Selasa, 05 Mei 2015

Kerinduan yang Merindui Rindu


Semua janggal. Semuanya tak penuh. Layaknya puzzle yang kehilangan satu potong. Hingga kala semua potong puzzle yang ada tersusun. Kosonglah satu bagian. Meninggalkan sebuah kehampaan.
Ada yang hilang. Ya, mungkin itu yang terjadi. Aku tak mengerti. Padahal hanya seorang engkau yang pergi. Bahkan detik-detik saat engkau ingin melangkah menuju bandara itu. Tak ada kata spesial ku ucapkan. Bahkan aku pun tak berdiri dihadapamu. Hanya berdiri dibelakang teman-temanmu. Karena memang siapa aku. Bahkan berbincang lama saja aku tak pernah, atau mungkin lebih tepatnya aku tak sanggup berbincang denganmu. Tanpa berbincang saja, perasaan ini sangat menghujam di perasaanku. Apalagi pernah ku berbincang denganmu.

Lalu dengan senyum terakhir itu, engkau berbalik arah. Bersiap menuju tujuanmu. Mengejar setiap mimpi-mimpimu. Aku tak menangis, sungguh. Tak ada setetes air mata pun mengalir diwajahku. Bahkan, berkaca-kaca saja tidak.
Lihatlah, tubuh ini tak bergetar, tak sedikitpun. Bahkan akupun sempat tersenyum kepadamu. Namun, entah kenapa. Hati ini bergunjang. Tak seperti tubuhku yang tetap tegar. Gunjangan dalam benak itu cukup keras. Terlebih saat aku hanya melihat tas yang kau panggul di punggungmu.
Hem, kadang aku iri terhadap handphone yang engkau genggam. Ia dapat menemanimu kemana kau pergi. Aku pun juga iri terhadap setiap benda mati yang ada di sekitarmu. Setidaknya mereka dapat menatapmu setiap saat.
Pedih memang, apalagi saat kulihat tak ada lagi sosokmu. Engkau hilang. Bahkan, baru saja beberapa detik aku sadar engkau tak akan kulihat dalam waktu yang lama. Kemelut terjadi dalam tubuhku. Rasa apa ini, sulit ku definisikan. Aku tak mengerti, begitu rumit. Sulit dijelaskan. Namun banyak orang menjelaskan ini dengan sebuah kata. Rindu. Ya mungkin itu namanya. Namun perih memang. Baru sejenak padahal, namun rindu itu telah merasuk.
Akan tetapi dapatkah ini semua didefinisikan sebagai rindu? Mungkin sebuah bahasa sulit memahami apa yang kurasakan. Ini tak mudah. Bukannya dulu, saat ia berada dalam dekatku, kala kota ini masih menjadi tempat ia berada. Rindu itu telah ada. Bahkan aku lebih menyukai rindu yang seperti itu. Bukan rindu yang baru saja kurasakan. Aku akan merindukan rindu itu. Kerinduan yang merindui rindu. Rumit memang, namun itu terjadi.

Sebuah Fiksi Prosa

Azmul Pawzi

Minggu, 03 Mei 2015

Juara Satu Lomba Debat Tingkat Provinsi Sumatera Barat

Setelah perjuangan  yang panjang akhirnya membuahkan hasil. Alhamdulillah saya yang ilmu ekonomi 2012, bersama rekan saya, bang agus (kimia 2011) dan efrizal (fisika 2013) menjadi  juara satu lomba debat bahasa Indonesia tingkat Sumatera Barat. (Sujud Syukur). Kejuaraan ini di adakan di kota padang pada tanggal 2 dan 3 mei 2015.

Pemberian Hadiah dari Jur

Cerita kemenangan ini berawal dari bang agus yang mengajak saya dan efrizal untuk mendaftar lomba debat itu. Akhirnya kami mencoba untuk bertarung dalam lomba. Hingga singkat cerita tibalah hari dimana pertandingan di mulai. Kami kaget, ternyata kebanyakan adalah dari anak sastra Indonesia, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dan Hukum. Dan ada juga mereka yang jauh-jauh dari batu sangkar, bukit tinggi, payakumbuh dan berbagai daerah lainnya. Kami yang anak ekonomi dan mipa dan wisma kami yang dekat dari tempat pertandingan tentu terkejut karena tidak ada teman se-fakultas disana dan banyak yang dari tempat jauh. 

Lanjut cerita, saat hari sabtu itu, kejadian cukup unik, karena kita belum sama sekali membahas apa mosi di berikan pada kepada kami untuk ditandingkan pada babak penyisihan hari itu. Kami baru menyiapkan pas di tempat dan pada saat itu, ef juga belum datang karena dia sedang kuliah. Berjuanglah kami mencari data yang waktu yang bertema perlukan kesetaraan kuota laki-laki dan perempuan untuk parlemen di Indonesia. Dan Ef datang saat sedikit lagi kita harus akan bertanding. Lalu pada saatnya tiba, bertandinglah kami.
Ini dia timnya, saya, efrizal dan bang agus
Setelah disebutkan, lawan kami adalah tim dari Pendidikan Kewarganegaraan UNP. Kami berada di posisi kontra dan mereka pada posisi pro. Pertarungan cukup sengit, dan dalam perdebatan kami mungkin menjadi perdebatan yang paling seru dibandingkan pertarungan dibabak penyisihan lainnya, hal ini karena paling banyak riuh tepuk tangannya. Dan karena pada tahap penyisihan ini berdasarkan poin. Mungkin karena serunya, kelompok kami dan kelompok lawan sama-sama lolos pada tahap selanjutnya menyingkirkan belasan kelompok peserta lainnya. 

