya lebih besar dan suistainable.” Mahasiswa itu memberikan tanggapannya.

“Ketua aja yang jawab” Minta kirana kepada aku.

“Nah bener teman-teman, event ini hanya sebagai langkah awal. Abis ini kita akan buat sebuah gerakan yang terprogram dengan baik. Agar potensi-potensi yang telah dijelaskan kirana tadi bisa kita kembangkan secara maksimal. Oleh karena itu tingkat kesuksesan event ini, mempengaruhi langkah kita kedepannya.” Jelas ku.

Rapat berjalan sangat baik, beberapa anggota baru itu cukup kritis dan memberikan masukkan yang baik. Hingga sepuluh menit kemudian Bima yang berada di sampingku berbisik kepadaku.

“Ketua, itu yang namanya Bella baru dateng.”

Mata ku tertuju kepada tiga mahasiswa yang sedang berjalan menuju forum rapat. Aku melihat sekilas, tak begitu memperhatikan. Lalu kembali fokus kepada penjelasan ide seorang mahasiswi yang juga anggota baru.

“Assalamu’alaikum” Ucap salah seorang mahasiswa yang tadi berbarengan langkah dengan Bella.

“Wa’alaikumsalam” beberapa peserta rapat menjawab.

“Gimana ketua? Badai kan?” Bima berbisik, pelan.

Kali ini aku tak begitu mendengar suara Bima. Tanpa aba-aba yang ia ucapkan perhatianku sudah sepenuhnya teralihkan. Tertuju kepada salah seorang dari tiga orang yang baru saja datang. Bukan, bukan kepada Bella yang dengan rambut panjang tergerai, kemeja dan jeans yang cukup ketat. Dan tentunya dempul muka yang terlihat ia sangat lihai dalam berdandan. Sungguh bukan kepada dia yang mungkin bisa menarik perhatian yang lain.

Mata ini sungguh telah terfokuskan kepada seseorang yang membersamainya, gadis berkaca mata yang menggunakan jilbab hijau terulur panjangg hingga menyentuh bagian pinggangnya. Cardigan hijau lumut yang ia padukan dengan gamis hijau entah bagaimana serasi dimataku. Teduh, bagai melihat pepohonan rimbun dalam savana yang luas di tengah hari yang terik.

Nafas ku tertahan, jantungku berdegub kencang. Dia dengan sempurna  membuat aku merasakan ke anehan yang ku rasa belum pernah terjadi sepanjang hidupku dalam 15 detik terakhir.

“yee.. Jangan di liat mulu Bella-nya. Fokus ketua.” Bima menyadarkanku dengan sikutnya yang mengenai perut ku bagian samping.

“Siapa si yang ngeliatin Bella. Udah-udah ah bahas ceweknya. Orang lagi rapat tu fokus Bim.”

Aku coba kembali memfokuskan diri dalam suasana rapat. Kirana masih menjelaskan beberapa hal. Sebagian peserta rapat sesekali mengangguk-angguk, termasuk dia. Ya dia, entah bagaimana dia terasa berbeda. Aura macam apa yang terpancar darinya. Dan mata itu, mata sendu itu bagaimana bisa mengambil alih perhatianku? Dan bagaimana bisa juga ketukan jantung ini menjadi tak beraturan dan begitu cepat.

Oh Tuhan, mengapa juga terlalu banyak pertanyaan? Seperti inikah cinta?

(Bersambung) 


gambar

Selasa, 26 Juli 2016

Remaja Kita Butuh Teladan, Jadilah Teladan itu

Akhir-akhir ini saya mendapatkan sebuah cerita tentang sebuah akun anak muda umur belasan tahun yang dengan “berani” menunjukkan kehidupan bebasnya di media sosial. Awalnya saya tak begitu menggubris apa yang diceritakan teman saya ini. Namun ketika saya mendengar bahwa sang gadis belasan tahun ini memiliki fans yang banyak dan banyak orang yang terinspirasi dari sang artis media sosial ini. Saya jadi menggambil mulai tertarik. Sejauh mana kah ia mempengaruhi anak-anak muda.

Akhirnya saya membuka akun gadis ini. Bukan karena penasaran apa yang ia lakukan. Namun memperhatikan siapa saja yang berkomentar “Keren” ,”SWAG”, “Pengen seperti kak ****” atau mengatakan kehidupan percintaanya relationship goals.

Lalu setelah saya melihat, sangat miris rasanya. Mereka yang ter-insight dengan akun ini rata-rata adalah anak ingusan masih pake seragam putih biru atau putih abu-abu. Bahkan ada juga yang ketika saya buka akun fans sang artis sosmed ini adalah anak bau kencur putih merah.

Tak bisa di elakkan, sang artis ini menjadi terkenal dan jadi role model di kalangan remaja. Banyak remaja yang ingin dengan kehidupan hedon, pacaran, senang-senang, banyak uang, dan tanpa tekanan belajar. Dan dengan jargon “Nakal boleh, Bego jangan.” Anak-anak remaja ingin menjadi SWAG atau keren menurut versi mereka.

Ditambah lagi kehidupan pacaran sang artis yang dikatakan para remaja ini sebagai relationship goals. Ngeri bro, bagaimana bisa kehidupan pacaran yang isinya mesum, berduaan dengan pose seksi dan menebar kemesraan c**man dan pel*kan dengan vulgar di bilang relationship goals.

Ini ngeri, sangat ngeri. Ini menunjukkan bahwa memang benar remaja bangsa kita krisis figur. Anak-anak muda kita kekuarangan role model. Dunia maya yang dapat di lihat digenggaman para remaja telah dipenuhi para perusak moral.

