Senin, 11 April 2016

Sewindu Menata Rindu ~ (Part 1)


    Aku coba menghela nafas perlahan sambil senantiasa memandang pintu masuk cafe. Memperhatikan setiap  orang yang lalu lalang. Melihat setiap wajah pengunjung dan menyaksikan setiap inci pergerakan pintu baik itu terbuka maupun tertutup.

Mulut ini diam, tak bersuara. Hanya jemari yang senantiasa memainkan sedotan jus yang sedari tadi tak terminum.  Sudah dua puluh menit berlalu, dan mata ku berulang kali hanya tertuju jam tangan dan pintu cafe. Walau sekali-kali menyimpulkan senyum ke teman-teman sekitar yang sibuk berbincang ria.
          
          Sekelilingku dipenuhi akan nostalgia mereka. Ada yang bersemangat bercerita kehidupan pasca masa putih biru, ada yang menyampaikan kesibukan mereka baik pekerjaan atau skripsi yang tak kunjung kelar. Ada juga yang tak henti berkelakar ditemani  meraka yang menjadi pendengar setia dengan sekali-kali menyumbangkan tawa. Walau dibeberapa titik ada pula mereka yang canggung-canggung, mencari celah untuk sekedar berkata “hai” kepada sang mantan. Mereka bersuka ria, larut dengan cerita-cerita menarik dalam reuni angkatan sekolah menengah pertama kami hari ini.
                
        Sedangkan aku? Ah, aku hanya lelaki penyendiri yang lebih memilih untuk diam. Hanya sibuk akan memori masa lalu. Menggali berbagai cerita yang pernah singgah. Memutar ulang kisah kami berdua. Maksudku cerita dua manusia—karena memang kita tak memiliki cerita berdua secara spesial. Merenung dan menunggu seseorang yang sekian lama ingin ku tatap.
         
        Seseorang yang namanya terpampang dalam list kehadiran yang di umumkan oleh panitia beberapa hari lalu, dan menjadi alasan mengapa aku ada ditempat ini sekarang. Sosok yang mengenalkan ku akan sesuatu yang selama ini sulit kurasakan. Karena ia telah merenggutnya secara penuh, habis tak tersisa. Hingga tak bisa ku curahkan rasa yang serupa ke lain wanita.

         Ya, jika di dunia ini ada yang namanya cinta pertama, maka aku merasakannya, bahkan hingga sekarang. Bukankah kata banyak orang cinta pertama tak pernah hilang? Ah, itu tak penting. Sekarang penantianku akan terbayar.
                
         Aku tak sabar menunggu, karena manusia mana yang senang dalam menunggu? Cinta memang seperti itu, dengan segala keindahannya Tuhan juga menanamkan perihnya rindu didalamnya. Maka setelah pengumuman kelulusan SMP terpampang, jadilah itu menjadi lembaran awal ceritaku menjadi pemuda yang tersiksa dalam pengelolaan rindu selama 8 tahun. Benar kata orang, love is sweet torment. Namun kini, rindu itu akan terbayar. Dan aku tak akan menghilangkan kesempatan ini.
                
       Adalah Najma, gadis lembut yang telah mengambil seluruh perhatianku kepadanya. Sesuai namanya, ia menjadi bintang yang menghiasi kelam malamku. Menjadi cahaya yang menyinari kesendirian diriku. Dan yang terindah. Mata sendunya, membuat indra ku tak pernah alfa dari semua tentangnya.

Dan itu semua berawal sejak saat itu. Sejak gadis berjilbab yang terbiasa duduk di sudut kelas dengan bukunya, dengan tiba-tiba ditarik beberapa siswi menuju depan kelas. Kala itu ia terkejut, wajahnya bingung mengapa teman-temannya membawanya ke depan kelas.
                
         Dan tiba-tiba kelas itu hening, tak bersuara. Kala seorang kakak kelas muncul dibalik pintu yang baru saja terbuka. Lelaki itu hadir dengan senyum di wajahnya. Langkahnya mantap ditemani sekuntum bunga di tangan kanannya. Kelas-pun menjadi semakin hening, hanya langkah kaki lelaki itu saja yang terdengar. Aku pun ikut terdiam, memandang tak acuh dari bangku paling belakang.
         
        “Najma, sebenernya, aku udah lama memperhatikan kamu.” Lelaki itu memulai kata-katanya. “Sifat mu yang lembut, wajahmu yang cantik dan kebaikan dirimu, telah membuatku jatuh cinta kepadamu.”
                
     Najma terdiam, kelas terdiam. Semua siswa dan siswi mendengar setiap kata-kata yang disampaikan lelaki itu. Hanya beberapa siswi yang tersenyum genit merasa tersentuh. Mungkin dalam hatinya berkata “kenapa bukan aku aja sih kak?”.
                
         “Aku gak mau panjang-panjang bicara.” Kakak itu melanjutkan. “Jadi aku langsung saja. Kamu mau ngga jadi pacar aku?”
                
        Sepersekian detik dari kata-kata lelaki itu, semua orang dikelas mulai berteriak. “Terima, terima, terima.” Beberapa siswa sambil menepuk tangannya agar suasana kelas makin meriah. Beberapa siswi berinisiatif membisikkan najma untuk menerimanya.
                
       Najma masih terdiam, lelaki itu masih tersenyum dengan bunga mawar yang ia pegang. Dan aku, masih merasa cuek atas pertunjukan “penembakan” di depan kelas. Bagaimana tidak, Lelaki yang menembak Najma adalah lelaki yang terkenal ganteng seantero sekolah, motornya juga bagus. Ia juga atlit basket yang mumpuni. Makanya ia menjadi idaman banyak siswi karena pesonanya.
                
        Maka aku hampir tak ambil pikir apa jawaban Najma. Karena track record kakak kelas itu tak pernah ditolak oleh siswi-siswi.  Dan dari gestur sang kakak kelas, ia merasa akan diterima dengan gadis yang baru saja ia tembak ini.
      
       Suasana makin ramai, sedangkan Najma masih terdiam. Kali ini iya menunduk. Mendengar teriakan teman-teman sekelas untuk menerima tawaran kakak kelas ganteng tersebut tak membuatnya bicara.
                
          “Gimana Najma?” Lelaki itu kembali bertanya, memastikan jawaban.
                
         Setelah sekian detik, Najma mengangkat kepala. Seantero kelas terkejut. Aku-pun juga terkejut menatap matanya. (Bersambung)


Jumat, 01 April 2016

Penyiar Radio dan Permintaannya

Beberapa waktu lalu saya pernah diwawancarai dalam sebuah acara di sebuah radio di kota padang. Ada sebuah pembelajaran menarik yang saya dapatkan kala itu. Hikmah yang begitu indah dari seorang penyiar radio. Seorang wanita minang yang tentunya cerewet, (yaiyalah, dia dibayar jadi penyiar dengan cerewetnya).

Disela-sela wawancara yang diisi dengan musik. Kami beberapa kali berbincang tentang beberapa hal. Penyiar itu mengenalkan diri sebagai seorang mahasiswa pascasarjana di sebuah perguruan tinggi. Saya sejak awal sudah disuguhi dengan air yang dari permukaan wadahnya saja sudah menunjukkan bahwa air itu sangat sejuk. Namun air itu belum kusentuh karena begitu asik berbincang dalam sesi wawancara maupun ketika musik diputar.

Hingga akhirnya haus terasa, dan saya berbasa-basi menawarkan minum. “Minum ka?” begitu ucapku. “Oh lanjut aja, saya lagi puasa” balasnya. Aku terperangah, ketika itu hari panas. Dan tentu tak mudah berpuasa dalam suasana panas dan berbicara terus sebagai seorang penyiar.