Dan selanjutnya, kami ternyata lolos hingga perempat final,  dan ternyata hingga tak di sangka-sangka kami bertemu kembali lawan kami saat penyisihan. Sekali lagi kami bertarung dengan seru,  namun karena kami pernah bertarung sebelumnya. Kami memiliki strategi yang telah kami persiapkan.


Hingga selanjutnya kami memenangkan pertandingan dan melaju hingga semi final. Di semi final, dan juga setelah pertarungan yang sengit dan perjuangan yang luar biasa. Akhirnya kami melanjutkan perjuangan hingga ke babak final. Dan pada babak final adalah pertarungan antara mahasiswa unand melawan mahasiswa unand. Kami yang satu almamater bertemu di babak final.

Pada babak final, mosinya adalah “Setujukah anda jika Uji Kemahiran Bahasa Indonesia di gunakan untuk menerima tenaga kerja asing di Indonesia?”. Kami berada pada posisi pro, sekali lagi saya, bang agus dan ef berusaha mengeluarkan kemampuan kami sepenuhnya dengan argument-argumen yang telah kami punya berdasarkan data yang kami dapat. Dan hal ini berlangsung hingga pertandingan berakhir.

Setelah kita pertandingan final berakhir, dan setelah juri berunding dalam menentukan juara. Kami dikumpulkan, para juri-pun memberikan arahan. Dan Alhamdulillah saya menjadi speaker favorit juri pada perlombaan itu. Dan sekali Alhamdulillah kami juara dan akan mewakili Sumatera Barat dalam perlombaan debat tingkat Sumatera di Kota Medan.
Bersama bang romy dan bang rio yang ikut nonton

Ya itulah cerita kami, agak disingkat-singkat sih, biar nanti teman-teman pembaca tidak bosan membacanya. Terima kasih telah membaca. :D
Mari kita torehkan prestasi untuk agama, bangsa dan dunia.

#MelangkahMenginspirasi


Minggu, 26 April 2015

Maka Cintailah Dakwah

Kala dunia telah begitu menyilaukan dipelupuk mata. Kala segala suguhannya telah memenuhi relung jiwa dan segala kemewahannya menjadi ambisi diri. Lalu, kemana tekad juang dulu itu? Lalu, kemana azzam yang menghujam dalam jiwa itu? Apakah semua ini telah menghilangkan militansimu dalam berdakwah?

Wahai diri yang ingin selalu berjalan dijalan-Nya. Jika saja hanya berdakwah, hampir seluruh insan manusia dapat melakukannya. Hampir seluruh umat dapat melafadzkan dengan fasih nilai-nilai kebaikan. Hampir setiap kepala dapat menunjukkan mana yang baik dan yang buruk.

Namun, dalam menyampaikan dakwah, telah dapatkah kita mencintai dakwah itu? Telah mampukah seluruh, hati, tubuh, dan pemikiran kita, kita curahkan dalam kecintaan pada dakwah itu? Apakah setiap tenaga, upaya telah kita berikan untuk cinta itu? Apakah segala ambisi diri telah diredam dalam menggaungkan dakwah kepada Allah.

Maka cintailah dakwah ini, cintailah sepenuh hati, tubuh dan pikiranmu wahai diri. Jangan lagi segala kebodohan diri menghapus segala rasa yang membuncah itu. Jangan sampai kelalaian ini, mengalihkan cinta itu malah tertuju pada dunia.

Maka cintailah dakwah ini, karena mencintai dakwah memang tidak mudah. Segala pengorbanan harus tercurahkan. Sulit memang, namun apakah surga-Nya dapat diraih dengan cara yang mudah?
Intropeksi dirimu, intropeksi azzammu, intropeksi niatmu, intropeksi cintamu. Dan setelah itu, cintailah dakwah ini. Agar diri yang lemah ini, dinaungi Sang Maha Cinta untuk bersama hamba-hamba yang Ia cintai, di surga-Nya.
Maka cintailah dakwah ini.

Renungan buat aku, kamu dan kita semua yang mulai terasa azzam itu telah pudar.
-Azmul Pawzi-

Rabu, 22 April 2015

Ajaibnya Kata “Munafik”