Oleh karena itu, disini saya tidak mengajak teman-teman pembaca untuk memaki sang artis-artis sosmed yang sangat banyak menyebar hal negatif. Disini saya ingin mengajak temen-temen untuk melawan mereka dengan memberikan keteladanan yang baik untuk remaja. Saya yakin pembaca memiliki banyak kegiatan positif, pemikiran yang cerdas dan karya yang punya manfaat. Jadi dengan bermodal akun sosmed teman-teman mari lakukan dua hal ini.
  1.  Menginspirasilah, gunakan akun sosial media mu untuk menyebar kebaikan. Sekecil apapun itu. Jadikan kehidupanmu bisa menjadi teladan. Jika kau punya kesibukan organisasi yang mengembangakn dirimu, bagikan. Jika kamu memiliki prestasi, sebarkan. Atau hanya sekedar ikut kegiatan pengajian, ya tunjukkan. Gunakan media ini untuk menginspirasi sekitar. Terutama remaja yang kebingungan mencari panutan. Asah dirimu menjadi panutan remaja-remaja tanggung ini dan sebarkan ke mereka.
    Tunjukkan yang keren itu bukan kehidupan hedon,  bebas semau gue atau sumpah serapah yang mereka tebarkan. Jadikan kehidupan keren itu berprestasi, religius, empati kepada orang lain, berkata baik dan bijak serta menjaga norma sosial.
     
  2. Jika anda bingung konten apa dari diri anda untuk di bagikan. Maka cari atau kembangkan, lalu sambil mencari. Bagikan juga konten positif yang menurutmu memiliki inspirasi yang baik. Jangan anggurin konten-konten positif yang kalian liat di sosmed. Kamu melihat ada sosok yang berprestasi dan empati tinggi, bagikan. Atau ada sekedar teman mu yang menjalankan kegiatan sosial, sebarkan. Jangan biarkan hal positif hanya dinikmati oleh dirimu sendiri. Jika bukan kamu belum mampu menjadi objek keteladanan itu, jadikan orang yang menurutmu pas untuk dijadikan panutan anak-anak muda sekitarmu.
Sombong? Jangan. Pastikan niat kita bukan untuk itu. Niat kita tentu untuk menyelamatkan moral bangsa. Menyelamatkan kehidupan anak muda agar tak terpengaruh konten-konten negatif.

Harus kita pahami, media sosial adalah kemajuan dunia yang tak bisa kita hindari. Dan ini adalah pertarungan sengit, konten seperti apakah yang akan menguasai medsos kita dan anak muda sekitar kita. Mereka yang menyebarkan keburukan saja bangga dan merasa bahagia. Bagaimana bisa kita yang menyebar kebaikan malah takut. Setidaknya niatkan dirimu untuk melawan konten-konten negatif yang ada di sosmed dan agar bisa menjadi amal baik yang bisa kamu kerjakan.

Terakhir, remaja kita kehilangan sosok panutan. Anak muda kita kehilangan role model. Maka kita sebagai anak muda yang resah harus ambil peran ini, harus ambil bagian menjadi solusi. Jangan sampai mereka yang menyebarkan konten negatif menjadi role model remaja-remaja kita.

Kita tidak bisa mengatur atau merubah orang lain secara instan untuk tidak menyebarkan konten negatif. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah membagikan hal positif sebisa kita. Maka, mari sebarkan konten positif di media sosial. Tunjukkan kehidupan cerdas, religius, berprestasi, empati dan hal baik lainnya adalah hal keren yang bisa jadi teladan yang harus di ambil oleh para remaja bangsa Indonesia.

 #MelangahMenginspirasi



gambar

Selasa, 10 Mei 2016

Sewindu Menata Rindu ~ (Part 3 - Tamat)

Waktu terus berlalu. Kumpulan detik-detik itu kini mulai menjadi menit. Dan jumlah menit itu-pun semakin lama semakin bertambah. Sedangkan aku masih duduk termangu dimeja ini. Bibirku kelu, kaki ku membeku. Entah hawa gadis itu mulai menusuk-nusuk diri ini. Rindu yang selama ini memelukku dengan sayapnya, kini mulai terbuka. Belati diantara sayap yang senantiasa menikamku juga mulai menjauh.

Kini, rindu yang menyembilu itu berganti dengan rasa gugup dan takut.  Najma, kini sudah dihadapan. Dan aku masih menjadi lelaki pengecut yang tak bisa berbuat apa-apa.  Keberanianku luruh, aku (sampai sekarang) hanya dapat melihatnya dari jauh. Memperhatikan senyumannya dalam keterdiaman yang tak tahu kapan ujungnya.

Cinta memang membawa kesenangan dan kesedihan dalam setiap episodenya. Ketika tubuh ini luluh lantah karena rindu yang tak kenal ampun merundung pilu. Kini ketakutan yang menyiksa ku. Gigi ku gemetar, dahiku berpeluh. Tubuhku mulai memahami kondisi diri, tanganku yang mulai becek dialiri keringat. Segumpal harapan yang sempat hadir ketika sosoknya datang, kini berubah menjadi resah tiada tara.

Pengecut. Aku mulai berteriak tanpa suara. Apa yang dapat dibanggakan dari cinta yang berucap saja tak berdaya. Dalam kekalutan, aku mulai memaki diri. Sumpah serapah ku tak berujung, penyesalanku tak terelakkkan. Sedangkan ia? Tetap tersenyum indah diselingi gelak tawa ditengah teman-teman wanitanya.
Apakah ia merasakan yang aku rasa? Apakah ia memikirkan apa yang kupikirkan?

“Assalamu’alaikum teman-teman semua. Selamat malam...” Dalam renunganku, pembawa acara mulai membuka acara formal reuni SMP ini. Aku tak peduli, sungguh. Bahkan hingga ratusan kata terucap sang pembawa acara hingga penampilan salah seorang alumni menyanyikan lagu dengan gitar akustiknya, aku tetap tak peduli. Aku disini bukan untuk itu, aku disini untuk Najma.

Sepuluh menit, dua puluh menit, hingga lima puluh menit sudah berlalu. Berbagai rangkaian acara sudah terlaksana. Setiap penampilan dan hiburan sudah tersuguhkan. Dan aku masih tetap disini, menatapnya (masih) dalam kejauhan.