“Ngga haus tu ka, kan kakak ngomong terus.” Tanya ku untuk mengorek berbagai informasi dari kakak itu. “Oh, udah biasa kok. Tenang aja” Jawabnya. Singkat cerita saya bertanya lagi untuk memenuhi hasrat penasaranku. “Wah, apa nih kak motivasinya biar bisa membiasakan puasa sunnah gini?”

“Setiap orang tentu punya prinsip tersendiri dalam beragama. Jadi gini, saya punya banyak impian, jadi saya punya banyak permintaan kepada Tuhan. Bagaimana bisa dengan permintaan saya yang sebegitu banyak tidak diimbangi dengan perbuatan saya dalam menjalankan sesuatu yang Allah senangi?” Penyiar itu menjelaskan dengan gestur ceria ala penyiar radio anak muda.

“Banyak orang yang banyak minta sama Allah," Lanjutnya. "Tapi ibadahnya pas-pasan bahkan kurang. Saya mencoba realistis. Tentu apa yang saya minta harus diimbangi dengan kegiatan yang Dia cintai.”

Masya Allah. Aku tertegun, sebuah pernyataan sederhana. Lihatlah seberapa banyak muslim yang memahami ini? Seberapa banyak pendo’a menyadari ini? Banyak yang berdo’a namun shalatnya biasa saja bahkan bolong-bolong. Banyak yang meminta pertolongan namun kesehariannya jauh dari Sunnah Rasulullah. Seberapa banyak yang meminta surga, namun maksiat masih mewarnai setiap waktunya.


Allah, lindungi kami dari do’a yang tak engkau ijabah. Dan jadikan kami selalu menjadi orang yang bersyukur.

#MelangkahMenginspirasi

Rabu, 30 Maret 2016

Surga Dunia Mana yang Kamu Pilih?

Setidaknya ada dua versi surga dunia yang pernah ku dengar selama ini. Dan aku ingin bercerita tentang dua versi surga dunia ini.

Pertama, ketika diri masih menduduki bangku SMP. Ketika kami sedang nongkrong-nongkrong di tempat makan. Seorang teman menceritakan pengalamannya. Ia bercerita bahwa ia melewati malam minggu yang indah. Ketika itu dia mendapatkan banyak yang diinginkannya. Konser rock yang membangkit adrenalin, sebotol minuman, dan selinting gele. Keindahan malam itu disempurnakan dengan ia dapat “menikmati” pacarnya.

Ketika itu banyak diantara kami yang ingin merasakan apa yang dirasakan temanku itu. Bahkan sampai ada yang menyebut itu dengan “Gila, surga bener tu”

Versi kedua, ketika SMA aku mengikuti sebuah pengajian. Ketika itu bukan di pengajian yang biasa ku ikuti sejak kecil. FYI, aku sejak kecil mengaji di lingkungan muhammadiyyah. Tapi waktu itu aku mendapat sebuah pengajian yang cukup berkesan. Dimana pembicara waktu itu mengatakan sebuah hadits yang baru ku dengar, atau mungkin guru-guru ngajiku dulu sudah pernah mengatakan namun aku yang tidak mendengar. Pembicara itu mengatakan sebuah hadits shahih yang diriwayatkan Tirmidzi. Hadits tersebut berbunyi :

Rasulullah bersabda ”Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya,”Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab,”Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir.”

Surga dunia yang berbeda bukan?

Mungkin kita menginginkan keindahan dan kenikmatan dunia. Yang bercengkrama melewati batas syariat dengan lawan jenis yang bukan mahrom. Merasakan benda-benda haram. Menjalankan keinginan-keinginan nafsu. Dan itu mungkin surga dunia bagi kita.

Atau mungkin kita menginginkan berkumpul dengan orang-orang yang ingin mendekati Sang Maha Cinta. Mendengar nasihat atau menasihati. Memperbaiki diri dari kegelapan diri menuju cahaya islam. Mungkin itu yang kita rindukan, kita idamkan. Bahkan jika seminggu tak mengikutinya, ada sesuatu yang hilang.


Surga dunia yang berbeda, Maka surga dunia seperti apakah yang kamu inginkan? Pertama ataukah kedua?

Jumat, 25 Maret 2016

Mencintai Adalah Pekerjaan Orang Kuat


Siapa mengatakan bahwa cinta hanya soal emosi? Siapa bilang mencintai hanya soal rasa? Cinta lebih dari sekedar perasaan. Cinta juga butuh pemikiran dan fisik. Seseorang yang mencinta membutuhkan gagasan, emosi dan tindakan. Tidak bisa hilang salah satunya, tidak bisa memilih. Cinta harus melingkupi itu semua.

Jika hanya rasa yang mendominasi cinta, maka hanya satu kemampuan yang mampu dijalankan seorang pecinta, yaitu menebar janji. Oleh karena itu cinta membutuhkan gagasan dan tindakan. Dan butuh sosok tangguh untuk menjalani ini.

Bila kita telah membicarakan cinta. Tentu kita akan membicarakan memberi. Karena tugas seorang pecinta hanya satu. Yaitu memberi. Seseorang yang telah memutuskan jatuh cinta, ia harus merencanakan pemberian yang ia lakukan. Lalu menumbuh kembangkan diri dan objek yang dicintai dengan tindakan.

Karena bila tak ada tumbuh kembang,  cinta hanya akan bermuara kebosanan. Dan jika itu semua dibiarkan, hanya akan menyisakan beban. Benarlah apa yang diucapkan Umar bin Khattab: "Hanya ada satu dari dua perasaan yang mungkin dirasakan oleh seorang saat pasangan hidupnya wafat : merasa bebas dari beban hidup atau merasa kehilangan tempat bergantung."

Tanyalah pada diri, apakah kita masih merasa memberi itu sebuah beban atau sebuah panggung penunjukkan cinta. Seorang pencinta sejati hanya siap memberi, bila ia menerima itu hanya efek dari memberi, tidak lebih.

Maka dari itu mereka yang berkepribadian lemah dan lembek tidak akan dapat mencintai secara kuat. Hanya mereka yang berkepribadian kuat dan tangguhlah yang mampu mencintai dengan dalam. Karena memberi bukan sesuatu yang mudah. Apalagi konsisten dalam memberi.

Mencintai apapun itu butuh kekuatan, maka hanya sosok yang kuat yang dapat menjadi pecinta sejati.

Azmul Pawzi
#MelangkahMenginspirasi

Senin, 14 Maret 2016

Apa yang Kita Jawab Dihadapan-Nya?

Lihatlah sekitar!

Ada banyak pemuda yang berbondong-bondong mengejar nafsu dunia. Ada banyak gadis menghilangkan dengan sengaja kehormatannya. Ada banyak kemaksiatan berada disekitar kita. Sedangkan, ada banyak masjid yang sepi dari jama’ah. Ada banyak kajian keislaman yang sulit ditemukan para muda-mudi. Ada banyak kegiatan keagamaan yang kurang memadai manajerialnya.

Sedangkan apa yang kita lakukan? Bila Allah bertanya, apa yang kita jawab dihadapan-Nya?

Ada banyak keluarga miskin disekitar kita. Ada banyak anak-anak yang menangis kelaparan tak makan berhari-hari. Ada banyak anak jalanan yang hidupnya tertindas kerasnya kehidupan. Ada banyak orangtua yang tubuh mulai renta, wajah makin keriput, namun masih membanting tulang mati-matian mencari sesuap nasi.

Sedangkan apa yang kita lakukan? Bila Allah bertanya, apa yang kita jawab dihadapan-Nya?