Mau ngebahas sedikit tentang mudahnya sebuah klaim “munafik” didapatkan oleh seseorang. Terutama mereka yang sedang berusaha memperbaiki diri. Padahal mereka sedang berusaha tidak larut dalam hingar bingar berbagai kehidupan negatif dunia.
                Kata munafik ini ajaib menurut saya. Walaupun yang di bahas ini ga pengertian munafik secara jelas, tapi kata ini sering di pake di kehidupan sekarang. Bahkan kata ini bisa membuat seseorang tidak mau, atau berhenti untuk menjadi makhluk yang berusaha menjadi shalih atau shalihah.
Pasti temen-temen pernah nemuin ini, “eh mentoring yuk, ngaji kita. Belajar agama.” Balesannya “ogah ah, gue susah konsisten orangnya, nanti munafik lagi gue”
 Atau kasus seperti ini, seorang senior menanyakan kepada juniornya di kampus “dek, ko jilbabnya udah pendek lagi? Kan dulu jilbabnya udah lebar?” Tanya senior itu. “Ya gitu deh ka, temen-temen aku bilang aku munafik, katanya masa cewek jilbab lebar kayak gini sih, Mending kayak gini aja, ga ada yang komentarin”
                Atau kasus lain, seorang cowok yang dulu pernah bertekad tidak pacaran, eh akhirnya kelepek-kelepek juga dan akhirnya pacaran. Terus temennya nanya “eh bro, ko udah pacaran lagi?” Terus cowok yang dulu pernah bertekad tidak mau pacaran ini bilang “ya gimana lagi, gue ga mau munafik lah. Cewek zaman sekarang cakep-cakep, ga bisa gue nahan terus, dari pada di bilang munafik. Mending sekalian aja”
                Nah pasti pernah dengerkan? Ajaib Ga? Mereka yang dulu pernah ingin untuk memperbaiki diri, malah jadi kembali lagi ke kebiasaan dulu. Dan biasanya klaim munafik ini dikasih ke anak-anak yang lagi berusaha berubah lebih baik.
                Inget banget saya kata-kata dari mentor dulu waktu SMA. “Kita di Rohis ya harus sabar dari persepsi orang. Walaupun baru 2 atau 3 minggu kita mulai mentoring. Pasti udah di anggap ustadz. Salah dikit bakalan di komentarin. Pasti ada yang bilang,  “si fulan, anak rohis masa kayak gini, masak kayak gitu”. Nah jadi siap-siap aja.”
                Dan mungkin kita sudah sering mendengar ini, terutama ditunjukkan kepada anak gerakan tarbiyah, atau di kampus saya di bilang anak forum serta teman-teman lain yang juga lagi berjuang memperbaiki diri dan mengajak yang lain memperbaiki dirinya juga.
Walaupun, manusia tempat khilaf, dosa, salah dan lainnya. Pasti ada yang bilang “Si fulanah, padahal jilbabnya gede, tapi kelakuanya, hadeh munafik banget deh.” atau  “Si fulan, padahal anak forum, masa dia bla.... bla.. bla...”
Padahal pernahkah kita berfikir, mungkin dalam kesalahannya, ia berusaha mendekatkan diri kepada Allah lebih kuat lagi. Mulutnya dipenuhi istighfar lebih bayak, Malamnya dipenuhi dengan tahajud lebih sering, dan berbagai kegiatan lainnya.
Maka berusahalah berbaik sangka, jika salah, dari pada meng-klaim, mending nasihati. Kan lebih baik. Untungnya kita mengklaim orang itu munafik kan juga ga ada. Kalo bener-bener salah, mending nasehatin, kan masih ada kesempatan orang itu buat tobat. Toh masih idup kan. Iye ga penonton? (versi lenong. :D)
Terus buat yang diklaim munafik. Ya karakteristik mendekati Allah itu emang gitu. Ada-ada aja ujiannya. Ya namanya mau masuk surga. Ikut ujiannya dulu. Masuk kampus aja ada ujian, masuk surga juga dong. Di bilang munafik ya wajar, anggap aja pengingat kalo kita ada salah dalam melangkah. Dan jadikan itu buat memperbaiki diri lagi, bukannya malah berenti memperbaiki diri dan lakuin lagi maksiat yang dulu-dulu.
So, Dari pada asal klaim sana, klaim sini. Mending nasehatin-nasehatin aja. Kan lebih adem kalo kayak gitu. Gitu sob.
#YukPerbaikiDiri dan dekati Allah.
#MelangkahMenginspirasi