“Teman-teman, nah kayaknya kita butuh empat orang nih untuk nemenin eike ambil kertas serta bacain door prize reunian.” Pembawa acara memasuki acara selanjutnya.

“Nah, Rudi yang dari SMP sampe sekarang masih ganteng aja. Terus Nia miss hebring, sama ustadzah kita Najma. Juga Cakra yang bengong aja di ujung sana. Yuk mari kedepan. Yeay tepuk tangan.”

Aku tersentak, bagai petir yang menyambar. Mata ku langsung menyala, energi mengalir begitu saja disekujur tubuhku. Namaku disebut bersamaan Najma untuk naik ke panggung. Ah, Mike si cowok feminim yang jadi pembawa acara mengerti aku. atau setidaknya dia mendengar jeritan hati ku.

Kini, Rudi sudah berada di panggung, begitu juga Nia. Aku dengan segera menuju panggung. Dan Najma baru saja berdiri dari bangkunya dan mulai melangkahkan kakinya. Tanpa waktu lama, sejurus kemudian Najma sudah berada dihadapanku lebih dekat, lebih dekat lagi. Ia semakin dekat panggung ini. Dan tantangan selanjutnya adalah, menyapa. Ah, ternyata tak mudah menyapanya. Apa yang harus ku katakan? Apakah “hai Najma”, atau “apa kabar Najma?”, atau “wah sudah lama tak jumpa Najma”. Arrrggghh, ternyata tak mudah menyapanya.

“Ini Cakra? Wah apa kabar Cak?” Dalam kebingungan ku Najma menyapaku begitu saja ketika ia sudah berada di panggung.

“Eh emm eh. Hai” Astaga, aku gugup. Bibirku kelu, fikiranku tiba-tiba terfokuskan untuk menenangkan gemuruh dalam dada. Bodoh, aku mulai salah tingkah.

“Baik cakra?” Dia kembali menanyakannya kembali. Memastikan aku menjawab pertanyaannya yang sebelumnya.

“iya Najma, baik. Kamu?” Aku mulai berusaha menguasai diriku. Berusaha menjadi lelaki dewasa dihadapannya. Bukan lagi lelaki ingusan berseragam putih biru.

“Nah teman-teman kita udah di depan. Jadi yuk mari kita minta teman-teman ini ambil kertas di wadah ini. Di mulai dari si cucok Rudi. Yuk mari Rud.” Mike beraksi lagi.
Rudi mulai memasukkan tangannya kedalam wadah berisi nama-nama teman-teman yang sudah tertulis dalam kertas. Sedangkan aku menatap Rudi, sekedar mengalihkan pandangan sejenak menatap Najma.

“Alhamdulillah, Aku baik kok” Ia menjawab pelan, sedikit berbisik. Lalu menyimpulkan senyum setelahnya.

Rudi telah menyelesaikan tugasnya. Nama dikertas itu juga sudah disebutkan. Aku tak mendengarnya, juga sorak sorai tepuk tangan hadiah yang akan diterima. Aku hanya terbuai keindahan yang ku rasakan kini. Berada didekatnya, melihatnya menujukan senyumannya kepadaku, mendengar suaranya dan mata sendunya. Aiiihh, bagai pohon rimbun di padang rerumputan kala mentari begitu terik menyinari dunia. Teduh.

Berapa menit kemudian berlalu. Kami berempat sudah menyelesaikan tugas yang diminta Mike. Penerima Door Prize-pun juga sudah memegang hadiahnya. Kini kami berempat mulai beringsut turun dari panggung.

“Najma, bentar dong. Bisa duduk di situ sebentar?” Aku menunjuk dua bangku kosong di antara empat orang lain yang sudah duduk disekitarnya.

Dia melihat sebentar, mungkin karena tempat duduk disana juga cukup ramai dan terdapat wanita dan pria disana, ia menyetujuinya. Kami menuju bangku itu dan terduduk rapi.

“Kamu sekarang tinggal dimana?” Aku memulai pembicaraan. Selama dipanggung tadi aku sudah mengumpulkan keberanianku, serta aku juga sudah bersumpah. Tidak adalagi mulut yang tak berbicara. Tidak ada lagi kata yang tak terucap.

Diawali dengan senyum, ia menjawab “Aku sekarang tinggal gak jauh kok dari sini. Udah setahun setengah bahkan aku udah tinggal sekitaran sini. Sambil-sambil ngajar di TK Sinar Bintang dua lampu merah dari sini.”

“Wah keren, jadi guru TK.” Aku terpesona, sudah pasti jiwa keibuannya telah terpancar kuat dari dirinya. Ditambah lagi sosok guru TK yang pandai mengelola anak-anak. Calon ibu yang baik. Gumamku dalam hati.

“Kamu kerja apa sekarang cak?”

“Aku kerja di kantor Asuransi nih. Lumayan agak jauh sih dari sini.”

Tiba-tiba seorang wanita yang ku kenal bernama Ria duduk disebelah kami lalu menyapa aku dan Najma. Tanpa waktu lama ia sudah larut beberapa perbincangan dengan Najma. Aku hanya memperhatikan mereka. Melihat cara bicara gadis bermata sendu ini yang entah bagaimana begitu manis.

Tak lama kemudian handphone Najma berbunyi. Ia mengangkatnya. Dan beberapa saat kemudian ia terlihat panik, dan mulai gusar.

“Susu udah dikasih? Masih nangis juga? Yaudah deh aku kesana sebentar lagi.” Aku mendengar sedikit perbincangannya. Ada apa dengan susu? Menangis?

“Aduh Ria, Cakra. Aku kayaknya ga bisa sampe abis ikut acara reuni ini. Anak ku nangis, suami aku bingung. Jadi aku harus pulang.” Ucap Najma seketika itu.

“heh Anak? Suami? Kamu udah nikah?” seketika keluar begitu saja pertanyaan itu. Kata-kata yang yang ku dengar barusan hampir saja mencopot jantungku.

