Minggu, 01 November 2015

Itu Karena Cinta Akh


Hari ini aku habiskan hari di asrama. Bukan karena tidak ada agenda, namun keadaan dari tubuh ini yang tidak begitu bersahabat. Kepala yang berat, badan tak bertenaga di tambah suhu tubuh yang tinggi. Tidak enak badan? Mungkin itu istilah yang mungkin bisa menggambarkan keadaan diri. Hingga saya memilih untuk beristirahat hari ini di kamar.

Sorenya, ba'da shalat ashar aku memilih bersantai ria di sebelah kamar, di temani segelas susu putih hangat, sebungkus biskuit dan tentunya buku yang siap untuk di baca.

Sejam berlalu, gelas berisi susu yang kupersiapkan di awal sudah habis, dan kondisi biskuit-pun juga kurang dari setengah. Berlembar-lembar halaman juga sudah di lahap. Seseorang mengetuk kamar ku, menyadari aku tak berada di kamar. Ia melihat sekitar, dan menyadari diri ini berada di sebelah. Setelah ku perhatikan ternyata itu adalah Dedek, pembina asrama sebelah.

Dedek pun duduk di hadapanku, mengambil biskuit yang ku tawarkan dan membicarakan sesuatu. Kami terlibat berbagai tema obrolan,  termasuk keadaan aku yang kurang sehat. Mulut ini pun mulai menceritakan akan keadaan diri yang merasa waktu yang amat sempit, amanah yang semakin berat, dan fikiran yang semakin sesak. Ia mendengar takzim.

"Akh, berulang kali ana ingin menghentikan, dan mengatakan masa bodo. Tapi entah mengapa tetap aja ana kerjakan semuanya semaksimal mungkin." Ungkapku.

"Itu karena cinta akh" Jawabnya singkat.

Aku pun tertegun, singkat memang menjawabnya. Bahkan terkesan menjawab dengan asal. Namun entah mengapa jawaban itu langsung melintas di fikiranku dengan dalam.

Itulah cinta, kala kita telah mencintai sesuatu. Seletih apapun tubuh kita memenuhi seruannya. Berulang kali diri merasa ingin meninggalkannya. Namun tetap saja, cinta akan tetap memanggilmu untuk menemuinya. Mengerjakan apapun ia mau. Walau keringat bercucuran, air mata menetes, hingga tubuh tersungkur. Ia akan tetap memaksamu mengerjakannya.

Dan dengan anehnya, engkau akan senang hati mengerjakannya. Merasa tidak ada hal yang berat ketika menjalaninya. Walau kadang sesekali kau merasa ingin menyerah, meninggalkan ia. Namun ketika cinta itu menghimbaumu kembali. Dengan seketika kau melupakan keletihanmu, tak menghiraukan kata-katamu yang ingin meninggalkannya. Seruannya bagaikan sihir yang menghipnotis diri hingga kau akan paripurna berjuang untuknya.

Lalu sebuah pertanyaaan hadir. Bagaimana bila cinta itu mengalir ke sesuatu yang dibenci Allah? Maka kau akan senang hati melakukan kemaksiatan. Menambah pundi-pundi dosamu. Berbuat berbagai keburukan dengan rasa tak bersalah. Bahkan kesalahan yang diperbuat itu menjadi sebuah hal yang benar kau rasakan. Hingga kau tak memedulikan orang lain yang menyampaikan kebenaran yang hakiki kepadamu.

Jadi, arahkanlah cintamu kepada hal yang dicintai-Nya. Agar setiap kerja-kerja cintamu menjadi sesuatu hal yang menambah hitungan amal baikmu.

Maka berhati-hatilah dalam mencinta.

#MelangkahMenginspirasi



Kamis, 29 Oktober 2015

Hidupmu Tertekan? Ini Rumus Menghadapinya

Kepalamu berat, fikiranmu berputar-putar. Kau terasa tertekan dari berbagai arah. Sangat banyak hal yang menuntutmu sehingga kau bergitu tertekan. Pernah kah kau merasakannya? Rasa yang begitu pilu di hati, menyesakkan di dada. Ia bagai dinding-dinding yang bergerak menuju diri dari berbagai arah. Menekan tubuh yang ringkih. Hingga tubuh ini terhimpit dari berbagai masalah yang melanda.

Ah, sudahlah. Pernah merasakan itu teman-teman? keadaan seperti diatas? Saya yakin setiap manusia pernah ditekan dari segi apapun. Baik itu pekerjaan, pergaulan dan sebagai lainnya. Tertekan karena pekerjaan, amanah organisasi , dan dunia profesional adalah hal wajar. Kemampuan berfikir dalam tekanan menjadi hal penting untuk di miliki seorang profesional.

Namun yang kita bahas kali ini bukan tertekan karena itu, namun tentang tertekan karena hal sepele. Yaitu tertekan karena lifestyle. Walaupun solusi yang saya tulis bisa digunakan untuk menghadapi apapun latar belakang dari rasa tertekan kita. :D

Nah, di abad sekarang, mengikuti style modern menjadi sebuah gaya hidup yang tak bisa dipungkiri. Ketika merk sebuah tas menjadi sebuah trend. Maka kaum hawa akan mulai berbondong-bondong membelinya. Ketika style rambut yang digunakan artis-artis hollywood dan tanah air berubah. Maka para insan modern ini ikut merubahnya.