Sabtu, 11 April 2015

Mewakili Sumbar dalam Rapat Pimpinan Nasional FSLDK III di UNS Solo




Tepat pada bulan September, FKI Rabbani Unand di amanahkan menjadi Pusat komunikasi daerah Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Sumatera Barat atau di singkat Puskomda FSLDK Sumbar. Dengan di amanahkannya Unand, maka kepengurusan puskomda di ambil alih oleh aktivis dakwah unand.
Pada bulan Oktober Kepengurusan FSLDK Sumbar telah rampung, dimana puskomda sumbar di ketuai oleh bang Idham Affandi. Dan pada saat itu komisi hanya ada tiga, yaitu komisi A yang di koordinatori oleh saya, Azmul Pawzi. Lalu Komisi B yang di Koordinatori oleh bang Muhammad Shadri, serta Komisi C yang di koordinatori oleh Kak Sisri Wahyu yang biasa di panggil Kak Icis. Awal kepengurusan ini FSLDK Sumbar hanya 3 Komisi, namun saat ini FSLDK Sumbar menambah satu komisi, yaitu komisi D yang di koordinatori oleh bang Ardi Saputra.
Baru saja di amanahi, kami langsung mendapat surat undangan dari Puskomnas untuk menghadiri Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) III di UNS Solo pada 24 hingga 26 Oketober 2014. Maka dengan berbagai persiapan baik konsepan maupun dana, kami berangkat. Maka yang di amanahkan pergi sebanyak 5 orang. Yaitu Saya, Bang Idham, Bang Shadri, Ka Icis dan Ka Zia (Saat itu kakak ini sekretaris Komisi A, Sekarang jadi Sekretaris Komisi D).
Tanggal 22 Oktober 2014 kami berangkat menggunakan pesawat dari BIM hingga Bandara Soetta. Singkat cerita kami naik kereta dan sampai di solo pagi hari tanggal 23 Oktober 2014. Ada cerita menarik diperjalanan, saat dikereta kami bertemu dengan seorang ibu-ibu yang rutin ke Jakarta untuk belanja barang usahanya. Dan saat datang di stasiun di solo. Ibu itu dengan mobilnya mengenalkan kami dengan kota solo hingga kuliner yang enak. Waktu itu kami dikenalkan dengan sate bundel. Dan ternyata emang enak tenan. Walau biayanya lumayan ngerogoh uang cukup dalam. Haha
Kami menjadi peserta rapimnas yang datang diawal, lalu kami diajak ke masjid Nurul Huda UNS. Hal pertama yang membuat saya terkesima di masjid ini. Adalah kelengkapan masjid UNS ini. Apalagi pas masuk perpustakaannya, Wiiiihhh.... Kece Badai... Buku-buku didalamnya bikin ngiler. Selanjutnya didalam masjidnya ada Islamic center dan ruang seminar serta penginapan untuk tamu lengkap dengan kasurnya. Pokoknya masjid NH ini kerenlah.
Esok harinya, yaitu tanggal 24 Oktober 2014, pembukaan Rapimnas III FSLDK Indonesia dimulai yang dihadiri oleh 31 Puskomda dari Aceh hingga Papua. Rapimnas ini pun dibuka oleh Wakil Rektor I UNS Prof. Sutarno. Ada hal yang menarik dari sambutan beliau. Beliau sangat interest dengan para Hafizh Al-Qur’an. Dan bahkan UNS memberikan jalur khusus untuk Hafizh Qur’an untuk masuk UNS. Luar biasa pimpinan UNS ini, ia sangat semangat membumikan Qur’an di kampus ia menjabat. Saya jadi senyum sumringah dengernya. Hehe
Pasca Dibuka, Rapimnas ini diawali dengan arahan Puskomnas dilanjutkan Tabligh Akbar bersama ketua MIUMI Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi M. A. Ed., M. Phil., Ph. D., yang mengangkat tema “Islam dan Tantangan Modernisasi” dan setelah itu rapat per komisi pun dimulai. Di rapat per komisi, saya masuk dalam rapat komisi A yaitu tentang Isu dan Keumatan. Komisi yang amanah puskomda sumbar saya pegang. Karena ini adalah rapimnas terakhir FSLDK Indonesia masa ke puskomnas sekarang (IPB). Maka kebanyakan yang dibahas adalah evaluasi pergerakkan Komisi A FSLDK selama ini. Sudah berapa isu kita kaji dan tindaki. Seberapa banyak bencana yang kita bantu, baik dalam negeri hingga luar negeri (salah satu utusan FSLDK sampai di Palestine waktu itu) dan bagaimana dengan program-program komisi A ini di jalankan, serta rekomendasi apa bagusnya komisi A FSLDK kedepannya, khususnya setelah bergantinya puskomnas saat di FSLDKN XVII di Pontianak.
Ketua Puskomnas Pimpin Rapimas
Karena saya adalah koordinator daerah baru dikomisi A tentu saya berusaha menyamakan suhu dalam rapat tersebut. Walau tidak saya sendiri orang baru didalamnya. Haha. Tapi pada akhirnya saya dapat menyamakan suhu dan ikut bicara dalam rapat yang mempertemukan ikhwah antar pulau di nusantara ini. Setelah rapat komisi selama 2 hari, lalu di satukan kembali dirapat pleno mendengar arahan puskomnas. Dan kembali rapat komisi di malam harinya. Pertama kali saya rapat dalam 3 hari berturut-turut, sebuah pengalaman yang lumayanlah.
Sepanjang rapat ini, hal yang menarik menurut saya adalah ketika disela-sela rapat, kita diskusi antar LDK di daerah-daerah lain. Contohnya cerita ketua puskomda Papua. Ia kampus Universitas Negeri Musamus di Marauke, ujung Indonesia. Baru mendengar jauhnya kampus beliau saja. Itu sudah perjuangan yang sangat luar biasa. Dan saat mendengar perjuangan dakwah di Papua, hem... bukan main. Jadi muhasabah diri, seberapa besar perjuangan saya di dakwah ini. Abang itu menceritakan, di pulau sebesar papua, hanya ada 4 LDK, dan LDK-LDK disana sedang terkena berbagai masalah, termasuk LDK yang cukup lama di Universitas Cendrawasih dan Universitas Negeri Sorong. Maka dari itu, LDK dari kampus abang itu, yaitu LDK di Universitas Musamus di Marauke, yang baru berumur 3 tahun, sudah menjadi Puskomda Papua karena dinilai lagi sehat. Itu baru internal LDK, belum tantangan di daerah yang islam menjadi minoritas. Kalo disini masjid dimana-mana, kalo disana rumah ibadah agama lain yang dimana-mana.
Itu baru di Papua, blum di Sulawesi, Kalimantan, Jawa dan tentunya Sumatera. Saya mendapat banyak pelajaran dari diskusi tentang perjuangan dakwah di daerah masing-masing dari punggawa nya langsung, yaitu para puskomda - puskomda FSLDK. Jadi 3 hari acara Rapimnas ini sangat member banyak hikmah didalamnya.
Lalu, pasca Rapimnas, kami bersiap-siap menuju Padang kota tercinta (ku jaga dan ku bela) #Eaaa. Namun, sebelum kesana, kami mampir ke Yogyakarta menemui senior Unand yang juga tim FSLDK Unand. Serta saat di Jakarta mampir ke rumah ka Vivi Rahmawati yang baru sehari nikah sama bang Bela Putra. Dua punggawa dakwah unand yang inspiratif bersatu. Dan dapat banyak wajangan dari dua senior tersebut. Hehe
Okelah ini ceritan Rapimnas III FSLDK waktu di Solo. Di singkat – singkat aja ceritanya. 