Dibelahan bumi sana, ada umat yang ditindas bangsanya, diambil tanahnya. Ada banyak anak-anak palestina tak berdosa terbunuh dengan bom israel. Ada banyak wanita-wanita syria dan palestina yang jilbabnya ditarik, auratnya disingkap dan diperkosa oleh tentara-tentara biadab. Ada banyak bocah-bocah yang bermodal ketapel dan kerikil berhadapan tank-tank dan senjata api para penjajah dan tirani. Ada banyak etnis Rohingya yang diserang, didiskriminasi dan diusir dari tanah kelahiran.

Sedangkan apa yang kita lakukan? Bila Allah bertanya, apa yang kita jawab dihadapan-Nya?

Kamis, 10 Maret 2016

Pertemuan Bernama Gerhana

Aku matahari, kamu rembulan
Aku bergerak, kamu-pun juga bergerak
Kita sama-sama bergerak

Akan tetapi, kamu memiliki orbit
Aku juga memiliki orbit
Kita berjalan masing-masing
Kita melangkah sendiri-sendiri

Tak ada saling sapa, walau hanya menanya kabar
Tak ada senyum yang bertemu, apalagi fisik yang bersentuhan
Aku menjaga, kamu juga menjaga

Tapi bukankah Tuhan akan mempertemukan kita
Dalam sebuah pertemuan bernama gerhana

Sebentar memang, tidak lama
Karena memang kita di dunia ini hanya sebentar
Alam semesta ini akan hancur
Semuanya akan luluh lantah

Tapi tenang saja
Walau pertemuan ini hanya sebentar
Perpisahan adalah hal yang sementara

Bukankah Tuhan telah berjanji bahwa ada pertemuan abadi di akhirat kelak?

#MelangkahMenginspirasi

Rabu, 24 Februari 2016

Cinta Adalah Memberi



Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta di hati yang lain.
Sebab tangan yang satu tak dapat bertepuk tanpa tangan yang lain.
(Rumi)

Mungkin kita akan langsung berkata bahwa bait puisi Rumi di atas adalah sebuah keidealan. Itulah yang diharapkan namun tak semua orang merasakan. Karena memang terdapat banyak realita yang bertentangan dengan itu.

Lihatlah apa yang terjadi, berapa banyak kisah yang menggambarkan peliknya cinta yang tak terbalas. Betapa nestapanya cinta yang tak bersatu. Ia hanya bermuara rintihan, tangis dan kegilaan. Maka majnun-lah Qais, cintanya terbentur tembok yang keras. Laila sang pujaan hati tak kunjung dipelukkan, mereka tak berdaya untuk merealisasikan cinta dan nestapa-lah mereka dalam rindu yang perlahan membunuh jiwa.

Juga patahlah sayap-sayap Kahlil Gibran. Hatinya jatuh dan terluka, malamnya robek menoreh seribu duka. Hanya rindu yang tertancap di hatinya yang beku. Bahkan ia retak, hancur bagai serpihan cermin. Maka lihatlah bagaimana Gibran mengais sisa hati karena cintanya terhadap Seima yang tak kunjung bersatu.

Tapi bagaimana ceritanya jika cinta itu kita awali dan akhiri kepada Allah. Maka sisanya hanya upaya ‘menunjukkan cinta’. Karena pada dasarnya cinta dan kebahagiaan adalah dua hal yang berbeda.

Dan penderitaan yang terjadi bukan karena mereka mencintai. Karena proses mencintai adalah pekerjaan agung dan suci. Ia tak pantas disandingkan dengan nestapa.

Mereka menderita adalah karena mereka menggantungkan kebahagiaan kepada sosok tercinta. Maka bila kekasih hati tak kunjung tiba, maka bahagia juga sirna. Dan yang tersisa hanya air mata dan kecewa.

Jadi, tak ada cinta yang bertepuk sebelah tangan. Karena pada hakikatnya, cinta adalah memberi. Ia tak menuntut balasan atau menagih kebersamaan. Ia hanya perlu tempat untuk menunjukkan cinta yang bermuara ketulusan.

Dan bila penolakan itu hadir, kita tak perlu kecewa dan merasa lemah. Karena jika itu terjadi, cinta akan bertransformasi menjadi kesempatan memberi. Tak meminta pengertian atau rasa memiliki.

AP
#MelangkahMenginspirasi



gambar
  

Menetap

Tidak ada yang menetap.
Memangnya ada seseorang yang suka menetap di suatu tempat? Coba kau tunjukkan pada ku, apakah ada yang benar-benar menetap?
Karena manusia memang seperti itu, ia akan berlalu lalang, mencari sesuatu yang baru, menemukan hal yang selama ini diinginkan.

Menemukan.
Yakinkah kamu jika manusia telah menemukan ia akan tetap menetap?
Percayakah kamu jika dalam pertemuan itu ia akan bersatu?
Manusia memang membingungkan.
Seperti kebanyakan mereka yang senantiasa merindu mentari kala hujan menderas.
Atau menginginkan senja kala rembulan dan bintang gemintang telah berpadu.


Aneh.
Jika memang seperti itu, maka biarkan aku menjadi manusia aneh.
Aku tidak akan beranjak pergi jika sudah menemukan, aku tidak akan berlenggang kesana kemari jika yang diharapkan sudah di hadapan.

Aku ingin menetap, aku ingin berlabuh.
Bukan untuk menyerah, tapi untuk menghimpun semangat.
Karena jika pertemuan itu tak akan menyatukan, setidaknya menyuntikkanku kekuatan dalam penetapan.
Jika perpisahan adalah sebuah keniscayaan, setidaknya ia membasuh luka yang begitu menyakitkan diperjalanan ini.

Aku ingin menemukan lalu menetap.
Aneh memang, tapi biarlah manusia aneh ini sampai pada sebuah pertemuan. Agar alam dapat dengan lembut berbisik padaku. "Kamu tak sendirian "

-AP-



gambar

Kamis, 18 Februari 2016

Tiga Proses Keutuhan Tarbiyah

Bukan hanya sekedar proses berubah, namun tarbiyah adalah karya memuliakan yang terhina, menyucikan yang ternoda, meluruskan yang tersesat. Maka tak heran, seorang tokoh pemikir islam Muhammad Quthb dalam Manhajut-Tarbiyah Islamiyah, mengartikan tarbiyah dengan sebuah kata yang sederhana namun menunjukkan makna yang begitu luas dan benar.
At-tarbiyatu fannu shinaa’atil insan, Tarbiyah adalah seni menciptakan manusia.


Bila tarbiyah itu disandingkan dengan kata islam, maka ia adalah menciptakan manusia dengan nilai-nilai islam. Maka tugas tarbiyah islamiyah adalah “menciptakan ulang” manusia kembali kepada fitrahnya setelah ia mengalami penciptaan ruh, akal dan jasadnya. Karena pada dasarnya Allah mencipta setiap insan sebagai muslim, namun orangtua dan lingkuangnya lah yang menjadikannya agama lain.

Dalam proses “penciptaan ulang manusia” ini, tentu setiap output yang diproduksi dengan tarbiyah islamiyah ini adalah sosok insanus shalih, dan tidak hanya shalih, namun juga muslih (menshalihkan sekitar). Oleh karena itu keutuhan proses tarbiyah harus memenuhi tiga komponen. Agar tidak ada yang parsial diakhirnya.

Tiga komponen tersebut adalah an-nafs, al-aql, dan al jism. Mengolah ini semua tidak bisa parsial. Ia adalah satu kesatuan yang harus dikembangkan, agar islam yang syumul terderivasi kepada seorang muslim. Ia tidak seperti golongan yang mementingkan sucinya jiwa namun dalam pola fikir gerakkannya jauh dari sunnah. Atau begitu banyak pemikiran ilmiah, namun jiwa yang kering. Atau menjadi intelektual yang lemah fisik.