Begitu juga ketika mode hijab 'lilit-lilit' ala artis-artis yang sekarang banyak menggunakannya. Di temani pakaian yang ketat-ketat. Para muslimah juga "latah" ngikutin berhijab ala artis berbaju ketat itu. 

Pokoknya sekarang zaman ngikutin trend deh. Bahkan tidak cuma untuk perempuan, para lelaki pun juga banyak yang mengikuti. Mereka mulai bangga menjadi lelaki metropolitan. Ketika David Beckham ganti gaya rambut. Banyak kaum adam yang mengikutinya. mengikuti trend yang ada. Ketika lelaki zaman sekarang harus bermuka bersih layaknya boyband korea. Mereka akan kalang kabut hanya karena sebuah jerawat tumbuh di wajahnya.

Hingga pada akhirnya, banyak manusia yang stress hingga mau berbuat hal kriminal seperti mencuri, untuk bisa mengikuti trend ini. Di kalangan mahasiswi, ada juga yang ingin mendapat banyak kemewahan hingga menghalalkan segala cara agar bisa mengikuti trend. Sampe ada yang menjual diri mereka (baca: ayam kampus). Dan juga para koruptor di Indonesia, melakukan tindak korupsi karena juga ingin mengikuti gaya hidup mewah. Update gaya hidup modern ini-lah yang kini melanda anak bangsa.

Tertekan karena gaya hidup ini menjadi masalah tersendiri. So, apa yang harus kita lakukan?

Di ilmu fisika terdapat rumus P = F/A. Tekanan sama dengan gaya di bagi dengan luas permukaan. Mungkin kita bisa mengambil dari rumus ini. Anggap rasa tertekan yang melanda hati kita adalah P. Maka besar kecilnya rasa tertekan itu tergantung besar F (Gaya) dan A (Luas permukaan hati).

Bila semakin besar gaya-gaya'an kita. Dan semakin kecil hati kita. Maka perasaan tertekan akan senantiasa menyerang diri. Sebaliknya, bila semakin kecil gaya-gaya'an kita. Dan semakin lapang hati dan dada kita. Maka hidup tertekan itu sangat kecil.

Jadi, jangan banyak gaya deh buat hidup kalian. Syukuri aja apa yang ada. Yang tampangnya biasa aja, syukuri. Yang kantongnya biasa aja, syukuri. Yang style bajunya biasa aja, syukuri. Jangan sok-sok kegayaan ngikuti trend para artis. Kepala pusing tujuh keliling karena sebuah jerawat. Mata jelalatan liat sesuatu yang bermerk. Hingga stress gara-gara semua yang kita inginkan tak tercapai. Hadeh, pusing kepala berbie ngeliat kelakuan yang kayak gini. 

Lalu, lapangkan hati. Gimana caranya? Allah udah kasih jawaban. Inget ayat ini? alaa bidzikri allaahi tathma-innu alquluubu ?  Bener, ini potongan surat Ar-Ra'd ayat 28 yang artinya "Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram."

Nah, kalo hidup mau tenang dari berbagai tekanan dan stres. Nih kuncinya, Inget Allah. Dzikir terus. Mau makan inget Allah, mau tidur inget Allah, mau kuliah inget Allah, mau keluar rumah inget Allah. Pokoknya semua kegiatan kita inget Allah deh. Pasti hati tenang dan nggak tertekan lagi. 

Udah tau kan rumusnya? Perkecil gaya-gaya'an kamu. Lapangkan hati kamu dengan dzikrullah. P = F/A.

Semoga bermanfaat.
#MelangkahMenginspirasi

Kamis, 22 Oktober 2015

Ada Apa Dengan Kecewa?


“Dek, kenapa jilbabnya jadi pendek gitu?” , "Kecewa sama jama’ah kak"
“Bro, kok sekarang jadi pacaran?” "Gue kecewa sob sama orang-orang  di dakwah ini."
“Dek, kok sekarang jadi jarang ikut ngaji? Terus sekarang mau-mau aja di pegang sama lawan jenisnya?” "Kecewa bang sama senior-senior di lembaga dakwah."

Pernah denger kayak gitu? 
Mungkin teman-teman banyak yang mendengar kasus seperti diatas. Alasan yang sering digunakan mereka yang pernah aktif di dakwah kampus. Mereka meninggalkan lembaga dakwah, mereka meninggalkan jama’ah. Hanya dengan satu alasan, kecewa.

Mereka kecewa, hingga dengan kekecewaan itu mereka meninggalkan dakwah di ikuti dengan meninggalkan kebiasaan mereka saat bersama-sama memperbaiki diri di dakwah kampus.  Dan ini terjadi di mayoritas yang saya lihat.

Padahal dulu mereka memiliki kebiasaan tilawah yang banyak, amalan harian yang meningkat, dan semangat menasihati membara. Untuk yang wanita mereka menutup aurat sesuai syari’at,  jilbabnya terjulur panjang hingga pinggang, bahkan di sempurnakan dengan manset dan kaos kaki.  Dulu mereka yang lelaki begitu baik menjaga hati dan pandangan. Menjalankan amanah dakwah tanpa merasa letih.

Namun, atas nama kecewa. Mereka tinggalkan kebiasaan itu semua. Ada yang menghilangkan kebiasaan itu sedikit, ada juga yang banyak. bahkan ada yang menjadi penentang dakwah yang menjelek-jelekkan gerakkan dakwah.