Wahai Masa Depan, Aku Bahagia

Usaplah air mata itu di wajahmu, karena mata ini masih enggan untuk menangis karena melihatmu seperti itu.
Ingatkah kau, kala kita sering pergi menyapa masa depan dari kejauhan?
Aku percaya masa depanmu akan lebih baik jika seperti ini.
Hingga aku mengharapkanmu sebagai salah satu langkah yang ku tempuh didepan sana.

Jangan pernah lupakan saat-saat kau berada disini, disampingku
Tetaplah tersenyum saat itu tiba, saat kita bertemu setelah perpisahan ini. Maka tersenyumlah.
Walau saat kau berbalik untuk pergi, senyumku lah yang tertahan.
Aku terkesiap sebab sebuah pertanyaan menghampiri ku.
Apakah aku masih memiliki kesempatan ini?

Karena kala kau dan aku selalu tertawa, itulah yang selalu ingin kulihat
Melihat mu dan tertawa bersamamu,
Hingga kala diri ini mengingatnya, ingin ku beritahu masa depan.Bahwa aku sudah menemukan arti kebahagiaan yang sesungguhnya

- Fiksi Prosa - 
AP
#MelangkahMenginspirasi

Kamis, 02 April 2015

Selasa, 10 Maret 2015

Di Kandang Para Penggerak

Dipojok kampus tua.
Termenung sebuah gejolak mahasiswa yg tertinggal bernama pergerakkan.
Ia kosong, tak seperti dulu.
Kala ia gagah berani tegak berhadapan laras panjang pemerintah.

Di pojok kampus tua.
Aksi dan advokasi tak lagi sebuah penyampai suara.
Hanya pelepas tanya bahwa pergerakan masih ada.
Mereka sibuk sambutan dalam mimbar-mimbar beriuh tepuk tangan.
Meninggalkan jiwa pergerakkan yg tersungkur lesu di pojok kampus tua.

Di kandang para penggerak.
Mereka para penguasa pergerakkan mulai terlupa.
Terbuai dengan gemerlapnya event-event meriah.
Terpana dengan acara akbar skala meluas berdecak kagum terpesona.

Di kandang para penggerak. Para prajurit-prajurit pergerakkan bungkam tanpa kata.
Resahnya terkungkung lembaran kertas bernama sertifikat.
Prinsipnya tenggelam dalam tumpukkan kertas terbubuhi tanda tangan.
Mereka bungkam, mereka diam, hilang timbul, lalu mengaku berkerja sbg aktivis penggerak.

Di kandang pergerakkan.
Tergeruslah budaya diskusi tentang rakyat.
Pernyataan sikap hanya pandai-pandai pimpinan pergerakkan.
Tak ada lagi pencerdasan prajurit.
Mereka hanya dituntut datang, meramaikan teriakan-teriakan kepedulian tanpa tau apa yg di teriakan dengan toa.

Di kandang para penggerak.
Aspirasi prajurit bukanlah hal patut dihiraukan.
Mereka yg bicara atas nama ketidak idealan adalah makhluk haram pergerakkan.
Ia adalah hama yg harus disingkirkan.
Karena lebih baik bertahan dikekalutan organisasi dari pada terusik citra.

Di kandang para penggerak.
Tempat itu rindu dialektika para prajurit ttg bangsa.
Tempat itu rindu ttg sebuah keterbukaan penyampaian aspirasi.
Tempat itu rindu ttg kebersamaan gerak tanpa ada lagi otoriteran memimpin.
Kerinduan sang saksi bisu pergerakkan mahasiswa.

-Azmul Pawzi-
Ditulis atas dasar keresahan untuk keberlangsungan pergerakan mahasiswa kedepan.
Untuk mu, aktivis se-bangsa se-tanah air.

Kala Kau Kehilangan Cinta


ialah kala engkau tergores perih karenanya dan engkau tetap menghiburnya kala ia tersedu

ialah kala hatimu kuyup terbasahi air mata dengan ulahnya dan kamu masih memedulikannya

ialah kala ia menceritakan indah cerita cintanya, dan engkau tersenyum tenang mendoakan kebahagiaannya

ialah kala ia melupakan kamu dalam senangnya, dan kau tetap berdiri setia menunggu kala ia membutuhkan pundak saat sedihnya

Ialah kala lidahnya bak sembilu yg mengiris rasa dan kamu masih berkata lembut menenangkannya

Ketahuilah, mungkin saja cinta datang pada saat yg tak semestinya.
Maka kala kau kehilangan cinta, kau tak perlu hilang dalam kelamnya dunia.