Maka seorang insanus shalih harus melewati tiga proses dalam “penciptaan ulang manusia” tersebut. Yaitu amaliyatut-ta’allumil-mustanir, yaitu proses belajar berkesinambungan dan terus menerus. Inilah salah satu hikmah mengapa Allah memulai mewahyukan Al-Qur’an dengan kata Iqra, dan kata ilmu terulang 750 kali dalam Al-Qur’an. Karena memang stiap muslim harus senantiasa memenuhi otak dan meluaskan pengetahuannya.

Selanjutnya amaliyatus-syu’uudil-mustamir, yaitu proses pendakian terus menerus untuk menjadi lebih baik dan lebih baik. Dalam mendaki mungkin kita terjatuh, tersungkur, berpeluh dan letih. Namun melangkahkan kaki dalam mendaki jalan panjang dakwah ini senantiasa harus dijalani seorang muslim agar dapat berdiri di puncak kebahagiaan di surga-Nya.

Dan yang ketiga adalah amaliyatul ‘athaa-il-mustamir, yaitu berkontribusi dalam ruang dan waktu secara berkesinambungan. Karena pada dasarnya insanus shalih seorang yang senantiasa bergerak dalam menggerakkan roda dakwah. Dan mereka selalu melahirkan peristiwa. Dan memang gerakan dakwah akan terus hadir untuk dunia karena setiap peristiwa yang dikerjakan para punggawa dakwah.

Ketiga proses ini tak dapat terlewatkan satu-pun. Karena apa yang kita harapkan dari sesuatu yang tak utuh? Ia hanya menjadi sesuatu yang rapuh dan mudah tercerai berai bila keutuhan tak lagi digenggaman.

#MelangkahMenginspirasi



gambar 



Selasa, 16 Februari 2016

Menghadapi Kesalahan dan Kemenagan


Siapa yang tak pernah merasakannya, sebuah kesenangan akan kemenangan dan kekecewaan atas kekalahan. Semua insan pasti pernah merasakannya, termasuk kita. Namun sebagian kita banyak yang khawatir akan sebuah kesalahan yang dapat menyebabkan kekalahan. Apalagi bila keadaan lingkungan yang tidak konstruktif hingga kita sulit untuk bangkit dan berjuang kembali. Sehingga menahan diri dari ledakan potensi kita.

Tentu kita perlu sikap yang tepat dalam menghadapi kesalahan diri atau orang lain. Dan tentu masa yang tepat untuk kita rujuk adalah masa Rasulullah SAW. Pada masa beliau kita dapat mengambil moment tentang kekalahan dan kemenangan.

Kekalahan yang dapat kita ambil salah satunya adalah perang Uhud. Dalam perang ini 70 sahabat termasuk Hamzah Ibn Abdul Muthalib dan Mushab Bin Umair. Bahkan Rasulullah mendapat luka cukup parah, hingga salah satu gigi beliau lepas.

Bila kita cermati lebih dalam, kekalahan Perang Uhud ini disebabkan karena tim pemanah yang tak menyelesaikan tugasnya. Akan tetapi kesalahan tim pemanah ini apakah langsung dijadikan kambing hitam dalam peperangan itu?

Maka silahkan teman-teman buka mushaf masing-masing, tak ada satu-pun ayat yang membahas kesalahan mereka, bahkan dalam surat Ali Imran ayat 137, Allah berfirman tentang Perang Uhud dengan kata-kata motivasi. “Sesungguhnya telah berlalu sebelum kalian sunnah-sunnah Allah, Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi....". Hal ini menunjukkan bahwa kekalahan adalah hal fitrah.

Dan Allah melanjutkan Hiburan pada ayat 139 dengan begitu menyejukkan “Dan janganlah kamu merasa lemah dan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu beriman.”

Semua ini mengajarkan kita jika dalam kerja-kerja dakwah kita ada yang melakukan kesalahan, tak perlu kita habisi ia dengan kritik. Karena orang yang salah tak perlu dikritik jika telah menyadari kesalahannya dan kedepannya akan memperbaiki kesalahan itu. Tapi jangan dipukul rata ya. Karena berbeda kasus jika tersalah itu tak menyadari dan enggan dalam memperbaiki langkah kedepan. Dalam konteks itu kritik itu perlu untuk membangun.

Karena orang yang salah tak perlu dikritik jika telah menyadari kesalahannya dan kedepannya akan memperbaiki kesalahan itu.

Selanjutnya ada hal menarik ketika kita melihat moment kemenangan, salah satu kemenangan besar muslim adalah Perang Badar. Kita bisa mengatakan ini kemenangan besar karena ini adalah salah satu perang yang begitu heroik dengan pengalaman perang muslim saat itu yang sedikit. 300 orang muslim menghadapi 1000 kafir quraisy. Dan berakhir dengan kemenangan.

Namun bukan pujian yang hadir dalam Al-Qur’an, tetapi adalah kritikan. Kita dapat lihat diawal surat Al-Anfal, itu adalah ayat teguran untuk kaum badar. Bahkan dalam menggambar keadaan itu, salah satu sahabat berkata “Laqad saa-at akhlaaquna yauma badr, Sesungguhnya akhlaq kami rusak setelah perang Badar.”

Itu menunjukkan bahwa para pemenang lebih membutuhkan kritikan dari pada pujian. Agar terjadi keseimbangan jiwa dan hilangnya euforia yang berlebihan yang dapat menjerumuskan dalam keangkuhan.

#MelangkahMenginspirasi

Selasa, 09 Februari 2016

Turunnya Motivasi dan Alam yang Tak Mengizinkan



Rabu pagi menjelang siang ini saya ingin sedikit bercerita tentang keadaan yang saya alami akhir-akhir ini. Kira-kira sudah sudah satu tahun saya mengalami the law of deminishing motivation (temennya law of deminishing marginal return) #MicroEffect :D. Penurunan itu sedikit demi sedikit sehingga begitu bias dan tak terasa. Semakin bertambah sampai itu semua terakumulasi dalam 2 atau 3 hari terakhir ini.

Entah kenapa semakin turun. Saya yang biasa bergerak dalam ritme yang cukup tinggi kini mulai melambat. Bahkan sampai-sampai dihari minggu ketika membawa motor ingin pulang dan menepi di warung makan dekat Fakultas Kedokteran Jati, saya berpikir “pengen ilang dari peradaban sebentar, seenggaknya sebulan kalo enggak  bisa dua minggu aja.” Jadilah pemikiran untuk hilang sebentar, sedikit menyepi dan menenangkan diri. Menghilangkan jenuh dan kegalauan karena suatu target yang kemungkinan harus ditunda realisasinya sama beberapa target lainnya yang juga tertunda.

Namun ternyata alam tak mengizinkan saya mengasingkan diri. Baru saja menuju parkiran dan menghidupkan motor, saya teringat bahwa hari itu adalah pembukaan Rumah Gadang FIM Sumbar. Jadilah saya putar balik dan menuju sekre FIM. Hingga sampai jam 2, amanah saya yang lain kembali memanggil saya untuk memimpin rapat di pasar baru dekat Unand. Hingga sore kembali menuju asrama menyelesaikan sesuatu kerjaan hingga malam.

Hari berganti kembali berbagai kegiatan menyita, dari pagi setelah agenda subuh bersama adik-adik asrama langsung capcus menunaikan amanah yang maha penting untuk gerakan di kampus. Dan menyita waktu hingga zuhur.