Satu hal yang sebenarnya membingungkan saya, jika iya mereka kecewa dengan gerakkan dakwah. Maka seharusnya ia menjalankan dakwah yang lebih baik sistemnya. Lebih rapi langkahnya, lebih tersusun gerak-geriknya. Dan tentunya lebih sesuai Syari’at-Nya. Bukan malah meninggalkan perintah-perintah-Nya.

Memang tak semua yang meninggalkan dakwah kampus seperti itu, namun mayoritas yang saya lihat seperti itu. Mereka yang kecewa untuk yang laki-laki bakalan ujung-ujungnya kecewe (ke cewek/ pacaran). Kecewa berujung kecewe. Setidaknya hijab antar laki-laki dan wanita tak lagi hal yang penting. Bersentuhan menjadi hal yang biasa.

Atau yang perempuan, hijabnya semakin menjauhi syariat, mansetnya tak digunakan. Mulai berdandan berlebihan, bahkan sampai ada yang menggunakan pakaian yang ketat.

Maka lihat betapa ruginya mereka yang dulu pernah taat namun kini ingkar. Ini sebagai pengingat aku, kamu dan juga pembaca semua. Karena kerugian besar lah ketika hidayah telah memeluk kita, namun kita melepaskan dan meninggalkannya.

Semoga kita di jauhkan dari rasa kecewa yang menjauhkan kita dari Allah. Dan senantiasa di beri keistiqomahan.
#MelangkahMenginpirasi

Selasa, 20 Oktober 2015

Itulah Mengapa Allah Memilihmu Berada di Jalan Dakwah

Mungkin dirimu tak sefaqih ulama
Memiliki berbagai ilmu tentang agama
Tapi dengan adanya engkau di jalan dakwah
Membuat dirimu semangat menimba ilmu syariah

Mungkin  amalmu tak sebanyak mereka para ahli ibadah
Memenuhi setiap satuan waktu untuk mendekati-Nya
Namun dengan adanya engkau di jalan dakwah
Membuat dirimu belajar menjadi sosok yang sholeh & sholeha

Andai saja kau tak menemukan jalan dakwah
Mungkin ta’lim dan ceramah agama hal asing yang kau terima
Dan ibadahmu tak sebanyak sebelum kau memperjuangkan agama-Nya
Ah.. Itulah mengapa Allah memilihmu berada di jalan dakwah

Mungkin orang sekitarmu mengejek akan ketaatanmu
Dengan berbagai ungkapannya dengan kata yang menyembilu
Namun dengan adanya kau di jalan ini
Geloramu bertambah karena motivasi teman jama’ah yang mereka beri

Mungkin berbagai kritikan datang kala kau berproses memperbaiki diri
Menunjukkan kesalahanmu yang belum bisa kau perbaiki
Tapi mungkin dengan adanya kau dijalan ini
Kau semakin terpacu untuk memperbaiki kesalahanmu  selama ini

Andai saja kau tak bersama mereka yang memperbaiki diri
Mungkin engkau terpengaruh dengan kata-kata mereka yang dengki
Berhenti untuk berusaha menjalani perintah Sang Maha Pemberi
Ah... Itulah mengapa Allah memilihmu berada di jalan dakwah ini

Mungkin matamu sendu, keringatmu berkucur dan badanmu tersungkur
Terjatuh dalam keletihan menjalani amanah langit yang kau panggul
Namun dengan beradanya kau dijalan ini
Kau tetap bergerak dengan semangat mendapat ridho Ilahi

Mungkin hatimu kecewa, pikiranmu gelisah
Akan keputusan jama’ah yang tak kau kira
Namun dengan beradanya kau dijalan dakwah
Kau belajar akan ke-tsiqohan karena keilmuanmu yang terbatas

Andai saja kau tak bersama jama’ah
Mungkin kau telah tersesat sendirian dalam logika
Rapuh, bahkan lebih rapuh dari keadaanmu dalam jama’ah
Ya, Itulah mengapa Allah memilihmu berada di jalan dakwah

Ketahuilah wahai saudara
Bukan tanpa alasan Allah memilih mu berjuang untuk agama-Nya
Maka carilah alasan mengapa engkau berada dijalan dakwah
Agar engkau lebih bergairah dalam mentarbiyah semesta

Jikalau kau menemui berbagai alasan untuk meninggalkan jama’ah
Maka ingatlah seberapa jauh dakwah merubah dirimu
Seberapa besar Allah meneguhkan kedudukanmu
Bukankah firmannya “jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”?

Maka tetapkanlah dalam hati untuk bertarbiyah agar diri terus terbina
Berjuang bersama menebar cahaya untuk umat manusia
Istiqomahlah wahai sahabat, karena memang jalan dakwah tidaklah mudah
Ia amatlah panjang, hingga tiada ujung yang lain kau temui, kecuali surga-Nya di akhirat

Itulah mengapa Allah memilihmu berada di jalan dakwah

Azmul Pawzi
Terinspirasi dari puisi "Itulah Mengapa Allah Menikahkanmu Dengannya"

Sabtu, 10 Oktober 2015

Kegigihan yang Hilang

Ada yang berbeda.
Entah apa, itu kalimat yang terlintas dikepalaku ketika melihatmu kini.  Engkau berbeda. Setidaknya itu yang kurasakan. Engkau sudah tak seperti dulu. Matamu sendu, senyummu tertahan.

Entah apa yang terjadi kepadamu. Padahal jelas di otakku, kala pertama kali aku melihatmu. Sosok yang tiada henti memberi inspirasi. Matamu tajam, pandanganmu jauh menembus masa depan. Berulang kali telinga ini mendengar cerita cita tinggimu untuk bangsa. Mimpi cerahmu untuk umat. Aku mengingatnya, bahkan hampir tiap kata-kata mu.