Kepakkan sayapmu, dan tembuslah cakrawala. Karena memang cinta tak harus memiliki, dan pada hakikatnya memang kita tak memiliki apapun di bumi ini.

-Azmul Pawzi-




*terinspirasi dari sang maestro cinta, kahlil gibran.

Beda Beringinan


Aku adalah kiri dan kamu adalah kanan
Kita, layaknya kaki yang melangkah beriringan
Tidak dapat berjalan bila tak bersama
Hanya tertatih dan terjatuh menjadi sisa bila ketiadaaan diantara kita

Aku adalah kiri dan kamu adalah kanan
Kita, bagai kedua tangan yang saling membantu
apabila sang kanan terluka, kiri yang mengusapnya
kala sang kiri tak kuasa, kanan menyokongnya

Akulah kiri, Kamulah kanan
Kita berbeda, Kita tak sama
Namun, Bila kau tanpa aku.
Hanya kepayahan yang tersisa.

Aku kiri, dan kamu kanan.
Kita dua hal yang berbeda.
Tak sama, namun sehati.

- Azmul Pawzi-

Dan Bidadari-Nya yang Menemanimu


Tenda besar terpasang. Hiasan lampu menggantung indah di tiang-tiangnya. Meriah, megah, namun sederhana. Deretan kursi memenuhi ruangan. Tamu undangan berlalu lalang. Ada yang sibuk menikmati sajian, ada yang bersalaman dan berfoto dengan mempelai. Kesibukan itu ditemani alunan nasyid-nasyid pernikahan islami. Bersenandung dengan kata-kata nasihat nan syahdu dan menyejukkan.
            Itulah suasananya, pernikahan kami. Saat itu dia begitu tampan dibaluti jas hitam yang elegan. Sedangkan aku menggunakan gaun putih. Anggrek putih menghiasi jilbab dikepalaku. “Mempesona” begitu ucap sang mempelai lelaki. “Bahkan langit tersenyum cerah melihat seorang bidadari bersanding dengan ku” bisiknya saat kami sedang berjalan beriringan menuju pelaminan. Sebuah kata-kata yang menyentuh hati.
Kala itu, aku bagai seorang ratu yang ditemani raja nan tampan dan gagah. Ya, aku mengenalnya sebagai laki-laki yang shalih dan bijaksana. Tinggi semampai, berwajah teduh dan berkelakuan baik. Furqon, ya itulah namanya.Dan teman-temanku yang membincangkan dia sebagai suami idaman terkejut ketika mendengar bahwa aku dilamar olehnya. Padahal aku baru semester 6. Ya, hal itu terjadi sebulan lalu. Kini ia sudah berada disini. Disamping ku, dalam pesta pernikahan kami.
                                                             