“Iya cak. Udah satu setengah tahun juga. Aku pindah kesini lagi karena suami ngajak tinggal disini. Udah ya aku pergi dulu. Assalamu’alaikum.”

Gadis berjilbab itu mulai melangkah menjauh. Punggungnya mulai semakin berjarak lalu lenyap dibalik pintu kafe. Meninggalkan aku yang mematung. Tanpa bicara dan menatap kosong. Ria yang sedari tadi duduk dihadapanku juga sudah pergi. Tak berselera melihat sesosok manusia yang tak menggubris panggilannya.

Aku terhenyuk, sewindu aku menata rindu. Ternyata sudah terlambat. Delapan tahun aku memendam cinta. Ternyata terlewatkan begitu saja. Menyisakan aku dan sayap-sayap yang patah bagai mawar yang terinjak tak berdaya.

Ah, beginilah cinta. Ia memiliki ribuan kemungkinan saat pertama kali jumpa. Kitalah yang terlalu bodoh untuk hanya menginginkan akhir yang indah.

-Tamat-




Senin, 02 Mei 2016

Aleppo Membara & Pemimpin Haus Darah

Jika anda ingin melihat kezhaliman modern seorang pemimpin, maka lihatlah Suriah. Seperti yang dilansir dari Liputan 6, sejak Juli 2014 hingga Februari 2016 rezim Bashar Al Assad telah membunuh 10.000 orang. Itu yang baru terdata, belum yang tidak terdata. Ditambah lagi pembantaian sebelum 2014, yang juga kurang lebih menyentuh ratusan ribu orang.

Belum puas dengan riwayat pembunuhannya. Sejak 21 April 2016 hingga sekarang, pemerintahan laknatullah memborbardir kota Aleppo yang dihuni 400 ribu orang. Tidak tanggung-tanggung, sang presiden zhalim Bashar al Assad telah melakukan 260 serangan udara, 110 artileri, 18 ruda, 68 bom di kota terbesar kedua di Suriah ini.

Yang begitu memilukan hati, mereka menyerang rumah sakit, sekolah-sekolah, pasar-pasar sentral perdagangan dan berbagai tempat warga sipil tak berdosa lainnya berada. Anak-anak terkujur kaku tak bernyawa, merah darah mewarnai pemandangan kota hingga memerahkan sungai. Ayah-ayah menangisi kepergian anaknya, dan anak-anak terkulai lemas melihat kedua orang tuanya tak bernyawa. Hingga 1 mei malam, sudah 250an warga sipil tak bersalah menjadi korbannya.

Ini kekejaman tak terperi saudara ku, ini kezhaliman tak terbayangkan wahai manusia. Kita hanya perlu menjadi manusia untuk merasakan ini, kita hanya perlu menghidupkan hati nurani.

Dan jika kita muslim butuh sebuah fatwa, maka organisasi ulama dunia sudah berfatwa Membantu segenap saudara kita di Aleppo secara khusus, dan Suriah secara umum hukumnya wajib. Atas seluruh bangsa Arab, Kaum Muslimin dan terlebih para pembuat kebijakan!” terang Sekjen Persatuan Ulama, Syeikh Dr. Ali Al-Qurodaghi. “Dan siapa saja yang mengabaikan mereka padahal mampu, dia berdosa!” tambahnya.

Yusuf Al-Qardhawi yang juga ketua ulama dunia ini mengatakan “Sangat tidak masuk akal apabila kita membiarkan saudara kita dalam keadaan lemah dan suriah yang tenggelam dalam situasi yang menyedihkan.”

Maka, mari berikan bantuan terbaik kita untuk saudara-saudara kita di Suriah melalui donasi ke
2102.0210.14951-5 
Bank Nagari
Atas Nama FKI Rabbani



Kamis, 14 April 2016

Sewindu Menata Rindu ~ (Part 2)

                
Matanya Sembab, wajahnya memerah. Air mata mulai mengalir membasahi pipinya. Dia menangis. Ya, dia menangis, dan seluruh orang terkejut, termasuk aku. Kakak kelas itu mulai memasang wajah bingung. Terharu kah dia? Tidak, wajahnya tak menggambarkan itu. Dan semua orang-pun mulai bingung akan respon Najma atas pernyataan cinta ini.

“Lu kenapa ma?” seorang siswi bertanya.

Najma bergeming, ia masih berusaha menata tangisnya. Dengan sesenggukan Najma berulang kali mengusap air mata dari wajahnya. Lelaki itu maju, mengangkat tangannya. Ingin ikut mengusap air mata di pipi si gadis bermata sendu itu. Najma beringsut mundur. Gesturnya menunjukkan ia tak mau disentuh.

“Kamu kenapa Najma?” Kini kakak kelas itu bertanya pelan, menatapnya lamat-lamat.

“Lu kenapa si? Jawab ngapa, jangan diem-diem mulu.” Gadis yang sedari tadi senyum dengan genit sekarang mulai memasang wajah jutek.

Kini seisi kelas menanti pernyataan sikap Najma. Ungkapan cinta dan respon Najma semakin membuat hati setiap insan di kelas bertanya-tanya. Apa yang akan di ucapkan Najma?

“Aku.....” Najma mulai membuka mulutnya. “Aku nggak mau pacaran dan nggak akan pacaran.”

Gadis berjilbab itu berlari menerobos lingkaran manusia yang mengerumuninya menuju bangku tempat ia duduk sebelumnya. Ia terduduk dan menutup wajahnya. Sikapnya itu diikuti dengan teriakan kecewa “para penonton” prosesi penembakan. Beberapa suara sumbang dari kerumunan orang terdengar, seperti “sok jual mahal banget sih lo” atau “ih kampung banget” dan berbagai perkataan lainnya. Sedangkan kakak kelas itu tersenyum, lalu meninggalkan kelas dengan santai. Entah apa yang ia rasa, rekor tak pernah ditolaknya runtuh. Kini gadis bermata sendu itu telah menolaknya.