Tiada satu-pun unsur keramahan yang tak tergambar darimu. Senyum yang menentramkan. Hanya dengan lengkungan di bibir itu saja, engkau dapat memotivasi banyak orang. Apalagi ketika kau meluapkan berbagai ide-ide dan karya yang akan di realisasikan. Itu sungguh menakjubkan.

Kau sirami lingkunganmu dengan semangat membaramu. Kau hasilkan karya-karya fantastis, kau produksi kinerja-kinerja keren dengan rapi. Kegigihanmu tak terperi. Hingga semua orang terheran dengan dirimu yang tiada letih menginspirasi.

Namun ada yang berbeda, entah hal seperti apa yang meredupkan itu semua. Aku tak paham, namun yang ku tahu itu pasti hal yang berat.  Hingga membuat wajah itu murung. Sungguh aku tak paham. Aku hanya terheran. Bagaimana bisa?

Ku coba perhatikanmu lagi, namun tetap ku tak menemukan jawaban. Hanya sinaran mata yang semakin redup yang ku dapatkan. Dan itu bukanlah yang ku inginkan. Karena itu bukan kamu.

Aku hanya ingin kau kembali, seperti engkau yang dulu. Menjadi inspirator yang gigih berbuat untuk orang lain.

Aku menginginkan itu, dan orang sekitarmu juga. Maka kembalilah. Kembalikan kegigihan yang hilang itu, kembalikan semangat yang redup itu, kembalikanlah. Kembalikanlah.

Kembali seperti engkau yang dulu. Kembalilah.


Kamis, 08 Oktober 2015

Sendiri

Sendiri.
Siapa yang tahan akan kesendirian. Aku yakin, kamu tak menginginkan itu.
Seperti diri ini, yang enggan sendiri.
Aku yakin itu, walau kadang senyummu menyiratkan bahwa kau tak mempersoalkannya.

Aku tak mengerti, Sungguh. Pada dasarnya aku tak mengerti manusia seperti apa yang bisa bertahan dalam perihnya kesendirian. Hingga pada suatu siang, engkau bercerita tentang sebuah perjalanan. Tentang mimpi-mimpi yang ingin engkau raih. Tentang harapan yang ingin engkau  realisasikan.
 Sendirian. Ya benar, sendirian. Walau kau tak pernah merasa sendiri. Namun tetap saja ku mengatakannya kau sendirian menjalani itu semua.

Engkau ingin pergi. Dengan senyum itu—senyum yang menggambarkan ketegaran. Walau kadang aku masih bertanya, apakah kau membuat-buatnya untuk menutupi kesendirian? Seperti aku yang memaksa senyumku tergores agar terlihat kuat dimatamu?

Mungkin kau merasakannya atau mungkin tidak sama sekali. Kecemasan diri ini akan kesendirian. Kegelisahan hati, akan sebuah kesepian.

Aku kehilangan. Walau ku tak peduli bila kau tak merasakan kehilangan itu. Karena memang kehilangan ada karena rasa kepemilikan. Sedangkan kita tidak pernah merajut apapun. Bahkan memulai sesuatu apapun tidak pernah.

Jadi tidak ada yang terputus dalam hal ini. Karena memang belum ada yang tersambung. Akan tetapi rasa takut kesendirian itu masih memenuhi ruang jiwaku. Apakah mungkin hati ini menerjemahkan kepergianmu berarti kesendirian?

Ah, biarlah rasa ini menerka-nerka sesuka hatinya. Dan biarkan pula aku yang resah ini terdiam hening mendengar semua berita kepergian.

Maka ajari aku bagaimana caramu menghadapinya. Berlawanan dengan sebuah hal mengerikan bernama kesendirian.

-AP-
 Sebuah Fiksi Prosa 
 



 



Selasa, 22 September 2015

Bagaimana Bisa Ku Ingin Akan Kesempurnaan?


Bagaimana bisa ku ingin akan kesempurnaan? Bila yang kucintai darimu adalah sebuah ketidaksempurnaan.

Bagaimana bisa ku ingin akan kesempurnaan? Bila kesederhanaanmu yang selama ini menyihir diri. Hingga mulut ini membisu. Hanya diam terpaku didepan kebersahajaanmu.

Bagaimana bisa ku ingin akan kesempurnaan? Bila hanya dengan seperti ini saja, bisa membawa ku bahagia. Tersenyum rapi dalam melodi indah. Menikmati representasi cinta tak terkira. Menghayati keteduhan rasa tiada tara.

Bagaimana bisa ku ingin akan kesempurnaan? Bila ketidak sempurnaanlah yang nantinya menyatukan kita. Engkau yang mengisi kekosonganku. Dan aku yang menutupi silapmu.

Kita saling membantu dalam keterbatasan. Saling membahu dalam sekat yang menghalang.

Maka biarlah aku memilih ketidak sempurnaan. Karena bila aku memilih kesempurnaan, aku tidak akan mungkin menemukanmu. Hanya berputar-putar, lalu kelelahan.

Biarlah aku memilih ketidak sempurnaan. Karena sebagai manusia di bumi, mana mungkin ku mengharap langit turun untuk memeluk ku. Berteriak-teriak tak menentu, menengadah tak jelas. Sedangkan yang terbaik sudah berada disamping.