Google Pict
***
Hari-hari kami lalui, kami yang berusia muda bersiap membuka lembaran baru dalam hidup. Berkeluarga. Dan kami memiliki syarat menjadi keluarga bahagia.Furqan mencintaiku dan akupun demikian. Lembaran awal pernikahan kami dipenuhi dengan keberkahan. Suami ku yang paham agama mewarnai hidup kami dengan warna-warna islam. Kecupan hangat pada sepertiga malam untuk shalat malam berjama’ah, melantunkan ayat-ayat Sang Maha Cinta setelah shalat subuh tertunaikan, dan berbagai kegiatan indah lainnya.
Suamiku yang telah wisuda beberapa bulan sebelum pernikahan kami, sudah bekerja di sebuah perusahaan sosial di sekitaran kampus, sedangkan aku masih berkutat dengan skripsi yang belum menemui ujungnya.  Kami menjalani dengan berbagai kejutan dalam kehidupan kami. Termasuk pada saat itu. Saat matahari senja menyinari bumi. Suamiku pulang kerumah dengan wajah berseri, senyumnya melambangkan kesenangan tak terhingga. Setelah mengucapkan salam, kalimat syukur terucap olehnya. “Alhamdulillah” ucapnya “aku lulus S2 ke jepang ,yang”. Dengan sekejap kami telah berpelukan, melantunkan ucapan syukur.
            Ketika mendengar itu aku senang karena impian suami ku tercapai impiannya. Melanjutkan studi keluar negeri. Namun kesenangan ini sedikit tertahan karena kenyataan ini. Kenyataan kami harus berpisah. “Makanya cepat selesaikan kuliah mu ya cantik, biar kita bisa bersama di jepang nantinya” ungkapnya kepada aku di teras rumah kami. “Besok kita akan berpisah, aku sudah harus terbang ke tokyo.” Akupun tertegun, hanya dapat diam. Lalu kami saling bertatap. Cukup lama. Hening. Hingga sebuah kata memecah kesunyian “Aku tunggu kamu di jepang ya” ucapnya sambil mengecup keningku.
Esok, bandara menjadi saksi bisu kami. Enam bulan baru pernikahan kami, namun hubungan jarak jauh harus kami alami. Dua bulan, ya dua bulan lagi janjiku untuk menyelesaikan skripsi ku dan kami bersama lagi setiap hari. Melakukan berbagai hal bersama.Dan itu menjadi motivasiku.
Pesawatnya telah terbang tinggi menyibak awan putih dilangit yang biru. Ia terbang membawa mimpi, mimpi yang ia idamkan sejak dulu. Dan kini, aku sendiri. Tak ada lagi kecupnya disepertiga malam, tidak ada lagi salamnya ketika pulang di senja hari. Lantunan kata nasihatnya, senyumnya yang menyejukkan, ungkapan cinta mesranya hanya dapat kulihat dan dengar melewati video call.
Dan kehidupan itu mulai ku jalani, hubungan yang hanya kami lewati dengan perantara teknologi. Dan waktu meluncur begitu cepat. Bagai desing peluru. Sebulan setengah telah kami lewati. Malam itu, dibawah langit yang bersih tak tersaput awan. Ditemani bulan dan bintang gemintang yang membentuk ribuan formasi. Aku duduk, berbincang dengan suamiku melalui telepon. “Skripsi ku sudah rampung, dan insya Allah 6 hari lagi aku sidang” ucapkan ku. Selanjutnya kata-kata rindu yang membucah tak sabar menunggu terucap mesra dalam telepon tersebut.
Kebahagiaan terukir pada malam itu. Ya, malam itu. Namun tidak untuk besok. Karena esok aku terguncang. Gempa besar menimpa negeri sakura. Delapan skala richter besarnya guncangan gempa. Tapi guncangan dihatiku lebih besar dari gempa tersebut. Panik. Khawatir. Entah apa yang kurasa. Satu hari, dua hari, bahkan hingga lima hari. Ku menunggu, hanya menunggu kabar. Hingga kabar itu menyapa. Jepang yang terbiasa menghadapi bencana mengumumkan korban yang hanya lima orang. Dua diantaranya adalah warga asing dan akan dikirim kenegeri asal. “Muhammad Furqan” nama itu tersebut.
Aaaaarrrrghhhh........
Hancur. Perih. Teriakan tak bersuara memenuhi jiwaku. Kehilangan ini menusuk-nusuk hati. Ketika kabar itu tiba hanya deraian air mata yang menemaniku, bahkan hingga jasadnya yang dari jepang kami makamkan. Aku hanya menatap kosong dipusaranya. Tubuh ku bergetar. Bagai burung yang menggigil kedinginan.  Berbagai kenangan terlintas. Senyum itu. Kecupan itu. Gurauan itu. Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang syahdu itu tak dapat ku dengar kembali.
Kini tidak hanya jarak yang menjadi penghalang kami. Bahkan dunia telah terpisah. Ia, telah tersenyum indah menatap Rabb-nya. Bermain di taman sugawi. Bermanjakan kenikmatan. Ditemani bidadari-bidadari surga. Dan aku? Berdiri disini sendiri, hanya ditemani ribuan perih yang menguras setiap derai air mata yang ku punya. Namu, di dunia kesedihan ku, kusadari bahwa lelaki shalih seperti mu pantas menerimanya. Menerima setiap hadiah luar biasa dari Allah. Dan akhirnya guratan senyum terukir diwajahku. “semoga kamu tenang disana cintaku” lirih ku berucap.

Kamis, 19 Februari 2015

Cerita Memimpin Kepanitiaan LKMM TM Se-Indonesia 2015

Latihan Kepemimpinan & Manajemen Mahasiswa atau yang di singkat LKMM merupakan jenjang pelatihan kepemimpinan yang ada tahapannya. Pelatihan ini di mulai dari LKKM TD (Tingkat Dasar) dan TM (Tingkat Menengah) dan TN (Tingkat Nasional).


Tim Inti Panitia
          Dalam Melaksanakan pelatihan ini, penyelenggara dapat memilih lingkupnya. Mereka bisa membuat LKMM TD Se-Fakultas contohnya atau Se-Provinsi.Pada tahun 2015 ini, BEM KM Unand menyelenggarakan LKMM TM Se-Indonesia. Hal ini bertahap karena tahun sebelumnya BEM KM Unand telah menyelenggarakan LKMM TM Se-Regional 1 Indonesia yang beruang lingkup Jawa, Sumatera dan Bali.

Pada event besar ini, saya dan Sonya Andomo yang berasal dari kementrian PSDM BEM KM Unand di minta sebagai penanggung jawabnya. Dan akhirnya saya di tunjuk sebagai ketua pelaksana dan sonya menjadi sekretaris pelaksana.

Alhamdulillah banyak pengalaman yang menjadi pembelajaran, berawal dari recruitmen panitia, memilah-milih panitia, pembentukan panitia dan panitia bergerak. Kepanitiaan inti, selain saya dan sonya sebagai ketua dan sekretaris. Ada nindi sebagai bendahara, harry koordinator acara, rasyid koordinator perlengkapan, taufik koordinator konsumsi, dandy koordinator humas & LO, hanum koordinator pubdok dan ahmad sebagai koordinator danus.

Berawal dari mengkonsep acara, menentukan pemateri dan membuat proposal. Segalanya memiliki kendala masing-masing. Ruang lingkup se-nasional membuat kami memastikan bahwa acara ini harus standard nasional baik pemateri, tempat, dan berbagai lainnya.
Sambutan Saya sbg Ketua Pelaksana

LKMM TM Se-Indonesia pada tahun ini bertema “Muda Berkarya, Indonesia Berdaya” . Hal ini di dasari karena tanpa karya-karya keren anak muda, maka bangsa ini sulit untuk maju dan mampu berdaya kuat. Maka tema ini menjadi landasan dasar acara kami agar peserta LKMM TM Se-Indonesia akan berkarya untuk Indonesia berdaya.