Ditengah pandangan sinis beberapa orang dikelas. Aku terpaku dengan kejadian yang baru saja ku lihat. Kini mataku mulai menatap gadis itu. Melihat dirinya yang telah menangkup  kepalanya di meja yang berada dihadapannya. Dan tanpa ku sadar dalam tatapan itu ada simpati yang hadir,  ada rasa kagum yang menyelinap, dan ada benih-benih rasa yang hadir tak ku pahami.

Maka kejadian itu menjadi awal ini semua. Awal dari cinta yang menggelora, dan rindu yang menyembilu. Dan perasaan itu semakin meningkat saat beberapa minggu kemudian, seorang guru merombak tempat duduk kelas kami khusus satu hari. Entah takdir seperti apa hingga kita bertemu menjadi teman sebangku.

Aku canggung, begitu juga dia. Maka jadilah kami sepasang manusia pemalu yang menjadikan diam sebagai bahasa pertemuan pertama. Sampai akhirnya aku mencoba memecah sunyi. Dengan bertanya beberapa hal.

“Najma?”

“Ya?”

“Ada satu hal yang aku penasaran sama kamu. boleh nanya ngga?”

“Boleh-boleh aja kok.”

“Kamu kenapa nangis waktu itu? Waktu kamu di tembak kakak keren itu?”

Najma terdiam. Dan aku menjadi salah tingkah menghadapi kesunyian ini.

“Eh, kalo kamu nggak nyaman, nggak usah dijawab juga gapapa” ucapku.

Najma kini tersenyum. Lalu beberapa saat kemudian dia mulai menjawab lagi.

“Aku nggak mau pacaran dulu cakra.”

“Kenapa?”

“Aku udah berprinsip akan hal itu. Tuhan nggak suka perbuatan itu. Dan aku juga nggak mau kayak cewek-cewek biasa cak. Dan aku akan mencoba mempertahankan itu.”

Najma mengakhiri kata-katanya dengan simpul senyum di bibirnya. Kali ini senyumnya lebih menawan dari sebelumnya. Aku bahkan sampai lupa bernafas sesaat memandang wajah serta mendengar jawabannya. Wanita berprinsip memang selalu mempesona.

Kami-pun melanjutkan hari itu dengan berbagai perbincangan. Hingga aku mengetahui banyak hal tentangnya. Bahwa ia adalah anak sulung dari 5 bersaudara, juga kehidupan ekonomi yang sulit ia alami. Aku menikmati kebersamaan hari itu. Karena itu adalah pembicaraan terakhir aku dan dia yang cukup lama.

Sejak saat itu, kami tak pernah berbincang lama akan suatu hal. Karena memang dia yang selalu bersama teman wanitanya dan aku lelaki pemalu yang tak pandai memulai perbincangan. Terlebih ketika kenaikan kelas memisahkan kita di kelas yang berbeda. Berbincang dengannya adalah hal yang sangat sulit. Bahkan lebih sulit dari menuliskan sebuah puisi atau menghafal bahasa latin pelajaran biologi, kedua hal yang juga dia sukai—itu juga aku ketahui dari orang lain.

Semuanya berlanjut hingga kelulusan tiba, dan aku mendengar kabar bahwa dia memilih untuk meninggalkan kota. “Keluarga kami harus meninggalkan kota, di desa lebih tenang.” Begitu ucapnya, walau aku tahu, bahwa ayahnya bangkrut dalam dagang hingga membuat mereka harus kembali kedesa.

Kami berpisah, tanpa salam apalagi pertemuan terakhir. Ia pergi begitu saja, tanpa alamat atau nomor yang dapat aku hubungi. Dia hilang, dan membawa seluruh rasa ini bersamanya. Beberapa cara aku coba untuk sekedar mencari informasi tentangnya. Tempatnya tinggal, sosial media, bahkan nomor telepon genggam-pun tak ada. Semua nihil. Hingga akhirnya aku terhenyak, cinta macam apa yang tak berdaya dengan sebuah kata perpisahan.

Delapan tahun lamanya aku mencari, sewindu lamanya aku menata rindu. Dan kini Tuhan menjawab do’a-do’a ku. Dia hadir dalam bentuk daftar kehadiran alumni angkatan sekolah menengah pertama. Disebuah acara yang aku pilih untuk tidak hadir sebelumnya. Akan tetapi ia hadir. Dan aku akan menemuinya. Disini, di acara ini.

“Eh elu ngapain si bengong aja.” Suara dari disamping ku memecahkan lamunanku. Seorang teman memukul pundak yang sebelum-sebelumnya hanya menebar lelucon ke teman-teman yang lain.

“Haha, apaan dah lu. Lanjut-lanjutlah ngelawaknya.” Aku mencairkan suasana. Dan selanjutnya aku memilih untuk lebur dalam suasana hangat teman-teman lama ini. Mulutku mulai berbicara banyak, bercerita tentang kuliah dan pekerjaanku di sebuah perusahaan asuransi.

Lima menit berlalu, pintu cafe terbuka untuk kesekian kalinya. Namun kali ini berbeda, ada sesuatu yang istimewa. Sesosok gadis berjilbab biru dengan campuran warna gamis berwarna putih kebiruan hadir di balik pintu cafe yang terbuka perlahan. Wanita itu datang, gurat wajahnya berubah, terlebih postur tubuhnya. Ia menjadi sesosok gadis yang berbeda,  akan tetapi auranya sama.

Air mukanya menggambarkan kedewasaan, langkahnya melukiskan kematangan. Ia menjadi sosok wanita yang mempesona. Ah ya matanya, masih mata sendu seperti dulu. Teduh, seperti cahaya rembulan. Ia kini berjalan menuju meja yang cukup jauh dari ku. Dan aku tetap terpaku di sini, di bangku dan meja ini tanpa bersuara dan berkedip. Pernahkah kau merasakan mulutmu kelu, nafasmu terhenti sejenak dan jantungmu berdegup kencang? Maka itu yang ku rasakan kini.