Jadi, Kita biarkan saja kesempurnaan hanya berada di langit. Karena aku tak butuh kesempurnaanmu untuk meniti ketenangan cinta dalam kasih sayang-Nya.

Karena Ia Maha Sempurna, Maka kita saksikan Allah yang menyempurnakan ketidak sempurnaan kita. Hingga kita bertautan dari dunia sampai surga.

#MelangkahMenginspirasi




Cinta Lebih Butuh Pembuktian, Bukan Alasan

Terkadang kita terlalu sibuk membangun sebuah alasan akan mencintai. Merangkai ribuan kata, sambil menghitung-hitung apa saja yang telah terfikir di kepala kita.

Terkadang kita terlalu pandai menghimpun aksara, meramunya menjadi kalimat indah. Lalu di sampaikan dengan nada yang menyentuh hati.

Terkadang kita terlalu resah kala mulut membisu, badan membeku. Saat sebuah pertanyaan hadir. Tentang mengapa kita mencintai, tentang alasan sesuatu untuk dicintai.

Ketahuilah, tak perlu bibir ini kelu kala menyampaikan cinta. Karena cinta sungguh tak serumit yang engkau kira. Ia sederhana. Se-sederhana air yang mengalir, udara yang kau hirup, dan mentari pagi yang kau sapa.

Kau hanya perlu buktikan bahwa cintamu nyata. Seperti air yang berlari riang. Gemericiknya memanjakan telinga. Kesegaranya, menghapuskan dahaga. Ia warnai sekitarnya dengan kesejukkan. Ia bekerja, bukan bicara.

Kau hanya perlu buktikan bahwa cintamu ada.Seperti udara yang tak terlihat. Tak perlu ia tampak untuk menghidupi. Hanya dengan masuknya ia kedalam hidung. Dan mengitari tubuh. Ia buktikan cintanya kepada kita. Dan dengan karunia-Nya. Sang udara hadir untuk membawa oksigen kehidupan. Ia bekerja, bukan bicara.

Kau hanya perlu buktikan bahwa cintamu terasa. Seperti mentari pagi yang tersenyum dengan segala kehangatannya. Ia sinari wajah-wajah ceria untuk bekerja. Ia rasuki jiwa-jiwa manusia untuk membakar semangatnya. Ia tebar gelora hangatnya seantero dunia. Ia bekerja, bukan bicara.

Maka, tiada perlu engkau menjadi pujangga untuk mencinta. Katakan saja kau mencintainya karena memang kau mencintainya. Lalu kau hanya perlu buktikan. Karena cinta lebih butuh pembuktian dari pada alasan.

#MelangkahMenginspirasi



Senin, 21 September 2015

Tak Selalu Ada Kata Pengertian dalam Sebuah Ketulusan


Kadang kita terlalu sering menuntut akan sebuah pengertian orang yang kita sayang. Hingga keluarlah kalimat-kalimat dari mulut kita seperti bahwa “Ayah ku tak ngertiin aku” atau “Kamu kenapa sih sebagai sahabat ga pernah ngertiin aku?”

Bahkan dalam kerja-kerja dakwah dan kerja sosial kita, sering kali kita menuntut sebuah pengertian. Seakan-akan hanya itulah yang menenangkan hati, hanya itulah yang pengusap letih.

Tubuh ini melemah, semangat ini menurun. Dan tekad pun rapuh hanya karena tiada rasa pengertian dari orang-orang sekitar dalam kerja-kerja dan kehidupan kita.

Manusiawi? Ya benar, rasa ingin dimengerti adalah manusiawi. Tak salah. Sungguh tiada yang keliru dalam perasaan ini. Hanya saja bila rasa ingin di mengerti itu di sanding dengan sebuah ketulusan. Maka tidak ada keserasian didalamnya.

Karena pada dasarnya, sebuah ketulusan tak membutuhkan pengertian. Ia murni, ia suci. Ia akan tetap tegak tanpa ada yang mendukungnya. Tak perlu sebuah pemanis bernama pengertian untuknya tetap bergerak. Ia akan tetap menjadi ruh untuk karya-karya kedepannya. Dengan atau tiadanya pengertian.

Seperti Rasulullah yang tulus menyuapi orang yahudi nan buta dan tua renta. Ia tak butuh pengertian dari sang pengemis. Bahkan pengemis buta tersebut mencaci, memaki dan mengatakan hal-hal buruk tentang Rasulullah. Tiada rasulullah meminta pengertian sang pengemis, tiada Rasulullah meringis karena seseorang yang dengan hati-hati ia suapi makanan, malah mengatai ia dengan hal-hal buruk.

Sungguh tiada penuntutan akan sebuah pengertian. Rasulullah hanya diam dan menyuapinya dengan penuh ketulusan.

Layaknya hujan yang jatuh menyejukkan bumi. Ia tetap bekerja, melakukan apapun yang ia dapat kerjakan. Ia sirami tumbuhan yang kekeringan, ia penuhi sungai-sungai yang mulai surut. Ia buat sensasi dingin dalam bumi yang mulai panas tak terkira.

Ia tetap berkarya, walau kadang manusia menggerutu akan hujan yang datang membasahi jemurannya. Atau orang-orang yang berkeluh kesah akan bajunya yang kuyup. Hujan tetap tulus datang untuk dunia. Walau manusia tidak mengerti.