Kala itu sambil menunggu jadwal rapat selanjutnya nanti sore, saya bersilaturrahim ke rumah doni tentu masih dalam keadaan motivasi yang masih turun. “Don, kasih motivasi dong” pinta saya. “Hah, Azmul kan orang yang paling optimis yang doni kenal” Jawabnya dengan sigap. Walau kurang puas jawabanya tapi cukup untuk saya flashback berbagai testimoni yang pernah saya dapat dari berbagai teman di pelatihan, daurah, organisasi, kepanitiaan, mahasiswa saat saya mengajar dan kegiatan lain-lainnya. Testimoni mereka pasti tak jauh dari, Azmul sosok yang selalu semangat dan antusias, penuh dengan rasa optimis.

Saya-pun malu, karena saat ini menurun semangat dan motivasi. Namun dalam penurunan ini juga masih dituntut berbagai kegiatan lagi. Saya-pun pergi ke masjid FK Jati untuk memimpin rapat FSLDK bersama pimpinan LDK se-kota padang untuk gerakan yang akan kita selenggarakan tanggal 14 nanti dan sekali lagi masih dalam keadaan motivasi yang masih dibawah. Selesai disana, langsung berlanjut pertemuan pembina di Desaung dan berakhir dalam menghadiri kampanye capres di asrama.
Tak hanya itu juga, besoknya, kegiatan hari selasa juga menyita banyak pikiran. Baik menemui WR3 dan berbagai agenda hingga malam. Saya-pun tertegun, padahal udah mengikrarkan diri untuk sejenak meninggalkan banyak kegiatan. Namun seakan-akan alam tak terima. Berbagai agenda menghujani saya. Dan membuat saya tak sempat memikirkan keinginan itu.

Tidak hanya tak mengizinkan, lingkungan saya juga memberi jawaban. Baru kemarin, tepatnya selasa malam saya mendapat jawaban. Dari tulisan dan arahan bang ivan ahda, ketua Forum Indonesia Muda nasional di grup panitia FIM 18. Saya dapat jawaban, walau tak eksplisit, namun tulisannya tersirat bahwa tak ada waktu untuk santai dan menghilang. Karena sebagai pemuda yang punya visi untuk bangsa, kita harus bergerak dengan ritme tinggi, tempo cepat dan dinamis.

Mungkin banyak hal yang menjatuhkan diri kita, seperti target yang tertunda, kurangnya apresiasi, tantangan yang semakin tinggi dan cadas serta berbagai hal yang tak sesuai ekspektasi kita. Tapi kita harus kembali menjadi sosok yang kembali mengevaluasi dan menghimpun kekuatan pribadi agar lebih bermanfaat lagi. It’s time to correction and improvement ourself.

Satu hal lagi, saya beruntung memiliki lingkungan yang memaksa saya untuk tak berleha-leha. Berbagai amanah yang menyeret saya untuk terus bergerak. Dan orang-orang sekitar yang begitu banyak inspirasi yang dapat direguk. Kembali jargon hidup saya mencambuk diri ini. Bahwa langkah terbaik setelah terinspirasi adalah menginspirasi #MelangkahMenginspirasi.

So, yuk kita bangun lingkungan kita yang tak mengizinkan diri tak produktif, bangun alam sekitar menjadi alam yang menjaga dari kemunduran. Karena setiap manusia pasti memiliki masa-masa down, jenuh dan tak bergairah. Namun dengan adanya lingkungan dengan ritme tinggi itulah yang menjaga semangat, gairah dan motivasi kita.

Yuk bangun lingkungan kita biar tidak dengan mudah mengizinkan kita untuk berhenti dalam produktifitas.
#MelangkahMenginspirasi



Minggu, 07 Februari 2016

Lelaki dalam Sepi

Lihatlah lelaki dalam sepi
Yang begitu tenang duduk terpekur di ruang sunyi
Hingga pikiran melalang buana tiada henti
Dan membiarkan diri larut dalam buaian hening

Pandanglah lelaki dalam sepi
Yang memasang wajah penuh semangat kala ramai
Lalu menggantinya dengan wajah sendu saat seorang diri
Merenungi setiap potret kehidupan diselimuti malam yang dingin

Tataplah lelaki dalam sepi
Yang seringkali menatap rembulan bila hati gerimis
Memandangnya lamat-lamat, lalu terpesona dan menyukai
Menunjuk-nunjuk dengan tangan kanan dan menghadiahinya puisi

Perhatikanlah Lelaki dalam sepi
Yang begitu korelis dan sanguinis kala kalian membersamai
Lalu berubah melankolis kala tak ada lagi yang menemani
Keceriaan yang berubah begitu saja menjadi lara yang tak terperi

Simaklah lelaki dalam sepi
Yang berorganisasi atau mencoba meraih prestasi
Mencari setiap kesibukan agar tak merasa sendiri
Walau kadang angin tetap saja mengingatkan bahwa ia takkan pergi

Tujukan matamu ke lelaki dalam sepi
Yang berulang kali bercanda untuk menghadiri gelak tawa agar membunuh sepi
Atau menemui kalian dengan menyuguhkan obrolan hangat ditemani secangkir kopi
Atau mungkin dengan sedikit membaca, membolak-balik buku menghabiskan hari

Itulah lelaki dalam sepi
Yang mencoba membiasakan diri agar tak bergidik kala umur telah mati
Mencoba memahami bahwa dirahim ibu pun kita menyepi
Dan dalam alam kubur nanti juga berteman sepi

Maka biarkan mereka menjadi lelaki dalam sepi
Karena pada dasarnya manusia adalah pecinta kesepian
Yang senang bersedu-sedan dalam kesendirian
Membiarkan hati mencari nilai sampai fajar menepi

Saksikanlah
Bukankah sepotong keheningan dapat menghadirkan inspirasi?

Lelaki dalam Sepi
-Azmul Pawzi-
#MelangkahMenginspirasi

Jumat, 29 Januari 2016

Dagelan Kehidupan

Kadang saya tertawa melihat dagelan bernama kehidupan. Bahkan mungkin diri ini yang sering menertawakan pertunjukan alam bertema diri sendiri. Tertawa lalu termenung, tersenyum dan kembali murung.

Pada saat tertentu ada pertempuran yang sulit diterjemahkan akal. Kadang Ambisi itu sangat membara, namun pada kesempatan lain ini sangat klise. Seakan-akan tubuh ingin meninggalkannya dan hidup biasa. Menikmati sisa umur yang ada dan menenggak secangkir susu coklat tanpa ada resah tiap malam.

Walau hanya dalam hitungan detik kemudian kembali sebagian diri melawan. Ia tak terima tubuh ini bersantai ria. Kembali aku terkesiap. Kembali tertunduk, lalu memandang kebelakang. Kembali aku tertawa kecil. Terlihat episode dimana diri mengalahkan keegoisan yang begitu menyeruak memenuhi sekujur tubuh. Kadang pula aku tersunkur tak berdaya hingga kepala ini begitu keras.

Memang ada potongan hidup yang senantiasa membuat kita merasa menjadi pemenang dan potongan lainnya menunjukkan kita seorang pecundang. Walau aku kadang tak mengerti siapa yang pantas disebut pemenang dan yang pantas disebut pecundang. Kadang mereka yang dilabeli pemenang oleh masyarakat adalah sang pecundang sesungguhnya, dan mereka yang terjustifikasi pecundang oleh banyak mata manusia kadang adalah pemenang sesungguhnya.

Kadang dunia memang tidak adil mengartikan keadilan, dan pada dasarnya semua jargon kemuliaan versi dunia ini adalah klise. 

Ketidakadilan itu juga merambah soal rasa. Kadang kala sepotong hati hadir menyapa diri, harga diri resisten. Begitu juga dengan masa lalu yang dulu adalah kufu terbaik kita hadir dipelupuk mata. Ia tersenyum dan aku tersenyum, lalu ia memberi harap dan kembai harga diri ini tak terima.