Dari kejauhan ia tersenyum. Bukan. Senyum itu bukan untuk ku, tapi untuk teman-teman wanita lain. Lalu dia melambai, juga bukan untukku, Namun untuk teman lain di ujung sana. Ah aku lupa, bukankah dari dulu seperti itu, aku adalah manusia tak tampak dihadapannya. Lelaki penyendiri yang hawanya tak terasa. Bahkan sampai saat ini-pun aku tetap menjadi sosok pemalu yang bingung mencari cara untuk berbincang dengannya. (Bersambung)





Senin, 11 April 2016

Sewindu Menata Rindu ~ (Part 1)


    Aku coba menghela nafas perlahan sambil senantiasa memandang pintu masuk cafe. Memperhatikan setiap  orang yang lalu lalang. Melihat setiap wajah pengunjung dan menyaksikan setiap inci pergerakan pintu baik itu terbuka maupun tertutup.

Mulut ini diam, tak bersuara. Hanya jemari yang senantiasa memainkan sedotan jus yang sedari tadi tak terminum.  Sudah dua puluh menit berlalu, dan mata ku berulang kali hanya tertuju jam tangan dan pintu cafe. Walau sekali-kali menyimpulkan senyum ke teman-teman sekitar yang sibuk berbincang ria.
          
          Sekelilingku dipenuhi akan nostalgia mereka. Ada yang bersemangat bercerita kehidupan pasca masa putih biru, ada yang menyampaikan kesibukan mereka baik pekerjaan atau skripsi yang tak kunjung kelar. Ada juga yang tak henti berkelakar ditemani  meraka yang menjadi pendengar setia dengan sekali-kali menyumbangkan tawa. Walau dibeberapa titik ada pula mereka yang canggung-canggung, mencari celah untuk sekedar berkata “hai” kepada sang mantan. Mereka bersuka ria, larut dengan cerita-cerita menarik dalam reuni angkatan sekolah menengah pertama kami hari ini.
                
        Sedangkan aku? Ah, aku hanya lelaki penyendiri yang lebih memilih untuk diam. Hanya sibuk akan memori masa lalu. Menggali berbagai cerita yang pernah singgah. Memutar ulang kisah kami berdua. Maksudku cerita dua manusia—karena memang kita tak memiliki cerita berdua secara spesial. Merenung dan menunggu seseorang yang sekian lama ingin ku tatap.
         
        Seseorang yang namanya terpampang dalam list kehadiran yang di umumkan oleh panitia beberapa hari lalu, dan menjadi alasan mengapa aku ada ditempat ini sekarang. Sosok yang mengenalkan ku akan sesuatu yang selama ini sulit kurasakan. Karena ia telah merenggutnya secara penuh, habis tak tersisa. Hingga tak bisa ku curahkan rasa yang serupa ke lain wanita.

         Ya, jika di dunia ini ada yang namanya cinta pertama, maka aku merasakannya, bahkan hingga sekarang. Bukankah kata banyak orang cinta pertama tak pernah hilang? Ah, itu tak penting. Sekarang penantianku akan terbayar.
                
         Aku tak sabar menunggu, karena manusia mana yang senang dalam menunggu? Cinta memang seperti itu, dengan segala keindahannya Tuhan juga menanamkan perihnya rindu didalamnya. Maka setelah pengumuman kelulusan SMP terpampang, jadilah itu menjadi lembaran awal ceritaku menjadi pemuda yang tersiksa dalam pengelolaan rindu selama 8 tahun. Benar kata orang, love is sweet torment. Namun kini, rindu itu akan terbayar. Dan aku tak akan menghilangkan kesempatan ini.
                
       Adalah Najma, gadis lembut yang telah mengambil seluruh perhatianku kepadanya. Sesuai namanya, ia menjadi bintang yang menghiasi kelam malamku. Menjadi cahaya yang menyinari kesendirian diriku. Dan yang terindah. Mata sendunya, membuat indra ku tak pernah alfa dari semua tentangnya.

Dan itu semua berawal sejak saat itu. Sejak gadis berjilbab yang terbiasa duduk di sudut kelas dengan bukunya, dengan tiba-tiba ditarik beberapa siswi menuju depan kelas. Kala itu ia terkejut, wajahnya bingung mengapa teman-temannya membawanya ke depan kelas.
                
         Dan tiba-tiba kelas itu hening, tak bersuara. Kala seorang kakak kelas muncul dibalik pintu yang baru saja terbuka. Lelaki itu hadir dengan senyum di wajahnya. Langkahnya mantap ditemani sekuntum bunga di tangan kanannya. Kelas-pun menjadi semakin hening, hanya langkah kaki lelaki itu saja yang terdengar. Aku pun ikut terdiam, memandang tak acuh dari bangku paling belakang.
         
        “Najma, sebenernya, aku udah lama memperhatikan kamu.” Lelaki itu memulai kata-katanya. “Sifat mu yang lembut, wajahmu yang cantik dan kebaikan dirimu, telah membuatku jatuh cinta kepadamu.”
                
     Najma terdiam, kelas terdiam. Semua siswa dan siswi mendengar setiap kata-kata yang disampaikan lelaki itu. Hanya beberapa siswi yang tersenyum genit merasa tersentuh. Mungkin dalam hatinya berkata “kenapa bukan aku aja sih kak?”.
                
         “Aku gak mau panjang-panjang bicara.” Kakak itu melanjutkan. “Jadi aku langsung saja. Kamu mau ngga jadi pacar aku?”
                
        Sepersekian detik dari kata-kata lelaki itu, semua orang dikelas mulai berteriak. “Terima, terima, terima.” Beberapa siswa sambil menepuk tangannya agar suasana kelas makin meriah. Beberapa siswi berinisiatif membisikkan najma untuk menerimanya.
                