Maka tak perlu ada kata pengertian untuk sebuah ketulusan. Karena ketulusa begitu berarti bila hanya dibalas dengan sebuah pengertian. Ketulusan begitu mewah bila hanya dibalas sebuah keinginan untuk dimengerti.

Maka cobalah untuk tidak menuntut untuk ingin dimengerti.

#MelangkahMenginspirasi

Rabu, 16 September 2015

Hujan yang Indah, Walau Tidak Bulan Juni

Siapa yang tak mengira kedatanganmu. Tanpa permisi kau hadir. Membawa kesejukkan, membawa kesyahduan.

Kau warnai kesunyianku dengan melodimu. Kau harmonikan kesepianku dengan simfonimu. Kau gubah kesendirian ini dengan alunan nada yang menggugah.

Maka tiadalah yang lebih tabah dari mu. Karena siapa pula yang dapat merahasiakan rintik rindunya kepada bunga? Karena rindu merupakan hal rumit yang tiada terkira. Ia memberontak dalam dada. 
Menyiksa hati yang menyimpan kuat rasa itu.

Ia bawa diri ini berlayar dalam lamunan panjang. Ia tarik diri ini dalam ribuan tanya akan sosok kehadirannya.

Biarkan diriku menjadi bunga yang menyerah dalam kerinduan. Termangu dalam kekuyupan rindu yang mengguyur dan dengan tabahnya menyembunyikan rasa itu dalam kelopakku.

Aku kebingungan, aku tak berdaya. Tak kuasa diri ini berjalan dengan pasti karena aku tertawan. Ya, aku tertawan dalam penjara yang tiada penjara lebih indah darinya. Kau menawanku dalam setiap untaian katamu, kau menawan ku dalam setiap sikapmu, dan kau menawanku dengan segala tentangmu.

Dan sempurna kau membuatku gugup. Hingga setiap langkah kaki yang kugerakkan, selalu ditemani dengan keraguan.

Bijaklah hujan itu. Ia hapuskan jejak kaki keraguan itu dalam sepanjang jalanku. Walau kadang butiran cinta juga terhapus bersama jejak yang ku torehkan.

Maka, dalam gejolak yang mengaduk-aduk hati ini. Aku memilih untuk diam. Karena memang tak semua yang kita rasakan harus terucapkan.

Mungkin sebagian rasa begitu mengagumkan bila tersampaikan. Namun sebagian lain bisa lebih mempesona bila tak terungkap. Ia tertata rapi dalam keterdiaman. Walau kadang diri tenggelam dalam tak berdayaan.

Maka tiada yang lebih arif darinya. Ia biarkan kata-kata yang tak terucap. Terserap oleh akar-akar pohon bunga. Sampai Sang Maha Kuasa menghilangkan kata itu untuk dilupakan. Atau mengambilnya kembali untuk di reaslisasikan dibumi.

Hingga pada akhirnya, ku ingin berterima kasih kepada hujan. Ia tentramkan diri yang terpaku dalam kesenduan. Ia luruhkan segala rasa untuk menyerah yang dulu makin menderas.
Ia buat ini menjadi semakin indah. Walau ia tak jatuh di bulan juni.

Azmul Pawzi
- Sebuah Interpretasi Puisi Sapardi Djoko Damono berjudul hujan bulan juni -
 

Selasa, 15 September 2015

NU, Jenggot dan Islam Nusantara


Nahdatul Ulama merupakan salah satu organisasi tertua dan terbesar di Indonesia. Jasa NU dalam dakwah islam yang tertanam dalam pesantren-pesantrennya sehingga menghasilkan ulama-ulama tak perlu kita pertanyakan. NU itu sendiri didirikan oleh seorang ulama luar biasa bernama Hasyim Asy’ari. Beliau terinspirasi dari Muhammad Abduh yang sedang nge-trend kala beliau sedang mencari ilmu di mekkah.  Hingga kala pulang kampung ke Indonesia, akhirnya beliau mendirikan NU dengan salah satu semangat memurnikan islam.

Saya termasuk pengagum Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Beliau adalah sosok ulama besar patut kita ambil hikmah dari nasihat, kebiasaan dan perbuatannya. Namun akhir-akhir ini saya sedikit prihatin terhadap tubuh NU itu sendiri terutama bagian kepala (baca: Ketua). Tentu saja, Pak Said Aqil Siradj yang merupakan ketua NU menyampaikan sesuatu hal yang menyinggung ajaran umat islam. Yang dimana ajaran itu di laksanakan oleh bapak pendiri organisasi yang dipimpinnya.

Said Aqil dalam ceramahnya menyampaikan “Orang berjenggot itu mengurangi kecerdasan”, Ia juga menambahkan “Gusdur tidak berjenggot, Nurcholis Madjid tidak berjenggot, Quraish Shihab tidak berjenggot, yang cerdas-cerdas tidak berjenggot”.  Dan kalimat yang sungguh sangat melecehkan sunnah Rasulullah itu “Semakin Panjang Jenggotnya, Semakin Goblok”. Astaghfirullah aladzim. Semoga Allah mengampuni beliau. Karena menghina sunnah nabi adalah sebuah dosa. Dan kita juga berdoa kepada Allah agar kita semua senantiasa taat patuh kepada-Nya dan mengamalkan sunnah-sunnah rasulnya.

Saya sungguh tak habis fikir. Bagaimana bisa hal ini disampaikan seseorang yang dengan kedudukan ketua NU. Beliau menggembor-gemborkan Islam Nusantara. Mengatakan bahwa jenggot adalah arabisasi. Mengatakan bahwa islam nusantara memiliki kepribadian tersendiri. Dan memburukkan jenggot.