Argh, apa itu rasa? Apa itu harga diri? Atau aku terlalu banyak berpikir? Atau memang aku sudah harus mencukupi ini semua?

Terkadang, terkadang dan terkadang. Terlalu banyak terkadang yang mengerumuni otak yang kadang 'terkadang' itu tak begitu logis untuk dipikirkan. 

Sudahlah, bukankah Rumi pernah berkata bahwa dunia ini adalah anak tangga? Dan anak tangga ada untuk dipijak lalu kita tinggalkan begitu saja. Bukan malah berlarut-larut dalam sebuah anak tangga, terduduk pilu dan menutup kepala dengan kedua tangan.

Maka biarlah aku kembali menjadi musafir yang lebih suka tempat-tempat sunyi dan hening. Belajar akan makna kesederhanaan yang mewah dan kerendahan hati yang menawan. Bukankah pembelajaran hidup dari-Nya sudah sangat cukup mengajarkan engkau akan hal itu? 

Sebut saja aku ini lelaki dalam sepi yang terkadang silau dalam panggung dagelan ini. Dan memilih dibelakang panggung untuk sedikit menguras keringat lalu menyepi. Agar aku tak berakhir menjadi seseorang tak peka lalu merugi. 

-AP-


Minggu, 17 Januari 2016

Inilah Pertanda Shalat Kita Khusyu atau Tidak

Shalat khusyu, mukmin mana yang tak ingin melaksanakan shalat dengan khusyu. Tentu kita semua juga ingin shalat dengan khusyu. Allah sendiri berfirman dalam Al-Mu'minun ayat 1-2
"Telah beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyu' dalam shalatnya"
Maka dari itu kekhusyu'an dalam shalat adalah keberuntungan yang patut kita perjuangkan.

Akan tetapi masih banyak yang salah dalam mengartikan khusyu'. Hingga ada guyonan ketika seseorang tak mendengar panggilan atau bunyi dari suatu hal, dengan tenangnya ia berkata "Sorry bro, gue gak denger, tadi lagi khusyu'nya shalat gue."

Jadi kawan, khusyu' itu bukan tidak mendengar apapun. Piring pecah ngga kedengeran, kompor meleduk ngga kedengeran, bahkan sampe bom disarinah meledak juga ngga kedengeran. Bukan seperti itu.

Terus apa dong tanda shalat khusyu?

Bukan saya yang jawab, tapi coba kita tanyakan kepada hujjatul islam, yaitu Imam Al-Ghazali. Beliau berkata: 
“Tanda shalat yang khusyu adalah, tercegahnya sang pelaku dari berbuat keji dan mungkar hingga ke shalat berikutnya. Jika subuhmu khusyu, mana antara subuh hingga dzuhur kau kan terjaga dari berbuat yang nista dan yang jahat hingga tibanya waktu dzuhur. Begitu seterusnya.”
Masya Allah, jadi khusyu'nya seseorang bukan dilihat dari betapa tenangnya ia shalat dari takbir hingga salam. Namun terjaganya ia dari kemaksiatan dari salam hingga takbir kembali. 

Maka lihatlah shalat kita, apakah ia telah menjaga kita dari berbagai dosa? Terjaga dari hal-hal kemaksiatan seperti durhaka kepada orangtua, berkata bohong, berbuat curang (nyontek, titip absen),  menyentuh lawan jenis yang haram disentuh atau bahkan berzina, mengumbar aurat, memakan makanan haram, dan berbagai kemaksiatan lain. 

Karena pada dasarnya setiap amal akan meneguhkan hati untuk selalu menjaga diri dari hal-hal buruk. Maka benarlah "Tanda diterimanya amal hamba disisi Allah" ucap seorang muhaddits mulia  bernama Ibn Rajab Al Hanbali "adalah ketika satu ketaatan menuntunnya pada ketaatan yang lebih baik lagi. Adapun tanda ditolaknya amal adalah ketika ketaatannya disusuli dengan kemaksiatan, ia tak tercegah darinya."

Sudahkah shalat kita menjauhkan kita dari maksiat kepada-Nya?

#MelangkahMenginspirasi



Sabtu, 02 Januari 2016

Poros Peradaban Disekitar Kita


Mungkin kita termenung kala menatap diri. Terlahir biasa saja. Hadir di negeri yang amburadul. Di kota yang berantakan. Menjalani sekolah yang tak istimewa. Dan berbagai kesialan yang sering di dengung-dengungkan banyak orang.

Mungkin dalam decak kagum kita memandang luar biasanya karya para aktor peradaban, kita hanya merasa kerdil dan kecil. Hanya merasa, bahwa mereka adalah “titisan” Tuhan yang memang namanya sudah di takdirkan tertulis di tinta emas sejarah, sedangkan kita hanya makhluk Tuhan yang ditakdirkan tak dapat berbuat apa-apa.

Setiap manusia memang sudah digariskan dalam skenario-Nya. Akan tetapi tahukah engkau, Allah tak menakdirkan seseorang tanpa perjuangan sang hamba. Maka dari itu, izinkan saya mengatakan:

Mereka yang tak merasakan jerih payah dan kepedihan dalam langkah awalnya. Tak pantas mencapai puncak kegemilangan dalam langkah akhirnya.

Karena pada hakikatnya, hidup ini adalah labirin yang menghubungkan berbagai kisah yang akan dihadapi umat manusia. Dan dalam tikungan tertentu di labirin tersebut, terdapat “pintu rahasia” untuk mengkoneksikan orang yang selama ini ‘biasa saja’ untuk memasuki kerja-kerja peradaban. 

Maka boleh saja kalian terlahir biasa, tak lahir dalam lingkaran para aktor sejarah. Namun, engkau harus berjuang untuk menemukan”pintu rahasia” itu. Karena bisa saja poros peradaban yang dirasakan para pahlawan sudah ada di sekitar kita. 

Sudahkah kita berjuang untuknya?
 #MelangkahMenginspirasi


Rabu, 16 Desember 2015

Terlahir Menjadi "Orang Dapur"

 
Seorang ustadz bertanya kepada gurunya. Sosok yang senantiasa membimbingnya dan tempat ia terbiasa mendapat nasihat. Kala itu ia meminta pandangan sang guru atas keputusan besar yang akan ia ambil.

Diskusi itu berjalan panjang, permasalahan ini bukanlah hal kecil. Bukan hanya tentang individu, namun merembes hingga negara dan tentunya akan menentukan gerak dakwah kedepannya. Hingga sebuah pertanyaan hadir, pertanyaan yang jawabannya akan menjawab semua jawaban. Guru itu bertanya :

“Suatu saat antum mungkin akan jadi pemimpin nasional di masa yang akan datang, apa ini tidak akan jadi masalah?”

Ustadz itu terdiam,  cukup lama. Namun akhirnya dengan mantap ia menjawab.

“Saya tahu diri saya ustad, saya lebih tepat untuk kerja-kerja dapur ketimbang jadi pejabat publik.”

Masya Allah.

Saya mendapat banyak pembelajaran dari cerita ini. Sebuah kisah yang menjadi bahan renungan saya sejak pertama kali membaca kisahnya. Bukan, hal ini bukan tentang jabatan publiknya yang menjadi sorotan. Hal ini tentang memahami diri.

Saya pengagum ustad tersebut. Tulisan, pola fikir, cara bicara dan berbagai gestur kerap kali saya ambil menjadi referensi dan contoh. Dan saya makin terkagum dengan jawaban yang ia berikan. Ia memilih menjadi orang dapur dan menjalani pilihan besar dalam hidupnya itu.  Walau pilihan itu kemungkinan akan berlawanan dengan kesempatan menjadi penjabat publik yang sudah ada di depan matanya dan banyak orang melihat ia mampu mengemban jabatan itu.   