       Najma masih terdiam, lelaki itu masih tersenyum dengan bunga mawar yang ia pegang. Dan aku, masih merasa cuek atas pertunjukan “penembakan” di depan kelas. Bagaimana tidak, Lelaki yang menembak Najma adalah lelaki yang terkenal ganteng seantero sekolah, motornya juga bagus. Ia juga atlit basket yang mumpuni. Makanya ia menjadi idaman banyak siswi karena pesonanya.
                
        Maka aku hampir tak ambil pikir apa jawaban Najma. Karena track record kakak kelas itu tak pernah ditolak oleh siswi-siswi.  Dan dari gestur sang kakak kelas, ia merasa akan diterima dengan gadis yang baru saja ia tembak ini.
      
       Suasana makin ramai, sedangkan Najma masih terdiam. Kali ini iya menunduk. Mendengar teriakan teman-teman sekelas untuk menerima tawaran kakak kelas ganteng tersebut tak membuatnya bicara.
                
          “Gimana Najma?” Lelaki itu kembali bertanya, memastikan jawaban.
                
         Setelah sekian detik, Najma mengangkat kepala. Seantero kelas terkejut. Aku-pun juga terkejut menatap matanya. (Bersambung)


Jumat, 01 April 2016

Penyiar Radio dan Permintaannya

Beberapa waktu lalu saya pernah diwawancarai dalam sebuah acara di sebuah radio di kota padang. Ada sebuah pembelajaran menarik yang saya dapatkan kala itu. Hikmah yang begitu indah dari seorang penyiar radio. Seorang wanita minang yang tentunya cerewet, (yaiyalah, dia dibayar jadi penyiar dengan cerewetnya).

Disela-sela wawancara yang diisi dengan musik. Kami beberapa kali berbincang tentang beberapa hal. Penyiar itu mengenalkan diri sebagai seorang mahasiswa pascasarjana di sebuah perguruan tinggi. Saya sejak awal sudah disuguhi dengan air yang dari permukaan wadahnya saja sudah menunjukkan bahwa air itu sangat sejuk. Namun air itu belum kusentuh karena begitu asik berbincang dalam sesi wawancara maupun ketika musik diputar.

Hingga akhirnya haus terasa, dan saya berbasa-basi menawarkan minum. “Minum ka?” begitu ucapku. “Oh lanjut aja, saya lagi puasa” balasnya. Aku terperangah, ketika itu hari panas. Dan tentu tak mudah berpuasa dalam suasana panas dan berbicara terus sebagai seorang penyiar.

“Ngga haus tu ka, kan kakak ngomong terus.” Tanya ku untuk mengorek berbagai informasi dari kakak itu. “Oh, udah biasa kok. Tenang aja” Jawabnya. Singkat cerita saya bertanya lagi untuk memenuhi hasrat penasaranku. “Wah, apa nih kak motivasinya biar bisa membiasakan puasa sunnah gini?”

“Setiap orang tentu punya prinsip tersendiri dalam beragama. Jadi gini, saya punya banyak impian, jadi saya punya banyak permintaan kepada Tuhan. Bagaimana bisa dengan permintaan saya yang sebegitu banyak tidak diimbangi dengan perbuatan saya dalam menjalankan sesuatu yang Allah senangi?” Penyiar itu menjelaskan dengan gestur ceria ala penyiar radio anak muda.

“Banyak orang yang banyak minta sama Allah," Lanjutnya. "Tapi ibadahnya pas-pasan bahkan kurang. Saya mencoba realistis. Tentu apa yang saya minta harus diimbangi dengan kegiatan yang Dia cintai.”

Masya Allah. Aku tertegun, sebuah pernyataan sederhana. Lihatlah seberapa banyak muslim yang memahami ini? Seberapa banyak pendo’a menyadari ini? Banyak yang berdo’a namun shalatnya biasa saja bahkan bolong-bolong. Banyak yang meminta pertolongan namun kesehariannya jauh dari Sunnah Rasulullah. Seberapa banyak yang meminta surga, namun maksiat masih mewarnai setiap waktunya.


Allah, lindungi kami dari do’a yang tak engkau ijabah. Dan jadikan kami selalu menjadi orang yang bersyukur.

#MelangkahMenginspirasi

Rabu, 30 Maret 2016

Surga Dunia Mana yang Kamu Pilih?

Setidaknya ada dua versi surga dunia yang pernah ku dengar selama ini. Dan aku ingin bercerita tentang dua versi surga dunia ini.

Pertama, ketika diri masih menduduki bangku SMP. Ketika kami sedang nongkrong-nongkrong di tempat makan. Seorang teman menceritakan pengalamannya. Ia bercerita bahwa ia melewati malam minggu yang indah. Ketika itu dia mendapatkan banyak yang diinginkannya. Konser rock yang membangkit adrenalin, sebotol minuman, dan selinting gele. Keindahan malam itu disempurnakan dengan ia dapat “menikmati” pacarnya.

Ketika itu banyak diantara kami yang ingin merasakan apa yang dirasakan temanku itu. Bahkan sampai ada yang menyebut itu dengan “Gila, surga bener tu”

Versi kedua, ketika SMA aku mengikuti sebuah pengajian. Ketika itu bukan di pengajian yang biasa ku ikuti sejak kecil. FYI, aku sejak kecil mengaji di lingkungan muhammadiyyah. Tapi waktu itu aku mendapat sebuah pengajian yang cukup berkesan. Dimana pembicara waktu itu mengatakan sebuah hadits yang baru ku dengar, atau mungkin guru-guru ngajiku dulu sudah pernah mengatakan namun aku yang tidak mendengar. Pembicara itu mengatakan sebuah hadits shahih yang diriwayatkan Tirmidzi. Hadits tersebut berbunyi :

Rasulullah bersabda ”Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya,”Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab,”Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir.”

Surga dunia yang berbeda bukan?