Sungguh jenggot adalah sunnah nabi yang secara jelas disampaikan nabi tanpa ambigu sedikit pun. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah bersabda“Potong pendeklah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.”. Sungguh para ulama sepakat ini, dan sabda nabi ini tak bisa dibandingkan dengar perkataan ulama seperti apa yang dilakukan para pembela  Said Aqil. Maka sebagai seorang muslim, tak pantas bagi kita mengolok-olok sunnah Nabi Muhammad SAW. 
 
Dan bila kita melihat dalam konteks NU itu tersendiri, KH. Hasyim Asy’ari berjenggot. Dan para penyebar islam di Nusantara, khususnya Wali Songo seperti Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri dan berbagai ulama penyebar islam di nusantara juga berjenggot. Karena jenggot ini adalah sunnah islam.

Pernyataan jenggot mengurangi kecerdasan dan dibandingkan dengan orang-orang cerdas di Indonesia yang tak berjenggot, sungguh sebuah ungkapan yang tak bisa di pertanggung jawabkan. Bila Pak Said Aqil mengatakan orang berjenggot kurang cerdas. Padahal Imam Syafi’i, ulama yang madzabnya dipakai anggota-anggota NU memiliki jenggot yang lebat. Dan saya berani dan memastikan bahwa kecerdasan Imam Syafi’i jauh di atas orang-orang yang dicontohkan Pak Said. Dan tentu sangat jauh diatas Said Aqil Siradj yang nyeleneh bilang orang berjenggot goblok.

Bahkan KH. Hasyim Asy’ari itu sendiri adalah ulama yang berjenggot. Ulama-ulama Indonesia lainnya seperti KH. Ahmad Dahlam juga berjenggot. Mereka adalah ulama yang sudah masyur di bumi nusantara dengan kecerdasannya. Tidak goblok dan kurang cerdas seperti apa yang diucapkan Bapak Ketua NU tersebut.

Saudara ku semua, dalih arabisasi yang dipakai Said Aqil Siradj dan berbagai tokoh yang menggaung-gaungkan islam nusantara sesungguhnya merupakan langkah-langkah untuk menjauhkan kita dari ajaran Rasulullah SAW. Mereka ribut akan penampilan bahwa memakai jubah dan berjenggot itu arabisasi dan harus di tentang karena berlawanan dengan islam nusantara dan kepribadian bangsa. Namun mereka diam akan westrenisasi, amerikaisasi, koreaisasi dan berbagai fashion dan lifestyle lain menyerbu muslim Indonesia. Padahal serangan itu lebih membahayakan dari pada menyalah-nyalahkan ajaran Rasulullah.

Dan sesungguhnya, islam nusantara yang mereka gembor-gemborkan juga tak sesuai dengan islam itu sendiri. Karena Islam adalah agama yang universal. Dan dalam bahasa islam tak dapat disandingkan dengan kata apapun. Bila islam disandingkan dengan kata apapun, itu akan menyempitkan arti islam itu sendiri. Sebagai contoh motor. Bila kita menyandingkan kata motor dengan bebek sehingga menjadi motor bebek, ini akan menyempitkan arti motor itu sendiri.

Maka sesungguhnya, islamyang sebenarnya adalah islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah. Tidak ada islam nusantara, islam arab, islam jawa, islam minang, islam korea, islam amerika, islam eropa, islam syiah, islam liberal dan islam-islam lainnya. Karena islam hanya satu, yaitu yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Bila dalam Al-Qur’an diperintahkan sesuatu, bila dalam Hadits di sunnahkan. Maka kita harus taat dan tidak boleh mengolok-ngoloknya.

Semoga kita dijauhkan dari propaganda-propaganda yang menjauhkan kita dari islam. Dan kita senantiasa berdo’a agar Nahdatul Ulama terselamatkan dari paham-paham orang ingin menyimpangkan pemahaman muslim Indoneisa. Dan NU menjadi organisasi yang membawa kemurnian islam. Islam yang sesuai Perintah Allah dan Rasul-Nya, sebagai mana mimpi KH. Hasyim Asy’ari ketika mendirikan NU.

Azmul Pawzi  (Ketua Komisi A FSLDK Sumbar)

Sabtu, 12 September 2015

Rembulan yang Dirindui (1)

Siapa yang tak mengenalnya? Pemuda cerdas yag berdiri tegap itu, Ya, aku mengenalnya. Bahkan melebihi mereka-mereka yang setiap hari membicarakannya. Juga melebihi mahasiswi-mahasiswi yang berulang kali ku dengar berbincang tentangnya. Aku mengenalnya, karena memang tidak mungkin ku tak mengenalnya. Namanya terdengar syahdu. Ia menjadi kebanggaan kawan-kawannya, terutama teman-teman se-fakultasnya. Dan tentu saja, teman sefakulyasnya adalah teman sefakultasku.

 
Ia, seorang lelaki yang wajahnya bagai mentari yang menyinari semesta. Senyumnya membakar semangat. Tutur katanya halus dan penuh hikmah. Teman, senior dan junior telah banyak meneguk inspirasi darinya. Matanya tajam namun teduh. Menyorotkan sebuah kepedulian. Hingga gerak-geriknya ia lakukan untuk sesama.