Hingga pada akhirnya, setalah berbagai proses. Tibalah waktu penyelenggaraan acara pada 1-7 Februari 2015. Acara ini di ikuti oleh berbagai mahasiswa yang tersebar di Indonesia. Dan acara pun berlangsung. Dimulai dari welcoming party yang “beda” dari sebelum-sebelumnya. Kami rombak ruang lantai satu PKM sehingga mahasiswa unand pun kaget dengan konsep kami. Kami sambut dengan acara pembukaan dan hiburan dengan tarian khas minang serta konsumsi maknyus tentunya.



Lalu paginya geopoint unand yang di pimpin langsung oleh rektor kami, Prof. Werry Darta Taifur. Geopoint ini, para peserta berkeliling mengelilingi unand yang luas, hijau dan memiliki pemandangan yang keren. Karena di Unand ini berada di perbukitan karamuntiang, tentu juga memiliki udara yang segar di pagi hari.

Setalah pembukaan formal, acara langsung dilanjutkan dengan diskusi pergerakkan mahasiswa dengan ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia yang juga mantan presiden mahasiswa Unpad, Pak Yuliandre Darwis. Peserta sangat interaktif dalam acara ini.

Besoknya materi judul peran pemuda dalam korupsi, yang di moderator dosen hukum, pak Feri Amsari dan pemateri mantan anggota DPR RI Pak Nudirman Munir dan Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia Bang Alfon Kurnia Palma. Kata-kata dari bang Alfon yang saya ingat “Mahasiswa telah terfragmentasi oleh warna politik dan ekonomi. Urusan bersama kalah dengan urusan perut.”

Sesi selanjutnya, bertema politik. Yang diisi oleh pemateri pengamat politik pak Asrinaldi, Dosen Tata Negara FH Unand pak Khairul Fahmi dan Pak Aristo Munandar. Setelah itu dilanjutkan dengan FGD. Esok harinya, temen-temen delegasi di suguhkan dengan cara pembuatan tebu tradisional. Delegasi menikmati tebu hasil olahan mereka.  
Delegasi, Pak Elmir dan Ketua Pelaksana

Setelah itu pemateri selanjutnya adalah tokoh inspiratif juga. Seminar nasional “membangun peradaban bersama keluarga” bersama Pak Elmir Amien, sang pendiri Forum Indonesia Muda. Sebuah Forum yang menghimpun pemuda-pemuda keren se-Indonesia. Paradelegasi begitu bersemangat, apalagi ngebahas “keluarga”. :D

Dan hari-hari selanjutnya juga di isi berbagai materi luar biasa dan acara yang kece. Pemateri seperti Mak Katiek (pemain Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, dari Semen Padang bu R.R Endang. Dll). Diskusi terbuka bersama tokoh-tokoh Sumbar. Pak Kapolda, dalam Indonesian Leader Club. Acara pelepasan Penyu juga ada. Dan pada akhirnya acara di tutup dengan jalan-jalan menikmati ranah minang. Baik ke Istana Pagaruyung dan Ke Bukittinggi.

Alhamdulillah acara berjalan Ada kesan tersendiri ketika perpisahan delegasi kembali ke daerah asalnya. Ketika para delegasi menyampaikan luar biasanya acara ini, senangnya mereka. Senyum yang tergores di wajah mereka. Hingga ada yang menangis mengucapkan senangnya mengikuti agenda ini. Saya saya tersentuh. Semoga para delegasi

Dan juga kepada panitia yang luar biasa, perjuangan yang tak sia-sia. Selama acara, panitia tidur kurang tiga jam sehari. Setelah acara malam, panitia briefing hingga jam 1 bahkan sampai jam 2 lalu bergerak lagi jam 5 pagi. Alhamdulillah tim panitia LKMM TM Se-Indonesia adalah orang-orang luar biasa.

Tim inti yang kece abis lalu seluruh panitia, baik anak acara Zulfitri, Wilda, Fajar , Elvi, Anisa, Deges, Alfino, Dodi, Hendra. Perlengkapan Arpin, Azizan, Raygan, Fitri, Konsumsi, Menye, Fitriani T, Fadilla, Isand, Ikhsan, Sherly. Pubdok Leyla, Aisyah, Andru, Erick. Humas & LO Dhiane, Husni, Syahreza, Puja, Fristania, Putri, Pertiwi. Danus Widya, Vella Indah dan Kestari Ayoe, Zara, Aurora Kalian semua LUAR BIASA!

Tetap bergerak, tetap berkarya. Buatlah Indonesia berdaya dengan tangan-tangan kita semua. “Muda Berkarya, Indonesia Berdaya”.

Dan ini mungkin sepotong episode tentang pengalaman saya memimpin kepanitian LKMM TM Se-Indonesia 2015. Alhamdulillah banyak pembelajaran yang di dapat. Baik pengelolaan uang penyelenggaraan, manajemen psikologis, pengolahan acara, dll.
Ini jejak langkahku #MelangkahMenginspirasi.

Welcoming Party
Penampilan Puisi Saat Welcoming Party

Penampilan saat closing statement
Sesi Pelepasan Penyu


Sesi Materi