Ia memilih menjadi orang dapur, karena ia memang menganggap jabatan tidak serta merta menambah kontribusi. Namun jika kita memiliki kapasitas besar, maka kontribusi kita akan gemilang walau tanpa jabatan.

Kisah ini menjadi renungan saya, membawanya dalam kontemplasi diri. Menghadirkannya kala diri ini menyepi.

Dalam renungan itu, saya menghadirkan diri saya sejak pertama menjalani organisasi sejak SMP, hingga menapaki tahun  4 kuliah ini.

Hampir setiap pilihan amanah organisasi saya cenderung mengambil posisi orang “dapur”. Memilih mengoprasikan organisasi, mengolah manusia, memasaknya, dan melihat mereka berkembang.

Ketika SMA, kala teman-teman mengejar prestasi dalam dunia persilatan, saya memilih membuka tempat latihan silat baru untuk anak-anak SMP. Walau pada akhirnya prestasi silat saya tidak secemerlang teman-teman lainnya. Hanya menyabet perunggu di tingkat jabodetabek dan jakarta barat. Namun mata saya berbinar cerah kala melihat adik-adik SMP yang saya latih mendapat prestasi di tingkat daerah.

Di eksul jurnalis siswa-pun, ketika kelas tiga dan alumni. Saya mencoba kembali kepada adik-adik yang menjalani amanah, menemani, memberi mereka semangat dan tempat bertanya. Dan senang kala mereka berprestasi. Begitu juga di ROHIS, menjadi ikhwan di angkatan saya yang suka kembali ke agenda ROHIS setelah lulus.

Masa SMA berlalu, dan kala kuliah semua tergambar jelas. Amanah Pengembangan Sumber Daya Manusia maupun kaderisasi menempa saya untuk menjadi “orang dapur”. Memimpin bidang PSDM saat di AMA Unand, kepala bidang kaderisasi di Lembaga Dakwah Fakultas, penanggung jawab mentoring fakultas, sampai di BEM dan organisasi kepemudaan-pun saya pernah di amanahkan dalam bidang sumber daya manusia.

Tidak berhenti disitu saja, hingga saat ini berbagai amanah yang sangat berkaitan dalam “dapur” organisasi dan gerakan serta berbagai hal yang berkaitan dengan pengembangan manusia masih saya jalani. Seperti membina ratusan mahasiwa baru di Asrama Mahasiswa Unand serta dalam satu semester mengajar sebagai asisten dosen.

Pada awalnya saya tak memahami hal ini. Hingga kurang lebih satu tahun lalu membaca kisah di atas, saya mencoba berkontemplasi, melihat apa dalam diri saya secara jernih. Dan menemukan jawaban bahwa dalam pandangan saya, saya lebih pas menjadi "orang dapur".  Mengoperasikan dan mengolah keberlanjutan gerakan dari belakang.

Meminjam istilah sosok yang saya mereguk banyak inspirasi juga, yaitu jadilah “Pahlawan di Jalan Sunyi”. Karena kontribusi tak selalu dibayar dengan sorak sorai tepuk tangan dan decak kagum. Kadang ia cemerlang dalam kesunyian. Kadang ia berkilau tanpa ada orang yang silau memandangnya.

Maka biarkan diri ini hanya menjadi “orang dapur”. Karena dalam besarnya gejolak diri dan ambisi yang ada. Ternyata saya lebih suka menjadi lelaki dalam sepi.
#MelangkahMenginspirasi



gambar disini

Minggu, 13 Desember 2015

Ada yang Memberikan itu Semua Untukmu

Ada yang tak terbalas : kasih.
Ada yang tercurahkan : sayang
Ada yang tak mampu terganti : pengorbanan
Ada yang membimbing : nasihat
Ada yang senantiasa menyelimuti : cinta
Ada yang terujar tiada henti : do'a

Ada yang memberikan itu semua untukmu : ibu

- Azmul Pawzi -


gambar disini

Rabu, 18 November 2015

Izinkan Aku

Izinkan aku menggoreskannya
Tentang  rasa yang mewakili segala perasaan
Tentang hati yang memenuhi segala relung hati
Tentang cinta yang memayungi segala cinta

Izinkan aku menghimpunnya
Segala semangat yang membakar berbagai semangat
Segala tekad yang mengokohkan tekad para pejuang
Segala spirit yang mencangkup segala spirit kalian

Izinkan aku menyaksikanya
Setiap suara yang lebih merdu dari nyanyian yang pernah bersenandung
Setiap kecantikkan yang lebih indah dari kecantikan yang pernah ada
Setiap keharuman yang lebih wangi dari wewangian yang pernah tercium

Izinkan aku merenunginya
Di keheningan yang lebih senyap dari keheningan gua tak berpenghuni
Di kesepian yang tiada orang pernah berlalu lalang di dalamnya
Di kegelapan yang lebih kelam dari malam tak berbulan

Izinkan aku memeluknya
Semua kehangatan yang menentramkan jiwa yang dingin
Semua kerinduan yang tak terbalas selama ini
Semua kehilangan yang tak kunjung bersua

Izinkan aku menyentuhnya.
Secuil kelembutan yang tiada pernah teraba siapapun
Seuntai kesejukkan yang mendinginkan setiap insan

Izinkan aku untuk menulisnya.
Izinkan.

Rabu, 11 November 2015

Tips Efektif Bikin Paspor, Biar Ngga Bolak-Balik Ke Kantor Imigrasi Kayak Gue

Pada dasarnya ini adalah pengalaman gue yang merasa ngga efektif banget bikin paspor karena suatu dan lain hal. Padahal sebenernya ngurusnya itu sangat gampang dan Cuma butuh 2 kali dateng aja ke Kantor Imigrasi.Wawancara serta foto dan ngambil paspor yang udah jadi.

Gue akan menjelaskan dari awal pembuatan hingga akhir. Tulisan ini untuk teman-teman yang belum tau dan ingin tau. Ya kalo udah tau, cukup share aja. Siapa tau masih banyak yang belum tau. Hehe.

Sebenarnya gue sudah dari tahun satu ingin buat paspor, namun terkadang hidup keras bro,  gue hidup di padang dengan dana bidikmisi. 600 ribu perbulan untuk memenuhi kehidupan sebagai mahasiswa di kota padang yang ngga ada warteg, jadi makanannya masakan padang semua (Mahal bro). Nah dengan uang segitu, juga ada sih penambahan uang dengan ilmu pandai-pandai gue yang bisa ngehasilin uang. Tapi tetep aja, mengalokasikan uang 360 ribu untuk buat paspor bisa buat gue ga makan ber minggu-minggu dan ngga beli buku berbulan-bulan. :D

Di tahun akhir mahasiswa ini Alhamdulillah udah punya penghasilan, sehingga mau buat paspor di semester 7 ini. Tapi sebelum beli paspor, gue beli dulu buku dari Inspira Book (web: inspirabook.com), yang judulnya “Jurus Kuliah Ke Luar Negeri” sama “Toefl Killer”. Eh Alhamdulillah, gue dapet undian dan memenangkan dana untuk buat paspor. Alhamdulillah, Terima Kasih Inspira Book sudah ngasih uang sehingga jadilah paspor gue. *Salemin orangnya

Oke sekarang masuk intinya. Bikin paspor itu gampang sob. Apalagi kalo lu bikin dengan online. Its simple and easy. Tapi entah kenapa kok gue jadi ribet. Karena banyak mitos buat paspor yang gue denger jadi membuat gue terhambat (Caelah mitos). Jadi tulisan ini gue buat biar temen-temen yang ngga tau menau info buat paspor bisa mudah mendapat info yang valid tanpa simpang siur, apalagi mitos.