Maka tak mengherankan, ia di tunjuk sebagai ketua himpunan dan melanjutkan menjadi ketua organisasi kepemudaan tingkat provinsi yang senantiasa bergerilya berjuang untuk masyarakat. Ya, aku menyaksikannya. Aku menyaksikannya sejak ia berproses di himpunan dan organisasi kepemudaan itu. Aku menyaksikannya sebagai anggota. Ia memiliki kepemimpinan mempesona, pengelolaannya rapi, orasinya menggelora. Tak mudah menemukan seseorang sepertinya.

Dan kini, di bandara ini, pemuda itu berada di hadapanku. Tidak, tidak, tidak hanya di depan ku. Lebih tepatnya di hadapan teman-temannya yang lain. Bahkan ia tak tepat di depanku. Karena aku lebih memilih untuk tak mendekatinya. Dan berdiri di kerumunan belakang. Tak kuasa rasanya tubuh ini berhadapan dengannya. Bahkan sampai detik perpisahan ini, aku tak pandai berbasa-basi dengannya walau hanya sekedar kalimat indah perpisahan. “Selamat tinggal dan hati-hati”, hanya itu yang ku ucapkan, tiada yang istimewa. Namun kau menyambutnya dengan senyum, senyum bagai sinaran mentari yang membuatku tak sanggup menatapnya dan memilih menunduk.

Beberapa saat berlalu, kau akhirnya berbalik, menuju ruangan untuk mempersiapkan mu terbang tinggi. Jauh, hingga mungkin ku takkan bertemu denganmu. Engkau pergi, dengan membawa tas penuh dengan mimpi untuk di realisasikan.

Langkahmu pasti, derap langkahmu mantap. Aku mengingatnya, dengan mata penuh harapan. Kau berulang kali kau mengulang ini, mimpi-mimpi mu yang akan kau torehkan pasca wisuda. Kau sampaikan dengan menggelora di berbagai pelatihan, kau ungkapkan dengan semangat pada motivation training. Hingga kini kau mendapatkannya, mimpi untuk ke negara kincir angin untuk melanjutkan studimu akhirnya kau raih. Hingga satuan gerak kakimu membuat kau jauh, jauh, dan mengecil hingga kau hilang dari pandanganku. Dan benar, sosok mu sudah tak terlihat, lenyap tak berbekas.

Aku tak menangis, sungguh. Bahkan berkaca-kaca saja tidak. Aku masih dapat tersenyum. Walau ku akui, ada suatu hal yang berguncang dibenak ini. Cukup keras, hingga sakit dada ini. Guncangan yang tak ku sangka bisa sebesar ini.

“fira.... fira...” Rahel memanggilku, memecahkan segalanya.

“yeee.... dia ngelamun, dah ikhlasin aja Ka Rizki itu pergi.” Lanjutnya

“Apaan sih lu, siapa juga yang ngelamunin dia.” Jawab ku cuek

“Yaudah, kita balik yuk. Anak-anak ngajak makan tuh” Ajak rahel kepada ku.

Aku pun mengangguk dan mengikuti langkahnya.
***
         
       “Kadang kita harus membuat jarak dengan seorang yang kita cintai untuk saling menjaga”. Pernah ku mendengar ungkapan itu, sebuah ungkapan yang mengitari isi kepalaku. Sebuah ungkapan yang menegaskan bahwa kita harus menjarak untuk saling menjaga. Agar tiada yang tersakiti, dan agar tiada yang di murkai oleh-Nya.
        
        Karena mungkin rasa yang bergejolak dalam jiwa ini membuat kita ingin mendekatinya, berbicara dengannya, bersenda-gurau dan berjalan bersamanya. Namun kita harus mengetahui, saat kita mendekatinya, itu akan menjadi jalan awal kenestapaan kita. Itu bisa menjadi nelangsa dalam hidup kita. Kita rapuh, serapuh iman kita karena berdekatan dengannya. Kita ringkih, seringkih ketaatan kita kepada Sang Maha Kuat karena gurauan bersamanya.
          
Maka, kita harus mencontoh sang bumi. Karena cintanya kepada matahari, ia jauhkan dirinya. Agar tiada yang tersakiti, agar tiada yang tercerai-berai. Ia menjarakkan tubuhnya agar dirinya tak hancur, rusak berkeping-keping. Ia rela. Rela untuk menjaga dirinya dan matahari dari kehancuran.

Lalu sambil membuat jarak kita tersebut, kita berdo’a kepada-Nya. Agar cinta yang mengakar dalam itu, dapat terrealisasikan. Agar mentari yang panas itu, diubah-Nya menjadi rembulan. Agar ia dapat berlari riang menemani bumi menjalani orbit hidupnya. Agar ia dapat menerangi bumi dalam kegelapan. Selama-lamanya, hingga Allah menentukan waktu keberpisahan.
  
        Menjarak untuk sebuah keterjagaan. Itu yang ku lakukan sejak ku melihatnya. Walau perih, walau sulit. Semua rasa itu, ku simpan rapat dalam hati dan ku jaga dalam-dalam. Karena Allah punya jawaban. Karena Sang Maha Indah memiliki skenario yang tentu indah nanti. Entah matahari itu tetap menjadi matahari. Atau ia berubah menjadi rembulan nan cantik parasnya.
          
      Biar ku disini, berjalan seorang diri, melihat mentari ku dari kejauhan, diam dan berulang kali menggamitkan untaian do’a. Agar rembulan yang dirindui itu hadir untuk menjawab segala jawaban. Agar rembulan itu datang untuk menghapuskan kesendirian.  (to be continue...)