Mungkin kita menginginkan keindahan dan kenikmatan dunia. Yang bercengkrama melewati batas syariat dengan lawan jenis yang bukan mahrom. Merasakan benda-benda haram. Menjalankan keinginan-keinginan nafsu. Dan itu mungkin surga dunia bagi kita.

Atau mungkin kita menginginkan berkumpul dengan orang-orang yang ingin mendekati Sang Maha Cinta. Mendengar nasihat atau menasihati. Memperbaiki diri dari kegelapan diri menuju cahaya islam. Mungkin itu yang kita rindukan, kita idamkan. Bahkan jika seminggu tak mengikutinya, ada sesuatu yang hilang.


Surga dunia yang berbeda, Maka surga dunia seperti apakah yang kamu inginkan? Pertama ataukah kedua?

Jumat, 25 Maret 2016

Mencintai Adalah Pekerjaan Orang Kuat


Siapa mengatakan bahwa cinta hanya soal emosi? Siapa bilang mencintai hanya soal rasa? Cinta lebih dari sekedar perasaan. Cinta juga butuh pemikiran dan fisik. Seseorang yang mencinta membutuhkan gagasan, emosi dan tindakan. Tidak bisa hilang salah satunya, tidak bisa memilih. Cinta harus melingkupi itu semua.

Jika hanya rasa yang mendominasi cinta, maka hanya satu kemampuan yang mampu dijalankan seorang pecinta, yaitu menebar janji. Oleh karena itu cinta membutuhkan gagasan dan tindakan. Dan butuh sosok tangguh untuk menjalani ini.

Bila kita telah membicarakan cinta. Tentu kita akan membicarakan memberi. Karena tugas seorang pecinta hanya satu. Yaitu memberi. Seseorang yang telah memutuskan jatuh cinta, ia harus merencanakan pemberian yang ia lakukan. Lalu menumbuh kembangkan diri dan objek yang dicintai dengan tindakan.

Karena bila tak ada tumbuh kembang,  cinta hanya akan bermuara kebosanan. Dan jika itu semua dibiarkan, hanya akan menyisakan beban. Benarlah apa yang diucapkan Umar bin Khattab: "Hanya ada satu dari dua perasaan yang mungkin dirasakan oleh seorang saat pasangan hidupnya wafat : merasa bebas dari beban hidup atau merasa kehilangan tempat bergantung."

Tanyalah pada diri, apakah kita masih merasa memberi itu sebuah beban atau sebuah panggung penunjukkan cinta. Seorang pencinta sejati hanya siap memberi, bila ia menerima itu hanya efek dari memberi, tidak lebih.

Maka dari itu mereka yang berkepribadian lemah dan lembek tidak akan dapat mencintai secara kuat. Hanya mereka yang berkepribadian kuat dan tangguhlah yang mampu mencintai dengan dalam. Karena memberi bukan sesuatu yang mudah. Apalagi konsisten dalam memberi.

Mencintai apapun itu butuh kekuatan, maka hanya sosok yang kuat yang dapat menjadi pecinta sejati.

Azmul Pawzi
#MelangkahMenginspirasi

Senin, 14 Maret 2016

Apa yang Kita Jawab Dihadapan-Nya?

Lihatlah sekitar!

Ada banyak pemuda yang berbondong-bondong mengejar nafsu dunia. Ada banyak gadis menghilangkan dengan sengaja kehormatannya. Ada banyak kemaksiatan berada disekitar kita. Sedangkan, ada banyak masjid yang sepi dari jama’ah. Ada banyak kajian keislaman yang sulit ditemukan para muda-mudi. Ada banyak kegiatan keagamaan yang kurang memadai manajerialnya.

Sedangkan apa yang kita lakukan? Bila Allah bertanya, apa yang kita jawab dihadapan-Nya?

Ada banyak keluarga miskin disekitar kita. Ada banyak anak-anak yang menangis kelaparan tak makan berhari-hari. Ada banyak anak jalanan yang hidupnya tertindas kerasnya kehidupan. Ada banyak orangtua yang tubuh mulai renta, wajah makin keriput, namun masih membanting tulang mati-matian mencari sesuap nasi.

Sedangkan apa yang kita lakukan? Bila Allah bertanya, apa yang kita jawab dihadapan-Nya?

Dibelahan bumi sana, ada umat yang ditindas bangsanya, diambil tanahnya. Ada banyak anak-anak palestina tak berdosa terbunuh dengan bom israel. Ada banyak wanita-wanita syria dan palestina yang jilbabnya ditarik, auratnya disingkap dan diperkosa oleh tentara-tentara biadab. Ada banyak bocah-bocah yang bermodal ketapel dan kerikil berhadapan tank-tank dan senjata api para penjajah dan tirani. Ada banyak etnis Rohingya yang diserang, didiskriminasi dan diusir dari tanah kelahiran.

Sedangkan apa yang kita lakukan? Bila Allah bertanya, apa yang kita jawab dihadapan-Nya?

Kamis, 10 Maret 2016

Pertemuan Bernama Gerhana

Aku matahari, kamu rembulan
Aku bergerak, kamu-pun juga bergerak
Kita sama-sama bergerak

Akan tetapi, kamu memiliki orbit
Aku juga memiliki orbit
Kita berjalan masing-masing
Kita melangkah sendiri-sendiri

Tak ada saling sapa, walau hanya menanya kabar
Tak ada senyum yang bertemu, apalagi fisik yang bersentuhan
Aku menjaga, kamu juga menjaga

Tapi bukankah Tuhan akan mempertemukan kita
Dalam sebuah pertemuan bernama gerhana

Sebentar memang, tidak lama
Karena memang kita di dunia ini hanya sebentar
Alam semesta ini akan hancur
Semuanya akan luluh lantah

Tapi tenang saja
Walau pertemuan ini hanya sebentar
Perpisahan adalah hal yang sementara

Bukankah Tuhan telah berjanji bahwa ada pertemuan abadi di akhirat kelak?

#MelangkahMenginspirasi