First step, silahkan buka www.imigrasi.go.id. Liat di menubar nya, klik Layanan Publik, terus klik Layanan Paspor Online.

Nah, nanti kan kebuka tu halaman baru. Silahkan klik Pra Permohonan Personal dan ikuti arahannya. Selanjutnya kalian akan input data. Ya isi aja, gampang kok, udah jelas semuanya disitu.

Setelah kamu ngisi semua itu, kamu bakalan dapet email dari kantor imigrasi dan  sampai ke tahap pembayaran. Nah bayar deh ke Bank BNI bawa file dari email tersebut yang sudah di print ke bank. Biayanya 355 ribu buat paspornya, 5 ribu buat banknya. Terus konfirmasi pembayaran di alamat yang ada di email kamu itu. Dan selesai sudah, selamat anda sudah selesai tahap pendaftaran online. Tinggal verifikasi berkas dan wawancara ke kantor imigrasi terdekat yang sudah kamu buat di input data itu.

Sebelum ke imigrasi siapkan berkas-berkas yang harus teman-teman bawa. Kartu Keluarga, KTP, sama Akta atau ijazah. Bawa yang asli dan fotocopy. Sserta pastika informasi di tiga dokumen itu ngga ada yang beda, seperti nama, tempat dan tanggal lahir, dan lain-lain deh, jangan ada yang beda. Kalo beda bakalan ribet kalian. Tentu jangan lupa bawa bukti pembayaran dari bank.

Sampai sini bakalan lancar-lancar saja. Nah pas pergi ke imigrasi, gue dapet mitos kalo datang ke imigrasi harus subuh-subuh hari. Waktu itu hari jum’at, gue agak menghiraukan mitos itu. Dan datang di imigrasi jam 7.38. Bertanyalah gue kepada seorang bapak yang sibuk nulis-nulis sesuatu. “Maaf pak, alurnya gimana nih pak?”. “Adek udah ambil antrian?” “Belum pak”.

“Yah ngga bisa dek, coba adek baca di depan. Itu ambil nomor antrian dari jam 5 sampai jam 7.30.” “eh beneran pak? Termasuk yang online?” “iya, orang jam 5 aja udah banyak yang nganti ambil nonor antrian. Ngga percaya liat aja di depan”. (bahasa disini telah diubah dengan bahasa saya, kejadian aslinya ngga langsung-langsung kayak gini)

Gue keluar dan liat kedepan. Ternyata beneran ada, gede lagi tulisannya. Kuota 70 pemohon umum dan 20 pemohon online. Hoho. Gue tanya ke satpam, “ini nomor antriannya buat yang online ngga ada lagi pak?” Dan satpam itu jawab ngga ada lagi dan nyaranin balik hari senin. Dan gue pun pulang dan balik hari selasa, soalnya senin ada kuliah pagi.

Sampailah gue selasa disana jam 5.41, dimana pas selese subuh dengan adek-adek asrama langsung capcus ke imigrasi tanpa ikut agenda subuh seperti biasa. Pas dateng di situ, ngeliat satpam (beda lagi satpamnya) yang udah di kelilingi orang. Saya minta deh. “pak minta antrian yang online dong”. “Online pak? yang online datang aja nanti jam 8, ngga pake nomor antrian.”

Ondeh Mandeh, gue langsung inget bapak dan satpam yang ngasih info. Positif thinking aja lagi,  mungkin bapaknya ngga tau dan satpamnya masih baru tau masih training. :D. Jadi info buat temen-temen Kalo udah daftar online tinggal dateng aja jam 8 ke imigrasi ada tempat khusus naro berkas pemohon online. Ngga usah dateng subuh-subuh kayak mitos yang ada. Hoho.

Menunggulah gue di masjid sampai jam 7.55, datang ke imigrasi. Naro berkas di tempat online. Isi surat pernyataan yang bisa di beli di koperasi kantor imigrasi, nunggu giliran di panggil, dan pas di panggil di wawancara. sudah, lanjut ngantri ambil foto dan selesai. Waktu yang di habiskan ngga sampai satu jam. Jam 8.50 saya sudah pulang.

Nunggu 4 hari kerja dan ambil deh, jangan lupa bawa bukti pembayaran ketika pengambilan paspor yang sudah jadi. Selesai deh. Paspor sudah di tangan. Jadi ngga ribet kok, ngga perlu nunggu berjam-jam. Ngga perlu datang subuh hari. Kalo kamu udah daftar online, ngga sampai waktu satu jam kamu di kantor imigrasi.

Selamat buat paspor dan selamat ke luar negeri kawan-kawan.

Minggu, 01 November 2015

Kecenderungan Mencinta

Kecenderungan mencinta. Ya, semua orang memiliki sesuatu hal yang membuat mereka tertarik, terkesan, terkagum hingga jatuh cinta.  Kadang pola ketertarikkan itu ada yang rumit, dan ada pula yang sederhana.  Penjelasan disini bukan secara ilmiah saya lakukan. Hanya kesimpulan yang saya ambil dari sekian lama mengamati. 

Alhamdulillah, sejak SMP hingga sekarang saya sering dipercaya untuk menjadi tempat curhat. Baik laki-laki maupun perempuan, tomboy maupun kalem, keras atau lembut, dan berbagai karakterisitik teman-teman saya. Itu membuat saya sedikit memahami berbagai karakter manusia dan kecenderungan cinta dan benci mereka.

Saya mengamati berbagai hal, terutama akan ketertarikkan hati mereka. Berulang kali saya mendengar, berulang kali saya memberi solusi. Rata-rata pola ketertarikkan mereka hampir sama. Yaitu mereka tertarik pada seseorang yang memiliki banyak kesamaan dengannya. Walau tidak semua, namun ini saya temukan di hampir seluruh teman yang menceritakan isi hatinya kepada saya.

Saya mencoba merenung. Juga memperhatikan diri. Ternyata saya juga seperti itu. Saya akan tertarik kepada seseorang yang memiliki kesamaan lebih banyak dengan diri saja. Sebut saja dalam hal sastra. Saya termasuk penikmat sastra, membaca berbagai buku, mencoba membuat-buat puisi dan menulis berbagai cerita. Dan kala ada seseorang yang memiliki ketertarikkan yang saya temui. Maka "klik" sudah. Pembicaraan akan panjang.

Itu juga saya alami dalam berbagai kesamaan lainnya. Pola fikir, hobi, kecenderungan bergerak, ideologi ,  kebiasaan, dan berbagai hal lainnya. Hingga saya akan mudah tertarik dengan seseorang bila kesamaan itu ada.

Ini tidak hanya dalam hubungan antar lawan jenis. Namun dalam hal pertemanan juga seperti itu. Kita akan berteman akrab, bahkan menjadi sahabat dengan seseorang yang memiliki banyak kesamaan dengan kita.

Maka wajar sudah, ada orang bijak mengatakan "jodohmu adalah cerminan dirimu". Dan juga dalam Al-qur'an juga tertulis di surat an-nur ayat 26 bahwa lelaki baik hanya untuk wanita baik, dan lelaki keji hanya untuk wanita keji. Bukankah begitu firman-Nya?

Jelas sudah, setiap insan memiliki kecendrungan masing-masing. Dan parameter terkuat mereka kadang terdapat pada diri mereka masing-masing. 
Jadi, sudahkah kau tentukan parameter dirimu? Apakah sesuai dengan yang di inginkan Allah atau tidak?

#MelangkahMenginspirasi